Rearin

Rearin
Fear of losing


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Mencintai kamu itu kayak makan seblak, menantang dan bikin ketagihan......


...###...


Tik tik tik


Suara detikkan jam yang menempel di dinding itu mengisi penuh ruangan yang hampa tak bersuara.


Helaan nafas yang terdengar saling bersahutan itu seolah menjadi backsound penghantar tidur. Dengan sinar rembulan yang menerangi, bintang yang menemani dan keheningan yang melingkupi. Nyatanya tak mampu membuat sepasang ayah dan anak itu memejamkan matanya.


Dua laki-laki berbeda generasi itu sama-sama diam dengan menatap ke langit-langit kamar. Hanya suara helaan nafas yang terdengar lelah dan gusar.


Dengan posisi yang sama, satu tangan yang terangkat ke atas kening, dan yang satunya lagi berada di atas perut. Kaki kanan yang tertekuk serta piyama tidur yang senada. Membuat keduanya bagai orang yang sama berbeda waktu.


"Daddy", panggil Arthur memecahkan keheningan yang ada.


"Hm", sahut Levi singkat. Malam ini terasa sangat sepi dan dingin. Bulan yang selalu berada di tengah-tengah mereka kini telah pergi. Menyisakan kesejukan yang membelenggu.


"Althul lindu Mommy", lirih Arthur tanpa mengubah posisinya sama sekali.


Levi memejamkan matanya sejenak sebelum menatap ke arah putranya. Hati Levi seperti dicubit saat melihat sudut mata Arthur yang basah.


Apakah Arthur menangis. Bocah yang anti dengan air mata itu sekarang menangis?.


Levi semakin merasa bersalah.


"Maafin Daddy", Levi menyentuh air mata Arthur dan menghapusnya.


Merasa terciduk, Arthur lantas mengelap air matanya dengan cepat. Lalu berguling dan duduk di atas perut kotak-kotak Daddy nya.


Arthur anti dengan air mata semenjak ia sering melihat Ratu yang diam-diam menangis. Mulai saat itu Arthur tak pernah lagi menangis. Ia berkata pada Mommy nya, kalau Althul nangis, telus siapa dong yang bakal bujukin Latu. Ail mata itu jelek tau Mom, makanya Mommy jangan nangis. Olang cengeng itu lemah. Althul kan kuat, jadi gak boleh nangis.


Manisnya.


"Daddy gak lindu Mommy?", tanya Arthur kemudian.


Levi tersenyum, ia selalu takut anaknya itu besar sebelum umurnya. Namun Levi tak menampik, ia bangga memiliki anak yang pintar dan cerdas seperti Arthur.


Yang bisa memahami kedua orang tuanya di usia yang masih sangat kecil.


"Lindu", jawaban Levi yang mendapat delikan tajam dari Arthur.


Melihat itu Levi sontak tertawa.


Arthur mendengus lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Daddy nya. Kata Mommy, dulu ia sering tertidur seperti ini waktu bayi.


"Dad", panggil Arthur pelan.

__ADS_1


"Apa?."


"Althul enggak mau punya Daddy dua kayak Latu. Althul enggak mau jadi cengeng kayak Latu kalna Ayah nya yang punya anak lain."


Levi tertegun ketika mendengar ucapan Arthur yang terdengar lirih.


"Enggak akan", sahut Levi kemudian sambil mencium rambut putranya.


Arthur bangkit dan memandang Daddy nya dengan semangat, "Daddy ayo kita pelgi ke lumah Oma!."


Dan sekarang....


Disinilah Arthur dan Levi. Menekan bel kediaman Allandra yang tampak sepi dengan penjagaan ketat dimana-mana. Untung saja ia bersama Arthur. Masih ada untungnya Arthur tinggal.


"Mana sih O-"


"Arthur?", baru saja Arthur ingin mengomeli Oma nya yang lama membuka pintu. Namun wanita itu sudah berdiri di depannya dengan tersenyum. Membuat Arthur luluh dan tak jadi marah. Ah, hatinya memang mudah sekali luluh dengan Oma, Mommy dan Ratu. Mungkin juga adik perempuannya nanti.


"Kenapa?, rindu Mommy?", tanya Arinta setelah mengambil alih Arthur dalam gendongannya.


Arthur mengangguk semangat.


"Mommy mana Oma?, udah tidul?."


Arinta tersenyum penuh arti lalu berbisik di telinga Arthur, "Arthur mau Mommy sama Daddy maafan kan?, nah kalau gitu Arthur harus tidur sama Oma?, mau?."


Arthur terdiam sebentar, menimbang ucapan Oma nya. Lalu ia mengangguk lesu. Padahal kan niatnya datang kesini buat tidur bareng Mommy nya. Kok malah Daddy sih yang untung. Tapi gak apa-apa kalau itu buat orang tuanya berbaikan lagi.


Levi mengangguk mendengar wejangan dari ibu mertuanya.


"Levi duluan Bun", pamit Levi yang diangguki Rea.


"Jangan buat Mommy nangis lagi. Kalo gak Althul bakal ganti Daddy dengan Uncle Kevin", seru Arthur sebelum Levi melangkah jauh.


Levi berbalik dan memberikan jempolnya pada sang putra.


Setelah sampai di depan pintu berwarna putih itu, Levi ragu-ragu untuk membukanya. Levi takut Rea akan menolak kehadirannya. Levi tak mau jika itu akan semakin membuat Rea marah padanya.


Namun masalah ini tak boleh berlarut. Harus diselesaikan malam ini juga.


Dengan bismillah. Levi memberanikan diri untuk membuka pintu kamar istrinya itu. Matanya mengedar menatap ke seluruh penjuru kamar yang bernuansa monokrom tersebut. Hingga manik abu-abu nya terkunci pada satu objek yang tak akan pernah muak untuk dipandang.


Disana, di atas kasur empuknya, Rea tengah meringkuk seperti bayi.


Tanpa sadar sudut bibir Levi tertarik ke atas membentuk lengkungan sabit yang sempurna. Tak ingin membuang waktu lagi, Levi dengan langkah yang pelan berjalan menghampiri istrinya.


"Kamu jahat, hiks."


Levi yang hendak duduk disamping Rea pun terhenti kala ia mendengar isakan kecil Rea. Sejurus kemudian kelopak mata yang sedari tadi terpejam itu terangkat dan terlihat membola.

__ADS_1


"Kamu?."


Rea bangkit dari posisinya dan terduduk menatap Levi kaget.


Sedangkan Levi yang mengira Rea akan kembali mengusirnya pun langsung menjatuhkan dirinya di samping ranjang. Berlutut seraya menunduk dalam.


"Jangan usir aku, please. Aku tau aku salah, enggak seharusnya aku ngomong kayak gitu sama kamu. Kamu gak beban sayang. Aku gak pernah ngerasa kamu itu membebankan. Aku cuma capek, dan maaf aku gak sengaja ngelampiasin nya sama kamu. Maafin aku Rea. Jangan pergi lagi", ujar Levi yang terdengar sangat menyedihkan dan putus asa.


"Soal Karin itu gimana?."


Levi mendongak dan menatap tak percaya Rea yang mau berbicara dengannya. Merasa dapat lampu hijau, Levi pun lantas bangkit dan mendudukkan tubuhnya di depan Rea. Mengambil tangan Rea untuk digenggam, dan bersyukurnya Rea tak memberontak.


"Dia cuma masa lalu aku sayang. Dia udah enggak penting lagi. Dari dulu sih, enggak pentingnya. Kamu tau kan, kalau selama ini aku cuma cintanya sama kamu. Bahkan dari SD?. Sekarang hubungan aku sama dia cuma sebatas kolega. Suaminya itu salah satu investor perusahaan. Dan suaminya itu minta tolong sama aku buat mantau istri dan anaknya selama di Indonesia", jelas Levi panjang lebar.


Rea mengernyitkan keningnya, "Suami?, emang dia udah nikah?, terus ngapain ganggu Morgan lagi?."


Levi menghela nafas, "Katanya dia gak cinta sama suaminya. Tapi aku udah bilang sama dia, kalau dia harus mikirin anaknya juga. Jangan pikirin ego nya semata. Dan aku rencananya malam ini mau cerita sama kamu soal dia. Tapi aku gak nyangka kalau kita bakal berantem. Maafin aku sayang, aku nyesal."


Rea melunak dan balas menggenggam tangan suaminya, "Aku cuma gak mau kita kayak Morgan sama Tiffany. Emang kamu mau kita pisah kayak Morgan sama Tiffany dulu?."


Levi menggeleng cepat. Rea pergi dari sisinya hanya dalam hitungan jam saja sudah membuatnya seperti mayat hidup.


"Boleh peluk?", tanya Rea takut-takut. Ia tak bisa tidur kalau tidak dalam pelukan hangat Levi.


Levi tersenyum lalu menarik Rea langsung ke dalam dekapannya, "Beni affet, seni seviyorum."


Rea mendongak dan menatap kesal Levi.


"Ih, artinya apaan. Kamu kan, aku udah minta diajarin bahasa Turki, tapi enggak di ajar-ajarin. Pelit", kata Rea dengan mata yang berkaca-kaca.


Levi terkekeh, ia rindu dengan Rea yang cengeng seperti ini.


"Kamu tau gak?, pas kecil aku takut banget patah gigi, karena sakit. Dan pas udah besar aku takut patah hati, tapi aku udah ngerasain itu berulang kali. Sekarang aku takut banget sama satu hal, kamu tau apa?", Levi mengelus pipi Rea dengan ibu jarinya.


"Apa?", tanya Rea penasaran.


"Kehilangan kamu", jawab Levi dengan senyuman yang selalu sukses menawan hati Rea.


Perempuan hamil itu tersenyum sumringah. Hatinya tersentuh dan jantungnya kembali menggila.


"Mencintai kamu itu kayak seblak tau gak, menantang dan bikin ketagihan. Sama bikin greget, kalau kamu itu ceker, mungkin udah aku gigit sampai hancur", ujar Rea kemudian.


Levi mendengus, "Jangan bilang kamu lagi pengen seblak."


Rea mengangguk dengan penuh semangat, "Uh, peka banget sih Daddy, jadi makin sayang", Rea mencubit gemas pipi Levi sebelum melayangkan kecupan ringannya hampir di seluruh permukaan wajah laki-laki yang ia cintai setelah Papi nya.


Sepasang suami istri itu kembali merajut kasih seperti tak ada masalah sebelumnya. Seperti tak ada ketegangan yang pernah menghampiri mereka.


Seperti kata Levi, Rea hanya untuk dirinya, dan Levi hanya untuk Rea. Begitu hingga dunia ini tua dan hancur.

__ADS_1


...~Rilansun🖤....


...Cuma mau bilang, besok udah end yeay👏...


__ADS_2