Rearin

Rearin
Love vibes


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...One thing you should know, i love you so much.......


...###...


...Area 17+...


"Sayang..."


"Hm?"


"Kema-"


"Sana ih, geli tau", kesal Rea menepis tangan Levi yang menulis abstrak di atas perutnya dengan menggunakan telunjuk.


Levi mencebikkan bibirnya. Mengeratkan pelukannya pada pinggang Rea. Dan mencium singkat permukaan kulit perut istrinya dari samping. Mendongak, menatap perempuan yang tengah bersandar di kepala ranjang itu dengan lekat.


"Kemarin ada kakak tingkat yang minta nomor aku", celetuk Levi.


Rea menaikkan sebelah alisnya bertanya dengan pandangan fokus ke layar ponsel, "Terus?."


Melihat respon dan reaksi yang diberikan Rea. Levi lantas mendengus pelan dan membuang muka nya ke arah perut Rea yang terpampang jelas di matanya. Karena Levi menaikkan kaos oversize yang dikenakan Rea hingga ke bawah dada istrinya.


"Susah emang ya, kalau jadi orang ganteng itu. Kemana-mana pergi pasti ada yang mintain nomor", cerocos Levi seraya mengelus pelan perut buncit yang berisi anaknya itu.


Rea yang mendengar itu refleks mencibir, "Sok ganteng banget sih."


"Aku ganteng itu fakta tau", protes Levi. Rea menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum geli. Levi yang dingin ternyata juga memiliki tingkat kenarsisan yang tinggi.


"Sampai kating sama kajur yang terkenal sebagai primadonanya kampus ngejar-ngejar aku", tambah Levi dengan percaya diri yang penuh.


Iya sih, Rea akui kalau suaminya itu memang tampan. Sangat tampan malah. Dan itu suatu hal yang Rea syukuri dan kutuki. Karena seperti yang dibilang Levi tadi, kemanapun mereka pergi pasti ada yang melirik bahkan ada yang berani meminta nomor suaminya. Terang-terangan dihadapannya. Sangat menjengkelkan.


"Terus kamu kasih?", tanya Rea yang mencoba untuk menutupi kekesalannya.


"Aku kasih nomor kamu."


"Hah?", Rea memandang cengo Levi yang menatap polos dirinya. Pantesan tadi malam ada sebuah pesan yang masuk dari nomor yang tak dikenal. Karena merasa itu tak penting, Rea lantas menghapus pesan tersebut dari ponselnya.


"Aku gak mau ada kesalahpahaman sama kamu dan aku capek di teror terus, jadinya ya aku kasih nomor kamu", jelas Levi dengan tangan yang mengelus leher jenjang Rea.


Rea menutupi senyumnya yang ingin merekah dengan menepis tangan Levi yang sudah ngalor-kidul sana-sini.

__ADS_1


"Tangannya gak tobat-tobat", dumel Rea membuat Levi tertawa.


Levi menarik tangannya dan meletakkannya di atas perut Rea, "Gimana mau tobat kalau godaannya kayak kamu."


Rea memutar bola matanya jengah. Lalu mengalihkan pembicaraan mereka, sebelum merambat kemana-mana, "Dua hari yang lalu Mama nelpon aku, katanya kamu udah jarang hubungi dia. Walaupun kamu sibuk, setidaknya luangkan waktu kamu sepuluh menit dalam sehari untuk nelpon Mama. Disaat-saat seperti itu yang dia butuhkan cuma dukungan dari kamu."


Mendengar ucapan Rea, pergerakan tangan Levi mengelus perut istrinya berhenti seketika. Menatap kosong permukaan kulit berwarna putih mulus itu. Pikirannya melalang buana pada Ayla yang sekarang sedang berada di Amerika. Menjalani pengobatan rutinnya.


"Nanti aku telpon Mama", sahut Levi setelah lama diam. Bukannya Levi tidak ingin menghubungi wanita yang sudah melahirkannya itu. Hanya saja Levi takut, ia takut dirinya rapuh ketika mendengar suara sang ibu yang sangat lirih. Seperti tidak ada tenaga bahkan untuk berbicara.


Seolah paham dengan perasaan suaminya. Rea lantas meletakkan ponselnya ke atas kasur. Membelai pelan surai Levi yang mendekap perutnya.


Rea pernah mengintip Levi di ruang kerjanya yang menangis sendirian di tengah malam sambil memegang sebuah figura kecil. Yang Rea yakini kalau itu adalah potret keluarga Levi.


Pada waktu itu, Rea ingin sekali masuk dan mendekap erat laki-laki yang terlihat sedang rapuh itu. Namun urung, karena Rea paham kalau Levi juga butuh yang namanya waktu sendiri.


"Sarapan yok", ajak Rea tersenyum manis kala Levi memandangnya.


Levi memandang intens wajah istrinya sebelum berceletuk, "Diluar gerimis."


Rea melirik jendelanya yang menampakkan rintik-rintik air hujan jatuh dari langit. Memang gerimis, terus kenapa?. Ah, terkadang Rea tak paham dengan otak yang kelewat jenius itu.


"Lalu?."


Levi menaikkan posisinya hingga meletakkan dagunya ke atas dada Rea. Mengecup pelan tulang selangka yang terlihat indah dimatanya. Membuat Rea bergidik ngeri dan langsung paham akan arti ucapan Levi barusan.


Levi mendongak dengan kabut mata yang Rea kenali jelas.


"Sekali aja sayang", ujar Levi dengan serak.


Bila menyangkut itu Rea tak bisa mempercayai kata sekali suaminya tersebut.


"A-aku belum sarapan, baby nya lapar", alibi Rea.


"Baby pasti rindu Daddy nya. Ayolah...sayang", rengek Levi yang sialnya terlihat tampan di mata Rea.


"Tapi aku-"


"Dosa loh nolak suami", sela Levi seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Rea. Menatap tepat di manik hitam yang memabukkan itu. Dari mata, hidung, hingga tatapan Levi jatuh pada bibir merah alami yang sudah menjadi candunya.


Seakan narkoba, yang membuatnya tak pernah berhenti untuk terus menyicipi.


Levi mengelus sensual bibir bawah Rea. Membuat siempunya refleks memejamkan mata ketika Levi mulai memiringkan wajahnya.

__ADS_1


Menaruh satu tangannya di belakang tengkuk Rea. Dan satunya lagi untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak menimpa sang baby.


Melekat lembut, bergerak pelan tanpa menuntut. Semakin dalam dengan gelora cinta yang membara. Menghangatkan tubuh yang terasa dingin.


Levi melepaskan ciuman mereka. Dan membaringkan dengan pelan tubuh sang istri yang dari tadi menyandar.


"Always sweet", bisik Levi di depan bibir Rea yang terlihat terengah-engah.


Levi menyeringai dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Dari bibir, turun ke leher jenjang putih mulus istrinya. Membuat beberapa tanda kepemilikannya disana.


Seakan tak mau rugi, tangan Levi pun tak tinggal diam. Satu-persatu mempreteli kancing piyama Rea. Menggenggam sesuatu yang sangat terasa pas di tangannya. Seolah itu hanya tercipta untuknya.


Meremasnya pelan, memelintirnya dengan gemas.


"Ah, Levi ja-jangan", cegah Rea parau saat Levi hendak mengulumnya masuk ke dalam mulut. Dua aset berharganya itu memang sering terasa sensitif selama masa kehamilannya.


Seakan tuli, Levi tak mengindahkan larangan Rea. Cowok itu melakukannya dengan mata yang terpejam. Tangannya yang satu lagi tak Levi biarkan menganggur.


Menyentuh apa yang dapat di sentuh. Menggerayangi setiap inchi tubuh Rea. Hingga membuat perempuan hamil itu menggelinjang tak menentu.


"Levi...", lirih Rea saat merasakan tangan Levi yang mengelus pelan pahanya. Dan merambat ke pusat tubuhnya. Cowok itu melakukan semuanya dengan gerakan pelan. Tapi sudah mampu membuat Rea berantakan.


Levi mendongak menatap Rea yang juga menatapnya. Tersenyum manis kepada sang istri sebelum menjatuhkan sebuah kecupan di kening yang membuat hati Rea bergetar.


"Aku mulai ya", izin Levi dengan berbisik di telinga Rea. Mencium singkat cuping telinga yang sudah tampak memerah itu.


Melepas semua yang melekat di tubuh Rea. Memandang takjub pemandangan yang tersaji dihadapannya. Tak ingin membuang waktu. Levi pun melepas celananya. Sebab cowok itu tidur yang bertelanjang dada.


Melebarkan paha Rea yang membuat perempuan itu sontak menutup wajahnya dengan bantal. Padahal sudah sering, tapi Rea selalu malu begitu.


Levi tersenyum dan mulai mendekat. Baru saja penyatuan itu hendak terjadi. Sebuah teriakan dari lantai bawah yang menggelegar masuk ke dalam gendang telinga pasutri tersebut.


"LEVI YUHUUU, SAHABAT TERBAIK LO DATENG NIH."


"MINTA MAKAN BOLEH ENGGAK?!."


Levi refleks mengumpat dalam hati untuk para penghuni kebun binatang itu. Memandang Rea yang mengintip dari balik bantal melihatnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Levi mengangkat tubuh polos Rea dalam gendongannya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Menghidupkan shower dengan deras agar dapat meredam suara yang nantinya mengalun merdu.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


...Ah, aku malu😭🤧...


...Mamaaaaaaa...


__ADS_2