Rearin

Rearin
Ada apa dengan hatinya?


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Aku ingin mendekapnya erat, menutupi celah untuknya pergi dari ku dengan rapat, tetap bersama ku hingga akhir hayat......


...###...


Rea membantu Levi untuk merebahkan diri di atas kasur. Dengan telaten membuka sepatu yang masih terpasang di kaki cowok tersebut.


"Kamu mandi dulu sana", ujar Rea dengan ekspresi yang minim.


Levi menggelengkan kepalanya, "Enggak mau", tolaknya yang membuat Rea mendengus.


"Badan keringetan enggak baik di bawa tidur", tambah Rea.


"Kalau lo mau, bantu gue elapin badan", sahut Levi enteng seraya menutupi matanya dengan lengan. Kepalanya benar-benar terasa sangat berat.


Mendengar itu sontak saja Rea melemparkan handuk kecil yang baru saja diperasnya tepat mengenai wajah Levi. Membuat cowok itu kontan membuka matanya. Menatap dirinya dengan tajam. Namun tak sekalipun membuat Rea takut apalagi gentar.


"Lap sendiri", ketus Rea lalu berjalan keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Levi yang berusaha untuk bangkit duduk dan membersihkan tubuhnya.


Sementara Rea yang tengah menuruni undakan anak tangga, tak henti-hentinya merutuki Levi. Semoga saja Tuhan berbaik hati, dan tidak menghitung apa yang sedang diperbuatnya sekarang adalah dosa.


Setelah sampai di dapur rumahnya. Rea lantas menatap ke seluruh ruangan itu dengan tatapan bingung. Apa yang akan dibuatnya disini.


Awalnya Rea berniat untuk membuatkan Levi semangkuk bubur. Tapi Rea lupa kalau ia sendiri tidak pandai memasak. Bahkan memotong bawang pun masih acak-acakan.


"Kenapa harus sakit sih", Rea menggerutu sambil menggaruk kepalanya dengan frustasi.


Lalu cewek itu melihat ke arah ponsel yang ada ditangannya. Seakan ingat sesuatu Rea lantas menghidupkan ponselnya. Dan menekan nomor seseorang.


Rea mengetuk jari telunjuknya pada meja bar sambil menunggu panggilan itu terhubung.


"Halo."


Terdengar suara yang serak dari seberang sana. Membuat Rea refleks menghela nafas lelah. Hei, ini baru jam setengah delapan malam dan Dita sudah mencapai alam mimpinya dengan tenang. Sahabatnya itu memang tidak memiliki kehidupan yang teratur.


"Dit, tunjukkin saya cara buat bubur untuk orang sakit", ujar Rea tanpa basa-basi. Walaupun Dita itu memiliki sifat yang absurd dan sulit ditebak. Tapi cewek itu mahir dalam hal masak-memasak.


Terbukti saat Rea sedang sakit dan kedua orang tuanya yang sedang pergi ke luar negeri. Dita lah yang dengan telaten merawatnya semalaman suntuk. Membuat Rea sangat takjub dengan sahabatnya itu.


"Males, lo enggak ngundang gue pas nikahan", balas Dita dan terdengar seperti ingin kembali melanjutkan mimpinya yang tadi terjeda.


Rea menghela nafas, "Apa yang bisa saya lakukan supaya kamu maafin saya?."


Dita terdiam sejenak sebelum menjawab, "Suruh Argan nikahin gue."


Rasa bersalah yang tadi bersarang di dalam hatinya seketika lenyap. Hal yang diminta oleh Dita itu seperti menyuruhnya untuk berhadapan langsung dengan malaikat maut.

__ADS_1


"Kalau kamu enggak mau ngasih tau ya udah. Saya cukup tau."


"Aelah ngambekan lo. Iya-iya gue kasih tau, siapa yang sakit emang?."


"Levi", jawab Rea sekenanya.


"Ciee, istri sayang suami ceritanya."


Sial. Hanya mendengar ledekan Dita, pipi Rea terasa memanas seketika, "Berisik."


Lalu setelah itu Rea sibuk mengikuti instruksi dari Dita untuk membuat bubur. Sahabatnya itu dengan sabar menunjukkan Rea yang bahkan tidak tau bumbu dapur. Terkadang Dita jengkel dibuatnya. Katanya pintar, kok bedain garam sama gula aja masih rabun.


"Makasih Dit", ujar Rea seraya melihat satu mangkuk bubur yang ada dihadapannya. Rea harap rasanya tidak terlalu buruk.


"Hm, pokoknya lo harus doain gue nikah sama Argan."


Rea mendengus. Mengapa Dita ngotot sekali ingin menjalin hubungan dengan Argan. Padahal banyak cowok di luaran sana yang lebih tampan dan normal dari abangnya. Entah apa yang dilihat Dita dari sosok Argan.


"Kalau Tuhan menyetujui, dan Argan pun mau", sahut Rea membuat Dita berdecak sebal.


"Udah ah, gue mau lanjutin mimpi nikah sama Argan. Walau enggak dapat di dunia nyata, setidaknya di mimpi dia cuma milik gue."


Rea sedikit kasihan dengan Dita. Tapi cewek itu terlalu keras kepala dan kukuh.


"Bye, darling. Jaga laki lo bener-bener, awas digaet hewan pelakor."


Alasan Rea tak mengundang Dita ke pernikahannya salah satunya ya itu. Dita itu orang nya nekad dan susah untuk dibilangin. Apapun yang ingin dilakukannya pasti akan dilakukannya.


Pada saat Rea memberitahukan soal malam panjang itu. Dita langsung emosi dan menanyakan siapa cowok bejat tersebut. Untung saja Rea tidak memberitahukannya. Bukan ingin melindungi, hanya saja Rea tak ingin lagi terjadi baku hantam seperti itu.


Setelah itu, Rea mengayunkan kakinya keluar dari dalam dapur. Melangkah menuju kamarnya dengan satu buah nampan berisi bubur, air, serta obat.


Membuka pintu kamar dengan dorongan dari kakinya. Menatap Levi yang sudah berganti pakaian dan tertidur di atas kasur. Lalu Rea mendudukkan tubuhnya di samping Levi. Mengguncang bahu cowok itu agar terbangun.


Menyusun bantal dan membantu Levi untuk bersandar. Menyuapi suaminya itu dengan telaten dan sabar.


...###...


Rea membuka matanya saat merasakan tidurnya terusik. Matanya melirik ke bawah dimana Levi tengah mendusel-dusel di dadanya. Seolah tengah mencari tempat ternyaman nya disana.


Lalu dengan pelan Rea menyibak rambut yang menutupi dahi suaminya itu. Meletakkan punggung tangannya di atas sana. Mengecek suhu tubuh Levi yang sudah sedikit mendingan.


Entah karena tak pernah merawat orang yang sakit atau apa. Rea merasa selalu cemas tak tentu arah, sampai membuatnya terbangun dua jam sekali. Hanya untuk mengecek suhu tubuh cowok tersebut.


Rea menatap ke arah tirai jendela kamarnya yang berkibar karena ditiup angin. Membuat langit malam yang gelap di luar sana sedikit terlihat.


Rea sebenarnya muak melihat wajah Levi. Tapi entah mengapa saat melihat Levi yang kesakitan seperti tadi membuat hatinya juga ikut terasa nyeri. Padahal cowok itu sudah melukai hatinya dengan sangat parah. Tapi tetap saja ia tidak tega.

__ADS_1


Ya Tuhan, mengapa ia harus tercipta dengan hati yang lembut. Jika saja Rea adalah seorang yang pendendam. Mungkin saat ini Levi tidak lagi bisa bergelung nyaman di dalam pelukannya. Mungkin Rea sudah menikam suaminya itu sedari tadi.


Tapi lagi-lagi sisi kemanusiaannya mengalahkan semua rasa sakitnya.


"Kenapa kamu tega nyakitin saya, Levi", gumam Rea dengan pandangan lurus menatap ke luar.


Satu pertanyaan itu lah yang terus menghantuinya. Jika cowok itu mencintainya, lalu mengapa tega menyakiti hatinya.


"Karena gue cinta sama lo Rea."


Rea tersentak kaget dan sontak menunduk. Menatap Levi yang juga tengah menatapnya. Untuk beberapa saat mereka seolah terpaut dalam satu dimensi yang sama.


"Kalau kamu cinta saya, kamu enggak akan mampu untuk lukai hati saya", sahut Rea dengan fokus pada sepasang netra abu-abu itu.


"Maaf", lirih Levi sendu.


Rea menarik sudut bibirnya dan mengalihkan pandangannya, "Saya manusia biasa Levi. Saya enggak mampu untuk terus-menerus hidup seperti ini. Kalau kamu bosan, mending kita pisah. Berjalan di jalan masing-masing, daripada melangkah tak tentu arah seperti ini", ujarnya.


Levi memandang dengan lamat istrinya itu sebelum menindih Rea dibawah tubuhnya. Mengunci tangan Rea di kedua sisi. Membuat cewek itu membelalakkan matanya.


"Apa yang kamu la-"


"Gue mau lo Rea", sela Levi dengan berbisik lirih di telinga istrinya.


Rea terdiam sejenak, "Saya lagi hamil", gumamnya pelan. Entah dorongan dari mana, air mata itu kembali turun begitu saja. Tiba-tiba Rea membayangkan kalau cowok yang sedang berada dalam pelukannya sekarang beberapa waktu yang lalu sedang berduaan dengan perempuan lain. Entah apa yang mereka lakukan, hanya Tuhan yang tau.


"Gue bakal pelan", bujuk Levi sembari mengendus leher Rea. Meremas sesuatu yang terasa pas dalam genggamannya. Membuat Rea merasa panas dingin.


Tak ingin terlena, Rea pun menolak, "Tapi saya-"


"Lo enggak bisa nolak Rea, ini adalah hak gue."


Rea memejamkan matanya. Ini memang adalah hak suaminya. Tapi apakah Rea harus memberikannya disaat Levi sudah sangat melukai hatinya.


Tapi entah mengapa, salah satu sudut di hatinya tiba-tiba merasa begitu bahagia. Kekosongan tadi seolah sudah terpenuhi.


Apakah Rea harus mengatakan?, kalau dirinya sedikit merindukan sosok suaminya itu. Kapan terakhir kali, Levi menemaninya saat tidur malam. Bahkan keberadaan Levi di rumah ini bisa dihitung dengan jari.


Rea memalingkan wajahnya ke samping ketika Levi menciumi seluruh tubuhnya. Seraya membuka satu-persatu pakaiannya. Menikmati setiap jengkal tubuh Rea tanpa ada yang terlewati. Dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.


Saat ini Rea ingin sekali berteriak di depan wajah Levi. Meminta penjelasan tentang siapa itu Tiffany. Dan meminta untuk cowok itu agar tidak meninggalkannya. Tetap bersamanya seperti ini, hingga akhir hayat.


Kenapa?, ada apa dengan hatinya.


...~Rilansun🖤....


Semangat ku tergantung dengan laik mu 🙂.

__ADS_1



__ADS_2