
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Kumohon Tuhan, dengarkanlah lirihan sendu diantara deru angin ini......
...###...
Rea menatap sedih tiga orang yang berada di depannya. Tertawa dan saling melemparkan canda dengan penuh suka cita.
Entah mengapa ia tiba-tiba merasa sentimentil saat melihat senyuman lebar yang menghiasi bibir tiga orang yang berharga dalam hidupnya itu. Bisakah lengkungan sabit itu tetap bertahan di tempatnya. Selalu menghiasi wajah orang-orang terkasihnya.
Biarkanlah kebahagiaan nya terenggut. Tapi Rea sangat berharap jika Tuhan tidak merenggut senyuman keluarganya.
Rea tak akan sanggup bila harus melihat air mata itu turun dari telaga bening Bunda nya. Ia tak mampu menatap Papi nya yang tertunduk malu. Dan ia tak akan bisa hidup ketika keluarganya di caci maki.
Seminggu telah berlalu semenjak dirinya di drop out dari sekolah. Dan selama itu pula tidak ada satupun orang yang tau perihal masalahnya. Dari kesuciannya yang direnggut sampai ia dikeluarkan dari sekolah. Semuanya masih tersimpan rapat dari dunia luar. Kedua orang tuanya hanya mengetahui jika Rea sudah lulus dalam ujiannya. Dan saat ini sekolahnya sedang pergi berlibur ke Bandung, tapi Rea tidak mengikutinya.
Untung saja Dita pergi berlibur, mendukung kebohongannya yang entah sudah ke berapa kali itu. Semenjak peristiwa itu menimpanya, Rea merasa menjadi seorang pembohong besar.
Bukannya Rea tak ingin memberi tau. Hanya saja ia masih takut menerima kenyataan yang ada. Terlebih reaksi dari keluarganya. Rea paling takut akan itu.
"Orang Korea mah gantengnya karena di make up."
Rea mengerjapkan matanya dan melihat kearah Argan yang sedang mengganggu Arinta yang tengah asik dengan dunianya. Wanita yang sudah memasuki kepala tiga itu masih setia menggemari hal-hal yang berbau Korea. Membuat Reagan terkadang cemburu ketika Arinta terlalu memuja-muja aktor yang dilihatnya dengan cara berlebihan.
"Tapi tetap aja mereka ganteng", protes Arinta tak suka saat melihat idol nya dicela.
Reagan mendengus dan melihat sekilas istrinya itu sebelum kembali fokus dengan laptop yang ada di pangkuannya. Arinta mungkin memang tidak selingkuh, tapi Reagan selalu merasa jika ia sudah di duakan oleh para cogan-cogan nya Arinta. Apa yang bisa Reagan lakukan, tidak memberikan wanitanya itu ponsel, maka alamat jatahnya yang akan dikurangkan. Lalu Arinta akan mendiaminya untuk waktu yang lama. Setidaknya sampai ponselnya dikembalikan lagi.
"Coba Papi, Bunda make-up pasti ganteng tuh. Langsung glowing mengalahkan muka nya Cha Eun woo", tambah Argan memanas-manasi setelah melihat wajahnya Papi nya yang tertekuk masam. Sebagai anak pun, Argan tidak terima kalau Papi nya yang ganteng tiada tara dibanding-bandingkan dengan laki-laki manapun.
Papi nya itu ganteng pake banget. Terlebih saat membelikannya sebuah mobil baru. Beuh, wajahnya Papi nya seketika langsung disinari oleh cahaya ilahi.
"Kalau Papi kamu yang di make-up, jatuhnya entar kayak boneka mampang", sahut Arinta dengan fokus melihat ponselnya.
"Hahaha. Mampang dong", Argan tertawa dengan puas.
Reagan yang mendengar itu sontak menegur Arinta, "Bunda."
Arinta yang dipanggil pun refleks mendongak dan menyengir saat melihat mata Reagan yang menatap datar dirinya, "Saranghaeyo Papi", ujarnya sambil menunjukkan sebuah finger heart pada Reagan.
Membuat Ayah dari dua orang anak itu lantas mengulum senyum. Mengapa istrinya itu selalu saja bisa membuatnya gemas. Membuat cintanya terus bertambah kepada Arinta setiap harinya.
Tanpa sadar Rea tersenyum tipis melihat Reagan yang masih saja cemburu. Bukankah sebuah hubungan patut dicurigai bila terus berjalan mulus tanpa ada pertengkaran sedikitpun. Percekcokan kecil antara suami dan istri itu sudah biasa. Malah itu akan menjadi lem pengerat dari sebuah hubungan.
__ADS_1
Beruntungnya Rea bisa lahir di tengah-tengah kehangatan mereka. Banyak anak-anak di luaran sana yang tak memiliki rumah dan keluarga. Tak dapat merasakan apa itu sebuah kehangatan keluarga.
"Bunbun."
"Hm."
"Bun, kenapa yang halangan itu cuma cewek doang?. Kan halangan itu untuk membuang darah kotor ya kan?."
"He'em."
Argan memutar bola matanya malas saat melihat respon Arinta yang seperti ogah-ogahan.
"Terus berarti cowok seluruh tubuhnya penuh darah kotor dong, sementara kan kami enggak pernah ada halangan", Argan melanjutkan pertanyaan yang sudah lama menghantuinya itu. Setiap ia termenung, hal tersebut selalu terlintas. Tapi ketika ingin bertanya ia langsung lupa.
"Nah itu kami tau, makanya banyak-banyak baca Al-Qur'an biar darah kotor kamu hilang", jawab Arinta tanpa menoleh kearah putranya itu.
"Lah apa hubungannya?. Bunda tuh kurang-kurangin nonton Korea, biar Papi enggak nyeleweng kemana-mana", sahut Argan.
"Kalau Papi kamu berani, ya cari Papi baru lah", ujar Arinta santai.
Reagan menutup laptopnya dan memandang istrinya itu dengan tajam, "Masuk kamar, Bun?."
Arinta mematikan ponselnya dan tersenyum manis, "Enggak."
Rea menggelengkan kepalanya melihat Argan yang tersenyum jahil. Abang kembarannya itu memang sesuatu. Bahkan orang tuanya sendiri pun, tak luput dari kejahilannya.
Sepertinya Argan sangat berniat untuk membuat Bunda dan Papi nya bertengkar.
"Oh iya, Rea."
Rea menatap kearah Arinta yang barusan saja memanggilnya.
"Kenapa, Bun?."
"Tadi Bunda mau ngisi stok pembalut kamu, tapi Bunda lihat bulan ini kok kayak enggak dipakai. Emang kamu belum datang bulan atau kamu beli pembalut yang lain?", tanya Arinta kepada putrinya
Deg
Tubuh Rea terasa menegang seketika. Pupil matanya melebar dengan sekujur tubuh yang mati rasa. Rea pun baru menyadari jika ia memang sudah telat bulan ini.
Tuhan, tolong jangan hadirkan lagi kejutan-kejutan yang dapat berpotensi merusak jantungnya.
"Bunda rasa kamu emang telat kan bulan ini?", tambah Arinta kemudian.
__ADS_1
"Itu kok diributin, bulan nya mampir ke bintang kali, atau ke mars", celetuk Argan asal yang membuat Arinta memukul pelan pundak putranya itu.
"Kamu kira bulan nya lagi tamasya?, pake mampir segala."
"Mana tau kan, bulan nya lagi gabut."
"Emang kayak kamu, kalau gabut kerjanya molor", ujar Reagan dengan kembali fokus pada laptopnya. Sambil mencuri-curi pandang istrinya yang ada di seberang.
"Gimana?, kamu lagi ada masalah apa sayang?, kalau ada apa-apa itu cerita ke Bunda, jangan disimpan sendiri, kamu nya yang sakit entar."
Rea mengerjapkan matanya pelan lalu menoleh kearah Arinta yang entah kapan sudah berada disampingnya.
"A-apa, Bun?", tanya Rea terbata-bata. Sebab ia tidak mendengar dengan jelas apa yang dibilang oleh Arinta tadi.
Arinta tersenyum manis seraya mengelus surai panjang putri kesayangannya itu, "Kamu lagi ada masalah?", tanyanya dengan lembut. Membuat orang yang mendengarnya pun ikut terlena dalam kelembutan yang ada.
Rea saja rasanya ingin memeluk dan menangis dalam dekapan Bunda nya. Menuangkan segala keluh kesahnya. Mungkin orang-orang memandangnya sebagai gadis dingin dan cuek. Tapi hanya Rea sendiri lah yang tau bagaimana kondisi dirinya sekarang.
Dijelaskan pun, belum tentu orang itu bisa memahaminya dengan cermat.
"Saya enggak ada masalah apa-apa, Bun", jawab Rea kemudian dengan ekspresi yang sangat minim. Membuat Arinta hanya bisa tersenyum dengan tangan yang masih mengelus rambut Rea.
Entah makan apa Arinta dulu, sampai anaknya bisa lahir begitu dingin tak tersentuh. Jika dari remaja, mungkin masalahnya masih bisa diselidiki. Tapi ini dari lahir Rea sudah terlihat sangat cuek. Bahkan waktu bayi nya pun Rea jarang menangis. Sampai-sampai membuat Arinta khawatir, takut Rea kenapa-napa.
"Saya mau tidur duluan", ujar Rea lalu mencium sekilas pipi Arinta.
Arinta tersenyum dan mencium kening putrinya, "Selamat malam."
Kemudian Rea berjalan kearah Reagan yang masih sibuk bekerja. Lalu tanpa aba-aba cewek itu mencium sebelah pipi Reagan, "Selamat malam Papi."
Reagan mendongak menatap Rea yang berdiri dihadapannya. Mengambil tangan putrinya dan mencium punggung tangannya, "Selamat malam princess."
"Gue enggak?", tanya Argan sambil menunjuk pipinya saat Rea berjalan melewatinya.
Cewek itu hanya memandang sekilas Argan, sebelum berjalan keluar dari ruang keluarga tersebut. Membuat Argan misuh-misuh di tempat.
Rea berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah sampai, cewek itu dengan tergesa-gesa membuka pintu kamar. Berjalan cepat kearah nakas yang ada disebelah ranjangnya. Mengambil kalender yang ada diatasnya. Lalu menatap dengan seksama benda tersebut.
Mata Rea terpejam setelah melihat kalender. Rea memang memiliki kebiasaan melingkari tanggal haid nya di kalender, lalu menyilang kan tanggal tersebut jika haidnya sudah habis. Tapi bulan ini, satu hari pun tidak ada yang tersilangi.
"Saya mohon jangan, Tuhan", lirih cewek itu dengan menunduk mendekap kalender.
Semoga saja haidnya tidak lancar karena beban pikirannya yang menghantui belakangan ini. Serta moodnya yang berantakan. Semoga saja itu pemicunya. Bukan hal-hal yang lain.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....