
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Terkadang kita harus menempuh berbagai luka, agar bisa merasakan bahagia......
...###...
"REAAA."
Rea semakin mempercepat langkah kakinya saat merasa suara itu semakin dekat terhadapnya. Biarlah, sekali saja Rea ingin egois. Tak peduli jika sikapnya ini dianggap sebagai pengecut, lari dari kenyataan, arogan, apapun itu. Yang Rea tau saat ini dirinya benar-benar membutuhkan sebuah waktu. Waktu untuk memulihkan hatinya serta mempertegas apa yang ia inginkan. Menentukan jalan hidup kedepannya.
"Akh."
Lalu langkah Rea seketika berhenti bersamaan dengan tubuhnya yang dipeluk erat dari belakang. Sangat erat, hingga Rea sulit untuk menarik nafas.
"Le...pas", Rea berusaha untuk membuka belitan tangan yang ada di pinggangnya. Namun berakhir dengan sia-sia. Pelukan itu semakin erat membuat Rea bertambah sesak.
"Enggak, nanti kamu pergi."
Rea menghela nafasnya. Sangat keras kepala.
Lalu beberapa detik kemudian Rea mengerjapkan matanya saat mendengar suara panggilan maskapai penerbangannya kembali terdengar.
Sial, mengapa masalahnya bisa sampai begini.
Baru saja Rea mencoba untuk kembali membuka belitan tangan kekar itu di perutnya. Namun rasanya pelukan itu semakin mengerat. Seolah celah satu centi saja bisa membuat Rea berari sejauh mungkin.
"Levi, anaknya kejepit loh ini", kesal Rea seraya memukul keras tangan cowok tersebut. Membuat Levi sedikit mengendurkan pelukannya.
"Maaf", gumam Levi di ceruk leher Rea.
Rea memejamkan matanya sejenak seraya menghela nafas pendek, "Lepas, saya udah terlambat."
Levi menggelengkan kepalanya singkat dan semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Rea yang jenjang.
"Jangan pergi", ujar Levi pelan.
"Saya harus pergi."
"Aku enggak beri izin."
"Saya enggak perlu izin kamu."
Levi mengecup permukaan kulit leher Rea, "Aku masih suami kamu. Pergi tanpa izin suami itu dosa."
Rea memutar bola matanya, "Suami hanya sekedar status apa gunanya."
Jleb
Ucapan Rea seperti pisau tajam yang seolah menusuk tepat di relung hatinya. Sangat dalam.
"Aku-", belum sempat Levi merampungkan kalimatnya. Sebuah tepukan dipundaknya membuat Levi tersentak dan menegakkan badannya kembali. Memutar sedikit kepalanya ke belakang.
__ADS_1
"Malu bro, di lihatin", ujar Argan. Levi sontak menatap ke penjuru bandara. Dan mendapati beberapa pasang mata yang terkadang melirik ke arah mereka.
Levi tak menyadari, sebab tujuannya satu, mencegah Rea untuk pergi jauh darinya. Dirinya benar-benar mati, jika tadi Rea sudah pergi lebih dulu.
"Pagi Pi, Bun", Levi melepaskan pelukannya pada Rea. Dan berjalan mendekat ke arah kedua mertuanya. Mencium punggung tangan Reagan dan Arinta dengan sopan.
Reagan dan Arinta hanya mengangguk singkat sebagai balasan.
"Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia. Dengan nomor penerbangan GA 7*2 tujuan Sydney. Dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu 14. Terima kasih."
Suara yang bergema di seantero bandara itu menginterupsi lima orang yang berdiri ditengah-tengah kesibukan.
Rea menatap ke arah Reagan dengan wajah yang memelas, "Pi", berharap Reagan dapat membantunya mengatasi Levi.
Merasa paham dengan tatapan sang putri, Reagan lantas menoleh ke arah Levi yang berdiri di depannya, "Biarin aja Rea pergi sebentar, biarin dia nenangin dirinya. Untuk dia, kamu dan anak kalian."
Levi menggelengkan kepalanya tak setuju, "Menenangkan diri enggak perlu jauh dari saya kan, Pi. Ini Rea pergi sendirian, kalau terjadi apa-apa gimana. Saya enggak mau Rea dan anak saya kenapa-napa."
Reagan melirik Rea dan memberi kode agar Rea pergi terlebih dahulu. Sementara dirinya meladeni Levi yang berdebat tak ingin Rea kemana-mana.
Merasa paham, Rea pun memundurkan langkahnya dengan pelan. Lalu berjalan perlahan-lahan menjauh dari keluarganya itu tanpa mengeluarkan suara.
"Kalau Rea-", Levi menoleh ke samping dan menggantung ucapannya saat tak mendapatkan Rea disana. Lalu Levi menatap menyeluruh, dan membolakan matanya ketika melihat Rea yang sudah berjalan menjauh dengan sedikit berlari.
Istrinya itu benar-benar sesuatu.
Tanpa menghiraukan larangan dari Reagan, Levi berlari menyusul Rea.
"Apasih?, saya udah terlambat!."
"Kenapa kamu ngotot banget mau pergi?", tanya Levi dengan nada yang sedikit tinggi. Membuat orang yang berlalu di sekitar mereka berhenti sebentar dan menatap keduanya dengan tatapan aneh.
"Saya enggak mau lihat muka kamu, saya enggak mau kamu terus-terusan ganggu hidup saya. Kamu pikir saya ini apa Levi?. Ketika kamu mau menikah, maka menikah. Ketika kamu mau cerai, maka kamu dengan mudahnya akan meninggalkan saya. Walaupun itu terpaksa dan sebuah sandiwara. Tetap saja hati saya yang kamu permainkan. Apa saya ini enggak punya harga diri Levi?, sampai kamu injak-injak dan pungut dengan mudahnya", ujar Rea dengan amarah yang meledak-ledak.
Levi tertegun mendengar semua ucapan Rea. Apakah yang sudah diperbuatnya memang begitu parah?. Hingga Rea ingin pergi jauh-jauh dari dirinya.
"Kata kamu, kamu mencintai saya?", Rea menatap Levi dengan remeh, "Inikah cinta yang kamu bilang?, dengan menyakiti saya?, membuat saya terluka. Kalau aja luka itu bisa terlihat, mungkin kamu bisa mengetahui bagaimana besar dan dalamnya luka yang ada di hati saya", tambah Rea dengan berusaha mencegah air matanya untuk turun. Ia tidak ingin terlihat lemah.
"Maaf", hanya satu kata itulah yang bisa lolos dari mulut Levi setelah terdiam cukup lama.
Rea mendengus dan melepaskan tangan Levi pada pergelangan tangannya, "Saya udah kenyang dengan kata maaf kamu", ujarnya datar dan membalikkan badannya.
Namun belum sempat Rea melangkahkan kakinya. Levi lebih dulu menjatuhkan tubuhnya dan memeluk kaki Rea. Membuat Rea membulatkan matanya tak percaya.
Apa yang dilakukan Levi?.
"Levi, berdiri!", desis Rea pelan. Supaya orang-orang yang sudah mengerumuni mereka tidak mendengarnya. Dan membuat spekulasi-spekulasi yang buruk terhadapnya.
"Levi", Rea sedikit menggerakkan kakinya, agar Levi segera melepaskan belitan pada kakinya. Namun bukannya berdiri, Levi malah bersujud di dekat kakinya. Membuat Rea serta keluarganya terperangah tak percaya.
"Maaf, maaf udah buat kamu kecewa. Maaf enggak bisa nepatin janji buat kamu terus bahagia. Maaf untuk segala luka yang udah aku torehkan. Tapi aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalin aku. Kamu boleh benci aku, tapi jangan pernah tinggalin aku. Kalau kamu enggak mau balikan, boleh. Tapi jangan jauh-jauh dari aku. Biar aku bisa natap kamu dari kejauhan. Kamu adalah perempuan kedua dalam hidup aku, setelah mama. Maafin aku Rea", ujar Levi panjang lebar membuat Rea terhenyak ketika merasakan punggung kakinya sedikit basah.
__ADS_1
Apakah Levi menangis?. Mengapa cowok itu harus menangis. Membuat Rea semakin merasa bersalah saja.
Rea tak ingin menjadi seperti Levi yang tega menyakiti hati orang yang dicintainya. Saat ini Rea hanya butuh waktu, bukan melarikan diri.
"Bangun, saya enggak akan pergi."
...###...
Setelah drama panjang di bandara tadi, Rea berakhir terdampar di kamarnya. Melupakan niatnya untuk pergi ke Sydney. Dan itu semua karena seorang cowok yang tengah terlelap sambil memeluk tubuhnya erat.
Hatinya memang payah, mudah sekali luluh karena setitik air mata.
Sungguh, Rea tidak pernah menduga kalau Levi akan bersujud di kakinya seraya menangis. Rea tak percaya kalau orang nomor satu di Angkasa bisa menundukkan tubuh di bawah kakinya. Laki-laki berwibawa yang memimpin Devora Corporation bisa menangis karena takut kehilangan dirinya.
Kemana Levi yang tak segan-segan untuk membunuh orang itu?. Yang tak takut mati dan mendekam di balik jeruji besi.
Tadi Rea benar-benar melihat sosok lain dari seorang Levino Altan Devora.
Rea mengerjapkan matanya saat merasakan sesuatu yang mendusel-dusel di dadanya. Lantas Rea menunduk dan mendengus melihat Levi yang menggesekkan hidungnya di permukaan kulitnya yang terpampang jelas. Siapa lagi pelakunya kalau bukan anak Lucifer satu itu. Yang menarik resleting depan gaunnya hingga ke perut.
Dasar cowok, pikirannya enggak akan pernah jauh-jauh dari itu.
"Sana, kamu sakit, virus", ujar Rea seraya mendorong pundak Levi.
"Gara-gara kamu", sahut Levi semakin membenamkan wajahnya di ceruk dada Rea.
Melihat itu Rea hanya bisa mendengus pasrah.
Pantas saja batang hidung Levi tidak kelihatan tiga hari belakangan ini. Rupanya cowok itu sedang sakit. Kalau tidak, Levi akan terus membuntutinya hingga satu harian suntuk. Dan mungkin rencananya untuk pergi ke Sydney tidak akan pernah ada.
"Ketua geng nangis?, cengeng", ejek Rea ketika melihat bulu mata Levi yang masih sedikit basah.
"Ketua geng juga manusia", sahut Levi dengan mata yang masih terpejam. Matanya benar-benar panas dan terasa berat untuk dibuka.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Rea terangkat sempurna. Melihat Levi yang sedang mencari posisi nyamannya di dada Rea. Badan Levi sangat panas, dan itu membuat permukaan kulit Rea terasa terbakar. Namun Levi dengan keras kepala menolak saat Rea menawarkan diri untuk mengompresnya.
"Kamu beneran mau mulai dari awal dengan aku?."
Rea tersentak saat Levi dengan tiba-tiba membuka matanya dan memandang Rea dengan sayu.
Rea memandang sejenak Levi sebelum membuang pandangannya ke arah jendela.
"Menurut kamu?."
Levi tersenyum dan kembali memejamkan matanya. Tertidur lelap dalam dekapan yang sudah lama dirindukannya. Levi yakin tidurnya akan nyenyak setelah ini.
Semoga saja, ini adalah awal kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka.
...~Rilansun🖤....
...Maaf banget telat up nya. Krna skolh udh offline dan tugas yg disimpan di dlm gudang pun akhirnya diminta, mmbuat sy harus begadang🙂. skli lagi sorry😘. smoga suka💞💞......
__ADS_1