
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Kamu menghancurkan hatiku, namun aku masih mencintaimu dengan semua pecahannya......
...###...
"Mau kemana?."
"Duduk depan, Bun", jawab Rea ketika Arinta menghentikan langkahnya.
"Ya udah, jangan lama-lama ya, udah mau Maghrib soalnya", Arinta mengelus surai panjang putrinya dengan senyuman khas keibuannya.
Perempuan hamil itu menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya. Duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Ingin merilekskan dirinya. Berharap kalau angin yang sejuk itu dapat membawa serta masalahnya. Membiarkannya hidup dengan tenang bersama malaikat kecilnya.
Sebenarnya Rea sudah cukup terhibur dengan adanya keluarganya yang selalu mendukung dirinya setiap saat. Ditambah dengan materi pelajaran yang setiap hari membantu semangat hidupnya kembali muncul.
Sepuluh menit lebih Rea habiskan untuk menikmati langit jingga yang indah di atas sana. Benar-benar menenangkan.
Rea mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit. Ia menatap kearah taman yang ada di halaman rumahnya. Hingga matanya berhenti menatap kearah sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumah dan berhenti tepat di depannya.
Tak lama kemudian seorang cowok berperawakan jangkung turun dari mobil tersebut. Berjalan menuju kearah Rea yang sudah berkeringat dingin.
Cowok itu adalah Ayah dari anaknya. Lelaki bejat yang telah berhasil menodainya. Orang yang sudah membuat Rea melambung tinggi ke awan, lalu dengan kejam nya menghempaskan Rea ke dasar jurang yang tak berujung.
"Siapa lagi yang nebar benih nya di rahim kamu?."
Rea tersentak saat pertanyaan itu terlontar dari mulut cowok yang sudah berdiri dengan gagah di hadapannya.
Meragukan sendiri darah dagingnya, sepertinya hanya Levi yang bisa melakukan itu.
"Siapapun itu orangnya, bukan urusan kamu", balas Rea dengan datar membuat Levi terkekeh merendahkan.
"Jala*g."
"Bajing*n", desis Rea tajam. Hatinya sakit saat mendengarkan kata merendahkan itu keluar dari mulut suaminya. Ralat, calon mantan suaminya.
"Rea masuk!, udah mau maghrib, gak baik diluar", terdengar suara Arinta yang berteriak dari dalam rumah. Lalu Bunda nya itu keluar tak lama kemudian.
__ADS_1
"Kamu?", Arinta menatap kaget sekaligus murka melihat suami putrinya yang berdiri menatapnya. Arinta benci melihat pandangan yang tak bersalah itu.
"Mau apa kamu kesini?!", ketus Arinta.
Levi mengeluarkan sebuah map kertas dan memberikannya kepada Arinta, "Menyerahkan ini", sahutnya datar.
"Apa ini?, foto perselingkuhan kamu?", tuding Arinta dan mengambil secara kasar map tersebut.
"Bun", Rea menegur Arinta. Mungkin wanita itu wajar marah dengan Levi yang telah memperlakukan putrinya secara tidak adil. Tapi Bunda nya tetap tidak boleh berkata seperti itu. Karena mereka berpendidikan, hanya orang yang tidak berpendidikan berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu.
"Surat cerai", ujar Levi yang membuat tubuh Rea terasa mematung seketika. Cerai, hubungan mereka akan berakhir dengan satu kata tersebut. Lalu Rea mengelus perutnya saat bagian itu terasa sedikit kram. Apakah anaknya tidak suka dengan perceraian mereka.
"Apa kamu terlalu miskin sampai gak mampu buat suruh orang nganterin ini ke rumah saya", sarkas Arinta yang malah membuat Levi tertawa pelan.
"Justru karena saya terlalu sopan, makanya saya sendiri yang langsung mengantarkan nya", sahut Levi sambil melirik sekilas Rea yang terdiam, "Bukan kah tidak sopan, jika kita sendiri yang meminjamnya, lalu menyuruh orang lain untuk mengembalikannya. Saya tidak sepecundang itu", tambahnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Saya mengembalikan anak Tante."
Setelah mengatakan itu, Levi segera berlenggang pergi meninggalkan dua orang wanita berbeda generasi itu di teras. Meninggalkan kenangan, harapan dan mungkin cinta.
Rea menatap nanar punggung lebar yang dulunya seperti mampu untuk melindungi dirinya dari segala macam bahaya. Tapi tak pernah Rea duga kalau punggung itu kini berjalan membelakanginya. Meninggalkan nya sendirian di ujung lorong yang sepi dan gelap.
Apakah dirinya benar seburuk itu?. Apakah hidupnya memang tak memiliki arti?.
Lagi-lagi Rea melemparkan aib untuk keluarganya. Benar-benar sangat menyedihkan.
"Tunggu."
Ketika ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir mungil tipisnya. Suasana langsung seolah berhenti seketika. Seperti hanya ada Rea yang berada dalam dimensi itu. Tuhan seperti memberikannya izin untuk memutar balikkan waktu.
Jika saja waktu benar dapat diputar balik. Maka Rea tak ingin berjumpa lagi dengan makhluk Tuhan bernama Levino Altan Devora.
"Rea..., kamu kenapa sayang?", Arinta memegang lengan Rea yang tampak memendam beribu kesedihan yang mendalam.
Rea menoleh ke arah Bunda nya, "Bentar, Bun", ujarnya pelan seraya melepaskan pegangan Arinta. Meyakinkan Arinta kalau semuanya akan baik-baik saja. Rea mengambil alih map kertas yang berisi dokumen perceraian itu dari tangan Arinta.
Lalu cewek itu dengan hati-hati menuruni undakan anak tangga yang berjumlah lima buah itu. Berjalan mantap ke arah Levi yang sudah berbalik badan menghadapnya. Dengan kedua tangan yang berada di saku celana kain nya. Tatapan datarnya yang tak tercermin sama sekali. Seolah kosong tak memiliki kehidupan.
__ADS_1
"Ada apa?."
Rea mendongakkan wajahnya menatap Levi yang jauh lebih tinggi darinya. Jika saja hanya ada dirinya dan Levi disitu. Maka Rea akan bertanya, apakah tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk dirinya di sudut terkecil dalam hati Levi. Apakah Levi memang benar-benar sudah menghempas habis dirinya dari dalam sana.
"Apa kamu benar ingin menceraikan saya?", Rea bertanya dengan nada datarnya. Tapi tak ada satupun orang yang tau kalau hatinya tengah menangis hebat di dalam sana. Kalau saja Rea tak menahan emosinya. Mungkin saja air mata yang sudah mengumpul di kelopak matanya akan turun mengalir begitu saja.
Sekali saja Tuhan. Dirinya berharap kalau Levi menjawab kalau cowok itu menceraikannya sedang dalam keadaan terpaksa. Maka Rea akan langsung memeluknya. Dan meminta Levi untuk mencurahkan segalanya kepada Rea.
Namun, harapan hanyalah sebuah angan yang mengambang. Dikabulkan syukur, tak dikabulkan mundur. Mundur dari segala rencana yang sudah kita siapkan. Serahkan segalanya hanya pada Tuhan yang sudah menentukan.
Levi menganggukkan kepalanya, "Ya", jawaban singkat yang sungguh menyakitkan.
Rea tersenyum samar. Cewek itu menganggukkan kepalanya paham. Lagipula apalah arti dua bulan bersama. Belum bisa menguatkan cinta yang ada di antara keduanya. Atau mungkin hanya ada cintanya sendiri yang menghiasi waktu dua bulan itu.
Rea membuka map itu dengan tak sabaran. Mengambil selembar surat keramat itu. Lalu Rea kembali menatap Levi dengan amarah yang menggelora penuh di kedua iris hitam pekatnya.
Rea berjalan mendekat. Memangkas jarak antara dirinya dan Levi. Tanpa aba-aba Rea meletakkan surat itu diatas dada bidang Levi yang terbalut jas formal. Rea bisa melihat kalau Levi cukup terkejut dengan tindakannya. Namun Rea tak peduli.
Cewek itu tanpa pamit, mengambil pena yang berada di dalam saku jas Levi. Menandatangani surat itu tanpa keraguan sedikitpun.
Setelah selesai, Rea kembali ke tempat. Dan menyerahkan kembali map kertas tersebut kepada Levi.
Berujar dengan datar, "Saya takut enggak punya waktu buat mengembalikannya."
Levi mengambilnya dengan beribu perasaan yang tak dapat diartikan.
"Ada lagi?."
Rea terdiam sejenak. Matanya tiba-tiba saja panas. Sial, mengapa emosinya berubah dengan cepat sekali.
"Ich liebe dich", ujarnya pelan dengan mata yang fokus pada sepasang netra abu-abu itu. Levi pasti tak kan paham dengan apa yang diucapkannya. Karena disaat Rea sedang belajar bahasa Jerman, Levi pernah mengatakan kalau itu adalah satu bahasa yang sangat rumit. Dan dirinya enggan untuk mempelajari itu.
Sedangkan Levi, cowok itu diam-diam menggigit bibir bagian dalamnya. Melirik David yang berada di dalam mobil. Jika saja pria itu tidak ikut. Mungkin saat ini Levi sudah mengoyakkan kertas selembar laknat tersebut. Menarik Rea ke dalam pelukannya, dan membalas ucapan cewek itu dengan Ich liebe dich auch so sehr. Dan mengecup berulang kali anaknya yang masih bersemayam nyaman di dalam perut Rea. Itu adalah satu rahasia yang Levi tau dari Reagan tiga malam yang lalu. Dan itu adalah kebahagiaan yang tiada tara.
Namun, karena David kebahagiaan itu harus usai begitu saja.
Setelah melihat tak ada respon dari Levi, Rea lantas membalikkan badannya dan berjalan menuju Arinta yang masih berdiri di sana.
__ADS_1
Levi, kamu itu seperti kembang api yang terlalu singkat. Dan saya seperti anak kecil yang kecewa mempertanyakan, apakah iya hal-hal yang indah selalu usai begitu cepat?.
...~Rilansun🖤....