Rearin

Rearin
Her name is Tiffany


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Punya hati harus kuat, agar kecewa tak membuatnya berkarat......


...###...


Rea menunduk menatap lantai ubin tersebut seraya menghitung setiap kotak yang dipijaknya. Ibu hamil itu berjalan di belakang ke empat punggung tegap tersebut. Dengan pandangan orang-orang yang tertuju kepada mereka. Membuat mereka mendadak menjadi pusat perhatian.


Bagaimana tidak, seorang perempuan yang berjalan dikawal oleh empat pemuda tampan menuju dokter kandungan. Setiap orang yang melihatnya pasti memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya.


Pasti mereka berpikir kalau Rea tengah membangun sebuah harem yang harmonis.


Pandangan orang-orang tak luput dari mereka sampai dimana Ammar, Morgan, Bara dan Romi mempersilahkan Rea untuk duduk terlebih dulu di kursi tunggu.


Dengan kikuk Rea mendudukkan dirinya yang langsung diapit kanan-kiri oleh para cowok tersebut.


"Gimana?, udah cocok belum gue jadi suami idaman?", Ammar menyugar rambutnya dengan gaya sok gantengnya.


"Cocoknya lo itu jadi gigolo."


"Heh, mulut kurang ajar", Ammar memukul pelan bibir Romi.


"Bang-"


"Gue aduin Levi lo", ancam Ammar saat Romi hendak mengucapkan kata-kata yang kurang pantas.


"Bang Morgan, apa kabar", Romi menepuk pundak Morgan yang langsung ditepis oleh cowok itu.


Rea tersenyum tipis. Dengan adanya mereka Rea merasa sedikit terhibur. Setidaknya dengan kehidupan mereka yang seperti tak ada beban dan ceria membuat Rea merasa kembali hidup sebagai remaja normal lainnya.


Melupakan kalau sekarang ia sudah menjadi seorang istri dan calon ibu.


"Heh, ngapain lo kok pada diam", Morgan berceletuk seraya fokus memainkan game yang ada di ponselnya.


Merasa tak ada sahutan, Morgan pun lantas mengangkat pandangannya dan menatap bingung ke arah teman-temannya yang terlihat melamun dengan mata yang fokus menatap ke depan.


Rea yang melihat itu juga turut melihat ke arah Ammar, Bara dan Romi yang hanya duduk terdiam. Mereka seperti terhipnotis oleh sesuatu.


"Ratapin nasib gak gitu juga kali", ujar Morgan yang tak digubris oleh para lelaki tersebut.


"Ternyata tengok sumber air susu secara legal itu disini tempatnya", celetuk Ammar yang diangguki oleh Bara dan Romi. Dengan mata mereka yang masih setia menatap sebuah gambar ibu menyusui yang ada di dinding bercat dominan putih tersebut.


"Kenapa Bryan harus sakit?, kalau enggak kita bisa menikmati secara berjamaah", sahut Romi membuat Morgan menggelengkan kepalanya.


"Astaga, tobat lah kalian wahai penghuni neraka", seru Morgan.


Sementara Rea yang mendengarkan perbincangan gila para temannya Levi itu pun refleks menundukkan kepalanya. Sebagai perempuan ia merasa malu.


Lalu tak lama kemudian sebuah suara lembut nan ciri khas itu memanggil namanya.


"Ibuk, Rearin Kalyca Allandra."


Rea mendongak dan menatap seorang perawat yang berdiri diambang pintu. Menatap ke seluruh orang yang berada disana.


"Saya", sahut Rea seraya bangkit dari duduknya yang langsung diikuti oleh ke-empat cowok itu.


Dengan langkah yang canggung dan risih, Rea mengayunkan kakinya menuju pintu kaca tersebut.


Perawat yang masih menunggu di ambang pintu pun mengernyit bingung saat melihat empat orang laki-laki yang berdiri di belakang ibu hamil tersebut.


"Ini...., mau masuk semua?", tanya perawat perempuan itu dengan hati-hati.

__ADS_1


"Oh, jelas", jawab mereka berempat dengan serentak.


Rea yang melihat ekspresi bingung perawat itu pun sedikit meringis malu.


Namun tak urung perawat itu pun mengangguk, "Silahkan."


"Mbak sus, nanti minta nomor hp nya ya", Ammar mengedipkan sebelah matanya kepada perawat yang terlihat masih muda dan cantik tersebut. Membuat cewek itu tersipu malu.


"Permisi."


"Silahkan duduk."


Mendengar perintah tersebut Rea lantas berjalan menghampiri meja dokter kandungannya itu. Mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan langsung dengan dokter laki-laki tersebut.


Rea tak pernah menduga jika dokter kandungannya adalah seorang laki-laki muda yang terlihat ehem, tampan.


"Dengan buk Rearin Kalyca Allandra?", tanya dokter itu dengan menatap langsung mata Rea. Membuatnya seketika menunduk malu. Hei, entah dari mana pula sikap centil dan pemalu itu berasal.


"Iya, dok", jawab Rea dengan pelan.


"Wah alamat perang dunia ketiga mah ini", bisik Ammar saat melihat respon Rea ketika berbicara dengan dokter spesialis kandungan itu.


"Lebih ganteng dari Bos", sahut Romi ikut berbisik yang diangguki setuju oleh Ammar.


"Gue aduin Levi lo pada", Bara mendelik menatap Ammar dan Romi yang menistakan temannya sendiri.


Mendengar bisik-bisikan para lelaki itu, membuat dokter Kevin Edguar Sp.O.G lantas menoleh ke arah empat cowok yang berdiri sejajar dibelakang pasiennya itu.


"Eum, ini Ayah nya si bayi yang mana ya?", tanya dokter Kevin bingung. Sebab baru pertama kalinya ia mendapati pasien yang datang ditemani oleh empat orang laki-laki sekaligus.


"Bapaknya udah koit", sahut Morgan dengan ketus membuat semua orang membelalakkan mata menatapnya.


Benar-benar si Morgan. Moral gak ada.


...###...


"Yah, gue kecewa", seru Bara dengan memasang wajah sedihnya.


"Kenapa?", tanya Morgan.


"Enggak bisa nengok ponakan gue cowok apa cewek", tambahnya yang mendapat geplakan dari Ammar.


"Emang belum bisa keliatan gobl*k."


"Tunggu beberapa bulan lagi baru bi-", Rea menggantung ucapannya saat matanya tak sengaja menangkap siluet tubuh seseorang yang sangat dikenalinya. Punggung tegap yang dulu sering memeluknya dalam tidur. Namun Rea langsung menggelengkan kepalanya. Menepis segala pikiran kotor tersebut. Bukankah Levi mengatakan kalau cowok itu tengah rapat sekarang. Dan semoga saja itu benar.


"Berapa bulan lagi?", tanya Bara menatap Rea dengan antusias yang tinggi.


"Dua bulan lagi."


Bara mengangguk semangat, "Besok kalau lo mau check-up lagi, ajak gue ya."


Rea mengulum senyum melihat mata Bara yang seperti anak kecil yang minta ikut Ayah nya pergi bekerja. Cowok itu benar-benar masih polos. Kasihan kalau lama-lama berteman dengan Levi dan kawan-kawan.


Orang lain saja bisa begitu excited untuk menemaninya pergi kontrol. Sementara suaminya sendiri terlihat seperti acuh tak acuh. Sebenarnya Rea sedikit sedih, ini adalah pemeriksaan pertamanya, tapi Levi tidak ada disampingnya.


Tin tin


"Cepetan oi", teriak Romi dari dalam mobil. Membuat mereka berempat bergegas masuk ke dalam mobil Levi tersebut.


...###...

__ADS_1


Rea membuka pintu rumahnya dengan letih. Seharusnya mereka sudah pulang sedari tadi. Tapi Bara merengek dan mengatakan kalau cacing-cacing di dalam perutnya sudah melakukan unjuk rasa. Membuat Rea terpaksa menemani para cowok itu mencari makan.


Sebenarnya kasihan, niat mereka yang datang ke rumahnya pagi-pagi untuk sarapan malah disuruh oleh suaminya yang sangat bertanggung jawab itu untuk pergi menemaninya kontrol.


"Duh, perut gue ken-, Astaga", Bara membulatkan matanya melihat objek yang ada didepannya.


Membuat Morgan, Ammar, serta Romi yang ada dibelakang Bara dan Rea pun sontak mengikuti arah pandang mereka. Mata mereka seketika melotot saat mendapati Levi yang sedang duduk berdua di sofa ruang tamu dengan seorang perempuan.


Ke-empat cowok itu refleks melirik ke arah Rea yang hanya terlihat diam dengan pandangan yang sulit diartikan. Menatap suaminya yang sedang bercanda ria dengan perempuan lain.


Tanpa menunggu lama lagi Rea memalingkan wajahnya dan berlalu pergi memasuki dapur. Membuat Levi serta perempuan yang bersama dengannya itu bangkit berdiri dan menatap ke arah Ammar, Bara, Morgan, Romi dan Rea.


Namun pandangan Levi langsung terkunci pada tubuh mungil yang terlihat berjalan menjauh tersebut.


"Berani itu nonton film biru di depan orang tua", Morgan berceletuk seraya berjalan menghampiri Levi yang langsung diikuti oleh ketiga orang temannya yang lain.


"Berani itu nyulik anak gadis orang di depan bapaknya", sahut Ammar yang merasa paham dengan maksud dari Morgan.


"Berani itu bunuh orang di depan umum", tambah Romi ikut-ikutan.


"Berani itu ya kayak Levi lah, selingkuh depan bini nya", ujar Bara yang sontak mendapatkan standing applaus dari Morgan, Ammar serta Romi.


Mendengar itu, Levi hanya bisa memutar bola matanya malas.


Tak beberapa lama kemudian. Rea kembali dengan sebuah nampan yang penuh dengan minuman serta cemilan. Yang dibantu oleh Bik Mirna membawanya.


"Ini..., siapa Levi?", perempuan itu bertanya kepada Levi dengan sesekali melirik takut ke arah empat orang cowok yang menatapnya penuh musuh.


"Dia itu bi-"


"Rea. Nama saya, Rea", cewek itu mengulurkan tangannya ke arah perempuan yang berdiri dengan memeluk lengan kekar suaminya. Memotong ucapan Bara yang terlihat berdiri dan menatap tak suka ke arah Levi serta perempuan ular tersebut.


Bara menyesal karena sudah membela ketuanya itu tadi.


Melihat kemesraan itu, Rea merasa panas seketika. Seperti ada palu godam yang menghantam hatinya. Sakit, sangat sakit. Tapi Rea tak tau mengapa itu bisa terjadi. Sebab Rea yakin seratus persen kalau ia sama sekali belum jatuh cinta dengan Levino.


"Oh, hai. Nama gue Tiffany", perempuan berbadan ideal dengan wajah yang mendukung itu pun menerima uluran tangan Rea.


Rea yang notabenenya seorang perempuan saja merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki oleh Tiffany.


Lalu Rea tersenyum miris saat melihat perut Tiffany yang terlihat membuncit. Apakah ini cewek yang menelpon suaminya itu beberapa tempo yang lalu.


"Lihat rumah ku...., penuh dengan cewek", Ammar bernyanyi dengan mengganti lirik lagu.


"Ada yang semok, dan ada yang bulet", sahut Romi.


"Setiap hari..., ku cicip semua. Rea, Tiffany, semuanya ha-"


"Hamil, hamil!", Bara yang berteriak dengan sangat lantang. Tak pernah Bara duga jika orang yang selalu dijadikannya sebagai panutan kini malah seperti Papa nya dulu. Bermain wanita.


Bara benar-benar kecewa terhadap Levi.


Rea melirik sekilas ke arah teman-temannya Levi sebelum berlenggang pergi menuju kamarnya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Rea tak ingin tetap disana dan membuat hatinya mati secara perlahan.


...~Rilansun🖤....


Semangat ku tergantung dengan laik mu🙂.


Lanjutkan hujatannya bund, aku mendukung:v

__ADS_1


Tiffany Aurellie



__ADS_2