
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Ketika kita sudah bertemu dengan kebahagiaan yang sesungguhnya. Maka hidup yang awalnya hanya memiliki satu warna, kini lebih bervariasi.......
...###...
Levi yang baru saja pulang kerja lantas menghela nafas panjang. Menjatuhkan tubuh lelahnya di atas sofa disamping istrinya yang tampak kaget.
"Loh?, udah pulang?, kok gak denger?."
Levi mendengus. Mana bisa dengar kalau fokus Rea terletak pada ponselnya.
"Sengaja, kejutan", jawab Levi bohong. Karena kalau Levi bilang, gimana mau denger orang kamu suami pulang malah asik main ponsel. Rea pasti akan menangis. Entah mengapa belakangan ini perasaan ibu dari anaknya itu sangat sensitif sekali.
Levi mencium kening serta bibir Rea sekilas sebelum kembali memusatkan atensinya pada Arthur yang tengah asik bermain di atas karpet berbulu. Lagi-lagi Levi menghelakan nafas beratnya.
Putra satu-satunya itu selalu berhasil membuat Levi darah tinggi.
"Arthur!, kamu ya jangan buang-buang duit. Kata kamu nyari uang itu mudah?, coba kamu cari uang sepuluh ribu diluaran sana, kalau gak harus ngeluarin keringat dulu", omel Levi tanpa henti saat melihat Arthur yang mempreteli mainannya. Mobil-mobilan yang awalnya berbentuk, kini sudah tak berwujud. Rodanya yang entah sudah hilang kemana.
Arthur yang merasa diomelin pun sontak mendongakkan kepalanya menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk berdampingan.
"Kata siapa?", tanya Arthur balik menantang Levi yang langsung melototkan matanya.
Lalu Arthur berdiri dan menghampiri Daddy nya, "Cuma sepuluh libu kan?, bental ya Althul caliin dulu", tukas bocah kecil itu sebelum berlari menuju dapur.
Levi menggelengkan kepalanya pelan, "Anak siapa sih itu?."
Rea tertawa pelan melihat Levi yang kesal menghadapi anaknya sendiri.
"Ya anak kamu lah", sahut Rea. Terkadang ia dibuat heran ketika melihat Levi dan Arthur yang seperti Tom and Jerry. Padahal Rea tau kalau ikatan batin di antara anak dan Ayah itu sangat lah dalam. Terbukti dengan Levi yang sangat yakin kalau anaknya adalah laki-laki sejak dari dalam kandungan. Dan ketika Levi yang sakit, Arthur juga pasti akan sakit. Membuat Rea kualahan kalau kedua-duanya sedang ingin di manja.
Levi mendengus dan merebahkan kepalanya ke atas pundak Rea, "Capek banget", keluhnya seraya memejamkan mata. Menikmati sapuan lembut tangan Rea pada rambutnya.
"Mau aku siapin air hangat?", tawar Rea yang langsung diangguki oleh Levi.
Rea mencium kening Levi cukup lama sebelum bangkit dari duduknya, "Tunggu bentar ya", lalu matanya menatap sang putra yang berjalan menghampiri mereka, "Tuh anak kamu datang, jangan diajak debat terus. Kasihan", ultimatum Rea dan berjalan ke arah kamar mereka setelah mencium pipi gembul Arthur.
"Nih, uang sepuluh libu. Mudah kan?, cepat lagi. Enggak ada tuh kelingat", ujar Arthur seraya merentangkan uang kertas berwarna ungu tersebut ke hadapan wajah sang Ayah.
__ADS_1
"Dapat darimana kamu?", Levi memicingkan matanya menatap curiga Arthur yang berdiri santai dihadapannya. Ingin sekali rasanya Levi menepuk bokong yang selalu mengejeknya itu. Namun Levi takut Arthur berteriak dan membuat Rea mengamuk padanya.
"Apasih yang seolang Althul Lelvizo Depola, enggak bisa dapetin?", Arthur menatap angkuh Levi yang langsung mencibir.
"Heleh, paling minta sama Nek Marni kan?", Rea dan Levi memang sepakat untuk menyuruh Arthur memanggil Nenek kepada asisten rumah tangganya.
"Itu tau, pake nanya", balas Arthur enteng dan kembali bermain dengan mainan yang 90% sudah tak berbentuk.
Levi tersenyum jahil seraya berkata, "Nyebut nama sendiri aja gak bisa, malah sok-sokan. Anak siapa sih kamu?."
Arthur menatap malas Levi yang tersenyum miring. Arthur paling tidak suka kalau ia disebut tak mampu mengucapkan namanya. Arthur benci dipanggil cadel, walau kenyataannya begitu.
"Althul gak mau bicala sama Daddy", sinis Arthur dan membawa mainannya ke ruang makan.
Levi tertawa puas saat melihat wajah anaknya yang tertekuk masam. Melihat Arthur seperti itu, rasanya semua penat ditubuhnya hilang seketika.
Saat Arthur berjalan melewatinya. Levi dengan sengaja menepuk pelan bokong Arthur yang membuat bocah laki-laki itu berhenti dan menatap nyalang Daddy nya.
"Kenapa?, mau marah?", tantang Levi seraya menaikkan sebelah alisnya.
"HUWAA MOMMY GANTI DADDY BALUUU!."
Levi mengerjapkan matanya pelan menatap Arthur yang berlari seraya berteriak menghampiri Rea yang sedang menuruni anak tangga.
...###...
"Buat apa kamu?", tanya Levi pada Arthur yang tengah sibuk menggambar di sofa dalam kamar orang tuanya. Selepas makan malam Arthur menangis meminta untuk tidur bersama Mommy nya. Walau dibumbui dengan pertengkaran alot antara putra dan Daddy nya. Tetap Arthur lah yang menjadi pemenangnya.
Levi merasa tersaingi dengan anaknya sendiri. Dengan sedikit rengekan dari Arthur saja sudah membuat Rea luluh dan tunduk. Alasan sebenarnya Levi ingin cepat-cepat memiliki seorang anak lagi ya ini, biar Arthur ada kawannya dan tidak menggangu waktunya berdua dengan Rea.
"Althul gambal kelualga Althul", jawab Arthur tanpa menoleh pada sang Ayah. Tangannya sibuk menggerakkan pensil warna pada buku gambarnya.
Merasa tertarik, Levi pun lantas mencondongkan tubuhnya lebih dekat, "Mana coba lihat."
Arthur mendongak dan menunjukkan buku gambarnya pada Levi dengan semangat.
"Ini Daddy, Mommy, Althul, ini Latu", tunjuk Arthur pada orang-orangan yang digambarnya.
"Terus ini siapa?", tanya Levi lagi seraya menunjuk sepuluh orang-orangan sawah yang dibuat putranya.
__ADS_1
"Itu anak Althul lah. Sepuluh", sahut Arthur seraya menunjukkan ke-sepuluh jari-jari kecilnya.
Levi sontak terbatuk karena tersedak saliva nya sendiri. Buset, itu mau ternak anak apa gimana. Ini pasti ajaran Ammar yang enggak bener nih.
Tiga hari yang lalu Levi hampir saja ingin membakar rumah Ammar yang sudah mengajari anaknya yang tidak-tidak. Bukannya membacakan dongeng, Ammar justru menunjukkan beberapa foto serta media sosial cewek-cewek cantik. Dan sialnya, Arthur senang banget kalau main ke rumah kawan laknatnya itu.
"Mana mau Ratu sama kamu. Nyebut nama aja masih remedi", sindir Levi kemudian.
Arthur lantas menatap malas ke arah Daddy nya yang terlihat sangat menyebalkan. Mengapa Daddy nya tidak Om Kevin aja sih. Udah dokter, ganteng, baik lagi. Sering beliin Arthur mainan.
Sudah bukan sebuah rahasia lagi, kalau Arthur sangat menyukai gadis kecil bernama Ratu tersebut. Anak perempuan dari Morgan dan Tiffany. Bahkan ketika Arthur mulai pandai berbicara saja bukan Mommy dan Daddy yang pertama kali disebutnya. Namun, Atu...Atu...
"Salah Daddy sih, udah tau Althul gak bisa nyebut l, malah dikasih nama yang banyak huluf l nya", sewot Arthur dengan memandang Daddy nya penuh musuh.
Levi terkekeh kecil dan mencubit gemas hidung Arthur yang kalau sedang kesal bakal kembang kempis.
"Pake nyalahin olang segala lagi", ejek Levi dengan ikut-ikutan cadel.
"Jangan sentuh!, Althul malah sama Daddy. Dalipada ngomong sama Daddy yang banyak bacod nya mending Althul buka Ig kak Anya yang sekshi plus beauty", cerocos Arthur dengan menepis kasar tangan Levi. Lalu ikut berbaring ke atas ranjang yang sudah ada Rea yang telah terlelap.
Perempuan itu merasa pusing saat makan malam. Dan memilih untuk menyudahi makan malamnya duluan lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
Levi khawatir dan menawarkan untuk pergi ke rumah sakit. Namun, Rea kukuh menolak.
Kemudian Levi beranjak dari duduknya dan ingin melangkah ke balkon kamarnya untuk menerima panggilan yang masuk. Namun langkahnya berhenti ketika suara cadel itu kembali mengudara.
"Padahal tukang galon itu yang nelpon. Sok bicala jauh-jauh."
Levi memejamkan matanya dan menoleh menatap sang putra yang tengah bermain ponsel. Sudah pasti melaksanakan apa yang dibilangnya tadi.
"Jangan berisik, Mommy tidur", hanya itu yang bisa Levi ucapkan untuk anaknya yang terlampau manis.
Ketika tangan Levi hendak menggeser pintu kaca balkon. Seruan itu lagi-lagi terdengar sangat menyebalkan di telinga Levi.
"Mommy!, Daddy nelpon pelakol!."
Ingin rasanya Levi memasukkan Arthur kembali ke dalam perut Rea. Setidaknya di dalam sana Arthur bisa sedikit lebih kalem.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
Si Daddy yg gabisa ngomong apa"