
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Aku lelah harus berada di titik yang sama......
...###...
Arthur menatap lamat Daddy nya yang sedang menunduk frustasi dekat sofa. Mengacak-acak rambutnya dan terkadang menggeram tertahan. Keadaannya sekarang persis seperti gembel yang sering duduk di depan pos satpam kompleknya.
"Dad-"
"Arthur!."
Arthur menoleh ketika mendengar teriakan seseorang yang memanggilnya. Menatap wanita paruh baya yang masih cantik dalam usianya yang sudah tak muda lagi. Itu nenek dari ibunya, Arinta.
"Omaa", Arthur berlari ke arah Arinta yang membuka tangan siap menggendongnya.
"Hei ganteng, cucu Oma udah makan belum?", tanya Arinta sambil menyugar rambut ikal cucu nya.
Arthur menggeleng sendu.
Arinta tersenyum tipis dan mengedarkan pandangannya menatap sang menantu yang tampak kacau. Arinta sangat panik tadi ketika Arthur menelponnya dengan suara yang tercekat. Laki-laki kecil itu mengadu tentang pertengkaran orang tuanya. Membuat Arinta langsung mendarat ke rumah anak dan menantunya itu sepuluh menit kemudian.
Reagan sedang berada di luar negeri, mengurus bisnisnya sekalian menjenguk Argan serta Renata.
"Mommy mana sayang?", Arinta menatap Arthur yang menyandarkan kepala di bahunya. Arinta ingin marah rasanya saat mengetahui Rea dan Levi bertengkar dihadapan Arthur.
Anak pintar seperti Arthur pasti cepat menangkap dengan apa yang dilihatnya dan Arinta tidak ingin cucu nya terkena masalah mental.
"Di kamal Oma", jawab Arthur lirih.
"Ya udah Oma tengok Mommy dulu ya, Arthur sama Daddy dulu, oke", Arinta menurunkan Arthur dan mengusap gemas kepalanya.
Bocah laki-laki itu mengangguk dan kembali berlari ke arah Levi yang sudah berdiri dari duduknya menatap Arinta tanpa ekspresi apapun.
"Sayang?", baru saja Arinta ingin menaiki anak tangga, Rea sudah lebih dulu turun sambil menggeret kopernya. Dengan wajah sembab dan isakan kecilnya yang masih terdengar.
Rea mendongak lalu tangisannya bertambah kencang saat melihat Bunda nya, "Bunda...", panggilnya seraya tergesa-gesa menuruni undakan anak tangga.
"Hati-hati sayang", tegur Arinta khawatir melihat Rea yang sembarangan berjalan. Apakah putrinya itu lupa kalau sedang mengandung.
"Bunda hiks", Rea langsung memeluk Arinta ketika sudah sampai dihadapan perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Ssst, jangan nangis, entar cucu Oma sedih lho", Arinta mengelus dan menepuk-nepuk kecil pundak Rea yang menangis dalam pelukannya.
"Bunda..., Rea mau pulang Bunda. Bawa saya pulang Bunda", ujar Rea sesenggukan.
"Pulang kemana?, ini kan rumah kamu", sahut Arinta berlagak bodoh. Padahal ia tau maksud dari putrinya itu. Namun Arinta tak ingin Rea menyelesaikan setiap masalah seperti ini. Setiap kali bertengkar, maka Rea akan selalu pergi dan menghindari masalah.
"Rea enggak mau tinggal disini", tambah Rea kemudian.
Arinta menghela nafas. Ia tidak tau apa masalah yang sedang menerpa rumah tangga putrinya. Namun Arinta yakin kalau masalah ini cuma perkara salah paham.
__ADS_1
"Tapi-"
"Rea mau pulang Bunda", rengek Rea yang tak ingin dibantah.
"Ya udah iya kita pulang", Rea menguraikan pelukannya lalu Arinta mengambil alih koper yang berisi perlengkapan Rea. Arinta menggenggam tangan putrinya dan menuntunnya jalan keluar.
"Bunda", Levi berdiri di depan mertuanya sambil melirik Rea yang enggan menatapnya.
"Jangan bawa Rea."
Arinta tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis kepada menantunya itu.
"Sayang aku mohon, jangan pergi. Aku bisa jelasin semuanya, ini salah paham. Please, jangan pergi", mohon Levi dan ingin mengambil tangan Rea untuk digenggamnya namun sang empunya malah langsung menyentak kasar tangan Levi.
"Saya enggak mau bicara dengan anda", timpal Rea dengan formal, persis seperti pertama kali mereka bertemu. Asing, formal, dan datar.
"Sayang..."
"Biar Rea sama Bunda dulu, sekarang kalian butuh waktu buat introspeksi diri masing-masing. Kalian bukan lagi anak remaja labil yang mengedepankan ego. Sekarang kalian itu orang tua, punya tanggung jawab yang besar. Yang diutamakan itu anak, bukan emosi masing-masing. Kalian enggak kasihan lihat Arthur?, dengan calon anak kedua kalian?. Mau sampai kapan kayak gini?", Arinta berujar dengan lembut penuh keibuan namun disetiap kalimatnya sarat akan ketegasan.
Levi dan Rea sama-sama menunduk. Ya, mereka bersalah. Mereka tak dewasa dengan beradu mulut di depan Arthur. Kejadian hari ini pasti akan terekam jelas di otak putra sulung mereka.
"Maafkan saya Bunda", ujar Levi lirih.
"Untuk?."
"Saya gagal menjadi suami dan ayah yang baik untuk putri dan cucu Bunda", lanjut Levi.
"Jadi pulang?", tanya Arinta seraya mengelus kepala Rea yang tertunduk.
Tanpa mendongak Rea mengangguk pelan.
"Arthur", panggil Arinta pada Arthur yang sedari tadi diam menyaksikan, "Arthur mau ikut Oma apa tetap disini?."
"Bunda, jangan please", Levi menyela pembicaraan antara Oma dan cucunya itu.
"Rea, aku minta maaf sayang. Aku mohon jangan pergi", Levi menatap Rea dengan memelas.
Namun yang ditatap enggan untuk menatap balik.
"Arthur ayo", ajak Rea.
Arthur menggeleng, "No Mommy, Althul disini aja sama Daddy", ucapan Arthur yang membuat ketiganya tak percaya. Terlebih Levi.
Rea menghela nafas panjang dan menggangguk menyetujui. Setidaknya untuk saat ini ada yang bisa memerhatikan Arthur.
"Nanti makan ya, Mommy tadi udah masak. Kalau udah dingin, minta tolong Nek Marni panasin lagi. Jangan lupa minum susu nya ya sayang", Rea berjongkok dihadapan putranya dan memeluk Arthur yang mengangguk patuh.
"Mommy jangan lama-lama di rumah Oma", bisik Arthur pelan yang membuat Rea tersenyum kecut.
"Night, jagoan", Rea mencium puncak kepala anaknya berkali-kali sebelum bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.
__ADS_1
Untuk malam ini saja, Rea ingin egois. Rea ingin menenangkan hatinya yang sudah gundah belakangan ini.
"Arthur kalau nanti malam gak bisa tidur, rindu Mommy, datang ke rumah Oma langsung ya", ujar Arinta seraya melirik Levi dari sudut matanya. Jika otak Levi masih jenius, mungkin menantunya itu akan paham dengan maksud dari perkataannya. Namun kalau otak Levi saat ini sedang nge-blank, ya itu deritanya.
"Oma pulang ya", Arinta menciumi permukaan wajah cucu laki-lakinya, "Jangan dibawa beban, kalau ada jodoh pasti selesai", tambah Arinta sembari menepuk sekilas pundak Levi sebelum berlalu menyusul putrinya.
Levi menghela nafas panjang. Malam yang tak diinginkan.
...###...
"Althul kan udah pelnah bilang sama Daddy jangan genit-genit, nanti ditinggal sama Mommy."
Levi menatap layar ponselnya yang berisi daftar panggilan yang ditolak terus-menerus oleh Rea. Ocehan putranya hanya bagai angin lalu. Seperti burung yang berkicau di pagi hari.
"Daddy sih gak mau dengelin Althul. Nanti udah ditinggalin mewek-mewek di depan Althul. Daddy, Althul itu punya kehidupan sendili. Althul enggak bisa telus-telusan ngulusin Daddy", omel Arthur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh. Arthur seperti guru BK yang sedang 'menasehati' murid legendaris.
Levi menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi Rea menolak panggilan darinya.
"Daddy letak ponselnya, atau nggak Althul pecahin nanti. Daddy dengelin Althul lagi malah nih, dengel nggak?", Arthur kesal saat Daddy nya hanya mengacuhkan ucapannya.
Levi terkekeh pelan dan menaruh ponselnya ke atas kasur. Ia bisa terdampar di tempat ini karena putra tersayangnya itu ingin mengomelinya tanpa henti.
"Iya-iya dengel, dengel banget", sahut Levi dengan menirukan gaya bicara Arthur yang cadel.
"Heh, ngejek ya", tuding Arthur dengan melototkan matanya.
"Enggak kok, enggak", kilah Levi dengan menahan tawanya yang hampir menyembur karena ekspresi Arthur yang sangat menggemaskan.
"Sekalang Daddy lenungin kesalahn Daddy disini, Althul mau ke kamal Nek Malni dulu. Kalau Daddy udah siap lenungin nya, Daddy mandi lagi gih. Bentuk Daddy udah kayak gembel, sakit mata Althul tengoknya", cerocos Arthur dengan sedikit mengejek Daddy nya.
Levi kira Arthur ingin tinggal, karena memang ingin menemaninya. Ternyata hanya ingin mengomelinya. Anak siapa sih itu, pengen jitak.
"Jangan sampai buat Althul nungguin Daddy, paham kan Daddy?, paham enggak?, masa enggak paham, katanya pintel."
Levi mengangguk singkat. Kalau enggak dituruti, entar lambe nya Arthur enggak berhenti berkicau.
"Udah lah, Althul capek", kata Arthur dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar orang tuanya.
"Jangan bangunin Nek Marni, kasihan lagi sakit. Tunggu Daddy, biar Daddy yang panasin makanannya", beritahu Levi saat Arthur sudah membuka pintu kamar bersiap untuk keluar.
"Ya, jangan lama-lama. Cacing Althul udah ngamuk-ngamuk ini."
"Katanya hebat, masa sama cacing kalah. Cemen."
Arthur menghentikan langkahnya dan mendelik menatap Levi yang memasang wajah menyebalkan.
"Mau Althul kadu Mommy, Daddy nelpon pelakol lagi?", tantang Arthur yang langsung membuat Levi kicep dan masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit membanting pintu.
Arthur tersenyum puas, "Althul mau di lawan?, mana bisa."
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
...Janlup like dan komen ya😘...