Rearin

Rearin
Cinta boleh, bodoh jangan


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu sama dengan apa yang Tuhan kehendaki......


...###...


"Setia pertemuan pasti ada perpisahan. Awal pasti ada akhir. Tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar. Tapi ketika hari ini tiba, tiga tahun terasa sangat cepat berlalu."


Rea menghampiri anggota OSIS lainnya yang sudah berkumpul di sayap kanan bagian belakang lapangan. Lengkap dengan jas warna biru yang senada. Sepertinya hanya Rea sendiri yang tidak mengenakannya.


Mereka tidak menggubris kedatangan Rea. Sibuk dengan kegiatan mereka yang mendengarkan beberapa patah kata dari kepala sekolah di depan sana.


Namun Rea sempat menangkap mata Celine yang menyalang tajam ketika menatapnya. Helaan nafas panjang keluar dari hidung Rea. Melihat Celine membuatnya teringat akan perihal tadi malam.


"Sialan", Celine mengumpat seraya melihat punggung Rea yang membelakanginya. Dirinya kesal mengetahui jika rencananya tidak berhasil. Bahkan dua orang cowok suruhannya pun tidak kelihatan batang hidungnya dari tadi malam. Padahal Celine sudah menunggu video hasil mahakarya mereka berdua.


"Mungkin kali ini gagal. Tapi lain kali lo gak akan bisa lepas dari gue. Bit*h", gumam Celine penuh dengan sarat kebencian yang kentara. Celine memang sudah membenci Rea dari semester dua kelas sepuluh. Saat Rea di agung-agung kan ketika cewek itu mendapatkan nilai tertinggi dari seluruh murid kelas sepuluh waktu ujian. Tidak sampai disitu, kebencian Celine bertambah saat Rea masuk ke dalam jajaran most wanted girl di sekolahnya. Dan amarahnya seketika memuncak saat mengetahui jika cowok idamannya Levino, sudah menyukai Rea dari sejak mereka SD dulu.


Celine memang dekat dengan Levi dan ketiga temannya. Karena dirinya bertetangga dengan Levi dan Ammar. Dan Celine mengetahui kalau Levi menyukai Rea juga dari Ammar. Menunggu Levi menceritakan?, tunggu kiamat datang pun belum tentu bisa.


Dari situlah kebencian Celine semakin menjadi-jadi. Keinginan menghancurkan Rea pun semakin membara dalam dirinya.


...###...


"Baiklah. Demi menghemat waktu marilah kita membacakan nama-nama calon orang sukses ini", ujar Bu Irma selaku guru kesiswaan bergema ke seantero Angkasa.


"Dari sembilan ratus siswa, hanya ada dua orang yang masih bisa menikmati hidupnya di Angkasa", tambah Bu Irma seraya melihat kertas yang berisi nama-nama murid yang lulus tahun ini.


"Kita sebutkan dua orang hebat itu saja bagaimana?", seru Bu Irma yang disahut sorakan setuju dari anak-anak didiknya.


Lalu Bu Irma mengangguk singkat dan melihat ke arah kertas yang tertulis dua nama siswa yang tidak lulus.

__ADS_1


"Nama peserta didik yang tidak lulus tahun ini adalah Bara Antonio Prayudha dari kelas dua belas MIPA 3", ujar Bu Irma yang membuat semua orang menghela nafas lega. Kecuali satu orang yang berdiri mematung.


"Yang sabar ya Bar", Ammar menepuk pundak temannya. Turut prihatin dengan nasib Bara yang sangat malang. Salah sendiri, disuruh belajar untuk ujian. Tapi malah traveling kuliner.


Sedetik, dua detik. Bara masih mematung sebelum cowok itu berseru kegirangan dengan tangan yang terkepal meninju-ninju udara.


"Yeay!, Alhamdulillah ya Allah, gue masih di kasih kesempatan buat makan bakso nya pak Harto", teriak Bara penuh dengan kegembiraan yang tergambar. Membuat cowok itu menjadi pusat perhatian. Banyak yang menyayangkan otak Bara yang setengah. Untung ganteng, jadi gak ada yang protes.


"Apa sih isi otak lo Bar?", celetuk Ammar menatap tak percaya Bara yang masih berseru kegirangan. Antara kasihan dan ingin menabok kepala cowok tersebut. Berharap otak temannya itu dapat bergeser dengan sempurna. Enggak lulus, kok malah seneng.


"Bakso, mie ayam, pangsit", Morgan menyahuti ucapan Ammar.


Bu Irma yang melihat dari kejauhan kelakuan Bara hanya bisa tersenyum tipis. Muridnya yang satu itu memang pantas menjadi duta kulinernya Angkasa.


"Baiklah, selanjutnya", Bu Irma kembali berujar membuat semua perhatian kembali padanya. Dengan helaan nafas berat Bu Irma melanjutkan ucapannya. Antara percaya dan tak percaya, "Levino Altan Devora dua belas MIPA 2."


Setelah Bu Irma menyebutkan nama terakhir itu. Tiba-tiba suasana hening seketika. Seperti ada kekuatan magic yang menghentikan waktu.


"Sangat disayangkan, ketua kita lulus dengan nilai yang terendah", Bu Irma tidak menyangka jika berlian berharga dari Angkasa itu lulus dengan nilai 52. Bahkan lebih rendah dari Bara yang terkenal malas belajar.


Ucapan Bu Irma yang terdengar sedih malah berbanding terbalik dengan sorakan heboh anak-anak Ghozi di lantai dua. Mereka antara senang dan sedih saat mengetahui jika ketua mereka tidak lulus.


Padahal hari ini siswa kelas sepuluh dan sebelas diliburkan. Tapi para tukang rusuh sekolah itu tetap hadir menyaksikan hari kelulusan ketua dan anggota inti Ghozi. Seperti anak ayam yang selalu mengekori induknya.


Morgan tersenyum menyeringai, "Cinta boleh, bodoh jangan", sinisnya. Pantesan temannya itu terlihat seperti mayat hidup. Walau Levi itu terkenal dingin dan jutek. Tapi cowok itu biasanya tetap mau ikut mengobrol dengan mereka walau hanya sepatah kata. Namun dari Levi datang, mereka sudah melihat aura yang mencekam dari ketuanya tersebut.


Terlihat seperti orang yang tengah putus asa.


"Bucin boleh, bego jangan", Ammar menambahi membuat Levi menatap tajam kedua teman laknatnya itu.


Sedangkan Bara, cowok itu sudah asik dengan sebungkus roti dalam pegangannya.

__ADS_1


Kemudian Levi berbalik dan melangkah pergi dengan suara jeritan-jeritan para siswi kelas dua belas yang tidak rela jika material boyfriend mereka tidak lulus. Padahal sudah ada yang merencanakan ingin satu kuliah dengan Levi. Tapi siapa sangka, jika Levino Altan Devora akan menghabiskan setahun lagi waktunya di Angkasa.


"Baiklah, selanjutnya mari kita sambut Ammar Harsyadi sebagai wakil dari seluruh siswa", Bu Irma menyudahi pengumumannya dan mempersilahkan Ammar untuk segera ke depan. Menyampaikan beberapa patah kata sebagai perwakilan.


Ammar berjalan dengan gagahnya. Seraya menebar pesona kepada kaum hawa yang menatapnya. Membuat Morgan memutar bola mata jengah. Mengapa harus cowok itu yang dipilih. Apa tidak ada yang lebih normal dari Ammar di Angkasa?.


Mengerlingkan matanya kepada Bu Irma sambil mengambil alih mic dari tangan guru perempuan tersebut. Membuat guru paruh baya itu menggelengkan kepala.


"Cek, cek, cekidot", ujar Ammar mengetes mic yang digunakannya sebagai pembukaan.


"ASSALAMUALAIKUM WAHAI PENGHUNI KUBUR. Eh, salah maksudnya penghuni Angkasa", cengir Ammar yang langsung membuat para perawan menjerit tertahan.


"Sebenernya gue gak rela ninggalin sekolah yang teramat gue cintai ini. Gue belum mau pisah dari guru-gurunya", Ammar menatap ke jajaran guru yang berada di sampingnya. Membuat semua guru tersebut tersenyum masam. Hanya Tuhan dan mereka lah yang tau bagaimana para guru sangat ingin Ammar segera hengkang dari Angkasa.


"Terlebih para mawar nya Angkasa", tambah Ammar seraya menatap seluruh para siswi perempuan. Membuat teriakan itu semakin heboh dan tak terkendali. Ammar tersenyum puas, pesonanya emang gak ada obat.


"Woi Levi!", Ammar berteriak memanggil Levi yang berjalan keluar dari lapangan, "Kenapa lo gak bawa gue juga buat tinggal setahun lagi", tambahnya dengan mimik wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin. Membuat Morgan malu dibuatnya.


"Tapi takdir orang itu berbeda-beda. Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu sama dengan apa yang Tuhan kehendaki. Tapi jangan takut gak bisa sukses. Habiskan lah masa muda kita dengan penuh suka cita. Karena masa itu gak akan pernah terulang. Lakuin apapun yang belum lo, lo pada lakuin. Capai apa yang belum lo bisa capai. Hidup ini singkat bro, kita gak tau kapan nafas kita berhenti", ujar Ammar yang membuat semua guru tercengang. Apakah kata-kata itu benar keluar dari mulut seorang Ammar Harsyadi?. Playboy plus murid yang paling bandel bin usil.


Morgan sendiri pun tidak menyangka jika temannya itu bisa ngomong bijak seperti itu. Sepertinya Ammar mencurinya dari internet sebelum cowok itu tampil.


"Kata orang meraih kesuksesan itu banyak rintangannya. Alah, hoaks itu", cibir Ammar seraya mengibaskan tangannya. Membuat kekaguman para guru tadi lenyap seketika. Mereka lupa jika yang berbicara itu adalah Ammar. Manusia yang tidak pernah serius dalam hidupnya.


"Kan katanya raih lah cita-cita mu setinggi langit. Lah, langit kan tinggi, gak mungkin ada yang nyuri. Naik roket China pun kagak bisa tuh orang ngambil cita-cita lo", tambah Ammar yang mendapatkan sorakan-sorakan penuh semangat dari pada murid.


Rea yang merasa jika pengumuman kelulusan selesai pun lantas berjalan pergi meninggalkan lapangan. Mood nya tidak ada untuk berada lebih lama di dalam kerumunan itu. Sesak di dadanya kontras dengan perih di pusat tubuhnya. Ada hati dan mental yang harus ia perbaiki saat ini.


...~Rilansun🖤....


Bara Antonio Prayudha. Duta kuliner Angkasa.

__ADS_1



__ADS_2