Rearin

Rearin
New life


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Jalani saja alurnya, dan nikmati hasilnya......


...###...


"SAHHH!"


"Alhamdulillah akhirnya lo enggak jomblo lagi bos."


"Akhirnya Abang gue enggak kesepian ya Allah."


"Ciee, yang nanti malam bakal dapat surga nya dunia."


"Jangan lupa masukin instatory, Lev."


"Sialan lo, hahaha."


Sorak-sorai anak-anak Ghozi heboh ketika Levi selesai mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan nafas. Ketua mereka itu memang sesuatu. Entah apa yang dimakan oleh Mama Levi saat mengandungnya. Sampai-sampai otak anaknya bisa se-encer itu.


Setelah Rea mengatakan jika dirinya ingin menikah dengan Levi. Reagan dengan berat hati memberikan restu dan kesempatan cowok itu untuk bersiap-siap selama 30 menit. Entah itu dipergunakan untuk berganti pakaian, atau menghafal ijab kabul.


Dan Levi sukses mengucapkan hal sakral tersebut dengan satu tarikan nafas tanpa adanya kendala. Mulus, seperti wajahnya mbak-mbak yang selfie pakai efek.


Sementara Rea yang mendengar kata 'sah' itu pun sontak memejamkan matanya. Dengan satu kata itu hidupnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Statusnya bukan lagi seorang remaja yang masih ingin mencari kebebasan. Melainkan seorang istri yang harus melayani suami. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan dirinya untuk keluarga.


"Sayang."


Rea membuka matanya seketika saat merasakan sapuan lembut di pundaknya. Lalu matanya tak sengaja menatap uluran tangan kanan yang berasal dari seseorang yang duduk disampingnya. Lantas Rea mendongakkan kepalanya. Melihat Levi yang menatapnya dengan datar. Namun matanya memancarkan sebuah kebahagiaan yang sulit untuk diartikan.


Untuk beberapa saat mereka terhanyut dalam telaga bening masing-masing. Menyelami satu sama lain. Hingga Rea memutuskan pandangannya dan berbalik badan dengan cepat.


Membuat orang-orang menatap bingung kearah cewek yang sedang memeluk erat wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa sayang?", Arinta bertanya dengan khawatir seraya mengelus punggung putrinya.


"Maaf", satu kata yang sukses membuat suasana menjadi hening seketika. Semua perhatian tertuju kepada sepasang anak dan ibu itu.


"Untuk apa?."


"M-maaf Bunda. Maafin Rea yang belum bisa jadi putri kebanggaan kalian. Semua yang kalian beri malah saya balas dengan hal yang sangat memalukan. Saya belum bisa meraih cita-cita saya untuk menjadi dokter buat Bunda dan Papi. Saya benar-benar putri yang enggak berguna. Jika saja membunuh itu halal, maka saya akan meminta Papi untuk menembakkan pistolnya kearah saya. Daripada saya menjadi aib, lebih baik saya mati dan terkubur di dalam tanah selamanya", ujar Rea dengan air mata yang perlahan lolos dari telaga bening nan cantik tersebut.


"Ngomong apa sih kamu", Arinta memukul pelan punggung Rea dengan air mata yang sudah mengalir di pipi mulusnya. Jujur, Arinta belum siap untuk melepaskan putri semata wayangnya itu. Masih banyak hal yang ingin Arinta lakukan kepada Rea. Ada banyak cerita hidup yang ingin ia dongengkan pada sang putri.


Namun sayang, takdir berkata lain. Tuhan terlalu cepat untuk menyuruh putrinya pergi dari hidupnya.


Kini Rea bukan lagi miliknya seutuhnya. Cewek itu sudah memiliki sandaran dan keluarga sendiri.


"Justru nya Bunda yang minta maaf sama kamu. Kalau aja Bunda bisa menjaga diri dengan baik, mungkin karma ini enggak akan terjadi dengan kamu. Mungkin saat ini kamu masih bersekolah dan menikmati waktu kamu seperti remaja umum lainnya. Jujur sayang, dulu Bunda selalu berdoa kepada Tuhan, untuk tidak memberikan kesulitan untuk kamu dan Argan. Bunda meminta semoga kalian enggak merasakan apa yang Bunda rasakan dulu. Tapi mungkin Tuhan udah memiliki rencananya sendiri", sahut Arinta dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh rapuh Rea.


"No Bunda. This is not karma. Bukankah Bunda bilang, kalau segalanya udah diatur dengan baik oleh Tuhan. Maka ini adalah takdir terbaik dari Tuhan untuk saya. Jalani saja alurnya, dan nikmati hasilnya. Right?."


"Jangan pernah ninggalin saya Bun", gumam Rea yang langsung diangguki oleh Arinta.


"Jika saja kematian itu datang saat ini, maka Bunda akan memohon kepada Tuhan untuk mengundur nya lebih dulu. Sebab Bunda masih ingin melihat cucu-cicit Bunda, walau hanya sebentar", tambah Arinta yang semakin membuat suasana menjadi penuh haru. Benar kata orang, kasih sayang seorang ibu tidak ada tandingannya di dunia ini.


"Bunda bakal hidup untuk waktu yang lama", sambung Rea. Lalu cewek itu mengendurkan pelukannya dan menghapus air mata yang menghiasi wajah Bunda nya. Ia tak ingin lagi melihat mata itu mengeluarkan cairannya.


"Saya sayang Bunda", ujar Rea dengan suara yang bergetar menahan tangis sembari mencium punggung tangan Arinta. Cukup lama, hingga Arinta bisa merasakan tangannya basah karena air mata putrinya.


"B-bunda juga", Arinta menarik Rea untuk kembali tegak. Lalu setelah itu ibu dari dua orang anak itu menuntun Rea untuk mencium tangan suaminya. Sebagai wanita yang sudah menikah, tak peduli seberapa tinggi jabatan yang di punya, ujung-ujungnya pasti akan kembali ke bawah kaki suami. Dimana letaknya surga yang harus kita raih.


Dan Arinta berharap agar Rea bisa menjadi seorang istri yang dapat mendampingi suaminya sampai ke surga kelak.


"Huwaaa lebih sedih daripada hidup lo Bar", celetuk Ammar dengan dramatis.


"Seenggaknya lebih baik daripada hidup lo yang absurd", balas Bara seraya menepis tangan cowok itu yang bertengger dipundaknya.

__ADS_1


Lalu para pemuda itu kembali heboh saat Levi dengan gerakan pelan ingin mencium kening Rea.


"Sok-sokan elegan lo Bos, yang biasanya nyosor aja sok kalem", cetus Romi yang disetujui oleh yang lainnya.


"Cium keningnya, cium hidungnya, cium bibirnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga."


Ammar yang ingin melanjutkan nyanyian-nya pun langsung kicep ditempat saat mendapati mata tajam Reagan yang menyorotinya.


Salah sendiri, heboh tak menentu.


Cup


Levi membiarkan bibirnya berada lama di kening mulus Rea. Memejamkan matanya sembari meresapi kelembutan yang ada. Seolah tak percaya jika perempuan yang selama ini selalu mampir di dalam mimpinya menjadi istri sah nya di dunia nyata.


...###...


Levi membuka pintu kayu jati berukuran besar itu. Lalu mempersilahkan Rea untuk masuk terlebih dulu. Menggeret koper milik perempuan yang sedang mengandung anaknya tersebut.


Rea menggulirkan matanya ke seluruh penjuru rumah. Menatap setiap sudutnya tanpa ada yang terlewatkan. Rumah campuran modern klasik itu benar-benar elegan, namun terkesan sederhana. Membuat siapa saja yang tinggal di dalamnya pasti akan merasa nyaman. Dan Rea yakin dirinya pasti akan betah.


Lalu mata Rea tak sengaja melirik Levi yang menaiki anak tangga seraya membawa kopernya. Cowok itu benar-benar terlihat berbeda. Pada malam panjang tersebut Levi seperti pria yang haus akan belaian. Dan saat ini Levi menunjukkan sifat aslinya. Pendiam dan tertutup.


Lantas dengan langkah yang canggung, Rea mengikuti Levi ke lantai atas.


Rea sempat dibuat kagum oleh Levi. Ketika mereka memohon doa restu dari Reagan tadi. Papi nya itu mengatakan untuk menjaga dan menghargai dirinya sebagai seorang istri. Lalu cowok itu menjawab dengan suara yang tegas dan mantap.


"Saya akan menjaga Rea dan menyayanginya sampai ajal menjemput."


Hati perempuan mana yang tak meleleh jika ada seorang cowok yang berkata begitu serius dihadapan Ayahnya pula. Jaman sekarang jangankan pamit untuk mengajak anak gadis orang, jemput ceweknya aja enggak pernah langsung ke rumah. Paling umum di depan gang.


Dan Rea berharap jika Levi bisa memegang kata-katanya itu.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2