Rearin

Rearin
Pulang yuk sayang


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Sekedar kata maaf saja mungkin bisa diberikan. Tapi luka yang ditorehkan, apakah bisa dilupakan?......


...###...


Rea menatap tubuhnya yang menyamping melalui cermin panjang yang mematut seluruh tubuhnya.


"Sehat-sehat ya sayang", gumamnya pelan seraya menyentuh perut bagian bawahnya yang sudah terlihat sedikit menonjol. Rea membayangkan kalau perutnya akan membesar. Akan ada tendangan-tendangan kecil yang dapat dirasakannya. Belum lagi segala proses yang akan Rea jalani sampai lahiran. Sungguh, demi apapun Rea tak sabar untuk melihat malaikat kecilnya itu.


Apakah dia akan mirip dengan Rea atau lebih menyerupai makhluk Tuhan yang sangat menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan bapaknya, Levino Altan Devora.


Mengingatnya saja sudah membuat mood Rea down seketika.


Tak ingin suasana hatinya lebih memburuk lagi, Rea lantas meraih jaketnya dan menutupi pakaian olahraganya yang cukup terbuka. Karena bagian perutnya memang tidak tertutupi apa-apa. Sebab Rea ingin berjemur dan sedikit melakukan olahraga. Tubuhnya sudah terasa pegal-pegal sekali setelah berbaring saja beberapa hari ini. Dirinya memang terlalu malas untuk beranjak dari atas ranjang.


"Mau kemana Bun?", Rea menutup pintu kamarnya. Semenjak pindah kesini, Rea memang tidur di kamar yang ada di lantai bawah. Sebab Papi dan Bunda nya tidak ingin mengambil resiko dengan tetap membiarkannya tinggal di kamarnya yang terletak di lantai atas.


"Mau ke toko. Ada pesanan hari ini", Arinta terlihat sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas tangannya.


Rea mengangguk paham. Berjalan ke arah dapur dan menuangkan segelas air untuknya.


"Rea", panggil Arinta seraya berjalan menghampiri Rea yang duduk di meja makan.


"Bunda pergi dulu ya sayang. Hati-hati di rumah. Jangan coba-coba ke dapur lagi kalau enggak ada Bunda", Arinta menatap tegas Rea dengan penuh peringatan. Sebab Rea itu pernah hampir saja jatuh terpeleset karena tidak sengaja menginjak tepung yang berceceran di lantai. Dan itu hanya demi sebuah eksperimen memasak yang ingin dilakukannya.


"Iya, Bun", sahutnya kalem.


"Mbok, tolong lihatin Rea ya, kalau bandel jewer aja telinganya. Udah mau jadi Mama juga, tapi enggak bisa dibilangin", omel Arinta.


Mbok Narti yang sedang mengupaskan apel untuk Rea pun lantas tersenyum dan mengangguk patuh.


"Jangan coba-coba buat ke kamar atas lagi. Olahraga nya juga jangan la-"


"Bun, udah jam delapan lewat lho", Rea menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan waktu.


"Ya ampun, karena kamu nih. Ya udah Bunda pergi dulu ya, jangan lupa sarapan. Susunya juga jangan lupa minum. Jangan capek-capek ya sayang", ujar Arinta seraya mencium puncak kepala putrinya.


"Iya, Bun, hati-hati di jalan."


Setelah mengucapkan salam, Arinta segera berlenggang pergi menuju pintu utama. Kemudian Rea mengalihkan pandangannya setelah melihat punggung Arinta benar-benar hilang di balik pintu jati besar tersebut.

__ADS_1


"Jangan bandel, nanti mbok jewer telinganya."


Rea tersenyum simpul. Bunda nya itu memang terlalu berlebihan. Padahal ia bukan anak-anak lagi, sampai mau kemana pun harus dinasehati.


"Makasih, mbok", Rea mengambil satu potong apel lalu bangkit dari duduknya. Hendak berjalan ke arah halaman belakang rumahnya.


"Enggak sarapan dulu, mbak?."


"Nanti aja", pagi ini Rea memang terlambat bangun. Sehingga membuatnya tak sempat sarapan bareng-bareng dengan keluarganya.


Menggeser pintu kaca itu hingga menampilkan suasana halaman belakang yang sangat asri. Rea memang suka menghabiskan waktunya disana. Entah untuk olahraga, atau untuk menghilangkan suntuk.


Rea berdiri di tepi kolam berenang seraya menghirup udara panjang. Merentangkan kedua tangannya seraya memejamkan mata. Merasakan hangatnya sang mentari pagi yang menyinari tubuhnya.


"Seger ya?", Rea mengelus perutnya. Membuka matanya dan membuka jaket berwarna hijau army yang menutupi tubuh bagian atasnya. Melemparnya dengan asal ke arah kursi santai yang ada di pinggir kolam.


Lalu Rea melakukan pemanasan ringan selama kurang lebih delapan menit. Melakukan gerakan kecil saja sudah membuat tubuhnya merasa lelah. Ini nih, efek dari rebahan terus di atas kasur. Tapi ya mau gimana lagi, mager nya mengalahkan semua.


"Capek ya sayang?", gumam Rea seraya mengelus sayang kandungannya.


"Mommy nya bandel ya sayang."


"Bandel banget, belum sarapan tapi udah olahraga."


Rea memejamkan matanya saat merasakan tangan besar itu yang mengelus permukaan perutnya. Mencium berkali-kali puncak kepalanya. Mendekap tubuhnya erat dari belakang. Membuat detakkan jantungnya semakin menggila.


Tidak perlu ditanya lagi siapa pelakunya. Sebab Rea yakin kalau orang itu adalah Levi.


Seminggu yang lalu, mantan suaminya itu datang kerumahnya bersama Argan. Rea dan Arinta sampai dibuat kaget melihatnya. Sejak kapan pula seorang Argan bisa menjadi begitu dekat dengan Levi.


Tapi yang lebih membuat keduanya kaget adalah penjelasan dari Levi yang dibantu oleh Argan dan Papi nya. Ketiga laki-laki itu mengatakan kebenaran yang tak pernah diduganya.


Awalnya Arinta marah-marah karena merasa telah dibohongi. Bahkan wanita itu mendiamkan suaminya dua hari lebih. Dan Bunda nya itu tetap tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Levi. Karena hati ibu itu sudah terlanjur dibuat kecewa, sebab Levi telah menghancurkan kehidupan putrinya.


Tau kan kalau Arinta itu bucin banget dengan suaminya. Dan bujukan dari Reagan berhasil membuat ibu dari dua orang anak tersebut memberikan kesempatan kedua kepada Levi.


"Lepasin", Rea berujar dengan sedikit tekanan di kalimatnya. Setelah mendapatkan lampu hijau dari keluarganya. Levi memang semakin leluasa keluar masuk rumahnya. Dan sewenang-wenang terhadap dirinya.


"Kenapa enggak sarapan?", Levi tak menghiraukan ucapan Rea. Cowok itu mencium lama pundak Rea yang terbuka seraya menghirup aroma mawar yang sudah dirindukannya, "Kenapa pakai baju kayak gini?, kalau ada yang ngintip gimana?."


Rea memutar bola mata malas. Ingat ya, Levi itu mantan suami. Tapi posesifnya minta ampun.

__ADS_1


"Ya rejeki mereka", sahut Rea santai.


Levi menggeram rendah. Dan Rea bisa merasakan kalau cowok itu sedang menahan marah. Rasain, jengkel kan. Nah begitulah perasaan Rea saat cowok itu berhubungan dengan Tiffany. Dan menutupi segalanya dari dirinya.


Lalu tanpa aba-aba Levi menggendong Rea, membuatnya menjerit tertahan.


"Pakai jaketnya", Levi memberikan jaket milik Rea yang cewek itu lempar asal tadi. Mereka berdua duduk di salah satu kursi yang ada disana dengan Rea yang duduk di atas pangkuannya.


Rea mendengus dan mengambil kasar jaket berwarna hijau army tersebut. Memasangnya dan menarik resletingnya hingga atas.


Levi berdecak kesal lalu menurunkan kembali resleting jaket Rea, "Enggak usah di resleting."


Maunya, dasar.


"Dingin", ujar Rea datar dan berusaha kembali menaikkan resletingnya. Namun Levi menahan tangan Rea seraya melototkan matanya.


"Tadi aja gak dingin, dasar. Udah mau punya anak, jangan genit-genit."


Rea ingin tertawa keras sekarang juga ketika melihat wajah Levi yang suram. Hei, apakah cowok itu sedang cemburu sekarang?. Rasakan, karma itu berlaku ganteng.


"Rea."


"Hm", sahut Rea malas seraya memalingkan wajahnya ke mana saja asal tidak melihat paras sempurna yang membuatnya kesal. Namun juga membuat jantungnya berdetak tak karuan.


"Minum susu dulu", Levi menyodorkan segelas susu ibu hamil yang diterima Rea tanpa perlu ribut-ribut.


"Rea", Levi memanggil sekali lagi nama cewek tersebut setelah meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas meja.


"Hm", lagi-lagi hanya gumaman yang Rea berikan.


"Rea."


"Hm."


"Re-"


"Apasih!"


"Pulang yuk sayang."


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2