
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Saya bukan penggoda, tapi kalau cowok kamu tergoda, apa itu salah saya?......
...###...
Rea berjalan sendirian di tengah-tengah koridor yang ramai. Tidak ada Dita yang menemaninya. Sebab cewek itu sedang melaksanakan remedial ujiannya. Bukannya belajar, sahabat absurd nya itu malah sibuk menyusun rencana untuk membuat Argan jatuh cinta padanya. Jadi memang pantas jika saat ini Dita mendapatkan nilai merah di semua mata pelajarannya, bukan.
Entah apa yang ada di dalam benak Dita sampai begitu kukuh ingin meluluhkan hati Abang nya.
Lalu Rea mengangkat pandangannya dan menatap orang-orang yang berkerumun di depan sana. Lantas Rea mengernyitkan keningnya bingung. Mengapa semua orang mengerumuni mading sekolah. Ada apa disana?.
Ujian memang telah usai, dan hari ini nilai-nilai sudah di keluarkan dan ditampilkan di mading. Tapi biasanya orang-orang tidak seramai itu hanya untuk melihat nilai semata. Mading sekolah itu seperti pajangan yang tak berguna. Hanya anak-anak kutu buku yang bersedia menyempatkan diri untuk melihat benda tersebut. Lebihnya, jika memang ada perlu atau para penggemar Ghozi yang ingin melihat update tentang Geng sekolah itu.
Lebih tepatnya ingin melihat potret dan info terbaru tentang ketua Ghozi, Levino.
Rea sontak mendengus bila mengingat satu nama itu. Mood-nya hancur seketika. Semangat yang berusaha ia bangun, langsung runtuh hanya dengan mendengar nama itu. Membuatnya teringat akan kejadian yang sangat memalukan dalam hidupnya ini.
Tiga hari telah berlalu, dan keadaan tak lagi sama. Rea yang berusaha untuk menutupi semua lukanya agar tidak ada satupun orang yang tau. Dan Levi yang sampai kini tidak ada menunjukkan batang hidungnya.
Cowok itu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Lenyap seperti di telan bumi, tanpa meninggalkan jejak apapun.
Sebenarnya Rea bersyukur akan itu. Sebab Rea tak ingin lagi melihat wajah yang sudah membuatnya trauma. Membuatnya terluka dua kali di tempat yang sama. Dan lukanya itu sampai kini belum diberi obat apapun sama sekali. Walaupun sembuh nantinya, pasti akan meninggalkan sebuah bekas yang tak terlupakan.
"Percuma cantik, tapi enggak perawan."
"Enggak nyangka gue, astaga."
"Apaan, fitnah nih pasti, gue percaya dengan idola gue."
Rea mengerjapkan matanya saat mendengar orang-orang yang berbisik sana-sini. Berdebat satu sama lain.
Merasa penasaran, Rea lantas berjalan lebih mendekat. Mencoba membelah kerumunan yang ada. Dan perasaan Rea saja atau bukan. Semua orang mendadak diam saat melihat dirinya. Memandanginya dengan berbagai tatapan.
Rea tak ambil pusing akan hal itu. Sebab bukan rahasia lagi kalau banyak orang yang membenci dan juga menyukainya. Yang menyukainya, Alhamdulillah. Yang tak suka padanya, ya biarkan saja. Sebab Rea bukan Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia.
"Misi", ujar Rea pada laki-laki jangkung yang menghalangi pandangannya.
__ADS_1
Cowok itu terlihat berbalik dan menatap Rea dengan pandangan yang sulit diartikan. Lalu setelah itu cowok tersebut segera menyingkir dan memberi jalan pada Rea. Membuat Rea tak sabar ingin melihat sesuatu yang ada di mading sampai membuat orang-orang berkerumun.
Namun langkahnya seketika berhenti saat melihat sebuah foto berukuran sedang yang ada di dalam mading. Jantungnya berdetak dengan cepat sampai membuat Rea merasa jika organ vitalnya itu seperti mau jatuh. Keluar dari tempat persemayaman. Membawa serta nafasnya. Keringat dingin memenuhi sekujur tubuhnya. Merembes hingga ke tulang. Membuat tubuhnya terasa dingin membeku.
"Pergi lo dari sini!, huuuuu!, buat malu sekolah aja lo!."
"Cantik tapi enggak perawan apa bedanya dengan cewek-cewek jala*g."
"Jala*g lo sialan!, nyesal gue nge-idolain lo dulu!."
Rea memejamkan matanya saat telinganya terasa berdengung. Bisik-bisik yang merusak mentalnya itu memenuhi indra pendengarannya. Sontak Rea memejamkan matanya seraya mengepalkan tangannya. Apalagi ini ya Tuhan. Mengapa penderitaannya tidak habis sampai di malam kelam itu saja. Mengapa harus berlanjut sampai menyangkut perihal sekolahnya.
"Pergi lo dari sini!."
"Huuuuuu, pelac*r!."
Rea membuka matanya lalu dengan gerakan cepat merobek foto laknat tersebut. Foto yang berisi dirinya yang terlihat keluar dari hotel. Tidak ada yang salah memang, tapi tulisan yang ada di bawah itu mampu membuat orang berspekulasi yang tidak-tidak tentang dirinya.
...Primadona Angkasa menjual tubuhnya untuk cowok-cowok yang kurang belaian....
Dengan mata yang melotot memerah Rea berbalik. Menatap dengan gemetar orang-orang yang mendadak terdiam. Mereka terkejut, cewek yang berdiri di tengah-tengah itu tidak seperti biasanya. Tidak ada ekspresi datar dan dingin seperti biasanya. Wajah Rea marah padam dengan tangan yang mengepal erat. Menandakan kalau amarah tengah menguasinya.
Tak ada yang menjawab. Semuanya bungkam. Membuat amarah Rea semakin membuncah.
"Siapa?!", teriak Rea lantang yang membuat semua orang berjengit kaget.
"Jawab saya, siapa orang yang kurang kerjaan ini?!", bentak Rea. Namun lagi-lagi tak ada yang berniat menjawab.
"Siapa yang-"
"Gue orangnya", Celine membelah kerumunan. Berjalan angkuh dan berdiri menantang di hadapan Rea, "Mau apa lo?."
Rea seharusnya sudah tau jika tidak ada orang yang lebih tidak tau malu dari Celine Felistia.
"Apa tujuan kamu?", tanya Rea to the point. Berusaha tidak melampiaskan amarahnya. Karena jika sudah meledak, maka akan sulit untuk dipadamkan.
Celine tersenyum mengejek, "Gue mau nyadari cowok-cowok yang suka sama lo ini. Biar mereka tau kalau dewi yang mereka agung-agungkan itu gak lebih daripada jala*g", sahutnya sambil menunjuk murid laki-laki yang berada di sana.
__ADS_1
Rea tersenyum tipis, mengendurkan genggamannya dan menatap santai Celine yang ada dihadapannya, "Apa sebenarnya definisi jalang?, cewek yang jual tubuhnya?, atau cewek yang ngejar-ngejar cowok?, atau pun cewek yang suka cari perhatian cowok-cowok?", Rea malah bertanya yang membuat Celine mengernyitkan keningnya.
"Kalau cewek yang suka cari-cari perhatian cowok yang bukan pacarnya adalah definisi jalang. Lalu apa bedanya kamu dengan saya?", Rea menatap datar Celine yang terlihat melotot menatapnya.
"Lo itu yang jala*g. Lo yang udah ngambil Levi dari gue. Lo yang cewek jala*g, sialan!."
Mendengar itu, amarah yang tadinya sedikit mereda langsung kembali naik seketika. Lalu Rea menoleh ke arah sampingnya. Dan tanpa aba-aba cewek itu mengambil satu styrofoam yang dipegang oleh seorang siswi di sampingnya.
Kemudian Rea melemparkan styrofoam yang penuh dengan makan itu ke wajah Celine. Membuat styrofoam itu terbuka dan membasahi wajah Celine dengan kuah lontong di dalamnya yang kontan membuat cewek itu menjerit kepedihan.
Sudah Rea bilang bukan, jika ia tidak ingin mendengar nama bajing*n itu disebut di depannya. Dan sang ketua OSIS itu sudah sangat menguji kesabarannya. Jangan lupakan kalau Celine lah alasan utama hidupnya berantakan.
"Saya bukan penggoda, tapi kalau cowok kamu tergoda, apa itu salah saya?", desis Rea tajam. Ekspresinya mungkin datar, tapi orang-orang akan langsung paham bila menatap mata hitam yang menyalang tajam itu.
"Lo...., berani-beraninya lo. Gue-"
"Tante saya pernah bilang ke saya, kalau kamu enggak bisa dapatin apa yang kamu, maka jangan rebut apa yang orang punya. Dan saya sama sekali enggak pernah menginginkan Levi kamu itu. Dia yang datang sendiri ke dalam hidup saya. So, enggak ada alasan saya buat ngambil dia dari kamu. Dan enggak ada hak kamu buat manggil saya jala*g. Sebelum ngatain orang, bisa ngaca dulu?", sela Rea tak mempedulikan Celine yang menggeram marah. Cewek itu mengeluarkan segala amarah dan luka yang telah dipendamnya selama ini. Membuat orang menatap tak percaya Rea. Jarang-jarang bisa melihat kulkas berjalan itu ngomong panjang lebar dengan nada yang penuh marah.
Lalu Rea menoleh ke arah sampingnya setelah melihat Celine yang seperti mati kutu dan enggan membalasnya.
Cewek itu mengeluarkan uang berwarna biru dari saku seragamnya dan memberikan itu kepada siswi yang makanannya tadi Rea rebut.
"Sorry", ujarnya.
Setelah itu tanpa membuang waktu lagi Rea segera beranjak dari kerumunan orang-orang bodoh tersebut.
Tapi ketika Rea melewati Celine. Cewek itu berhenti dan berbisik di samping telinganya, "Saya kasih tau kamu satu rahasia. Selain tampan, Levi kamu itu juga perkasa, buat saya kualahan."
Celine sontak menoleh menatap Rea. Membelalakkan matanya setelah mendengar ucapan Rea yang terdengar ambigu.
Rea tersenyum miring melihat wajah Celine yang merah padam, "Kamu simpan, sebagai kenang-kenangan", ujarnya seraya memasukkan foto itu ke dalam saku seragam Celine, "Hal yang kayak gini enggak mempan buat saya. Bocah", tambah Rea lalu berlenggang pergi setelah menepuk sekilas pundak teman seangkatannya itu.
Untung saja Dita tidak ada disini, kalau tidak mungkin wajah Celine sudah habis dengan kuku-kuku panjang Dita.
Lagipula Rea tak ingin bersikap berlebihan. Satu kotak styrofoam berisi lontong itu saja baginya sudah cukup untuk membalas rasa sakitnya. Walau semuanya tak terbayarkan. Tapi biarlah, biarkan Tuhan yang membalas semuanya.
Tuhan itu tidak tidur. Dia adalah cctv terbaik yang ada di alam semesta ini.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....