Rearin

Rearin
Suara hati istri


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Luka saya butuh obat, bukan ucapan maaf kamu......


...###...


Ting tong


Bunyi bel rumah yang ditekan dari luar memecahkan keheningan yang ada diantara dua anak manusia itu. Menghalau kecanggungan yang terasa di sekeliling mereka berdua. Mengusir pergi atmosfer suram nan gelap tersebut.


Setelah salah satu bibik yang ada di rumahnya berlari untuk membukakan pintu. Rea lantas melirik ke arah cowok yang duduk tenang dihadapannya. Bermain ponsel seraya menyesap tenang kopinya. Benar-benar menganggap kalau ini adalah rumahnya sendiri.


Kapan sih anaknya Lucifer itu pulang ke dunianya.


"Kenapa lihat-lihat?, sadar kalau suami sendiri ganteng?", Levi mengangkat pandangannya. Menatap Rea dengan sudut kiri bibirnya yang terangkat ke atas. Menatap Rea dengan tatapan om-om genit itu lagi.


Rea lantas memutar bola matanya jengah, "Najis", ketusnya dan kembali fokus dengan sarapannya. Mengisi tenaga lebih dulu sebelum menghadapi Levi yang menyebalkan itu. Sebab Rea yakin kalau Levi tidak akan pulang sebelum ada hal yang benar-benar akan cowok itu lakukan.


Ingin meminta bantuan Papi dan Argan. Dua orang laki-lakinya itu pun sudah berada di kubu Levi. Bunda nya?, sudah ikut menjadi bagian dari Levi karena bujukan sang Papi.


Rea merasa disini dirinya lah yang orang asing.


Gerakan Rea mengunyah makanan langsung terhenti ketika merasakan sapuan lembut di kakinya dari balik meja. Sontak saja Rea melayangkan tatapan horornya kepada Levi yang menyeringai menyebalkan.


"Kenapa sayang?", Levi tersenyum geli melihat mata Rea yang melotot padanya. Ditambah dengan pipi cewek itu yang menggembung karena makanan yang belum ditelannya. Benar-benar menggemaskan.


"Ka-"


"Mbak, Pak Darka nya udah datang."


Asisten rumah tangganya yang tadi pergi untuk membukakan pintu, kini berdiri disamping Rea. Menyela ucapannya yang akan menyemprot Levi.


"Iya, Bik. Bentar", sahut Rea seraya menegak segelas air putih sebagai penutup sarapannya yang masih tersisa sedikit.


Lalu Rea bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke arah ruang tamu. Namun suara berat nan datar itu mengurungkan niatnya.


"Sarapannya dihabisin."


Rea melirik Levi yang terlihat menatap tak bersahabat ke arahnya. Ada apa dengan siluman buaya tersebut?.


"Kamu aja yang habisin", ujar Rea jutek dan mengayunkan kakinya menjauh.


Grep


Levi dengan cepat menarik tangan Rea.


Melihat situasi yang kurang kondusif, asisten rumah tangga itu pun pamit undur diri untuk menyiapkan cemilan buat Pak Darka, guru privat anak atasannya.


"Kenapa?", Rea menghempas kasar tangan Levi pada pergelangan tangannya. Menatap tak suka ke arah cowok yang berdiri gagah dihadapannya. Dengan wajah yang datar, sorot mata yang tajam, dan tindakan tiba-tibanya yang selalu sukses membuat Rea jantungan.


"Mau belajar apa menggoda?", Levi menaikkan resleting jaket Rea yang tadi sengaja cewek itu turunkan hingga ke atas dada. Membuat belahannya sedikit terlihat.


Kalau cuma Levi saja yang melihat, tidak apa-apa. Tapi Levi tidak akan membuat guru sok ganteng itu menatap terus ke arah miliknya selama belajar. Enak saja, dirinya saja sudah lama berpuasa.


"Mau nge-jala*g", sahut Rea santai dan melenggang pergi tanpa menghiraukan Levi yang melotot tajam padanya.

__ADS_1


Kenapa?. Bukankah Levi pernah mengatakan kalau dirinya adalah seorang jala*g.


...###...


"Sampai disini kamu paham?", guru laki-laki itu memandang anak muridnya setelah menjelaskan dengan rinci materi pelajaran hari ini.


Tapi sepertinya anak muridnya tersebut tidak terlalu fokus dengan penjelasannya.


Lalu Pak Darka mengikuti arah pandang Rea yang diam-diam melirik ke arah seorang cowok yang sedang duduk diam di atas ranjang.


Laki-laki dewasa yang berprofesi sebagai guru tersebut pun lantas mengulum senyum.


Para remaja dengan segala masalahnya.


"Rea, kamu paham dengan apa yang saya sampaikan?", Pak Darka mengetuk spidol ke atas meja belajar Rea. Membuat perempuan itu refleks menoleh cepat.


"Hah?", Rea memandang cengo Pak Darka yang menatap geli dirinya, "Pa-paham Pak", jawabnya gagap seraya merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sial, bagaimana bisa fokusnya pecah begitu saja karena Levi yang menatap tajam ke arahnya. Cowok itu sudah seperti cctv yang tak pernah luput memandanginya.


Duduk diam di atas ranjang dan menatap Rea dari awal belajar hingga sekarang. Tanpa menoleh dan beranjak kemanapun.


"Baiklah, sampai disini perjumpaan kita hari ini. Kita akan membahas lebih lanjut tentang materi hari ini pada perjumpaan selanjutnya. Dan jika kamu fokus, saya harap kita langsung bisa masuk ke materi yang baru", Pak Darka menatap sekilas Rea seraya membereskan peralatannya. Tetap mengulum senyumnya melihat gelagat Rea.


Sementara Rea yang mendengar ucapan Pak Darka yang seperti mengejek dirinya pun lantas melipat ujung buku cetaknya dengan meringis malu. Sial, sial, sial. Apakah ada portal yang bisa membuat Rea pergi ke dimensi lain sekarang juga.


"Sampai berjumpa di pertemuan selanjutnya", Pak Darka berdiri dengan tangan kiri yang menjinjing tas kerjanya. Dan tangan kanannya yang ia ulurkan ke arah Rea.


Rea ikut berdiri dan mengambil uluran tangan Pak Darka. Mencium punggung tangannya dengan sopan. Seraya berujar, "Makasih Pak."


Pak Darka mengangguk sekilas lalu keluar dari dalam kamar setelah mengucapkan salam.


Rea tak menghiraukan ucapan serta keberadaan Levi yang berdiri menyandar disamping meja belajarnya.


"Kenapa enggak sama buk Erita aja", tambah Levi yang terus saja mengomel tentang guru privat Rea. Padahal Levi sudah menunjuk Buk Erita sebagai guru privat Rea saat cewek itu tinggal di rumah mereka berdua dulu.


"Sama aja", sahut Rea sekenanya sambil merapikan meja belajarnya.


Sesudah itu Rea berjalan ke arah kamar mandi. Mengambil handuk serta daster rumahannya. Rea gerah, apalagi melihat sosok manusia menyebalkan yang masih setia berada di dalam kamarnya itu.


Dua puluh menit lebih Rea habiskan untuk membersihkan dirinya serta merilekskan pikiran dan tubuhnya. Berendam dalam air hangat yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Harumnya yang semerbak mampu membuat Levi pergi jauh-jauh dari dalam benaknya.


Rea berdiri di depan pintu seraya menggigiti kukunya.


"Semoga aja dia udah pulang", doa nya seraya memejamkan mata. Sungguh, sekarang moodnya sudah kembali dan Rea tak ingin lagi melihat Levi yang berpotensi menghancurkan moodnya.


Rea membuka pelan pintu dan menyembulkan sedikit kepalanya. Matanya menatap menyeluruh ke arah kamar. Hingga manik hitamnya berhenti tepat menatap ke atas ranjang.


"Sialan", Rea refleks mengumpat saat melihat Levi yang berbaring seraya bermain ponselnya.


Ya Tuhan, apakah Levi tidak berniat untuk kembali pulang kerumahnya.


Dengan langkah dan hati yang berat, Rea mengayunkan kakinya menuju ranjang. Rea ingin tidur siang, dan sepertinya kali ini ia harus tidur di atas sofa.


"Udah siap?", Levi bangkit duduk dan melempar asal ponselnya ke atas ranjang.


Rea menyatukan alisnya heran, "Kenapa?."

__ADS_1


Bukannya menjawab, Levi malah menyuruh Rea untuk duduk mendekat.


"Sini."


"Malas", Rea mengambil bantal serta selimutnya.


"Mau kemana?", Levi beringsut mendekat ke arah Rea yang berdiri di tepi ranjang.


"Tidur", jawab Rea sekenanya lalu berniat berjalan ke arah sofa. Namun niatnya ter-urung ketika tangannya ditarik paksa hingga dirinya jatuh tepat ke atas pelukan Levi.


Levi menggulingkan pelan tubuh Rea ke sisi kanan ranjang. Melempar bantal serta selimut yang dipeluk cewek itu ke lantai.


"Kamu...?", Rea menatap tajam Levi yang seenaknya memeluk dirinya begitu saja.


"Apa?, katanya mau tidur", jawab Levi dengan menampilkan wajah polos-polos menjijikan.


Rea mendengus kasar. Lalu tanpa memberontak lagi ia memejamkan matanya. Rea capek jika harus berdebat dengan Levi. Tenaganya tidak cukup untuk menghadapi anak Lucifer tersebut.


Melihat Rea yang menerima saja tanpa perlawanan. Levi lantas mengembangkan senyumnya.


"Rea, sekali aja, kasih aku kesempatan", ujar Levi pelan seraya merapikan rambut Rea.


Rea tak bergeming, cewek itu tetap diam dengan mata yang terpejam. Siap terbang menuju alam mimpinya.


Levi menghela nafas pendek, "Aku enggak bakal nge-cewain kamu dan anak-anak lagi."


Hell, anak-anak apanya.


"Aku janji bakal terus buat kamu bahagia, enggak akan ada lagi air mata yang jatuh kecuali air mata kebahagiaan. Kasih aku kesempatan kedua ya. Mari kita mulai sama-sama", cerocos Levi panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah yang sudah menjadi candu untuknya.


"Kena-"


"Selama pernikahan kamu enggak pernah anggap saya sebagai istri", Rea membuka mata pelan. Menyela ucapan Levi. Memandang datar Levi yang melihatnya penuh puja.


"Bukan gi-"


"Kamu enggak pernah benar-benar serius dengan pernikahan kita. Kamu menutupi segalanya dari saya. Sampai enggan untuk membicarakan masalah sebesar ini sama saya. Segitu tidak percayanya kamu sama saya?", Rea menaikkan sebelah alisnya bertanya.


Ya, Levi akui kalau dirinya egois karena tak mau membagi suka dukanya terhadap Rea, yang notabenenya adalah istrinya.


"Maaf, aku takut nge-bebanin kamu."


"Menikah dengan kamu, saya mempercayakan segalanya sama kamu. Memberikan beban saya, menaruh seluruh harapan saya. Tapi apa?, kamu mematahkan kepercayaan saya, menghancurkan semua harapan saya. Menyuruh saya secara perlahan untuk menghapus cinta yang mulai tumbuh itu. Setelah menghancurkan fisik saya, kamu terus membunuh mental saya secara bertahap. Jika saja saya tidak tahan, mungkin sekarang saya gila Levi", ujar Rea panjang lebar. Membuat Levi bungkam seribu bahasa.


"Maaf-maaf", Levi mendekatkan wajahnya ke arah Rea. Namun cewek itu lebih dulu memalingkan wajahnya dan perlahan berbalik tidur memunggungi Levi.


"Luka saya butuh obat, bukan ucapan maaf kamu."


Levi menghela nafas. Menatap nanar Rea yang membelakangi dirinya.


"Maaf, Mommy", Levi melingkari pinggang Rea. Memeluk istrinya dari belakang. Menyembunyikan wajahnya di tengkuk Rea yang terlihat jelas. Karena Rea yang mencepol rambutnya ke atas.


...~Rilansun🖤....


Maaf telat, darting kambuh bund:v

__ADS_1


__ADS_2