Rearin

Rearin
Extra part: Nostalgia


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...You are my happiness and you are my weakness......


...###...


"Ih Nena nya Althul cantik banget", seru Arthur penuh kagum ketika melihat foto yang berada dalam album yang tengah dilihatnya. Foto pernikahan dari kedua orang tua Daddy nya.


Rea mengintip dari belakang dan tersenyum seraya mengelus surai putranya yang tengah duduk lesehan di atas karpet berbulu.


"Kalau Nena gak cantik, gak mungkin Daddy ganteng, dan gak mungkin Althul ganteng kan?", timpal Rea. Arthur menoleh sekilas ke arah Mommy nya lalu menggelengkan kepalanya.


"No, Althul gak setuju."


Rea menahan tawanya sementara Levi melototkan matanya menatap sang putra yang tengah asik melihat-lihat album keluarganya. Foto masa-masa kecilnya pun tak luput dari komenan pedas pangeran Arthur.


Lagi-lagi yang bisa dilakukan Levi hanya lah menghela nafas. Rea dan Arthur, bila menyangkut keduanya maka Levi akan kalah.


"Ih itu kamu pas masih SD ya", celetuk Rea sambil menopang dagunya ke atas kepala Arthur yang duduk dibawahnya. Menatap foto seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam merah putih. Bahkan suaminya itu dari kecil sudah memiliki bakat untuk menjadi kulkas berjalan, salah maksudnya most wanted.


Levi melirik ke arah album tersebut lalu mengulum senyumnya. Antara malu dan bernostalgia.


"Itu aku pulang pas udah ketemu seseorang yang buat aku sakit hati, bahkan sakitnya sampai sekarang pun masih terasa. Pulang niatnya mau langsung ke kamar, eh si Mama malah maksa buat fotoin. Katanya kenang-kenangan karena udah lulus. Jadi ya gitu, ekspresi nya hilang", ujar Levi memberitahu sedikit masa kecilnya yang memiliki sangkut paut dengan istrinya itu.


Merasa penasaran Rea pun lantas menegakkan badannya dan menatap kepo Levi, "Emang siapa yang udah buat kamu sakit hati?."


Levi tersenyum miring seraya mengangkat sebelah alisnya, "Yakin mau tau?."


Rea mengangguk semangat.


"Kamu."


"Hah?."


"Iya kamu. Kamu gak ingat apa udah pernah nolak cowok di hari kelulusan pas SD. Mana kakak kelasnya lagi. Enggak sopan emang kamu ya", tambah Levi sambil menarik gemas hidung Rea yang tampak berpikir.


"Emang ada?", tanya Rea polos yang membuat Levi gemas. Hei, emangnya seberapa banyak cowok yang pernah 'menembak' wanitanya itu.


"Udah ah malas", lantaran kesal Levi pun kembali sibuk pada ponselnya.


Rea mendengus, ia masih mencoba untuk mengingat-ingat. Memangnya Levi pernah menyatakan cinta padanya waktu Sekolah Dasar.

__ADS_1


Sedetik kemudian Rea tersenyum lebar ketika telah berhasil mengingat walau samar.


"Kamu Vino?, kakak kelas yang terkenal songong itu?, kesayangan guru-guru dan cewek-cewek", mungkin emang sudah takdir Levi untuk digila-gilai dari kecil hingga kini.


Levi menoleh dan bergumam singkat.


Rea memutar bola matanya jengah, "Ya mana aku bisa ingat. Kalau dari kelas tiga aja udah banyak yang 'nembak' sebelum kamu", gumam Rea yang ternyata dapat di dengar oleh Levi.


"What?, dari kelas tiga?, gila", Levi menggelengkan kepalanya tak percaya. Seperti apa pesona Rea hingga kelas tiga SD sudah banyak cowok yang naksir.


"Ih, aku malahan waktu itu pernah denger kalau guru pernah ada yang suka sama kamu. Parah emang kamu, mainnya tante-tante", balas Rea sewot.


"Takdir orang ganteng mah gitu", balas Levi angkuh.


"Najis, mana ada orang ganteng yang ditolak mentah-mentah di depan orang ramai. Jatuh dong pamornya", ejek Rea dengan senyuman usilnya.


Levi mendengus, tak bisa dipungkiri itu adalah satu fakta yang sangat menyakitkan. Levi tak pernah ditolak, namun bersama Rea Levi selalu mendapatkan penolakan. Levi selalu diagung-agungkan, namun hanya Rea lah yang berani menjatuhkannya sedalam-dalamnya.


Teruntuk Rearin Kalyca Allandra, kamu memang sebuah keajaiban.


"Ya, sekarang kamu dapat karma nya karena udah nolak orang ganteng", sahut Levi tak mau kalah.


Rea mencibir, "Serah orang ganteng, yang jelek mah ngalah."


"Ih Levi!, sakit tau, dikira bakpao apa", kesal Rea seraya mengelus pipinya.


"Bukan bakpao, tapi bola", Rea melototkan matanya melihat Levi yang sudah kembali tertawa. Heh, emang badannya sebesar apa hingga pipi saja berbentuk bola.


"Ini Daddy ya?, ih jelek banget", Arthur menginterupsi Mommy dan Daddy nya yang ingin bermesra-mesraan. Bocah kecil itu membalikkan badannya menghadap kepada dua malaikatnya.


Arthur menunjuk satu foto anak bayi yang tengah telungkup dan tersenyum ke arah kamera. Ia merasa foto bayinya lebih menggemaskan daripada sang Daddy.


"Althul culiga kalau sebenalnya Althul itu bukan anak Daddy, sementala kan Daddy jelek", tidak tau saja anak kecil itu berapa banyak cewek yang dulu mengantri ingin menjadi pacarnya. Bahkan setelah menikah pun masih saja ada kumbang yang menawarkan diri untuk dihisap.


"Eh bocah sembarangan, kamu itu dari kecebong nya Daddy ya", ucapan Levi yang mendapatkan pukulan di lengannya dari sang istri. Levi itu ya ngomongnya kok enggak di filter.


"Eh Daddy, mana mungkin kecebong Daddy bisa nge-hasilin anak setampan Althul", protes Arthur seraya berkacak pinggang.


Merasa geram sekaligus gemas, Levi pun lantas menarik hidung mancung putranya sampai Arthur mengap-mengap.


"Nanti hidung Althul kayak pinokio. Althul gak mau dipanggil pembohong tau!", Arthur menatap tajam Levi yang mengangkat bahunya acuh.

__ADS_1


"Lagipula dilihat dari mana pun, kamu itu mirip Daddy tau!", ujar Levi kemudian.


"Mana ada, Althul itu milip Uncle Kevin tau", sinis Arthur. Rea hanya menggelengkan kepalanya takjub. Daripada menonton melo-drama yang ada dihadapannya. Lebih baik Rea berselancar di dunia maya. Melihat cogan setidaknya dapat mengurangi sakit matanya.


Levi melotot tak terima. Enak saja, dia yang bekerja lembur pada malam hari, tapi malah Kevin yang mendapat hasilnya.


"Kevin pendek, jelek", sarkas Levi mengejek dokter kandungan yang dari awal berjumpa sudah memberikan Levi kesan tak enak. Bukan apa-apa Levi hanya takut kalah saing.


Mendengar uncle nya di hina, Arthur pun tak terima, "Daddy itu yang jelek, bau, tukang ngolok."


Levi memutar bola matanya malas, "Bacod."


Lalu Levi mengangkat Rea ke dalam pangkuannya. Membuat bumil tujuh bulan itu terperanjat kaget.


"Heh, tulunin Mommy nya Althul", Arthur meletak asal album yang sedari tadi dipegangnya dan lebih mendekat ke arah Rea dan Levi.


"Ini istrinya Daddy, wlek", ejek Levi seraya memeletkan lidahnya.


"Ini Mommy yang udah ngelahilin Althul, mau apa?", tantang Arthur.


"Songong, katanya kamu enggak mirip Daddy, berarti kamu gak mirip Mommy dong."


Arthur berteriak seraya merengek, "No!, ini Mommy nya Althul. Althul milip Mommy ya kan Mom?", tanyanya seraya menatap Rea yang sedang memijit pelipisnya. Pusing kepalanya tuh. Enggak bapak, enggak anak, enggak ada yang mau ngalah. Sepertinya kemungkinan Rea untuk mati muda sangatlah besar.


"Mommy gak jawab, wlek."


"Daddy diam", Arthur menjinjit buat membekap gemas mulut Daddy nya yang menyebalkan. Yang malah membuat Levi tertawa.


"Anak Kevin, pendek."


"Mom, Mommy mau buang Althul demi laki-laki kayak gini?", Arthur tak menghiraukan kicauan Daddy nya. Ia menatap serius Rea yang langsung menyemburkan tawa.


Sementara Levi refleks melototkan matanya menatap putra tersayangnya tersebut. Itu mulut ngemil balsem dulu kayaknya.


What the hell, apa maksud dari laki-laki kayak gini.


Emangnya Levi laki-laki kayak gimana.


Oke fine, lagi-lagi ia kalah dengan anaknya sendiri.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


...Ekhem, cuma mau ngasih tau kalau cerita mas duda udh publish di apk ***. buat yg kmrin pnsrn dgn cerita mas duda dan mbak Laily, cus mampir. ...


...Suka?, lagi?, simpan dulu ya di library 😘....


__ADS_2