Rearin

Rearin
Namanya Levino Altan Devora


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Siapa yang bisa tahan bila sudah dihadapkan oleh kerinduan......


...###...


"Kamu masih belum mau ngasih tau Papi siapa orangnya?."


Rea menoleh ke arah Reagan yang berada di sampingnya. Menatap Pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Pahlawan dan juga malaikat penjaganya.


"Buat apa?", tanya Rea balik.


"Walau kamu enggak mau dengan dia, setidaknya anak kamu butuh dia", balas Reagan berusaha membuat putrinya mengerti.


"Dia aja enggak ada peduli dengan anaknya", sahut Rea datar. Setelah dirinya di drop out, Rea tidak pernah lagi bertemu atau sekedar melihat Levi.


Bukan, bukannya Rea sudah ada rasa dengan cowok itu. Hanya saja ia merasa sedikit tak terima diperlakukan seperti barang yang habis manis sepah dibuang. Seperti sampah yang layak dionggokkan dengan macam-macam kotoran.


"Emang kamu udah kasih tau dia?", timpal Arinta.


Rea menggelengkan kepalanya pelan yang kontan membuat Reagan serta Arinta menghela nafas.


Lalu Arinta mengelus surai Rea yang bersandar nyaman di dadanya, "Enggak apa-apa sayang. Cowok gak dia aja. Kalau dia enggak mau tanggung jawab sama anak kamu, Bunda bisa cariin yang terbaik buat kamu sama cucu Bunda", ujarnya. Reagan yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mengapa Arinta bisa menganggap semua masalah itu dengan sangat enteng. Sampai-sampai membuat cewek itu tidak takut untuk mengakhiri hidupnya dulu.


"Untuk sekarang saya belum mau, Bun."


"Bagaimana pun anak kamu butuh sosok seorang Ayah", cetus Reagan. Ia merasa Dejavu. Dulu dirinya lah yang berada di posisi ini, dimana ia yang dipaksa oleh Xavier untuk bertanggung jawab atas anaknya dan Arinta.


"Ada Papi, Bunda dan Argan. Dia pasti enggak akan kekurangan kasih sayang", sahut Rea yang tetap kekeuh dengan persepsinya.


"Kasih sayang seorang Ayah itu beda. Walau dia punya seribu nenek dan kakek, tapi dia pasti akan tetap merasa butuh apa yang namanya Ayah. Seberapa banyak pun kamu kasih dia bodyguard untuk melindunginya. Tetap aja perlindungan Ayah itu yang paling hebat. Bahkan matahari yang panas aja belum mampu mengalahkan hangatnya pelukan Ayah. Dan piramida yang terkenal kuat serta kokoh itu gak akan bisa menandingi kokohnya pundak seorang Ayah", balas Reagan panjang lebar dengan menatap nanar meja yang ada dihadapannya. Ayah, ia tiba-tiba rindu dengan Ayahnya yang telah hidup nyaman di surga sana.


Arinta menatap sendu Reagan. Hanya Tuhan dan dirinya lah yang tau bagaimana Reagan yang sering melamun sendirian di tengah malam. Disaat dirinya sudah tertidur pulas. Dan pernah suatu ketika Arinta terbangun dan tidak sengaja mendapati suaminya yang sedang menatap foto Xavier dan Renata. Arinta paham jika Reagan sangat merindukan kedua orang tuanya. Terlebih seperti Reagan yang jarang hidup berjauhan dari Ayah dan Bunda nya. Tentu saja kepergian Xavier bagai sebuah tamparan keras untuknya.


Rea yang melihat itu langsung beralih masuk ke dalam dekapan Reagan. Papi nya tersebut jarang sekali menunjukkan kerapuhannya yang seperti itu.


"Namanya Levi Papi. Levino Altan Devora", ujar Rea mengalihkan perhatian Reagan. Membuat Ayah dari dua orang anak itu langsung memegang kedua pundak putrinya.


"Devora?", tanya Reagan yang diangguki oleh Rea. Tak peduli sampai kapanpun Rea menyembunyikan siapa laki-laki itu. Suatu saat pasti akan terbongkar juga. Maka dari itu, lebih baik Rea yang memberitahu keluarganya terlebih dahulu. Daripada mereka tau dari mulut orang lain.


"Kamu kenal?", Arinta bertanya pada suaminya.


Kenal. Bahkan mereka sudah menjadi musuh kini.


...###...


"Selamat ulang tahun Baraaa", seru Ammar heboh sambil menembakkan confetti atau party popper di udara. Membuat Morgan ngomel-ngomel di tempat karena mulutnya termasuki oleh kertas warna-warni tersebut.


"Kenapa komuk lo kayak gitu anying, jelek tau Bang", celetuk Bryan dengan ekspresi jijik yang dibuat sedemikian rupa.

__ADS_1


"Kenapa?", Levi ikut bertanya setelah melihat air muka Bara yang terlihat sedih.


Bara menggelengkan kepalanya pelan dengan menunduk menatap kue yang dipegang oleh Morgan.


"Ngomong aja aelah", Romi menambahi.


Bara mengangkat wajahnya dan menatap kelima orang cowok yang berdiri mengelilinginya.


"Kenapa kecil?", ujar Bara dengan lirih.


"Apaan yang kecil?, punya lo yang kecil?", sahut Morgan yang terdengar ambigu.


Ammar langsung memukul pelan kepala temannya itu dengan confetti yang ada ditangannya.


"Terus?, lo terharu?, pake acara terharu segala. Apa perlu gue tambah dengan pidato tentang emak?", tambah Romi dengan asal.


"Bukan", Bara menggeleng polos.


"Terus apaan Juleha", Morgan menatap gemas Bara yang tengah menunduk.


"Kuenya kok kecil", cicit Bara yang sontak membuat kelima pemuda itu langsung mendengus kasar.


"Anjrit, gue kira apaan", Bryan mengelus dadanya. Mencoba untuk sabar dan berusaha tetap mengingat jika yang ada dihadapannya sekarang adalah orang yang lebih tua darinya.


"Lo mau segede mana lagi maemunah", Ammar geram sendiri dengan tingkah Bara. Padahal kue yang mereka belikan sudah lebih dari cukup. Bahkan terbilang cukup besar. Tapi Bara dengan lambung gajahnya mengatakan itu terlalu kecil dan tidak cukup.


"Astajim Bara, kagak ngarti lagi gue dah."


Levi hanya menggelengkan kepalanya melihat teman-temannya yang frustasi menghadapi si duta kuliner. Tapi melihat itu Levi merasa untuk sesaat bebannya terangkat. Hidupnya terasa normal layaknya remaja lainnya.


Namun tetap saja kerinduan untuk Rea masih berkuasa penuh dihatinya. Rindu, Levi sangat rindu terhadap perempuan yang mungkin sudah Levi lukai hatinya tanpa sengaja. Kerjaan di kantor membuatnya hanya bisa mendengar beberapa informasi tentang Rea dari Romi dan Bryan. Tanpa melihat dari kejauhan seperti biasanya.


"Ngapa lo?."


Levi mengerjapkan matanya dan menatap Bara yang sedang bertanya kepada Romi.


"Gue mau, Bang", jawab Romi dengan menggunakan embel-embel Abang. Bila ada maunya.


"Mau apaan?", Bara siaga satu.


"Mau itu", Romi menunjuk kearah kue tar yang masih setia dipegang oleh Morgan. Padahal cowok itu sudah mengeluh capek, tapi mereka semua mendadak tuli. Membuat Morgan mengumpati teman-temannya dalam hati.


"Yang mau baris dulu", seru Bara yang langsung membuat Ammar dan Bryan berebutan untuk berbaris di belakang Romi.


"Siapa nama lo?", Bara bertanya pada Romi yang berdiri disampingnya.


"Nama gue Romi, panggil Satria aja", jawab cowok itu lalu berseru kegirangan seperti anak kecil saat diberi sepiring kecil kue.


Morgan menatap flat orang-orang gila yang baru keluar dari RSJ tersebut.

__ADS_1


"Woi anak monyet, cepetan lo pada, tangan gue pegel nih", teriak Morgan pada Ammar dan Bryan yang masih berebutan.


"Kita suit aja deh", cetus Bryan yang tak mempedulikan teriakan Morgan.


"Oke", Ammar menggulung lengan bajunya yang pada dasarnya emang sudah pendek.


"Hom pim pa, yu alai gambreng."


Ammar menabok kepala Bryan, "Hom pim pa alaium gambreng, bule bego."


"Oh, salah ya?", tanya Bryan dengan tampang watadosnya.


"Salah lah. Ulang-ulang."


"Hom pim pa alaium gambreng. Tangan yang jelek dia kalah."


Mendengar itu sontak Bryan menarik tangannya, "Enggak bisa gitu dong Bang, tangan gue kan cantik yekan. Mulus, putih. Nah tangan lo kan hitam, buluk. Lah jelas lo yang kalah lah. Enggak adil itu namanya", ujarnya. Bryan Kevino Smith, adalah salah satu murid pertukaran pelajaran yang mendadak menjadi warga Indonesia karena alasan yang simpel. Indonesia itu indah. Alasan anak SD ketika ditanya perihal pendapat tentang Indonesia.


Ammar menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Iya-iya, benar juga tuh. Lo pakai skincare apaan sih?, bagi gue dong, mana tau gue tiba-tiba glowing yekan."


Morgan memutar bola matanya jengah sambil mengibaskan tangannya yang terasa pegal. Sembari menatap Bryan dan Ammar yang sudah sibuk dengan skincare apalah itu. Seolah lupa akan pertengkaran mereka yang merebutkan kue ulang tahun Bara yang sudah hampir habis oleh cowok itu sendiri. Dan Romi yang entah sejak kapan molor setelah menghabiskan kuenya tadi.


Drrt drrt


Levi mengernyitkan keningnya seraya merogoh saku celana jeans-nya. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Ngapain lagi tuh Bokap", celetuk Morgan yang ikut melihat layar ponsel Levi.


"Minta beliin kain kafan kali", sahut Levi asal yang membuat Morgan tertawa.


"Sialan lo Lev."


Lalu Levi mengangkat panggilan tersebut dengan sedikit menjauh dari teman-temannya.


"Ha-"


"Dimana kamu sekarang?, pulang cepat!."


Belum sempat Levi merampungkan kalimatnya. Suara berat Papa nya sudah menggelegar terlebih dahulu.


"Kenapa?", tanya Levi yang terdengar ogah-ogahan.


"Entah pelacur dari mana yang datang dan ngaku-ngaku hamil anak kamu."


Levi mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Papa nya tersebut. Apa maksud dari orang tua itu. Namun saat mendengar suara pukulan dari seberang, Levi langsung mematikan ponselnya dan berlari keluar dari dalam markasnya itu. Membuat teman-temannya menatap aneh cowok tersebut.


Levi tak memusingkan hal itu. Dirinya tiba-tiba kalap saat mendengar suara teriakan seseorang yang sangat dikenalinya. Dan sepertinya suara itu sedikit serak, seperti selesai menangis.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2