Rearin

Rearin
Perang dingin


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Percekcokan dalam hubungan itu layaknya sebuah perekat yang semakin mendekatkan keduanya......


...###...


"Sialan", umpatan keras dan satu pukulan kuat di dinding itu berasal dari seorang suami yang tengah menahan amarah. Sangat besar, hingga Levi ingin rasanya membenturkan kepalanya ke dinding berulang kali.


Tadi disaat jam makan siang, Levi yang sedang bertemu dengan klien nya di salah satu mall terkenal ibu kota. Tak sengaja menangkap siluet tubuh istrinya yang tengah berjalan dengan seorang laki-laki. Berjalan berdua memasuki toko buku. Sesekali terlihat bersenda gurau dengan ringannya.


Membuat Levi geram ingin menghampiri keduanya lalu memukul wajah laki-laki yang Levi tau masih menyimpan perasaan terhadap Rea.


Ya, siapa lagi kalau bukan Rafqi.


Namun Levi harus mengontrol emosinya dan berusaha bersikap se-profesional mungkin.


Tapi kini Levi tak dapat lagi mengontrol emosinya ketika tidak melihat Rea di rumah. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


Apakah Rea dan Rafqi masih berduaan saat ini. Menikmati langit senja bersama. Huh, dasar.


"Hahaha, iya Bik, yang tadi lucu. Tapi kan aku belum tau, jenis kelaminnya apa."


Levi membuka matanya yang tadi terpejam saat mendengar suara Rea. Menyugar rambutnya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Duduk di tepi ranjang dengan pandangan lurus ke pintu kamar yang tertutup.


Levi tidak boleh gegabah. Dirinya tidak boleh mengambil kesimpulan hanya karena melihat langsung. Levi harus mendengarkan penjelasan Rea. Walau pun tidak suka.


Suara ketukan sepatu di lantai menjadi backsound Levi yang sedang menunggu pintu kamar terbuka. Hingga handle pintu bergerak pelan dan menampilkan Rea dengan gaun berwarna tosca selutut nya. Rambutnya yang dibiarkan tergerai. Dan tangan mungilnya memegang banyak paper bag.


"Loh udah pulang?", tanya Rea heran. Sebab jadwal Levi pulang itu jam enam sore, bukan sekarang.


"Hm", sahut Levi singkat dengan pandangan yang menyorot setiap gerak-gerik Rea.


Setelah selesai meletakkan segala belanjaannya ke dalam lemari, Rea lantas menghampiri suaminya yang tampak kusut. Mungkin pekerjaan Levi terlalu banyak.


"Pulangnya kok ce-", ucapan Rea terhenti ketika melihat buku-buku jari Levi yang memerah. Sontak Rea mengambilnya dan mengangkat tangan kanan itu hingga ke depan wajahnya.


"Kenapa?", tanya Rea menatap Levi yang memandangnya tanpa ekspresi.


Levi menggelengkan kepalanya dua kali sebagai jawaban.


Merasa mood suaminya kurang bagus, Rea pun tak banyak bertanya. Meniup pelan buku-buku jari yang terlihat memerah itu. Bahkan ada yang lecet dan berdarah. Entah apa yang sudah dilakukan ayah dari anak yang dikandungnya tersebut.


"Dari mana?", Levi bertanya setelah lama bungkam. Mencegah Rea yang hendak mengambil kotak P3K.


Rea kembali berdiri di depan Levi seraya merapikan rambut Levi yang tampak berantakan.


"Ke mall sama bik Mirna", balas Rea lanjut menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan sang suami.


Bohong.


Satu kata yang sangat ingin Levi lontarkan. Levi tak percaya kalau Rea sudah mulai pandai berbohong kepadanya.


"Enggak ke toko buku sama Rafqi", ujar Levi to the point yang langsung membuat pergerakan tangan Rea mengelus pipi Levi terhenti.


Memandang lamat wajah yang terlihat datar dan dingin itu. Rea lantas menghela nafas pendek saat tau alasan punggung tangan Levi terluka. Hingga penampilannya yang tampak carut-marut. Dan itu juga mungkin salah satu penyebab Levi pulang lebih cepat hari ini.

__ADS_1


"Ka-"


"Kenapa enggak minta temenin aku?", belum sempat Rea bersuara, Levi dengan cepat menyela nya.


Rea merotasikan mata nya, "Kan kamu kerja sayang", sahutnya lembut, agar api amarah yang ada di mata Levi itu sirna.


"Kan bisa pergi sama Dita?."


"Dita lagi sakit", Rea bangun dari atas pangkuan Levi.


"Argan?."


"Dia kan lagi sekolah."


"Bun-"


"Kamu yakin mau debat sama aku?", potong Rea seraya menatap datar suaminya itu.


Levi mendengus dan membuang pandangannya ke samping.


Tak berniat ingin menjelaskan lebih lanjut, Rea pun lantas mengayunkan kakinya menuju kamar mandi.


Percuma saja dijelaskan kalau Levi sedang dipenuhi amarah begitu. Yang ada nantinya mereka bertengkar dan saling melemparkan kata-kata yang menyakitkan.


...###...


Rea menatap sofa yang ada di bawah jendela kamarnya. Ruangan berwarna monokrom itu sudah terlihat gelap dan sunyi. Hanya lampu yang ada disisi Rea yang masih menyala terang. Menemani perempuan hamil itu yang masih terjaga di larutnya malam.


Tangan Rea terulur menyentuh perutnya yang sudah terlihat buncit. Usia kandungannya sudah memasuki lima bulan. Dan itu artinya empat bulan lagi Rea akan berjumpa dengan malaikat kecilnya.


Ah, Rea tak sabar menanti nya.


"Malam ini kita tidur sendiri. Jadi biar Mommy aja yang ngelusin. Kamu harus biasa mandiri dari kecil", sindir Rea untuk sang suami yang kini tidur membelakanginya.


Setelah percekcokan kecil di antara mereka. Levi mendiami dirinya hingga saat ini. Rea yang tak ingin mengklarifikasi pun lantas membiarkan saja Levi dengan segala asumsinya.


"Anak Mommy yang cantik, imut, ma-"


"Tidur."


Rea tersenyum ketika merasakan lilitan tangan di pinggangnya serta elusan lembut di perutnya.


Levi selalu bersikap begitu, jika Rea menyebut anak mereka adalah perempuan. Maka Levi akan marah dan mengomelinya. Mengatakan kalau janin yang ada di dalam rahimnya itu adalah laki-laki. Segitu yakinnya Levi, padahal mereka belum pernah melihat jenis kelamin sang jabang bayi.


Rea langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Levi. Membenamkan wajahnya ke dada bidang yang selalu membuatnya hangat. Menghirup aroma yang selalu berhasil membuatnya tenang.


Levi hanya melirik sekilas Rea sebelum kembali memejamkan matanya. Mengelus pelan perut buncit Rea dengan sebelah tangan, dan tangannya satu lagi digunakan untuk mengusap lembut punggung sang istri. Itu sudah kebiasaan Rea ketika hendak tidur.


Dan Levi hafal luar kepala. Maka nya Rea belum juga memejamkan matanya karena Levi belum memeluknya.


"Anak kamu nge-repotin, kayak Daddy nya", omel Rea yang tak ditanggapi oleh Levi. Membuat Rea mendengus tak suka.


Terbuai oleh elusan-elusan lembut Levi, Rea pun tak kuasa lagi menahan kantuknya yang sudah menyerang. Perlahan kelopak mata yang dihiasi bulu-bulu lentik nan panjang itu pun tertutup sempurna. Meninggalkan dengkuran halus yang memecah keheningan malam.


...###...

__ADS_1


Suara decakan kesal itu sudah berulang kali keluar dari bibir Levi kala matanya menatap objek yang memuakkan di bawah sana.


Di sana, tepatnya di depan halaman rumah tetangganya. Rea terlihat tengah mengobrol seru dengan seorang laki-laki yang berusia sekitar 20-an ke atas.


Levi melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah lewat lima menit, dan mereka masih saja mengobrol. Apa sih yang dibicarakan sampai segitunya.


Lalu tak lama kemudian. Rea terlihat berpamitan singkat dan segera berjalan masuk ke dalam rumah.


Tak ingin dikira mengintip, Levi pun melanjutkan kegiatannya menyusun peralatan kuliah nya.


Pintu terdengar terbuka, namun Levi masih tetap acuh. Pagi-pagi moodnya sudah memburuk.


Levi merutuki sikap Rea yang lebih ramah selama masa kehamilannya. Entah kemana hilangnya sifat dingin dan cuek nya itu. Membuat Levi jengkel setengah mati. Karena istri cantiknya banyak dilirik oleh para kaum adam.


"Loh, belum pergi?."


Levi melirik sebentar Rea yang berdiri dihadapannya, "Gimana mau pergi, kalau istrinya aja pagi-pagi udah enggak ada di rumah."


Rea menghela nafasnya. Entah sampai kapan perang dingin ini akan berlanjut. Padahal Rea kira mereka sudah berbaikan setelah tadi malam. Ternyata dugaannya salah, Levi tetap saja acuh tak acuh terhadapnya. Bahkan suaminya itu belum menciumnya pagi ini. Huh, menyebalkan.


"Cuma pergi bentar, nganterin balik piring Buk Yani", ujar Rea yang bermaksud menjelaskan.


Levi tak menyahut, cowok itu menyandang kan tas nya di pundak. Mengecek penampilannya sekali lagi di cermin. Lalu beranjak keluar dari dalam kamar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rea yang sudah berkaca-kaca.


Ketika Levi hendak melangkahkan kakinya keluar pintu. Rea lebih dulu berlari dan memeluk suaminya dari belakang.


"Hiks, Levi. Jangan diemin aku terus", rengek Rea dengan tangan yang memeluk erat perut Levi.


"Mau sampai kapan kamu kayak gini."


Levi menghela nafasnya panjang. Sebenarnya Levi sudah tidak marah perihal kejadian di mall. Karena selepas makan malam Levi sudah mendengar ceritanya dari Bik Mirna.


Rupanya Bik Mirna pergi ke mall dengan Rea untuk menemani perempuan itu membeli buku. Tapi ketika Bik Mirna pergi ke toilet, Rafqi tidak sengaja melihat Rea dan menghampirinya. Lalu mereka bertiga berjalan-jalan mengelilingi mall sepanjang siang.


Levi tetap diam itu karena ia ingin Rea menjelaskan kepadanya. Levi tak suka dengan sikap Rea yang menganggap enteng suatu masalah. Dan membiarkannya larut tanpa kejelasan.


Kalau saja Rea terus bersikap seperti itu, maka yang ada mereka akan selalu bertengkar. Rea yang tak ingin menjelaskan, dan Levi yang tak ingin mencari tahu.


"Sampai kamu nge-jelasin yang sebenarnya sama aku", Levi melepaskan belitan tangan Rea. Lalu memutar badannya menghadap tubuh mungil istrinya.


"Hiks, kamu itu salah paham. Semalam itu, a-aku...", Rea terlihat bergetar karena menahan tangisnya. Jujur, Rea tak suka di diamkan seperti itu. Apalagi Levi yang terlihat tak peduli akan nya dan anak mereka. Membuat pikiran-pikiran negatif seketika bersarang di otaknya.


Melihat Rea yang tak mampu bicara. Levi pun lantas menarik Rea ke dalam pelukannya. Membuat bumil satu itu langsung menumpahkan tangisannya.


"Ka-kamu belum nyium aku sama anak kita. Tapi kamu udah mau pergi aja. Kamu bosen sama kami?", Rea mengurai pelukannya dan menatap sebal Levi dengan air mata yang berlinang di pipinya.


Bibir Levi membentuk satu garis lurus. Mengusap rambut panjang Rea yang tergerai indah.


"Emangnya kamu mau dicium dimana?."


Tanpa malu, Rea sedikit memajukan bibirnya. Membuat Levi menyeringai. Dengan kakinya, Levi menutup kembali pintu kamar dan menguncinya. Melempar asal tas nya ke lantai. Lalu menggendong istrinya dan berjalan ke arah ranjang.


"Kamu udah buat aku bolos, sayang", lirih Levi dengan serak. Meletakkan pelan tubuh Rea ke atas ranjang. Dan mulai mencumbunya mesra dengan matahari pagi yang masuk ke celah-celah kamar.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


...Gaje ya?, duh sorry, lagi gamood...


...Like nya yg rajin dong beib, biar smngt 😘...


__ADS_2