
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Dunia itu tidak penuh misteri, tapi manusia lah yang membuat dunia memiliki misteri......
...###...
Rea menatap kosong hamparan bunga mawar yang ada dihadapannya. Bunga-bunga itu tumbuh dengan sangat cantik di tangan Bunda nya. Arinta memang istri yang sangat piawai dan terampil. Beruntung Papi nya memiliki istri seperti beliau.
Biasanya Rea akan menghabiskan waktunya di rumah kaca dekat taman bunga kediamannya. Memandang bunga-bunga itu saat hatinya tengah gelisah. Dan itu terbukti mampu membuatnya menjadi tenang dan damai.
Namun kali ini, sudah tiga jam Rea duduk diatas balkon kamarnya. Memandangi taman bunga yang berada tak jauh dari tempatnya. Namun, kegundahan hatinya tetap enggan untuk pergi. Memenuhi hati dan pikirannya.
Seharusnya malam ini Rea berada di meja belajarnya. Berkutat dengan soal-soal dan materi pelajaran. Menyiapkan dirinya untuk mengikuti ujian pertama esok hari.
Ya, setelah tiga hari kelulusan para anak kelas dua belas. Kini giliran murid kelas sepuluh dan sebelas untuk berperang. Memacu diri mereka untuk menjadi yang terbaik, sehingga dapat merasakan duduk di bangku kelas akhir dalam masa sekolah.
Mengingat itu membuat Rea menghela nafas.
"Argan sialan", umpatan kekesalannya keluar begitu saja untuk Abang kembarannya itu. Jika saja Argan tidak ngotot untuk menunda satu tahun masuk Sekolah Dasar. Mungkin sekarang Rea sudah lulus dari SMA. Merilekskan dirinya sebelum sibuk mengurusi kuliahnya. Tapi itu semua hanya sebatas menjadi khayalan semata. Rea masih harus menempuh satu tahun lagi di bangku SMA.
Sebenarnya pada kelas dua SD, Rea sempat di beri pilihan untuk masuk ke kelas akselerasi. Dari kelas dua SD ia langsung melompat ke kelas empat, lalu naik ke kelas enam tanpa harus merasakan kelas lima.
Di SMP pun begitu, ia ditawari untuk bersekolah dua tahun saja. Namun semuanya Rea tolak. Bukan karena Reagan dan Arinta melarang. Justru kedua orang tuanya itu sangat excited menyuruhnya untuk menerima. Namun Rea mengatakan jika ia ingin merasakan dua belas tahun normalnya orang bersekolah. Karena bagi Rea, masa-masa itu tidak bisa digantikan dengan apapun. Makanya Rea ingin merasakan setiap detik, menit, jam dan tahunnya dengan damai.
Namun belakangan ini Rea merasa masa-masa sekolahnya tidak lah damai. Kacau, satu kata yang dapat mendefinisikan segalanya.
Rea lantas meraup wajahnya kasar saat ingatan buruk itu kembali terngiang. Rea tak ingin menyesali, sebab ia pun sadar jika pada saat itu alam bawah sadarnya juga sangat menginginkan sentuhan itu.
"Huft", Rea menghela nafas. Amat bersyukur karena waktu itu ia tidak dalam keadaan subur. Walaupun begitu, Rea tetap harus mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sebab Rea tidak ingin mengulang kembali kisah kedua orang tuanya.
...###...
"Gimana ujiannya tadi?."
Rea menghembuskan nafas pelan lalu memandang sekilas kearah cowok yang berada disampingnya sekarang.
__ADS_1
"Baik", jawab Rea singkat dan kembali fokus pada lembaran soal yang ada di tangannya. Sebenarnya itu punya sekolah. Tapi Rea meminta satu rangkap untuk dipelajarinya. Untung saja guru matematika tersebut berbaik hati mengizinkannya.
"Ada yang sulit?", tanya Rafqi lagi seraya memandang wajah cantik Rea dari samping. Sambil terus berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan sekolah.
Rea tanpa sadar sedikit menggembungkan pipinya dengan mata yang menyoroti soal-soal yang ada dihadapannya. Mencari soal yang tadi membuatnya sempat menguras otak.
Rafqi yang melihat itu refleks terpana dengan kecantikan yang dimiliki oleh Rea. Cewek cantik, manis, imut dan lucu mungkin banyak di luaran sana. Tapi Rea hanya satu. Kecantikan yang dimiliki oleh cewek itu sangat limited edition. Tidak ada tandingannya. Rafqi yakin kalau Rea bisa lebih sedikit tersenyum mungkin cewek itu bisa langsung melumpuhkan hati para kaum adam.
"Dua puluh", ujar Rea sambil memandang wajah Rafqi. Teman kelasnya yang mau berdekatan dengannya selain Dita. Dan cowok itu juga partner Rea dalam setiap olimpiade. Sehingga membuat Rea tidak terlalu canggung dan kaku bila berbicara dengan Rafqi. Ditambah pembawaannya yang humble dan bersahabat.
"Raf!", Rea berhenti saat melihat Rafqi yang hanya terdiam menatap wajahnya. Kenapa?, ada apa di wajahnya?.
Rafqi ikut berhenti. Lalu tanpa di duga satu kata pujian lolos dari bibirnya, "Cantik", ujarnya dengan pandangan yang masih fokus pada wajah datar itu.
Sontak Rea menatap dingin Rafqi yang seketika langsung tersadar dari lamunannya saat melihat mata Rea yang menatap tak bersahabat dirinya.
"Eh, maksud aku bunganya cantik. Iya, bunganya cantik banget, Masya Allah", alibi Rafqi sambil menunjuk bunga mawar yang berada di pot belakang Rea.
Refleks Rea menoleh kearah belakang. Dan memutar bola matanya jengah saat melihat bunga yang mawar yang telah layu. Bahkan kelopak bunganya sudah nyaris tak ada. Itu yang dibilang cantik?. Kayaknya Rafqi memiliki kelainan dalam selera.
Tanpa menghiraukan Rafqi. Rea kembali melanjutkan langkahnya. Membuat cowok itu menjerit tertahan lalu berlari menyusul.
Rea melirik Rafqi dari sudut matanya lalu menggeleng pelan. Membuat Rafqi semakin dibuat mati kutu.
"Mau minjam buku apa?", Rafqi tak rela jika obrolan mereka harus berhenti sampai disini. Terkutuk lah dirinya yang bodoh tadi. Jika ia tidak melamun, mungkin saat ini mereka berdua sudah mengoreksi soal seraya berjalan bersisian.
"Inggris", sahut Rea singkat.
Rafqi menganggukkan kepalanya paham. Setidaknya Re masih mau meladeninya, "Cuma itu aja?."
"Iy-"
Brak
"Sorry."
__ADS_1
Rea menghela nafasnya lalu memungut bukunya yang terjatuh karena ditabrak oleh seseorang yang sedang berdiri dihadapannya sekarang. Dan menatap nanar pena nya yang telah hancur karena dipijak oleh sepatu Converse putih tersebut.
Setelah itu Rea menegakkan badannya. Ingin mengetahui orang yang sudah tidak sopan itu. Bukannya membantu, tapi malah berdiri dengan gaya sok angkuhnya.
Pupil mata Rea sedikit melebar saat menatap seseorang yang berdiri dengan kedua tangan yang ada di dalam saku celana.
Levino.
Kakak kelasnya yang harus mengulang satu tahun lagi sekolah di Angkasa. Rea mengenalinya. Ralat, lebih tepatnya sedikit mengetahui tentang cowok tersebut. Sebab wajah Levi yang selalu menghiasi mading sekolahnya sebagai siswa berprestasi. Setiap tahun, mungkin hanya poster tentang Levi yang tak pernah dicabut sampai detik ini.
Terlalu famous. Rea rasa tak ada yang tak mengenali cowok itu di seantero Angkasa. Terlebih geng motor yang dimiliki Levi yang sudah menguasai hampir setengah sekolahnya. Di setiap sudut Angkasa, pasti ada anak Ghozi. Geng motor yang terkenal bengis dan tak pandang bulu. Persis seperti ketuanya. Tapi mereka tidak akan menggangu jika tidak diganggu.
"Enggak apa-apa", balas Rea datar sambil merapikan lembaran soal dan buku ditangannya.
"Bos", terlihat seorang cowok yang berdiri ngos-ngosan di samping Levi. Seperti orang yang baru saja habis lari maraton.
"Ya elah bos, lo jalan apa teleportasi sih?, cepet banget", gerutu Romi membuat Levi mendelik tajam kearahnya.
"Kita pergi sekarang Rea?", tanya Rafqi mulai merasa tak nyaman. Rea menyadari itu, lantas mengangguk.
"Misi kak", ujar Rafqi sopan yang dibalas anggukan singkat dari Levi. Lalu Rafqi berjalan terlebih dahulu dan disusul oleh Rea dari belakang.
Namun...
"I don't like him", bisik Levi saat Rea melewatinya. Dan cowok itu menyelipkan pulpennya ke dalam saku seragam sekolah Rea. Lalu berlenggang pergi bersama Romi meninggalkan Rea yang menatap bingung boyfriend material Angkasa itu.
Tapi tunggu sebentar. Rea merasa mengenali bau dan suara itu. Suara berat yang sama berbisik lirih di telinganya. Menyuruhnya untuk diam dan berhenti menangis. Suara yang sama yang terus memanggil namanya pada malam itu.
Lalu bau itu, bau maskulin yang mendekap erat tubuhnya dengan keringat yang bergelimang. Memenuhi Indra penciumannya. Hingga membuat Rea hafal, dan mengenali bau itu.
Dan pemiliknya adalah Levino Altan Devora. Jangan katakan jika cowok di malam itu, adalah dia.
"Rea!."
Rea tersentak saat Rafqi berteriak memanggilnya. Kemudian cewek itu menoleh ke depan, dimana Rafqi berdiri menunggunya. Berjalan menghampiri cowok itu dengan segala pertanyaan yang menghantui kepalanya.
__ADS_1
Apa maksud dari i don't like him tersebut. Siapa cowok yang tidak disukai oleh Levi?.
...~Rilansun🖤....