
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Orang bisa menjadi gila hanya untuk mencapai keinginannya semata......
...###...
Deg
Rea merasa dunianya seakan berhenti berputar. Kata-kata yang Levi ucapkan mampu menghipnotis kehidupannya. Melumpuhkan segalanya. Hingga membuatnya lemas tak berdaya.
Mengapa cowok itu terlalu gamblang mengucapkan kata-kata pengakuan seperti tadi. Apakah semua cowok memang seterbuka seperti itu.
Sementara Levi kembali melayangkan kecupan-kecupan penuh kasihnya untuk sang anak. Tak mempedulikan Rea yang berdiri mematung karena ucapannya barusan. Cowok itu hanya fokus pada pikirannya yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
Sebenarnya Levi masih tidak menyangka kalau ia akan menjadi orang tua di usia yang masih sangat muda. Tapi tak apa, jika saja Levi tidak bergerak cepat, mungkin beberapa tahun kemudian Rea akan mengandung anak dari pria lain. Dan ia tak ingin melihat hari kiamat itu terjadi.
Lalu Levi beranjak berdiri setelah mencium sekali lagi anaknya. Sepertinya kegiatan itu sudah menjadi candu untuknya. Cowok itu menatap Rea yang masih terlihat termenung dihadapannya. Entah apa yang dipikirkan oleh bumil satu itu.
Sedetik kemudian Rea tersadar dari lamunannya saat pipi nya terasa dielus dengan pelan. Lantas cewek itu menatap datar Levi yang berdiri menjulang tinggi di depannya.
Rea ingin menjauh saat Levi dengan tiba-tiba mendekatkan wajah kearahnya. Namun cowok itu dengan sigap memeluk pinggangnya dan mencengkeramnya dengan kuat. Membuat Rea tak bisa bergerak. Kekuatan Levi benar-benar sesuatu.
"Dia pasti udah bikin lo capek", bisik Levi tepat di depan wajah Rea seraya mengelus pipi cewek tersebut.
Rea kontan membelalakkan matanya.
"Maafin gue sama dia. Maaf", tambah Levi dengan tangan yang mulai mengelus bibir bagian bawah Rea. Yang sontak membuat cewek itu memundurkan kepalanya.
Lalu dengan menatap datar Levi, Rea berujar dengan lirih, "Saya bukan cewek murahan yang bisa kamu sentuh seenaknya."
Levi lantas tersenyum miring, "Yang bilang lo murahan siapa?, lo itu lebih berharga dari berlian", balasnya.
"Enggak ada berlian yang bisa dipegang oleh sembarangan orang."
"Gue bukan orang lain, gue adalah Ayah dari malaikat kecil yang ada disini", sahut Levi yang semakin gencar menggoda Rea sambil mengelus perutnya.
"Seseorang belum bisa dipanggil seorang Ayah hanya karena dia menyumbang sper*a nya."
Levi terkekeh pelan. Melihat Rea yang marah seperti itu entah mengapa terlihat sangat menggemaskan. Sepertinya rumor yang mengatakan jika berkomunikasi dengan cewek itu sangat sulit adalah hoaks. Malahan mulut kecil dan merah pekat itu terlihat bergerak lucu. Bolehkah Levi menculiknya dan mengurung Rea di dalam kamarnya. Hanya untuk dirinya sendiri.
"Oh ya?, terus gimana caranya biar gue bisa jadi Ayah seutuhnya buat si kecil. Apa kita harus pergi ke KUA sekarang?. Are you ready mommy?", Levi berbisik lirih diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Sial-"
"No, don't say that", potong Levi saat Rea hendak mengucapkan kata-kata yang kurang pantas.
"Kamu-"
"Jangan marah-marah, entar darah tinggi."
"Siapa kamu-"
"Kalau Mommy nya marah-marah, entar debay nya sakit kepala loh."
"Ngomong sekali lagi-"
"Kenapa?, bakal dapat ciuman?", Levi terus menggoda Rea sampai membuat wajah cewek itu terlihat merah padam. Lalu Levi terkekeh pelan. Lucu, sangat lucu.
"Why are you so cute", cetus Levi tanpa sadar yang sontak membuat Rea melototkan matanya dengan pipi yang sialnya malah bersemu merah.
"Berani-beraninya kamu", ujar Rea dengan geram.
"Berani lah, lebih dari ini aja udah gue lakuin", sahut Levi dengan smirk andalannya yang membuat cowok itu semakin terlihat tampan.
"Rea!.
"Papi", gumam Rea saat melihat Reagan yang berjalan menghampirinya dengan tangan yang mengepal erat serta wajahnya yang merah padam. Rea yakin pasti baku hantam akan terjadi sekali lagi. Dan itu harus dirumahnya pula, tempat yang tak pernah dilanda kericuhan apapun.
"Lancang."
Bugh
"Bunda!", Rea berteriak histeris saat Reagan dengan tanpa aba-aba langsung memukul Levi. Membuat cowok itu terjungkal kebelakang tanpa persiapan apa-apa.
Mendengar teriakan putrinya Arinta langsung bergegas berlari ke arah lobi rumahnya. Dan mendapati Reagan yang memukul orang dengan membabi buta. Serta Rea yang berteriak histeris sambil mencoba untuk melerai Reagan.
"Rea!", Arinta menarik Rea untuk menjauh, "Ingat kamu lagi hamil, sayang", ujarnya dengan sedikit memarahi Rea. Jika saja cewek itu tadi tertolak dan terjatuh bagaimana. Apa nasib cucu nya yang masih kecil di dalam sana.
"Bunda, Papi. Rea takut Bunda", ujar Rea saat Reagan semakin gencar memukuli Levi yang terlihat tak melawan sama sekali. Cowok itu seperti pasrah dengan bogeman yang dilayangkan oleh Papi nya.
Bugh
"Bajing*n!, berani-beraninya lo datang ke rumah gue dan meluk anak gue. Cowok sialan", umpat Reagan sambil terus memukuli wajah Levi.
__ADS_1
"Reagan udah. Rea takut, pikirin anak kamu. Jangan turutin setan", ujar Rea berusaha menarik Reagan dari atas tubuh Levi yang sudah babak belur.
"Lepas!, gue mau bunuh nih anak. Berengsek, berani lo nodain anak gue terus gak mau tanggung jawab. Mati aja lo sana!", balas Reagan yang tak ingin mendengarkan Arinta. Amarahnya mendidih seketika saat melihat Levi yang memeluk mesra putrinya. Setelah semalam tidak ingin memberikan jawaban pasti. Laki-laki seperti itu tak pantas untuk Rea.
"Sayang udah", Arinta berbisik di telinga suaminya seraya memeluk erat lengan kiri Reagan.
Satu pukulan telak Reagan daratkan di wajah Levi sebelum ia benar-benar bangkit dari atas tubuh cowok tersebut.
"Mungkin lo selamat kali ini, tapi gue pastikan waktu lo bernafas gak akan lama", ujar Reagan sambil menendang pelan kaki Levi yang terkulai lemas.
Namun dengan sekuat tenaga Levi berusaha untuk bangkit. Ia tak ingin dipandang lemah di depan keluarga Rea. Dan Levi tak mau mereka menganggap dirinya tak mampu untuk menjaga putrinya.
"Saya gak pernah takut dengan yang namanya kematian, Om", balas Levi sambil memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Oh, lo gak takut?."
"Levi!", Rea berteriak lalu berlari menghampiri Levi. Cewek itu dengan cemas langsung menutup mulut Levi.
"Please, jangan lagi. Sa-saya takut", ujar Rea dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf udah buat lo takut", balas Levi seraya melepaskan tangan Rea dari mulutnya dan menatap sendu cewek yang tengah mengandung anaknya itu.
"Sekarang lebih baik kamu pergi", mohon Rea sambil mendorong Levi untuk keluar dari dalam rumahnya.
Levi menggelengkan kepalanya. Menolak untuk pergi, "Gue belom ngomong sama bokap lo."
"Papi gak akan mau ngomong sama kamu. Mending kamu-"
"Om, saya mau tanggung jawab atas anak om", teriak Levi memotong ucapan Rea. Membuat cewek itu membelalakkan matanya. Harus Rea apakan cowok yang ada dihadapannya sekarang ini.
"Anak saya enggak akan menikah dengan orang yang merusaknya. Walau pun nanti tidak ada laki-laki diluaran sana yang mau menikahi anak saya. Saya gak akan melepaskannya kepada kamu. Saya dan istri saya masih mampu merawat mereka", balas Reagan dengan datar. Lalu pria itu memanggil satpam rumahnya dengan sambungan seluler.
"Bawa dia keluar!", titah Reagan ketika dua orang bertubuh besar masuk ke dalam rumahnya dan menunduk hormat padanya.
Kemudian dua orang itu menyeret Levi keluar dari dalam rumah. Membuat cowok itu meronta minta dilepaskan.
"Rea, gue pastiin suatu hari nanti lo bakal nikah sama gue. Jadi ibu dari anak-anak gue. Lo cuma punya gue. Only mine!. Camkan itu", teriak Levi heboh saat pintu jati berwarna putih itu sudah tertutup dengan rapat.
"Saya tunggu hari dimana Om akan melepaskan Rea dengan sukarela kepada saya!", tambahnya seraya melepaskan pegangan dua satpam itu dimasing-masing tangannya.
Akan ada hari dimana Levi dengan mudah berlalu-lalang di rumah ini. Dan itu sebagai menantu. Levi janjikan hari itu. Pada dirinya, Tuhan, dan Rea.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....