
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Orang yang iri adalah orang yang enggak mampu......
...###...
"Lo gak makan Lev?."
Levi melirik sekilas cewek yang berada disampingnya itu, "Enggak", jawabnya singkat. Lalu kembali menatap kearah ponsel yang ada di tangannya.
"Levi mah perutnya alergi sama makanan beginian", celetuk Ammar dengan fokusnya yang berada pada mie ayam miliknya. Tanpa mempedulikan dua pasang mata abu-abu yang sudah menatap tajam dirinya.
"Kelasnya burger yang pakai kuning-kuning taik diatasnya", tambah Ammar setelah itu menyeruput mie nya sampai menimbulkan suara yang kentara.
"Emas bodoh!. Kuning-kuning taik, bahasa lo ya ampun Ammar Harsyadi", cetus Morgan dengan tertawa ringan karena kebodohan hakiki temannya.
Levi Mendengus. Jika saja teman-temannya tidak minta untuk ditraktir mungkin Levi sudah terlelap nyaman di atas kasurnya sekarang. Pada awalnya Levi menolak ajakan mereka melalui chat, tapi para pecinta gratisan itu datang kerumahnya dan berteriak di bawah balkon kamarnya dengan berisik. Menyerukan, yang enggak lulus traktir mie ayam dong. Membuat Levi malu dengan para tetangga dekat rumahnya yang keluar hanya untuk melihat para titisan setan tersebut.
Bahkan saking terniatnya Ammar membawa panci dan toa masjid. Entah tempat ibadah mana yang sudah digeledah oleh cowok itu.
Lalu dengan berat hati akhirnya Levi menyetujui ajakan teman-temannya. Sebenarnya Levi mengajak untuk makan di restoran langganannya. Tapi Ammar, Bara dan Morgan menolak. Mereka memilih makan di pedagang kaki lima. Katanya untuk menghemat uang Levi yang harus sekolah satu tahun lagi.
Levi yang pada awalnya bersyukur langsung mengumpat dalam hati saat tiba di warung mie ayam dan mendapati anak-anak Ghozi yang memenuhi tempat tersebut. Dan seorang cewek yang duduk di antara para bujang Ghozi.
"Lev."
"Hm?", Levi mengangkat alisnya menatap Bara yang memandangnya sambil menggaruk kepala. Levi mulai merasakan hawa-hawa yang tidak mengenakkan.
"Tambah, boleh?", tanya Bara malu-malu.
Membuat Ammar yang sedang menyeruput kuah mie ayamnya dengan menggunakan sedotan langsung terbatuk-batuk. Menatap ngeri Bara yang duduk di depannya.
"Gara-gara lo Bar, hidung gue pedas-pedas kan jadi nya", gerutu Ammar seraya mengambil tissue. Mengelap ingus yang keluar dari hidungnya. Lalu setelah itu menyodorkan tissue tersebut kearah Bara. Menunjukkan satu biji cabai yang ada di sana.
__ADS_1
Bara merampas tissue tersebut dan melemparkannya kearah wajah Ammar yang memerah karena tersedak kuah yang pedas itu. Salah sendiri, sok-sokan ngasih enam sendok.
"Diam lo Ammar busuk", ketus Bara dengan mata yang melotot menatap Ammar. Lalu cowok itu kembali menatap kearah Levi.
"Boleh ya Lev?. Gue laper banget, belum makan dua hari", Bara memasang wajah yang semenyedihkan mungkin.
"Gue aduin Tante Anin lo", ancam Morgan yang hanya dibalas acungan jari tengah oleh Bara.
"Boleh ya Lev. Tahun depan gue doain lo lulus deh."
"Udah pasti itu bego. Tahun ini aja, lulusnya Levi itu direkayasa tau", sahut Morgan dengan santainya. Dan tersenyum miring menatap Levi yang memandang tajam dirinya.
"Di rekayasa?, gima-"
"Makan sepuas lo Bar", sela Levi membuat Bara yang tadinya penasaran dengan ucapan Morgan langsung teralihkan. Cowok itu sontak bersorak kegirangan. Dan memanggil penjual mie ayam dengan suara keras.
"Pak, tiga mangkok lagi."
"Astaga Bara, itu perut apa karet, elastis banget", Ammar menggelengkan kepalanya takjub. Padahal cowok itu sudah makan empat mangkok mie ayam sedari tadi.
Celine tersenyum simpul lalu mengalihkan perhatiannya dari teman-teman Levi kearah cowok yang duduk diam disamping kanannya.
"Di rekayasa gimana?", tanya Celine to the point. Ia dibuat penasaran oleh penuturan Morgan barusan.
Levi tidak bergeming. Cowok itu hanya fokus pada game yang ada di ponselnya. Seolah mengabaikan keberadaan Celine yang ada di sampingnya.
Melihat itu Celine refleks menghela nafas. Kalau sudah begitu, ia yakin kalu Levi tidak ingin perihal itu dilanjutkan.
Lalu tangan cewek itu terulur menyentuh memar yang masih tampak jelas di wajah Levi. Tepatnya di atas pelipis cowok tersebut. Entah apa penyebabnya, Celine pun tidak tau. Yang ia tau hanyalah pertengkaran hebat yang terjadi antara Levi dan Papa nya pada malam hari pengumuman kelulusan. Celine mengamati pertengkaran itu dari balkon kamarnya yang berada tak jauh dari balkon kamar Levi. Dan beruntung malam itu pintu balkon kamar Levi terbuka lebar. Jadi Celine bisa melihat semuanya. Tapi sayang, Celine tidak bisa mendengar apa yang Ayah dan anak itu ucapkan.
"Masih sakit?", tanya Celine lembut.
Levi memalingkan wajahnya dari samping. Seolah menolak disentuh oleh Celine. Kemudian menjawab pertanyaan itu dengan nada yang sangat datar, "Enggak."
__ADS_1
Celine tersenyum masam. Lalu menurunkan kembali tangannya. Menatap tak minat mangkok yang masih penuh berisi mie ayam itu.
Sedangkan Levi yang sedang menatap kendaraan yang berlalu lalang. Langsung dibuat melotot dengan apa yang dilihatnya. Netranya tak sengaja menatap seorang cewek yang sedang berdiri di depan sebuah hotel ternama. Levi sedikit memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas kalau yang berdiri 10 meter dari tempatnya kini adalah Rea. Cewek yang sudah ia nodai beberapa hari yang lalu. Dan cewek yang sukses membuat amarahnya memuncak kemarin hari.
"Sialan", umpat Levi ketika melihat Rea yang berjalan masuk ke dalam hotel. Memang tidak ada yang salah dengan hotel itu. Tapi masalahnya adalah apa yang mau dilakukan oleh Rea di hotel. Siapa yang ingin cewek itu temui.
Lalu tanpa membuang waktu lagi. Levi bangkit dari duduknya. Membuat semua orang yang ada di sana kontan menatap kearah cowok itu.
"Mau kemana lo Lev?", tanya Morgan saat Levi hendak melangkahkan kakinya.
Sontak Levi menoleh. Tanpa menjawab apa-apa cowok itu melemparkan kunci motornya pada Morgan, yang langsung ditangkap cepat oleh Morgan.
"Antar Celine, Mor", ujar Levi sebelum berlari dan menyebrangi jalan dengan cepat.
"Mau kemana dia?", tanya Celine kepada Ammar.
"Buntutin jodoh kali", bukan Ammar yang menjawab tapi Morgan yang menyahuti dengan senyuman yang penuh arti.
Celine mengernyitkan keningnya, "Siapa?."
"Ya jodohnya lah", jawab Morgan ketus. Jujur, Morgan sedikit tidak suka dengan Celine. Baginya cewek itu terlalu ikut campur ke dalam kehidupan Levi. Dan Celine itu posesif nya minta ampun. Padahal pacar bukan, saudara bukan. Tapi selalu menanyai Levi dimana?, lagi apa?, dengan siapa?. Maka nya Morgan mengumpat dalam hati saat Levi menyuruhnya untuk mengantar Celine. Padahal ada Ammar yang notabenenya adalah tetangga cewek itu.
Celine cemberut dan menatap tak suka Morgan.
Ammar yang melihat itu lantas berujar, "Jangan dengerin Morgan. Dia mah orang nya sok tau. Sok-sokan supernatural."
"Tempramental gobl*k", ujar Bara membenari ucapan Ammar seraya memukul kepala temannya itu dengan sendok garpu yang ada ditangannya.
"Supranatural autis. Sama-sama bego aja sok pinter", ketus Morgan tajam. Gemas sendiri dengan otak-otak temannya. Mengapa Ammar juga ikut tidak lulus saja. Biar otaknya bisa diperbaiki selama setahun kedepan.
...~Rilansun🖤....
Suami siapa yang hilang ini?, duh meresahkan hati anak perawan:v
__ADS_1
buat yang nungguin update nya Rearin, mksih bngt udh mau nungguin🤧. Sorry mungkin untuk bbrp hari kdpn up nya kendor, krna Senin aku udh ujian. Tapi aku ttp bakal usahain buat up setidaknya 2 hari sekali. Atas kelapangan hatinya kakak", saya ucapkan mksih 😂. cielah bhsanya. Semoga suka dgn part ini🤗💞