Rearin

Rearin
Skenario Tuhan


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Kamu tau apa yang paling sulit untuk dimengerti?, skenario Tuhan. Sebab yang hadir, belum tentu takdir......


...###...


Ke empat perempuan itu menghela nafas panjang melihat seorang bocah laki-laki yang sedang berguling-guling di lantai. Memukul-mukul ubin lantai dengan tangan mungilnya seraya menjerit tak karuan.


"Sayang, nanti tangan Anta sakit kalau kayak gitu", Arinta berjongkok dan mencoba untuk menghentikan Antalva yang sedang mengamuk. Tapi lagi-lagi bocah blasteran Inggris itu tidak menggubrisnya. Bahkan Anta sudah kembali mengguling-gulingkan badannya.


"Jangan kayak gitu sayang, bajunya kotor loh. Gak ganteng lagi", Gina pun ikut turut membujuk dengan lembut.


Namun Anta tetap saja tak menghiraukannya.


Sementara orang yang menjadi alasan Anta berbuat seperti itu malah berdiri diam mengamati. Menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Dan tersenyum kikuk.


Bingung, itulah satu kata yang ada di benaknya kini.


"Anta au Ami!, Ami!, Ami!, Ami.....!"


"ANTALVA!."


Bentakan yang menggelegar itu membuat semua orang yang ada di sana menoleh kaget ke arah seorang pria yang berdiri tegap dalam balutan jas nya. Menatap tajam bocah laki-laki yang sedari tadi mengamuk.


Ajaibnya, Anta langsung terdiam.


"Berdiri!", titah tegas seorang Ayah kepada putranya.


Anta duduk dengan kepala yang tertunduk. Bajunya yang sudah rapi malah kusut tak menentu. Rambutnya acak-acakan. Dan tangan mungilnya yang sudah memerah karena memukul lantai.


"Enggak dengar?."


Anta diam tak menjawab sembari memainkan jari-jemarinya. Matanya enggan untuk menatap sang Papi yang sudah berubah menjadi monster.


"Anta telinganya enggak ada?, Kamu gak deng-"


"Sini sayang", suara lembut penuh kasih itu menyela ucapan tegas nan datar Ardean. Berjongkok seraya mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Anta.


Anta mendongak dan langsung menubruk tubuh Laily. Memeluk erat leher wanita itu, sambil menangis pelan.


Laily bangkit dengan Anta dalam gendongannya. Mengelus pelan punggung mungil yang bergetar itu. Mencium puncak kepala Anta seraya merapikan rambutnya.


"Api jahat, Anta ndak cuka", ujar Anta pelan yang masih dapat di dengar oleh orang-orang dewasa tersebut.


"Maka nya Anta jangan nakal", Laily mencoba untuk memberi pencerahan yang dapat dimengerti oleh bocah tiga tahun itu.


Anta menggelengkan kepalanya pelan, "Anta cuma au Ami."


Mendengar itu elusan tangan di punggung Anta mendadak berhenti. Laily tersenyum tipis. Dirinya tidak mengerti mengapa anak Ardean tersebut bisa selengket itu dengannya. Bahkan memanggilnya dengan sebutan Mami.


"Sayang, masih lama?."


Semua perhatian beralih ke arah seorang laki-laki yang berjalan memasuki ruang keluarga.

__ADS_1


Laily berjalan mendekat dengan Anta yang masih dalam gendongannya. Anak itu tidak mau diturunkan barang sedetikpun.


"Ini anak yang kamu ceritain itu?."


Laily menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan cowok yang dua Minggu ini sudah menjabat sebagai kekasihnya.


"Kenapa?, rewel?", laki-laki bernama Marco itu mengulas senyum manisnya.


"Iya, mau ikut", sahut Laily lalu melihat Anta yang curi-curi pandang ke arah Marco.


"Ya udah ikut aja", ujar Marco santai membuat Laily menatapnya tak percaya.


"Beneran enggak pa-pa?."


Marco mengelus rambut Laily dengan masih tersenyum.


Namun tangan kecil pendek itu menghalaunya tak suka, "Angan centuh pala Ami, Anta", desis Anta sinis.


Bukannya marah atau tersinggung, Marco malah tertawa renyah. Mengacak gemas rambut Anta yang terlihat memonyongkan bibirnya.


"Pengen satu kayak gini", ujar Marco yang sukses membuat suasana yang tadinya hening bertambah canggung.


Sedangkan Laily menunduk dengan pipi yang memerah bak kepiting rebus.


"Bawa aja, kalau anaknya emang mau", tambah Marco ala-ala bapak yang sayang anaknya.


Laily tersenyum. Sepertinya kali ini ia tak salah memilih kekasih. Semoga saja dengan Marco, Laily bisa bertahan lama. Dirinya sudah capek bila harus mencari lagi.


Lalu Laily membalikkan badannya, berjalan menghampiri Ardean yang memasang wajah datarnya.


"Gue bawa an-"


"Enggak boleh", Ardean memotong cepat ucapan Laily dan mengambil paksa Anta dari gendongan perempuan itu.


"Anak gue enggak butuh siapa-siapa", lanjut Ardean datar. Membuat semuanya diam tak berkutik.


"Gue pulang dulu, makasih udah mau jagain Anta", entah kepada siapa ucapan itu Ardean tujukan. Sebab Ayah dari satu anak itu tengah sibuk mendiamkan Anta yang kembali menangis.


Setelah melontarkan kata-kata yang terkesan angkuh dan arogan itu. Ardean mengayunkan kakinya tanpa menoleh sedikitpun kepada siapa-siapa.


"Anta diam", Ardean berusaha menenangkan Anta yang memberontak dalam gendongannya. Menangis dengan tangan yang terulur ke arah Laily yang berdiri dibelakang.


"Ami...."


Mendengar rintihan pilu itu entah mengapa ada sesuatu yang terasa ikut terkoyak. Perasaan aneh yang membuatnya ngilu. Ingin rasanya Laily memeluk Anta dan mendiamkan bocah itu dalam dekapannya. Namun Laily teringat, dirinya siapa Anta?.


Laily menoleh ke arah Marco yang juga tengah menatapnya. Menatap sendu kekasihnya yang baik itu, "Aku..."


Marco mengangguk dengan senyum yang masih terbingkai indah, "Pergilah."


Laily tersenyum lebar dan berpamitan kepada sahabat-sahabatnya.


"Dia siapa, Lai?", tanya Arinta saat Laily memeluknya.

__ADS_1


"Kalau mau, lo boleh kenalan", jawab Laily.


"Tapi-"


"Dah, entar gue ditinggal lagi", sela Laily dan berlari cepat ke arah pintu utama.


Menghela nafas lega kala mendapati mobil Ardean yang masih terparkir di pekarangan rumah Rea.


Tanpa izin, Laily dengan seenaknya membuka pintu samping kemudi. Tersenyum menatap Anta yang bersorak kegirangan melihatnya.


"Ami, ikut Anta?."


Laily mengangguk, "Anta geser dong."


Anta menurut dan langsung merangkak ke arah pangkuan Papi nya. Memberi tempat untuk Mami nya duduk.


"Sini", Laily memanggil Anta untuk duduk di pangkuannya setelah menutup rapat pintu mobil.


Dengan bahagia Anta duduk dipangkuan Laily. Mengalungkan tangannya ke leher perempuan tersebut. Dan menatapnya dengan kegembiraan yang tercetak jelas.


"Anta senang?."


Anta mengangguk semangat, "Cenang...", teriaknya menggemaskan.


Ardean hanya melirik sekilas ke arah mantan pacar temannya itu. Tak banyak bicara, pria itu melesatkan mobilnya meninggalkan rumah minimalis modern tersebut.


"Anta enggak boleh nangis kayak gitu ya, Aun-Mami enggak suka", hampir saja Laily lupa akan permintaan Anta untuk memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Mami'.


Anta mengangguk pelan, "Tapi, Ami angan inggalin Anta ya", Anta menyodorkan jari kelingkingnya ke depan wajah Laily.


Laily tersenyum dan tanpa pikir panjang langsung menyatukan jarinya dengan jari mungil Anta.


"Mami janji."


Ardean yang sedari tadi menjadi pendengar pun sontak melirik keduanya dari sudut mata.


"Jangan kasih Anta harapan palsu kayak gitu", cetus Ardean dingin dengan pandangan yang kembali fokus pada jalanan didepannya.


Laily menoleh yang diikuti oleh Anta. Walau anak kecil itu tidak tau apa yang diucapkan oleh Papi nya.


"Kacih apa, Pi?, kacih cokat?, Anta au cokat!", seru Anta dengan heboh. Membuat Laily tertawa sendu.


Apa yang dikatakan oleh Papi nya Anta barusan memang benar. Dengan mengatakan itu bukankah Laily akan menjadi seorang penipu. Sebab jelas-jelas Laily tak akan bisa memenuhi janjinya.


Laily tentu saja tidak bisa terus-menerus menemani Anta. Karena ia juga memiliki kehidupan, keluarga, dan pacarnya sendiri.


Lagipula dirinya siapa nya Anta, yang harus berada di samping bocah itu 24 jam penuh. Laily hanya perempuan yang baru dikenal oleh Anta. Yang mendadak menjadi Mami nya Anta.


Lalu suasana yang ada di dalam mobil itu mendadak hening. Lebih tepatnya atmosfer yang ada di antara Laily dan Ardean.


Perjalanan mereka hanya diisi dengan celotehan dan nyanyian tak jelas Antalva.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2