
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Katanya cemburu itu untuk orang yang merasa dirinya lebih rendah. Dan ya, sekarang aku sedang merasa sangat rendah saat ini......
...###...
"Udah, keluar sana."
Rea terjengit saat mendengar suara itu yang berasal dari belakang tubuhnya. Lantas ia menolehkan kepalanya ke belakang. Mendapati Levi yang menunduk menatapnya.
Namun sedetik kemudian Rea kembali menghadap ke depan. Mengaduk mie instan yang sedang di rebus nya. Setidaknya hanya itu yang bisa Rea lakukan.
Melihat respon yang diberikan Rea. Levi lantas mendengus. Istrinya itu sangat keras kepala sekali. Sifat dingin dan acuh tak acuhnya Rea membuat Levi merasa sedang bercermin. Dan itu terkadang sukses membuatnya jengkel setengah mati.
Lalu tanpa aba-aba Levi mengambil alih pegangan panci berisi mie yang direbus oleh Rea. Menuangkan panci itu ke dalam wastafel. Membuat Rea menatap horor ke arah mie nya yang sudah tergeletak naas di tempat pencucian piring tersebut.
Baru saja hendak melemparkan sebuah protes. Levi lebih dulu menyela yang semakin membuat emosi Rea membuncah pagi ini.
"Enggak baik pagi-pagi makan mie instan."
Sebenarnya Rea tak berniat untuk makan mie instan. Seumur-umurnya baru kali ini Rea memegang apa yang dinamakan mie instan tersebut. Sebab dulu Arinta tak pernah mengizinkannya untuk memakan atau membeli mie instan. Kata Bundanya itu enggak baik untuk kesehatan.
Tapi saat Rea pergi ke dapur tadi dan mendapati mie instan dalam laci. Tanpa pikir panjang lagi langsung saja Rea mengambilnya dan membaca panduan memasak yang tertera dibagian belakang kemasannya.
Perutnya lapar, sangat lapar. Dan di dalam kulkas tidak ada satupun sesuatu yang dapat dimakan. Sebab Bik Mirna belum sempat untuk belanja bulanan. Ditambah dengan wanita itu yang tidak bekerja hari ini. Karena demam cucunya yang semakin menjadi dan tidak dapat ditinggal.
Sebenarnya Rea bisa saja melihat tutorial membuat nasi goreng melalui internet. Tapi Rea takut ia malah akan membuat racun, bukannya nasi goreng. Dan memakan sembarangan makanan akan berdampak besar pada malaikat kecilnya.
Satu bungkus mie instan Rea rasa tidak akan terlalu berpengaruh pada kesehatannya.
"Rambut basah itu enggak baik untuk kesehatan", celetuk Levi dan menarik Rea untuk mendekat. Mengusap rambut panjang istrinya yang tergerai basah dengan handuk kecil yang memang sengaja dibawanya. Karena Levi yakin kalau Rea pasti tidak mengeringkan rambutnya dengan benar. Cewek itu langsung pergi menyelonong ke dapur sesudah mandi.
Benar-benar ceroboh.
Sementara Rea yang diperlakukan seperti itu sontak menatap Levi yang sedang fokus mengeringkan rambutnya. Mengapa, mengapa cowok itu berubah-ubah seperti bunglon. Apakah ini sisi Levi yang sebenarnya?.
Saat membuka mata tadi pagi, Rea sempat kaget saat mendapati dirinya yang bersandar di dada bidang Levi. Tertidur dalam dekapan suaminya. Rea kira, seperti yang sudah-sudah Levi tidak akan berada di rumah waktu pagi hari. Menyisakan dirinya sendirian di dalam kamar kosong tak bertuan.
Tapi pagi ini, cowok itu tidak pergi. Levi tetap berada bersamanya.
"Duduk gih sana", Levi menatap tepat di manik hitam legam itu. Berujar dengan sangat lembut. Membuat Rea semakin sulit untuk mempercayai kalau yang berdiri dihadapannya sekarang adalah suaminya. Rea seperti melihat sosok Levi waktu di awal-awal pernikahan mereka.
Lembut, dan perhatian.
Levi mengangkat sebelah alisnya saat Rea tak bergeming memandangnya, "Kenapa?, ada yang mau ditanya?."
Mendengar itu sontak saja suara hatinya berbicara. Ada, bahkan banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkannya. Tapi Rea tak tau harus mulai darimana. Sebab ia tak ingin merusak kebahagiaan yang terlihat semu ini.
Untuk beberapa detik mereka terdiam tanpa ada yang bersuara. Saling menatap satu sama lain. Sebelum Rea melontarkan satu pertanyaan yang membuat air muka Levi berubah seketika.
"Siapa itu Tiffany?."
Levi menatap sejenak Rea lalu membalikkan badannya. Mengiris bawang serta pelengkap lainnya untuk membuat nasi goreng.
Melihat itu Rea lantas tersenyum miris. Dan mundur secara perlahan. Membalikkan badannya dan berlalu meninggalkan dapur.
Sekarang Rea hanya bisa pasrah saja. Jika Levi bukan jodohnya, maka cepat atau lambat pernikahan ini akan segera berakhir.
Tapi jika memang Levi jodohnya, maka Rea akan menjalani setiap rintangan yang diberikan oleh Tuhan pada rumah tangganya. Dan itu pun kalau stok kesabarannya masih tersedia.
__ADS_1
...###...
"Pelan-pelan, jangan kayak orang yang enggak makan tiga hari."
Rea melirik sinis ke arah Levi yang barusan berceletuk. Hei, dirinya seperti ini itu karena siapa. Siapa yang sudah menguras habis tenaganya hingga menjelang pagi tadi. Sampai membuatnya dilanda kelaparan akut.
"Yang enggak mau kasih penjelasan, mending diam aja", sindir Rea tanpa melihat ke arah Levi yang menggelengkan kepala menatapnya.
"Enggak semua pertanyaan harus dijawab tepat pada waktunya", sahut Levi.
"Dan kehidupan saya yang kamu permainkan."
Skak mat.
Rea mengangkat pandangannya dan menatap Levi yang juga tengah menatapnya.
Lalu cewek itu terkekeh pelan, "Kamu pikir kamu siapa Levi?, yang bisa seenaknya mempermainkan hidup saya. Mengangkat saya tinggi-tinggi sebelum menjatuhkan saya ke jurang yang tak berdasar?. Kamu senang memperlakukan saya seperti ini?. Kamu puas melihat hidup saya yang gak tentu arah?", ujar Rea membuat Levi diam tak bersuara.
"Kenapa pada waktu itu kamu ngotot nikahin saya kalau pada akhirnya kamu sendiri enggak paham apa itu arti sebuah pernikahan. Saya bukan wanita yang berhati lapang yang rela membagi suami dengan wanita lain. Kalau kamu enggak bisa bahagiakan saya, lebih baik lepaskan saya", tambah Rea dengan berani meminta untuk Levi agar melepaskannya. Ya, dia bukan bidadari baik hati yang bisa membagi ranjang miliknya dengan perempuan lain. Dirinya juga bukan manusia penyabar. Rea bisa berada di titik terjenuh dalam hidupnya jika Levi terus saja bersikap seperti ini.
"Saya enggak tau sampai mana saya bisa sabar dengan kamu", Rea bangkit dari duduknya. Dengan melihat Levi yang hanya diam mendengarkannya seperti itu. Membuat amarah Rea semakin membuncah. Ingin sekali rasanya Rea melemparkan piring ke wajah datar yang sedatar papan triplek tersebut.
Rea mengurungkan niatnya untuk menaiki anak tangga saat mendengar suara bel rumahnya yang berbunyi. Lalu Rea memutar langkahnya dan berjalan ke arah pintu utama rumahnya.
Siapa yang datang ke rumahnya?. Sepertinya hanya teman-teman Levi serta keluarganya yang mengetahui alamat rumahnya. Tapi jika Bunda nya ingin mampir pasti akan menghubunginya terlebih dulu.
Rea yakin ini pasti temannya Levi atau tidak Argan. Ya, sejenis jelangkung seperti mereka lah. Yang datang tak di undang, pulang pun tak di antar.
Rea membuka pintu rumahnya dan seketika matanya dibuat lebar saat melihat seorang cowok berseragam putih abu-abu yang berdiri dihadapannya.
"Hai?", Rafqi melambaikan tangannya di hadapan wajah Rea yang terlihat terkejut.
"Gue-"
"Dia datang sama gue. Dia sih yang ngotot mau mampir ke rumah lo katanya."
Rea mengalihkan pandangannya ke arah Bara yang berdiri di samping Rafqi.
Pantas saja Rafqi bisa tau alamat rumahnya. Karena semenjak Rea putus sekolah, ia benar-benar memutuskan semua hubungannya dengan SMA Angkasa. Hanya Dita lah yang tau mengenai pernikahannya dengan Levi. Dan sekarang, Rafqi pun sudah pasti mengetahuinya.
"Lo takut bener gue habisin makanan sampai gak mau ngundang gue pas nikahan", ledek Rafqi.
Rea tersenyum canggung, "Maaf."
"Enggak apa-apa", Rafqi tersenyum tulus dan tanpa sadar mengacak puncak kepala Rea. Membuat bumil satu itu tertegun di tempat.
"Mendingan tangan lo singkirin deh, kalau gak mau di bacok sama laki nya", ujar Bara pelan seraya menatap Levi yang berdiri beberapa meter dari mereka.
Rafqi mengikuti arah pandang Bara dan dengan cepat menurunkan tangannya.
"Ayo, masuk", Rea mempersilahkan dua orang laki-laki itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanpa menghiraukan tatapan tajam Levi yang menghunus ke arahnya.
"Tunggu bentar ya", ujar Rea setelah melihat Bara serta Rafqi duduk di atas sofa ruang tengah. Lalu cewek itu berjalan melewati Levi menuju dapur. Menuangkan sirup ke dalam dua gelas. Dan menyajikannya pada kedua tamu dadakannya itu.
"Makasih", ujar Bara dan Rafqi serempak.
"Rea, sarapan lo tadi masih ada enggak?, gue laper", Bara menatap Rea seraya mengelus perutnya.
"Ambil sendiri", bukan Rea yang menjawab tapi Levi sembari mendudukkan tubuhnya ke atas sofa.
__ADS_1
Mendengar itu sontak saja Bara bangkit dari duduknya lalu mengacir dengan cepat ke dapur.
"Kamu mau sarapan?", tawar Rea kepada Rafqi.
"Enggak, udah tadi."
Rea menganggukkan kepalanya, "Eum, kamu bolos?", tanyanya dengan hati-hati. Sebab setau Rea, Rafqi itu adalah murid teladan yang bersih dari kasus apapun.
Rafqi menggaruk pelipisnya malu, "Iya."
"Tapi lo tenang aja, hari ini guru rapat kok, daripada di sekolah enggak belajar, mending gue disini sama lo", tambah Rafqi. Lalu cowok itu melirik Levi yang menatapnya dengan tak bersahabat.
Rea memasang senyum terpaksa.
"Oh, iya. Gue semalam nemu buku baru di perpus. Lo mau baca?, dan gue juga bawa catatan semua mapel. Mana tau lo perlu."
Rea memang perlu itu. Sangat perlu. Karena penjelasan dari guru privatnya terkadang tidak bisa Rea tangkap dengan sempurna. Entah karena lingkungan belajarnya yang kurang mendukung, atau karena beban pikirannya yang tak membuatnya fokus.
"Makasih ya, Raf", Rea mendudukkan tubuhnya di atas karpet, membuat Rafqi turut duduk disamping Rea. Ia masih saja tidak menyangka kalau cewek idamannya kini sudah menjadi istri orang. Dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Andai saja, itu adalah anaknya.
"Sama-sama", balas Rafqi. Lalu mereka berdua larut dalam perbincangan seputar pelajaran. Tanpa menghiraukan Levi yang menatap keduanya dengan tajam.
Beberapa menit berlalu, Rea melirik ke arah Levi saat mendengar suara ponsel cowok itu yang berdering. Mengacaukan konsentrasinya.
Namun tidak seperti yang sudah-sudah. Levi malah mematikan panggilan tersebut. Membuat Rea mengernyitkan keningnya. Tumben.
"Rea, ini lo tau gak caranya gimana?."
Rea tersentak saat Rafqi menyentuh lengannya, "Hah?, sa-saya juga enggak tau gimana. Justru saya mau tanya sama kamu."
"Duh, gue juga enggak paham, gimana nih."
"Ini itu mudah."
Rea dan Rafqi terjengit kaget saat melihat Levi yang sudah berdiri di belakang Rea. Kapan cowok itu bergerak.
Lalu Levi menundukkan badannya. Mengukung Rea dibawah tubuh besarnya. Memenjarakan cewek itu di antara kedua lengan kekarnya.
"Jalannya tuh kayak gini", Levi mengambil pena Rea dan menulis sesuatu di atas kertas.
Rafqi mendengarkan dengan seksama penjelasan dari mantan kakak kelasnya itu. Sementara Rea, fokus cewek itu terletak pada suaminya yang sialnya terlihat tampan saat sedang serius seperti itu.
"Oh, gitu", Rafqi menarik buku yang berisi coretan penjelasan dari Levi tadi. Menatapnya dengan seksama.
Levi menoleh ke arah Rea yang terlihat gelagapan. Cowok itu tersenyum tipis dan tanpa aba-aba langsung mengangkat Rea untuk duduk dalam pangkuannya. Membuat Rea melebarkan matanya. Menatap horor Levi yang malah tersenyum memandangnya.
Kemudian Rea mengalihkan pandangannya ke arah Rafqi yang terlihat fokus dengan buku yang ada dihadapannya. Lantas Rea menghela nafas leganya.
"Kamu-"
"Gue enggak suka lo dekat-dekat dengan dia", bisik Levi di telinga Rea seraya mengelus perut istrinya yang berisi anaknya itu.
"Kamu sama dengan Tiffany boleh gitu", balas Rea ikut berbisik.
"Pokoknya lo enggak boleh dekat-dekat dengan cowok selain gue", tambah Levi tak mempedulikan ucapan Rea. Cowok itu dengan santainya mencuri ciuman singkat di ujung bibir Rea. Membuat keinginan Rea untuk membunuh Levi semakin besar.
...~Rilansun🖤....
Semangat ku tergantung dengan laik mu 🙂
__ADS_1