
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Terkadang dibutuhkan rasa sakit terburuk untuk mendapatkan perubahan terbaik......
...###...
Rea menatap cupcake yang berhasil dibuatnya itu dengan mata yang berbinar. Ya, walaupun sebagian besarnya dibantu oleh Arinta. Tapi tetap saja itu adalah hasil pertamanya setelah berguru bersama sang Bunda selama setengah bulan ini.
Dari pada Rea meratapi nasib rumah tangganya yang sudah hancur, lebih baik ia memperhatikan diri sendiri dan malaikat kecil yang perlahan sudah tumbuh kembang di dalam rahimnya.
"Bun, boleh bungkusin enggak?", tanya Rea seraya mengelus perutnya yang sedikit menegang. Entah mengapa, setiap pagi belakangan ini perutnya selalu terasa kram.
Rea khawatir dengan baby nya dan rencananya nanti ia akan pergi konsultasi dengan dokter kandungannya.
Arinta menoleh dari kegiatannya yang menghias cupcake ke arah putrinya yang duduk manis di mini bar.
"Buat siapa?", tanya Arinta balik dan kembali mengalihkan perhatiannya pada cupcake yang ada dihadapannya.
"Buat....", Rea menggantung ucapannya sembari menatap cupcake yang sudah jadi di depannya. Bagaimana reaksi Arinta jika Rea mengatakan kalau dirinya akan membawa itu untuk Tante Ayla, Mama nya Levi, dan mantan mertuanya.
Entah kenapa, pagi ini Rea tiba-tiba sangat ingin bertemu dengan wanita itu. Apakah Tante Ayla sudah pulih, atau keadaannya masih sama saja seperti terakhir kali ia lihat.
"Bun, janji jangan marah ya", Rea menatap was-was Arinta yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa harus marah?."
"Janji dulu", walau Arinta itu orangnya baik, sangat baik malah. Tidak ada yang bisa menandingi kebaikan hati Bunda nya di dunia ini. Tapi tetap saja, bila menyangkut Levi, Arinta akan langsung naik pitam. Marah-marah, hingga Argan ataupun Papi nya sampai terkena imbasnya.
Arinta mengerutkan keningnya namun tak urung mengangguk, berjanji tak akan marah.
"Saya mau main ke rumah Tante Ayla", suaranya terdengar sangat pelan karena takut.
"Tante Ayla?, siapa?."
Rea memainkan tangannya yang ada di atas paha, menatap sang Bunda dengan takut-takut.
"Mama nya Levi."
Rea menggigit bibir bagian dalamnya saat melihat mata Arinta yang melebar.
"Kenapa kamu kesana?, kamu mau ngadu sama mantan mertua, kalau Levi udah ceraikan kamu?, iya?."
Tuh kan, sudah Rea bilang. Kalau membahas soal Levi Bunda nya itu akan judes dan sensi banget.
Padahal dulu Arinta tidak pernah sekalipun melotot garang ke arahnya, tapi itu semua berubah karena Levi, si biang masalah dalam hidupnya.
Rea lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Enggak Bun, saya tiba-tiba pengin ketemu aja."
Arinta terdiam sejenak. Ia tau kalau ibu hamil itu terkadang menginginkan sesuatu yang cukup tak masuk akal. Dan sekarang Rea menginginkan sesuatu yang ia anggap sangat tak masuk akal. Walau itu bisa terbilang silaturahmi. Tapi tetap saja, Arinta tak suka.
Disaat menikah, keluarga Levi satu pun tak ada yang datang. Disaat berpisah pun, tak ada seorang pun dari keluarga Levi yang ingin berembuk. Arinta hanya merasa kalau putrinya seperti tengah dipermainkan.
Hei, harga diri putrinya itu sangat mahal. Bahkan jika menara Eiffel dijual pun harganya belum tentu sebanding dengan Rea.
Rea tak ada harganya, karena putrinya memang tidak bisa dibeli dengan uang. Bayaran yang paling bagus untuknya adalah seorang laki-laki baik yang tulus mencintainya.
"Boleh, Bun?", Rea menarik kecil baju yang dikenakan oleh Arinta.
"Apapun yang kamu suka, lalukan. Selagi itu baik buat kamu dan orang sekitar", jawab Arinta seraya mengelus sayang surai putrinya.
Apapun yang ingin Rea lakukan, maka mereka semua akan mendukung sepenuhnya. Selagi itu bisa terus memunculkan lengkungan sabit di wajah manis Rea.
"Makasih, Bunda", Rea bangkit lalu memeluk Arinta dengan sumringah.
Arinta mengusap punggung mungil tersebut, "Sama siapa kamu pergi?."
"Sendiri."
"Sama Bunda aja", Arinta melepaskan pelukannya, "Tunggu bentar", tambahnya dan hendak melangkah ke kamarnya untuk bersiap diri.
"Enggak usah Bun. Saya minta tolong bilangin ke guru privat saya, kalau hari ini-"
"Bolos?."
Aish, mengapa Bunda nya membuat itu terdengar seperti dirinya adalah seorang murid yang pemalas.
Rea meringis, "Boleh kan?."
Arinta tertawa pelan lalu mengangguk singkat.
__ADS_1
"Love you Bunda", Rea mengecup kilat pipi Arinta sebelum mengacir lari ke kamarnya. Membuat ibu dari dua orang anak itu tersenyum geli, Rea tidak pernah bersikap manis seperti itu sekalipun.
...###...
"Hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa cepat kabarin Bunda", Arinta memberikan bingkisan yang berisi cupcake itu kepada Rea.
"Iya, Bun."
"Kalau enggak Bunda ikut aja gimana?."
Rea menatap Bunda nya yang terlihat sangat khawatir.
"Bunda bukannya mau nganterin bekalnya Papi nanti, kan?. Saya bisa sendiri kok Bun, jangan khawatir", ujar Rea mencoba untuk meyakinkan Arinta. Mengambil tangan kanan Bunda nya dan mencium singkat punggung tangannya.
"Saya pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waallaikumussalam", Arinta melambaikan tangannya lesu pada mobil Rea yang perlahan keluar dari dalam pekarangan rumah.
Semoga saja Tuhan selalu melindungi Rea dimana pun dan kapanpun. Itu adalah doa dari hati yang terdalam seorang ibu.
Dua puluh menit perjalanan, mobil jazz berwarna merah itu akhirnya terparkir sempurna di halaman rumah yang sangat besar dan megah itu.
Rea mematikan mesin mobilnya dan memasukkan kuncinya ke dalam tas. Menghela nafas panjang sebelum mengambil bingkisan yang ada di samping kursi kemudi. Rea harap David maupun Levi sedang tidak ada di rumah. Sehingga membuatnya leluasa untuk mengunjungi Ayla.
Membuka pintu mobil, Rea lantas turun dan berjalan pelan ke arah rumah bergaya modern itu.
Mengetuk beberapa kali, hingga sautan panjang terdengar dari dalam serta pintu yang dibuka. Menampilkan seorang wanita dengan pakaian perawat.
"Maaf ya kak, cari siapa kalau boleh tau?", tanya wanita itu dengan sopan dan ramah.
Rea tersenyum tipis, "Saya cari Tante Ayla, ada?."
"Oh, ada. Ibuk Ayla ada di dalam kamarnya. Silahkan masuk."
Rea melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Mengikuti wanita itu yang mengantarkan nya ke kamar Ayla. Sebenarnya Rea tau, mengingat jika dirinya sudah pernah kesini bersama Levi dulu.
"Buk, ada yang mau bertemu", wanita yang Rea tak tau namanya itu terlihat mencoba membangunkan Ayla yang sedang beristirahat.
"Enggak apa-apa kalau Tante Ayla nya lagi istirahat, saya bisa datang lagi besok", ujar Rea setelah melihat kalau Tante Ayla tidak terbangun dari tidurnya. Rea bersiap-siap untuk keluar dari dalam kamar tersebut. Namun sebuah seruan lemah itu menghentikan langkahnya.
"Kemari sayang."
Dengan langkah pelan namun pasti kakinya terayun mendekat ke arah wanita yang memakai alat bantu pernapasan tersebut.
Perawat wanita itu yang seakan paham dengan situasi pun sontak mengundurkan diri keluar.
Rea mendekat, duduk di tepi ranjang dan memegang lengan Ayla yang lemah. Kenapa mantan mertuanya itu terlihat semakin parah. Bahkan ruangan ini sudah disulap seperti kamar pasien rumah sakit. Banyak alat-alat yang tidak Rea tau apa namanya.
Tapi satu yang Rea yakin, itu semua pasti alat penunjang kehidupan untuk wanita berdarah Turki tersebut.
"Apa kabar, Tan?", Rea bertanya dengan pelan.
Ayla tersenyum, "Alhamdulillah baik."
Melihat senyuman manis yang rapuh itu, Rea seakan ingin langsung menumpahkan air mata yang sudah bersembunyi cantik dibalik pelupuk matanya.
"Kamu gimana?."
"Saya baik."
"Cucu Mama gimana?."
Rea mengerjapkan matanya hingga cairan bening itu luruh begitu saja. Tak tahan, Rea kemudian memeluk Ayla seraya menangis.
"D-dia baik, Tan."
Ayla tersenyum getir dengan mata yang berkaca-kaca, "Jangan panggil Tante, sampai kapan pun cuma kamu mantu Mama."
Rea melepas pelukannya karena ia takut jika itu dapat melukai Ayla.
"Jangan nangis Tan_Ma", gumam Rea menghapus sudut mata Ayla yang berair.
"Kamu bawa apa itu?."
Rea melirik bingkisan yang ada di sampingnya seraya meringis. Seharusnya bukan cupcake yang ia beri, tapi seperti sup atau makanan lain yang mudah untuk dimakan oleh Ayla.
"S-saya enggak tau kalau Mama lagi sakit. Jadi tadi saya bawa cupcake", ujar Rea dengan menahan malu.
Ayla tersenyum, "Enggak apa-apa."
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua sama-sama diam. Membuat suasana menjadi hening seketika. Rea tidak tau apalagi yang ingin dibicarakan nya. Ditambah dirinya adalah tipe orang yang tak pandai membuka sebuah obrolan.
"Levi banyak ulahnya ya."
Rea tersentak dan memandang ke arah Ayla. Sepertinya wanita itu memang sudah mengetahui masalah yang ada antara dirinya dan juga anak laki-lakinya.
"Maafin Levi ya sayang", Ayla mengusap lemah punggung tangan Rea.
"Mama yakin itu sakit banget buat kamu, tapi kamu juga harus yakin pasti ada alasan seseorang bisa berubah drastis dalam waktu yang singkat."
Rea berusaha mencerna ucapan Ayla yang sepertinya tersirat makna yang dalam. Tapi sekarang Rea merasa otaknya sedang malas untuk berfikir.
"Ma", panggil Rea membuat Ayla memandangnya dengan bertanya.
"Elusin perut saya boleh?", ujar Rea setelah mengumpulkan keberaniannya. Sebenarnya itu yang Rea inginkan dari menjenguk Ayla hari ini. Entah mengapa Rea ingin sekali perutnya dielus lembut oleh Mama nya Levi.
Ayla tersenyum lembut, "Kayaknya cucu Mama rindu sama Oma nya. Kemari", ujarnya menyuruh Rea untuk lebih mendekat.
Rea lantas menurut dan duduk lebih ke atas. Ayla berusaha untuk bangkit duduk dengan dibantu oleh Rea.
"Sehat-sehat ya sayang. Jangan takut, kalau Oma masih ada, enggak akan ada yang bakal berani ngerebut kebahagiaan kamu. Baban da dahil, bekle onu canım."
Rea mengerjapkan matanya saat mendengar bahasa asing tersebut. Sepertinya itu adalah bahasa Turki. Tapi Rea tak tau apa artinya.
"Itu tadi-"
"Assalamualaikum."
Ucapan Rea yang ingin bertanya apa maksud ucapan Ayla tadi langsung terpotong oleh suara berat yang mengucapkan salam dengan datar tersebut. Membuat dua orang perempuan berbeda generasi itu menoleh ke arah pintu kamar.
Levi?.
Melihat laki-laki itu sontak saja Rea membelalakkan matanya. Mengapa Levi datang tiba-tiba. Membuat moodnya turun.
"Waallaikumussalam, tumben cepat?."
Rea tersadar saat mendengar suara Ayla. Lantas cewek itu bangkit dan berdiri disamping ranjang. Membelakangi Levi yang belum beranjak dari ambang pintu.
"Udah selesai", Levi melangkahkan kakinya ke arah ranjang. Berdiri sedikit lebih jauh dari Rea.
"Ini apa Ma?."
"Cupcake, Rea bawa."
Levi menolehkan kepalanya. Menatap Rea yang hanya berdiri diam menatap Ayla. Lalu matanya beralih ke arah perut yang coba untuk ditutupi oleh Rea dengan cardigan panjang yang dipakainya.
"Mama udah ma-"
"Auh", Rea meringis saat merasakan perutnya sangat tegang. Kram nya tidak seperti yang biasa ia alami.
"Kamu kenapa sayang?", Ayla menatap khawatir Rea yang memegangi perutnya.
"Enggak kena-, aduh", Rea hampir saja terjatuh ke lantai kalau tidak ada tangan kokoh yang siap memeluk pinggangnya dari belakang.
"Ssshhh", Rea mendesis kesakitan hingga matanya terpejam erat. Tak peduli siapa yang dibelakangnya, Rea bersandar pada dada yang berbidang tersebut.
Lalu tanpa sadar tangannya mengambil tangan Levi yang memegangi pinggangnya. Meletakkannya di atas perutnya yang sudah sedikit membuncit.
Tanpa menunggu instruksi, Levi lantas menggerakkan tangannya untuk mengelus perut Rea. Membuat guratan kesakitan itu hilang seketika. Rasanya berbeda dengan elusan Ayla tadi. Padahal yang sangat ia inginkan adalah elusan tangan mantan mertuanya.
Tapi ini jauh lebih baik.
"Be calm boy."
Rea membuka matanya lebar-lebar saat mendengar suara berat itu yang berasal dari belakangnya. Refleks saja Rea menoleh ke belakang. Dan matanya tambah membeliak saat melihat Levi yang juga tengah menatapnya.
Tapi cowok itu lebih dulu memutuskan pandangannya.
"Anneni rahatsız etme, canim", ujar Levi dengan meletakkan dagunya di atas pundak Rea. Sambil terus mengelus sayang malaikat kecilnya. Mumpung tidak ada David dan mata-matanya.
Melepaskan rindu sebentar, tidak apa-apa kan.
"Biraz daha bekleyein", tambah Levi masih dengan bahasa planet lain yang tak Rea mengerti.
"Herşeyin gönlünüzce olması dileğiyle."
Rea menoleh ke arah Ayla yang barusan juga berbicara dengan bahasa yang membuatnya planga-plongo.
Oh Tuhan, apakah sepasang anak dan ibu itu sedang membicarakan dirinya?.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....