
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Habiskan, tuntaskan dan luapkan saja malam ini, hanya malam ini saja, ini cukup manusiawi, jadi tak apa.......
...###...
Dita mengumpat seraya berjalan keluar dari dalam tempat yang sesak penuh dosa itu.
"Sialan lo Dito, gue kaduin Mama baru tau rasa lo", niatnya yang ingin menjemput sang kembaran karena amanat dari Mama nya. Malah dibuat kesal ketika melihat Dito yang sedang mencumbu mesra seorang perempuan di sebuah club ternama. Dan Dita justru diusir pergi oleh Abang laknatnya itu. Huh, menyebalkan.
Dito itu sudah terlalu sesat, harus ada orang yang bisa membuatnya putar balik menuju jalan yang benar.
"Kenapa lo pergi Ra...."
Dita menghentikan langkahnya kala telinganya mendengar sebuah lirihan yang sangat menyayat hati. Namun dari mana suara itu berasal?. Karena sejauh mata memandang, hanya Dita lah satu-satunya manusia yang berada di parkiran luas itu.
"Lo ingkar janji Ra..., lo pergi ninggalin gue."
Lagi-lagi suara itu menusuk gendang telinga Dita, tapi wujudnya siapa pun tetap tidak terlihat.
Dita bergidik ngeri, mungkin saja itu salah satu penunggu disana. Tanpa menunggu lama lagi Dita berjalan cepat ke arah mobilnya yang terparkir. Namun ketika tangannya hendak membuka pintu mobil. Suara itu kembali terdengar tapi disertai dengan tangisan yang mengiris hati.
"Siapa sih?", gumam Dita pada dirinya sendiri. Merasa penasaran pun Dita melangkahkan kakinya pelan-pelan mencari sumber suara. Takut-takut kalau itu adalah sebuah prank belaka.
"Gue rindu lo Ra, i Miss you badly."
"Argan?", Dita terlonjak kaget saat mendapati Argan yang tengah duduk disamping mobilnya dengan penampilan acak-acakan. Persis seperti gembel.
"Lo ngapain disini?, nge-gembel?", Dita mendekati Argan yang masih meracau tak jelas. Tak pernah dilihatnya seorang Argan yang terkenal konyol dan santai dalam hidupnya menyedihkan seperti itu.
Argan menoleh dan menatap sinis Dita yang terlihat khawatir padanya. Argan selalu menganggap teman Rea seperti temannya sendiri. Namun untuk yang satu ini, Argan tak bisa melakukannya.
Bukannya Argan tak suka. Hanya saja Argan mencoba untuk membuat jarak di antara mereka berdua. Setelah Dita menyatakan perasaannya kepada Argan setahun silam.
Baginya, seorang Clara tak akan pernah bisa tergantikan di hati dan hidupnya.
"Minggir", tukas Argan seraya berdiri dari duduknya. Mengusir Dita yang menghalanginya untuk masuk ke dalam mobil.
Dita menepi, namun tangannya bergerak cepat menyanggah tubuh Argan yang limbung.
"Lo mabuk Ar", ujar Dita yang bermaksud untuk mencegah Argan agar tidak mengemudi.
"Ya terus?", sengit Argan dan menghempaskan tangan Dita dari lengannya.
Dita melihat ke sekelilingnya, "Temen lo mana?", tanyanya.
"Gue sendiri", sahut Argan sekenanya dan mendudukkan tubuhnya di belakang kemudi.
Dita membelalakkan matanya. Besar sekali nyali Argan ke club sendirian. Kalau ada apa-apa bagaimana.
Tanpa ba-bi-bu lagi Dita merogoh ponselnya dalam saku celana dan matanya melotot saat melihat tanggal yang tertera di layar gawainya.
15 September.
Itu artinya Argan hari ini berulang tahun. Tapi apa, cowok itu malah mabuk-mabukan di club. Wah parah, Dita yakin keluarga Argan pasti tengah menunggunya malam ini.
"Mau ngapain lo?", celetuk Argan saat melihat Dita yang sibuk dengan ponselnya.
Dita melirik sekilas Argan lalu mendekatkan ponselnya ke telinga, "Telpon Om Reagan."
Argan membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Halo Om, Dita mau ngo-"
Ucapan Dita terhenti ketika Argan tanpa aba-aba menarik pinggangnya. Membuat jarak di antara mereka terkikis begitu saja.
"Argan!, lo apaan sih, lepasin gue!", bentak Dita yang tak suka dengan kedekatan mereka sekarang. Ini terlalu dekat, dan ditempat sepi seperti ini tidak akan ada yang tau kapan setan datang.
Dita memberontak dalam pelukan paksa Argan. Namun sepertinya cowok itu tidak terganggu dengan tindakan Dita. Buktinya, Argan malah menatap cewek yang didepannya dengan pandangan datar tak terbaca.
Sedetik kemudian, mata Dita dibuat nyaris keluar saat merasakan benda kenyal yang basah menempel pada bibirnya.
"Ar..., hmph"
Ya Tuhan, first kiss nya diambil oleh cowok yang selama ini mendiami hatinya. Apa, apa yang harus Dita lakukan. Mendorongnya atau membiarkan Argan melakukannya.
"Dita, cuma kamu harapan kami. Jaga diri baik-baik sayang, jangan buat Mama sama Papa kecewa. Cukup Abang kamu aja yang bikin Mama pusing."
Dita seketika membuka lebar matanya yang terpejam. Ucapan Mama nya yang penuh harap terlintas begitu saja dibenaknya. Seolah menjadi pengingat untuknya yang hampir saja terlena.
"Ar, hmph, lep....pas", Dita memukul kuat bahu dan dada Argan.
Argan melepas pagutan nya pada bibir Dita. Tersenyum miring menatap wajah Dita yang memerah seraya menghirup rakus oksigen.
"Bangs*t lo!", umpat Dita kasar dan memukul sekali lagi dada bidang Argan.
"Kenapa?", Argan mengeratkan pelukannya pada pinggang Dita yang hendak kabur, "Bukannya selama ini lo mau jadi pacar gue?. Seenggaknya, gak dapat hatinya tapi dapat raganya."
Dita terdiam dengan pandangan yang terluka. Segitu murahannya kah Dita di mata Argan. Hingga dirinya disamakan dengan cewek-cewek yang rela memberikan tubuhnya cuma-cuma atas nama cinta.
Hell, walaupun Dita cinta kepada Argan. Tapi cintanya untuk Tuhan dan keluarganya tetap lah yang nomor satu.
Dan sepertinya Argan tidak pantas untuk cintanya itu.
"Gue benci lo Ar. Gue nyesal udah pernah simpan nama lo di hati gue. Mungkin selama ini orang-orang bilang gue gak pantes buat lo. Tapi hari ini gue mau bilang, lo gak pantes buat gue. Egois!", sarkas Dita dengan air mata yang menggunung dibalik pelupuk matanya.
Saat satu tetes air mata itu lolos begitu saja, entah mengapa Argan merasa dada nya sesak. Padahal bukan dirinya yang menangis.
"I hate you", desis Dita dengan penekanan di setiap katanya. Dita mendorong kasar dada Argan, membuat lilitan tangan cowok itu di pinggangnya terlepas sempurna.
Lalu Dita mengambil ponselnya yang tergeletak di bawah kursi samping kemudi. Matanya dibuat terbelalak kala menatap ponselnya yang masih menyala. Menampilkan nama Papi Argan yang tertera di layarnya.
"Pa...pi?"
Dita mengernyit melihat tubuh Argan yang tiba-tiba menegang. Merasa penasaran Dita pun mengikuti kemana arah pandang Argan. Pupil matanya melebar seketika menatap seorang pria dewasa yang berdiri tak jauh dari mereka. Pandangan datar dan aura yang mencekam.
"Jadi Papi sebenarnya udah tau kamu pergi ke club?", Rea bertanya setelah mengingat kembali penjelasan panjang Dita beberapa jam yang lalu.
Setelah menenangkan Dita dan mengantar sahabatnya itu pulang. Rea pergi ke kamar Argan, memarahi dan memukul habis-habisan dada Argan. Tak percaya kalau Argan bisa berbuat begitu. Malam ini Argan telah melukai hati-hati orang yang disayanginya.
Namun saat melihat air mata turun dari sepasang netra yang mirip dengan miliknya itu. Rea seketika luluh. Hatinya yang lemah ketika melihat keluarganya menangis.
"Hu'uh, Papi rupanya udah ada disana semenjak gue melangkah masuk ke dalam club. Dia dengar suara Dita yang gue cium dari telepon tuh cewek. Terus bokap bawa kami pulang dan mukul gue habis-habisan di rumah", ujar Argan sambil meringis memegangi sudut bibirnya yang robek.
"Salah kamu juga", Rea menekan kesal kapas pada luka Argan. Abangnya itu hampir saja menodai sahabat satu-satunya yang ia punya.
Tapi ini bukan sepenuhnya salah Argan. Rea tau kebiasaan buruk Argan pada hari ulang tahun mereka. Cowok itu akan sangat kacau pada malam hari. Menangis, mabuk-mabukan, dan memukuli dirinya sendiri.
Dulu, Rea akan selalu ada disamping Argan. Menemani kembarannya itu menghabisi malam yang panjang. Mendengarkan cerita pilu yang keluar dari mulut Argan. Rintihan rindu. Penyesalan tak menentu. Serta tangisan yang mengalun merdu.
Argan itu penipu ulung, ia mempunyai banyak topeng untuk menutupi luka yang ada di hatinya. Dan hanya Rea lah yang tau betapa besar dan dalamnya luka itu.
"Lepasin dia Ar, ikhlaskan. Dia gak bakal tenang kalau kamu kayak gini", Rea mengusap rambut Argan yang menyandar di pundaknya.
__ADS_1
Argan terdiam. Lalu di detik selanjutnya Argan terkekeh kecil, "Gue egois ya?", tanyanya entah pada siapa.
Rea menggeleng tanpa mampu bersuara.
"Gue rindu Clara, Rea...", lirih Argan yang langsung membuat Rea mengatup bibirnya. Menahan tangisannya agar tidak keluar.
Clara Maureen. Gadis cantik berambut panjang yang berhasil membuat seorang Argan gagal move on hingga saat ini. Gadis yang pergi tiga tahun lalu karena sebuah kecelakaan. Tepat di malam ulang tahun mereka berdua. Membuat Argan selalu berantakan pada hari ulang tahunnya.
Setiap Argan menutup matanya hendak meniup lilin yang ada di atas kue. Saat itu pula kenangan buruk itu selalu melintas di kepalanya. Dan itulah salah satu alasan, Argan tak ingin merayakan ulang tahunnya.
"Kenapa Tuhan ngambil dia dari gue cepet banget?. Apa karena gue jahat?, gue enggak peka, gue enggak punya hati. Iya kan?, bahkan gue udah buat air mata Bunda jatuh. Untuk pertama kalinya gue lihat Bunda kecewa sama gue."
Rea memalingkan wajahnya kesamping ketika mendengar suara Argan yang bergetar.
"Gue ini anak durhaka. Gue enggak pernah ngasih sesuatu yang bisa buat Bunda sama Papi bangga. Justru gue selalu yang buat mereka berdua pusing", ujar Argan sembari memeluk erat tubuh Rea dari samping.
"Gue udah ingkar janji sama Bunda. Bunda selalu berharap gue bisa jadi cowok yang sangat menghargai perempuan. Tapi tadi gue udah melukai hati seorang perempuan. Bunda benci gue enggak ya?", Argan mendongak menatap Rea. Menyingkirkan rambut Rea yang menutupi wajahnya.
"Loh kok lo yang nangis?, seharusnya kan-"
Rea membalikkan badannya cepat dan langsung memeluk tubuh yang selalu berdiri di garda terdepan ketika ia terluka.
"Lu-lupain dia Ar. Kalau kamu beneran cinta dia, relakan. Jangan buat diri kamu terpaku pada orang yang udah enggak ada. Kamu membangun benteng yang tinggi terhadap orang-orang di sekitar kamu. Sampai kami enggak mampu untuk merangkul kamu, ketika kamu terluka. Hiduplah untuk diri kamu sendiri, jangan menyia-nyiakan waktu kamu buat menyalahkan diri sendiri lagi. Kamu gak salah. Takdir lah yang membawa dia pergi", cerocos Rea panjang lebar dalam pelukan Argan.
Argan memejamkan matanya di atas puncak kepala Rea.
"Gue minta takdir buat kembalikan dia, bisa gak ya?", sahut Argan dengan terkekeh perih di akhir kalimatnya.
Rea mencubit pelan perut Argan dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidang kembarannya.
"Gue bener-bener rindu dia Rea..."
Rea menggelengkan kepalanya dengan tangis yang semakin pecah.
"Peluk dia dalam doa kamu. Dan berhentilah memeluk memori yang sangat menyakitkan itu sendirian. Cukup ingat yang baiknya aja. Jangan buat kamu terpaku pada masa lalu. Kami semua sayang kamu Ar."
Argan menghapus kasar air matanya, "Maaf."
"Happy birthday my brother", ucap Rea setelah cukup lama diam, "Wish you all the best."
Argan tersenyum dan mengangkat wajah Rea untuk dilihatnya. Menghapus air mata yang beranak sungai di pipi Rea.
"Too", balas Argan sambil mencium sekilas puncak kepala Rea. Lalu memeluk sebentar adiknya itu sebelum bangkit dari atas ranjang.
"Mau kemana kamu?", tanya Rea.
"Mau minta maaf sama Bunda, sebelum gue dikutuk jadi malin kundang. Kan berabe kalau gue tiba-tiba jadi batu", jawab Argan asal.
Rea tersenyum tipis, semoga saja Argan selalu ceria seperti ini. Hanya malam ini saja, ini cukup manusiawi, jadi tak apa. Rea berharap Argan bisa lebih dewasa setelah malam ini.
"Kamu udah berantakin ulang tahun saya. Kadonya dua kali lipat", celetuk Rea saat Argan sudah sampai di ambang pintu.
"Aman, gue beliin tas Herman yang kw entar."
Rea mendengus, "Berapa?, sepuluh ya, kan palsu."
"Enggak lah, satu aja", sahut Argan sebelum benar-benar hilang dibalik pintu.
Rea lalu membereskan kotak P3K yang dipakainya untuk mengobati Argan. Merapikan tempat tidur Argan yang selalu berantakan. Hingga pergerakannya terhenti ketika merasakan lilitan tangan besar di pinggangnya.
"Kamu tadi udah perhatian sama cowok, selain aku. Mommy should be punished."
__ADS_1
...~Rilansun🖤....
...Dear readers, klo sy up nya banyakan or deketan, like nya jangan pilih kasih ya syg. Kalo up ny dua, like kedua"nya ya. Jujur, itu satu hal yg buat sy mls double up atau up sering". Sekian, terima gaji😘...