
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Ketakutan terbesar di dalam hidupku adalah jatuh ke lubang yang sama......
...###...
Rea menatap langit malam berbintang yang ada di luar sana. Menatap kosong bulan purnama yang bersinar terang. Sangat indah dan mengagumkan, namun sayang tetap saja kesepian dan keheningan lebih mendominasi.
Rea merasa hatinya hampa saat mendengar suara cewek itu dua hari yang lalu. Meminta suaminya untuk pergi menemaninya ke dokter kandungan.
Sudah berulang kali Rea mencoba untuk tetap positif thinking. Mempercayai mungkin saja itu adalah sepupu atau teman perempuannya Levi.
Namun Rea mengetahui dari Ayla kalau Levi sama sekali tidak mempunyai sepupu. Dan dari sikap cowok itu yang kaku, tidak memungkinkan untuk Levi memiliki teman perempuan.
Dan segala keyakinannya itu sudah Rea pastikan setelah ia meminta Argan untuk menyelidiki siapa saja teman-temannya Levi. Dan Rea juga mendapatkan satu informasi lagi, ia baru mengetahui kalau Celine adalah tetangga yang merangkap sebagai orang yang cukup dekat dengan Levi.
Tapi suara itu tidak mungkin Celine. Dan sejak kapan pula cewek itu hamil.
"Untung saja saya masih berada dalam tahap belajar untuk menyukai kamu. Jika perasaan ini sudah lebih mendalam, maka akan sangat merepotkan kalau pernikahan ini harus berhenti di tengah jalan", ujar Rea pelan.
Rea rasa ini bukan perasaan cemburu. Ini hanya lah perasaan tak terimanya sebagai perempuan. Kata cinta yang Levi ucapkan di hadapan seluruh keluarganya hanyalah bualan semata. Janjinya untuk menjaga Rea sepanjang hayat, ternyata tidak lebih dari sekedar ucapan.
Buktinya belum ada sebulan mereka menikah, Levi sudah melukai hatinya kembali.
Seharusnya Rea tak mempercayakan hatinya pada orang yang sudah menghancurkannya.
"Kamu lapar?", Rea menatap perutnya yang barusan berbunyi. Mengelus anaknya yang berada di dalam sana, "Sama, Mommy juga", seperti anak kecil Rea mencebikkan bibir bawahnya.
Rea memang belum sempat makan malam. Ralat, sebenarnya Rea malas untuk makan. Karena setelah melihat wajah Levi nanti, Rea merasa nafsu makannya hilang seketika.
Untuk saat ini, entah mengapa Rea sangat benci bila melihat kehadiran suaminya itu.
"Ayok kita cari makan", Rea mengambil cardigan berwarna putih miliknya. Dan memakainya untuk menutupi kaos berlengan pendek berwarna hitam yang dikenakannya.
Diluar sangat dingin, dan Rea tak ingin malaikat kecilnya kedinginan.
Lalu Rea berjalan keluar dari dalam kamar. Menuruni undakan anak tangga dengan pikiran yang tak menentu.
Sedangkan Levi yang tengah mengerjakan tugasnya di ruang tengah pun terhenti saat melihat Rea yang berjalan menunduk melewatinya.
Sepertinya cewek itu tidak melihatnya, terbukti dengan tingkah Rea yang seperti orang bingung. Entah apa yang dipikirkan oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
Levi menyadari perubahan Rea belakangan ini. Bumil satu itu selalu saja mencoba untuk menjauhinya. Ada saja alasan Rea untuk tak berdekatan dengannya.
Dan itu menjadi sebuah tanda tanya besar untuk Levi. Apakah itu karena hormon kehamilan Rea?. Entahlah, yang terpenting Levi hanya bisa menuruti semua tingkah laku istrinya itu kini.
Levi lantas meletakkan laptopnya di atas meja. Bersandar menatap Rea. Sebelum berceletuk, "Mau kemana?."
Rea yang semula menatap lantai pun sontak menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke samping. Dan menghembuskan nafas kasar saat melihat Levi yang tengah duduk menatapnya.
Mengapa harus bertemu dengan Levi. Walau kemungkinan tak bertemu itu mustahil, mengingat mereka yang tinggal di satu rumah. Namun Rea berharap sekali saja jika cowok itu tidak datang di depannya dan mengacaukan moodnya yang pada dasarnya memang sudah hancur.
Dan itu semua karena Levino Altan Devora. Suaminya sekaligus Ayah dari anak yang dikandungnya.
Melihat Rea yang hanya diam tak menjawab. Levi pun lantas kembali bertanya, "Mau kemana, Rea?."
"Beli seblak", jawab Rea ketus.
Levi menganggukkan kepalanya seraya menatap penampilan Rea dari atas hingga bawah. Matanya menajam menatap belahan dada Rea yang sedikit terlihat. Sontak Levi pun bangkit dari duduknya.
"Bajunya enggak ada yang lebih ke buka lagi?."
Mendengar itu Rea kontan mengernyitkan keningnya dan menatap baju yang dipakainya. Ada apa dengan bajunya?. Bagi Rea ini biasa-biasa saja, dan cukup terlihat tertutup bukan.
"Kenapa?, mau goda Abang tukang seblak nya?", sarkas Levi.
Merasa kesal dan tak ada gunanya berbicara dengan Levi, Rea pun kembali melanjutkan langkahnya.
"Ganti bajunya dulu Rea", perintah Levi yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Rea. Cewek itu terus berjalan dan membuka pintu utama.
Rasa laparnya adalah prioritas utama sekarang.
Melihat itu, Levi lantas menelpon satpam rumahnya, "Pak, jangan dibukain gerbangnya untuk Rea", ujarnya dengan pandangan menatap pintu rumahnya.
Sedetik, dua detik berlalu hingga pintu itu kembali terbuka dengan kasar. Menampilkan Rea yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang tak bersahabat.
Levi mematikan ponselnya seraya tersenyum miring. Menatap Rea yang berdiri dihadapannya dengan nafas yang tak beraturan. Terlihat jelas kalau cewek itu sedang marah besar.
"Kenapa?, enggak jadi pergi?."
"Levi...!", Rea meninju dada Levi dengan geram. Melampiaskan segala kekesalannya. Mengapa Rea harus menikah dengan cowok yang sangat menyebalkan itu. Apa dosanya sehingga mendapatkan suami seperti Levi.
"Bukain gak gerbangnya?", Rea berhenti memukul dan menatap tajam cowok tersebut.
__ADS_1
"Kan bukan gue satpamnya", sahut Levi yang semakin membuat Rea naik pitam.
"Kamu buka, atau saya manjat?", tantang Rea.
Levi menaikkan sebelah sudut bibirnya, "Coba aja kalau bisa."
Rea menggeramkan giginya dan memukul sekali lagi dada suaminya itu, "Levi....., gigit nih."
Mendengar itu sontak Levi tertawa. Mengapa istrinya itu menggemaskan sekali.
"Ganti bajunya dulu Mommy", Levi berujar dengan lembut sembari mengelus puncak kepala Rea.
Membuat cewek itu tertegun. Mengapa sekarang Levi terlihat sangat mencintai dan tulus kepadanya. Apakah semua yang Rea dengar itu adalah kesalahpahaman.
"Ke-kenapa harus ganti?, baju saya sopan kok", sahut Rea dengan kikuk. Sebab ini pertama kalinya Levi memanggilnya seperti itu. Membuat perasaan aneh itu kembali hadir di dalam dirinya.
"Gue enggak suka berbagi dengan orang lain", balas Levi sambil melirik ke arah belahan dada Rea yang semakin terlihat. Hell, apakah pak satpam di depan sana tadi juga melihatnya.
Rea benar-benar pandai dalam mempermainkan emosinya.
Rea sontak mengikuti arah pandang Levi. Lalu cewek itu merapatkan cardigan nya saat mengetahui kemana netra abu-abu itu berhenti menatap.
Sialan.
Levi memejamkan matanya sejenak sebelum berujar, "Tunggu disini."
Tak beberapa lama kemudian Levi kembali dengan sebuah jaket milik Rea. Melepaskan cardigan yang dipakai Rea lalu mengenakan jaket berwarna hijau army itu pada tubuh istrinya.
"Ayok", Levi menarik tangan Rea dan mengajak cewek itu untuk berjalan keluar. Membuat Rea hanya bisa menurut dan diam.
"Masuk", Levi menyuruh Rea untuk masuk ke dalam mobil.
Rea menurut dan duduk di kursi samping kemudi. Menatap Levi yang fokus dengan jalanan didepannya.
Sebentar-sebentar Levi akan terlihat sangat peduli terhadapnya. Namun sebentar-sebentar cowok itu akan kembali mengacuhkan nya. Seolah kehadirannya tidaklah bermakna.
Apakah Rea harus mempercayai sekali lagi suaminya itu. Namun Rea takut jika hatinya kembali tergores. Ia tak ingin air matanya mempengaruhi malaikat kecil yang bersemayam di dalam perutnya.
Kemudian Rea membuang pandangannya ke samping jendela saat Levi menoleh ke arahnya.
Mengapa untuk memahami Levi itu sangat sulit sekali. Cowok itu seperti warna abu-abu, tak dapat diprediksi.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....