Rearin

Rearin
Pertengkaran


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Jika kamu sadar kalau hati kamu belum bisa mantap, lalu kenapa kamu memilih untuk menetap......


...###...


"Rea", Levi memegang kedua bahu istrinya itu. Berniat untuk melepaskan pelukan erat Rea pada tubuhnya.


Namun bukannya menjauh, Rea malah semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Levi. Tanpa sadar, tangannya meremas kuat punggung lebar Levi.


Ada ketakutan teramat besar yang sulit untuk diucapkan.


"Kita harus pisah, Rea", ujar Levi dengan dingin. Berbanding terbalik dengan kedua matanya yang menatap sendu ke arah depan. Tapi sayang, Rea tak dapat melihat hal langka tersebut.


Dalam dekapan Levi, Rea menggelengkan kepalanya, "Apakah cinta kamu sesingkat itu Levi?", tanya Rea dengan lirih.


Bukankah cowok itu mengatakan sangat mencintainya. Ingin menjaganya hingga akhir hayat. Tapi mengapa, belum ada dua bulan usia pernikahan mereka. Levi sudah ingin meninggalkannya begitu saja.


Mencampakkannya dengan beribu luka yang belum sepenuhnya terobati.


Mendengar itu sontak saja Levi tersenyum miring. Singkat?, apakah waktu enam tahun itu bisa terbilang singkat.


Cintanya tidaklah singkat, tapi rencana semesta lah yang mengikat. Memangkas pendek waktunya untuk bersama Rea. Membuatnya terlihat begitu kejam di dalam sepasang netra hitam yang memandangnya dengan penuh derai air mata.


"Gue bukan Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia."


Rea terkekeh pelan. Lalu dengan perlahan cewek itu melepaskan pelukannya. Bulu mata lentik yang basah itu terlihat terangkat perlahan ke atas. Menatap sepasang mata abu-abu yang menatap datar dirinya.


"Jika kamu sadar kalau hati kamu belum bisa mantap, lalu kenapa kamu memilih untuk menetap?, hanya untuk coba-coba?, atau untuk melukai saya dengan kata cinta yang belum pasti kebenarannya itu?", tanya Rea beruntun dengan menatap datar laki-laki yang berdiri gagah dihadapannya kini. Dirinya masih diliputi rasa tak percaya. Kalau Levi memiliki niat untuk menceraikan nya.


Rea akui kalau belakangan ini hubungan mereka memang semakin memburuk karena kehadiran Tiffany. Tapi Rea terus berusaha untuk kuat, bertahan, dan sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan Tuhan pada rumah tangganya.


Tapi tak pernah sekalipun di duganya, kalau Levi lah yang mengakhiri cerita ini dengan begitu cepat.


Seharusnya Rea paham, jika di dalam suatu hubungan sudah muncul pihak ketiga. Maka hubungan itu, tidak akan bisa lagi diharapkan untuk bertahan.

__ADS_1


"Kata kamu, kamu akan mencintai saya tanpa jeda. Tapi saya gak tau, kalau koma bisa begitu lama", Rea tersenyum miris. Memandang sejenak wajah tampan yang sudah menghiasi hari-hari nya selama enam minggu ini. Sebelum menunduk menatap lantai marmer yang dipijaknya. Membuat air mata itu turun mengenai lantai putih tersebut.


Levi menatap kepala Rea yang menunduk, "Seharusnya gue enggak jatuh cinta dengan lo, Rea", kata-kata terkejam yang pernah cowok itu lontarkan.


Rea refleks memejamkan matanya, meremas bagian dadanya yang terasa sesak. Tubuh rapuh itu terlihat bergetar hebat menahan suara tangisannya. Hingga tercekat di tenggorokan. Mengigit bibir bagian dalamnya, agar suara bodoh itu tidak lagi keluar dari mulutnya. Membuat indra perasa nya bisa merasakan sedikit rasa logam yang bercampur dengan saliva nya.


Ya, seharusnya Levi tidak mencintai Rea. Sehingga cintanya itu tidak melukai mereka berdua seperti ini.


Drrt drrt


Suara deringan yang berasal dari ponsel Levi seolah memecahkan suasana haru yang melingkupi ruangan hampa tak bersuara itu.


Levi melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.


Tiffany


Sepertinya semesta memang sangat mendukung akting konyol yang dilakukannya saat ini.


Levi memandang sekilas Rea yang masih terlihat menunduk tanpa bergerak sama sekali. Lalu sedetik kemudian, kakinya melangkah mundur dan berbalik memasuki kamar mandi.


Setelah mendengar pintu kamar mandi yang tertutup. Rea baru mengangkat pandangannya. Menatap pintu kaca putih yang sudah tertutup rapat.


"Seharusnya saya tidak mempertahankan kamu", Rea memegangi perutnya. Jatuh perlahan duduk di lantai.


Apakah sekarang ia terlihat seperti Arinta kedua?.


Tapi sungguh, hatinya benar-benar sangat sakit. Mengakhiri hidup seperti yang pernah ingin dilakukan oleh Bundanya tiba-tiba saja terlintas di benaknya yang sedang dangkal.


Ceklek


Rea menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Untuk beberapa saat mereka berada dalam satu dimensi yang sama. Tertarik untuk menyelami telaga bening masing-masing. Sebelum Levi lebih dulu memutuskan pandangannya ke samping.


Cowok itu berjalan dengan Rea yang terus menyoroti setiap langkah kakinya.


Rea sontak bangkit berdiri saat melihat Levi yang berjalan melewatinya dan hendak membuka pintu kamar. Apakah cowok itu ingin kabur dari pertengkaran mereka yang belum usai ini?.

__ADS_1


Rea tak suka ditinggal tanpa sebuah kejelasan.


"Kamu mau kemana?", Rea menarik lengan Levi. Membuat pergerakan cowok itu terhenti lalu menatap ke arah perempuan yang memaki daster rumahan tersebut.


"Tiffany-"


"Kamu mau pergi tinggalin saya dan datang ke cewek itu?", Rea bertanya dengan nada yang sedikit tinggi. Membuat Levi terkejut. Itu tidak seperti Rea. Pandangan mata yang tenang dan datar itu tak lagi ada. Hanya amarah membara yang terlihat jelas disana. Dan nada suara yang biasanya santai kini berganti dengan intonasi tinggi penuh penekanan.


Rea menatap Levi dengan mata yang tajam, "Saya ini istri kamu Levi!. Asal kamu tau, ketika kamu menjabat tangan Argan waktu itu. Kamu udah berjanji kepada saya dihadapan seluruh keluarga saya, untuk mencintai, menjaga, melindungi saya sepenuh hati. Dan selalu ada buat saya. Tapi apa Levi?", Rea mengangkat dagunya menatap Levi yang terdiam tanpa ekspresi menatapnya, "Kamu justru membuat saya sakit. Luka yang tak berdarah, tapi sangat menyakitkan. Lebih sakit daripada kamu melecehkan saya malam itu", air matanya kembali tumpah saat ucapan terakhir itu lolos dari bibirnya.


Rea menunduk. Melepaskan pegangannya pada lengan Levi. Lalu cewek itu beralih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Emosinya memang mudah sekali berubah-ubah. Terlebih pada saat seperti ini.


"Kenapa lo marah?."


Pertanyaan Levi yang membuat Rea mendongak menatap suaminya itu.


"Karena saya udah cinta sama kamu?", lirih Rea seraya menatap sendu Levi yang terlihat melebarkan matanya kaget.


Entahlah, Rea pun belum yakin seratus persen dengan perasaannya kali ini. Tapi satu yang Rea tau, kalau dirinya tak ingin kehilangan Levi. Rea tak mampu memikirkan bagaimana hidupnya, tanpa cowok itu disampingnya.


"Lo...., cinta sama gue?", Levi menatap ragu Rea. Benarkah?, benarkah cintanya selama enam tahun ini akhirnya terbalaskan?.


Tapi mengapa harus di waktu seperti ini ya Tuhan.


Rea tertawa pelan dengan sangat miris. Sembari melemparkan pandangannya ke arah jendela kamar yang terbuka lebar. Membuat kain gorden itu berterbangan seiring dengan tiupan angin.


"Mungkin, dan itu adalah satu hal yang saya sesali", sahut Rea tanpa menoleh sama sekali.


Levi mengepalkan tangannya. Menggertakkan giginya. Apa kata cewek itu tadi?, penyesalan?. Apakah mencintainya begitu kotor?.


"Gue udah nunggu lama buat dengerin kata-kata itu. Tapi lo bilang dengan mudahnya menyesal?", Levi tertawa sumbang lalu sedetik kemudian mata itu menatap tajam Rea yang seperti acuh tak acuh dengan keberadaannya.


"Gue bakal buat lo mengerti apa arti kata menyesal yang sebenarnya", Levi mengangkat tubuh Rea dengan tiba-tiba. Membuat ibu hamil satu itu membelalakkan matanya. Lalu dengan kasar Levi meletakkan Rea ke atas kasur. Ringisan sakit itu pun keluar begitu saja dari mulutnya.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


Ayo penuhi komentarnya dengan segala hujatan mu bund:🙂



__ADS_2