Rearin

Rearin
Cemburu buta


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Disaat amarah menguasai jiwa, maka hilanglah akal sehat......


...###...


Untuk beberapa saat Rea hanyut dalam kehangatan yang diberikan oleh Levi. Merasa bebannya terangkat ketika kepalanya bersandar pada pundak yang kokoh tersebut. Lelahnya yang terasa menghilang seketika. Untuk pertama kalinya Rea merasa nyaman dalam pelukan seseorang, selain kedua orang tuanya.


Namun ketika suara berat itu berucap lirih di telinganya. Rea seakan ditarik paksa ke dunia nyata. Ibarat disuruh berdiri ketika kita sudah nyaman duduk. Membuat pipinya serasa ditampar keras oleh tangan tak kasat mata. Seolah menyadarinya jika pelukan yang hangat itu adalah pelukan kelam yang telah menjungkir-balikkan kehidupannya.


"Maaf."


Rea menjauhkan wajahnya dari dada Levi. Lalu mendorong cowok itu dengan sisa tenaganya.


Sedangkan Levi hanya bisa menatap terluka kearah Rea. Jika tau begini keadaannya. Maka Levi memilih untuk tidak merusak gadisnya. Tetap menjaga mawar nya, walau dari kejauhan.


Namun setan lebih pintar dari dirinya. Menghasutnya sampai ke tulang. Dan membiarkan amarah menguasai jiwa.


Rea menatap datar Levi sebelum beranjak pergi dari tempat yang tak akan pernah dikunjunginya itu lagi. Sorotan tajam Levi yang mendominasi itu seolah menyadari Rea akan bodoh dan tak berdayanya ia pada malam tersebut. Pasrah tubuhnya di jamah oleh cowok asing yang tak dikenalinya.


Levi menatap punggung rapuh yang berjalan lunglai menuju gerbang itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada penyesalan dan harapan besar dalam dirinya kini.


Matanya menyorot dingin kearah kertas yang dipegang oleh Rea. Dari melihat kondisi cewek tersebut, Levi sudah paham surat apa itu.


Lalu Levi menghela nafasnya sambil memijit pelan pelipisnya yang terasa sakit. Ia begadang semalaman suntuk untuk menyiapkan persentasi hari ini.


...###...


Drrt drrt


Argan yang sedang mengunyah roti langsung mengumpat saat merasakan getaran di saku celananya. Tidak bisakah ia menikmati roti dengan tenang. Mengapa hidup menjadi cowok ganteng itu sangat sibuk dan repot.


Kemudian dengan menggerutu Argan merogoh ponselnya. Matanya membelalak saat menatap layar ponselnya yang menampilkan nama adik perempuannya.


Rea kembaran tembok is calling


Sial. Argan merasa bersalah karena sudah menyumpahi Rea. Ia mengira jika orang yang menelponnya adalah cewek-cewek yang mencoba menarik perhatiannya.


Tanpa pikir panjang lagi Argan mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Selamat siang. Argan Kaivaro Allandra, cowok tertampan di dunia ada disini. Ada yang bisa saya bantu Rearin yang sama sekali gak cantik", ujar Argan saat sudah tersambung. Lalu cowok itu sontak memukul pelan mulutnya. Padahal ia sudah berniat untuk memuji Rea sebagai kompensasi. Tapi susah emang kalau mulut yang enggak pernah bohong.


Argan mendengus saat tak mendapatkan respon apapun dari seberang. Ia curiga kalau Rea itu bukan kembarannya. Karena mereka berdua itu memang sangat bertolak belakang.


"Jemput saya."

__ADS_1


"Iya-iya, gue udah deket ini, tunggu bentar. Jangan kemana-mana ya adikku sayang, nanti diculik kakek Sugiono", sahut Argan. Sebenarnya ia sudah berjalan menuju ke sekolah Rea. Namun matanya tak sengaja menatap gerobak roti bakar di pinggir jalan. Dan cacing-cacing perutnya yang tak bisa diajak kompromi pun membawanya melipir ke tempat tersebut.


"Badan saya gak enak Ar, saya mau pulang."


Argan yang hendak memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya pun ter-urung saat mendengar suara Rea yang terdengar lesu. Ada apa dengan adiknya itu. Sebenarnya Argan sempat bingung saat melihat Rea yang seperti tak bersemangat hidup belakangan ini. Namun ia segera menepis segala pemikiran buruknya, saat mengingat jika tabiat Rea sudah memang seperti itu. Dingin, cuek, datar, dan tertutup.


"Lo kenapa?", tanya Argan pelan sarat dengan penuh kekhawatiran. Walau Argan selalu mencari perkara dengan adik kembarannya itu. Tapi hanya Argan dan Tuhan lah yang tau, bagaimana sayangnya ia dengan Rea. Teman-temannya yang mencoba untuk menggoda Rea saja selalu Argan ajak baku hantam. Kadang ada yang bersedia, kadang ada juga yang tak mau.


Bukannya Argan tak mengizinkan Rea untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Terutama dengan teman-temannya. Karena Argan lah yang paling tau bagaimana sifat dari semua temannya. Dan sebagai Abang, Argan tak ingin adik perempuan satu-satunya jatuh kepada laki-laki yang salah.


"Sakit."


Argan langsung bergegas membayar makanannya.


"Tungguin gue", lalu Argan mematikan panggilan tersebut. Menghidupkan mesin motornya sebelum melesat cepat membelah jalanan.


Tak sampai lima menit Argan sudah berada di area kawasan SMA Angkasa. Namun sebuah gerobak cilok di tepi jalan kembali menarik perhatiannya. Seolah kekhawatirannya terhadap Rea lenyap seketika.


Lantas Argan menepikan motornya di depan gerobak tersebut.


Tukang cilok yang melihat Argan tersenyum kearahnya dari atas motor pun kontan bertanya, "Kenapa mas?, mau beli?."


Argan menggelengkan kepalanya pelan, "Enggak."


"Lah, terus kenapa senyum?."


Lalu dengan suara sumbangnya, Argan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, "Senyumlah...., selagi bisa...., kalau udah koit gak bisa senyum lagi...."


Namun beberapa detik kemudian, Argan memundurkan motornya dan kembali berhenti di depan tukang cilok.


Belum sempat bapak tukang cilok itu ngomong. Argan lebih dulu menyela, "Ini pak, saya beli, tapi ciloknya buat orang rumah Bapak aja", sambil memberikan uang tiga ratus ribu, "Hitung-hitung fitrah", tambahnya.


"Lah edan, fitrah itu ya pas bulan puasa", protes pria paruh baya itu dan menolak uang yang diberikan Argan.


"Lah kocak, like-like i lah. Kok situ yang sewot. Ingat ya pak, kalau ditanya malaikat Munkar siapa yang memberikan ini, bilang aja saya hamba Allah garis miring Argan Kaivaro Allandra anaknya bos Reagan", ujar Argan santai seraya memasukkan uang tersebut ke dalam saku baju bapak tersebut.


"Tenang aja, uang asli kok, kalau gak diterawang", Argan terkekeh dan kembali menaiki motornya. Melambaikan tangannya kepada bapak tukang cilok sebelum benar-benar berlalu.


Sebenarnya Argan tak sengaja menatap bapak tersebut yang sepertinya tidak mendapatkan pembeli sedari tadi. Dan ternyata benar setelah Argan melihat dagangan bapak itu yang seperti tidak usak. Dan ya, jiwa sosialnya langsung meronta-ronta. Payah emang, kalau mempunyai jiwa yang besar. Ekhem.


Setelah itu Argan menghentikan motornya tepat di depan seorang perempuan yang sedang berdiri di depan gerbang. Menatap kosong jalanan yang ramai. Dengan rambut yang sedikit acak-acakan.


"Woi", Argan menepuk pelan pundak Rea yang refleks menoleh kearah Argan.


"Kenapa lo?", tanya Argan sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Rea guna mengecek suhu tubuh cewek tersebut.

__ADS_1


Rea menggelengkan kepalanya. Membuat Argan menurunkan kembali tangannya. Setelah merasakan suhu tubuh Rea yang normal-normal saja.


"Enggak lulus lo ya?, makanya galau", celetuk Argan yang sama sekali tak di respon oleh Rea. Ia malah mengambil jaket Argan dari dalam tas cowok itu.


...###...


Sementara Levi yang masih belum beranjak dari sekolah. Mengepalkan tangannya erat saat melihat cowok yang ada di hotel malam itu menyentuh dahi wanitanya.


Apa sebenarnya hubungan diantara mereka berdua.


"Levi!."


Levi refleks membalikkan badannya dan menatap Romi dan Bryan yang berlari kearahnya. Dua orang yang dijuluki sebagai Upin dan Ipin. Padahal tidak memiliki orang tua yang sama. Hanya karena sering terlihat berdua. Kemana-mana selalu berdua.


"Gimana calon ibu bos?", Romi bertanya sambil menepuk pelan pundak Levi.


"Siapa tuh cowok?", bukannya menjawab, Levi malah bertanya. Membuat dua orang cowok itu sontak menoleh kemana arah pandang Levi.


"Oh, dia. Ketua geng sebelah mah itu", cetus Bryan sambil melihat Argan yang tengah membantu Rea naik keatas motor.


"Darras?", tanya Levi lagi.


Bryan dan Romi kompak mengangguk, "Iya."


"Siapa namanya?."


"Argan", sahut Romi.


Levi mendongak menatap Romi. Menyuruh cowok itu untuk menyebutkan namanya dengan lengkap. Karena Levi paling tidak suka mendapatkan informasi setengah-setengah.


"Argan Kaivaro Allandra."


Deg


"A-allandra?."


"Iya."


"Dan dia abangnya calon Bu bos", tambah Bryan yang membuat tubuh Levi menegang seketika. Menertawakan dirinya yang bodoh karena telah termakan cemburu buta. Cowok yang selama ini Levi anggap sebagai saingan ternyata adalah saudara kandung Rea.


Sebenarnya Levi tidak pernah memusingkan Argan. Sebab selama ini ia hanya mengira jika cowok itu adalah langganan ojek Rea yang mengantar dan menjemput nya pulang sekolah. Sebelum Levi melihat Rea dan Argan berada di hotel malam itu. Membuat amarah langsung merasuki jiwanya.


Levi benar-benar tidak tau jika itu adalah abangnya Rea. Karena selama ini jika ada tawuran antar geng, Levi tidak pernah benar-benar turun jika itu memang diperlukan. Dan bodohnya ia tidak pernah menyelidiki siapa cowok tersebut.


Sial.

__ADS_1


...~Rilansun🖤....


__ADS_2