Rearin

Rearin
Sebuah keputusan dan penyelesaian?


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Terkadang cara Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh itu bisa cukup unik......


...###...


"Papi sama Argan mau kemana?."


Dua laki-laki berbeda generasi yang sudah ingin keluar dari rumah itu pun serentak menghentikan langkah. Menoleh ke belakang, dimana Arinta berjalan menghampiri mereka.


"Eum, kami mau ke", Argan melirik Reagan yang menatap penuh cinta ke arah istrinya. Bukannya membantu, tapi Bos Reagan yang tidak budiman itu malah menunjukkan kemesraannya. Kalau bucin nya sudah berdarah daging ya gitu, susah.


"Para laki-laki itu juga butuh quality time Bunda", ujar Argan asal kemudian.


"Quality time?, biasanya Papi enggak pernah mau keluar malam-malam, sekarang kok tumben", Arinta menukikkan alisnya. Menatap penuh curiga pada dua orang pelindungnya itu.


"Nyobain rasanya angin malam Bun, biar Papi otaknya rileks", sahut Argan yang membuat Reagan serta Arinta mendelik tajam ke arahnya.


Salah lagi gue ya Allah.


"Argan katanya mau ikut les bahasa Inggris."


Watdepak.


Argan menatap horor Papi nya. Inilah yang dinamakan memanfaatkan anak demi keuntungan sendiri. Sudah cukup baginya untuk belajar bahasa yang membuat lidahnya patah itu, di sekolah. Argan tidak ingin les bahasa apapun. Ia mencintai Indonesia, cukup bahasa tanah airnya saja yang ia kuasai. Betul tidak.


Aku anak Indonesia.


"Mimpi apa kamu semalam, Ar?."


"Mimpi jadi anak angkatnya Christiano Ronaldo."


Tuk


"Ngebet banget sih kamu jadi anak angkatnya", Arinta geram sendiri dengan anak laki-lakinya itu. Argan tidak tau saja bagaimana sulitnya ia sewaktu mengandung mereka berdua.


"Besok kita paketin Argan ke Afrika", Reagan berjalan mendekat ke arah istrinya. Mencium puncak kepala bidadari nya. Membuat Argan memutar malas bola matanya.


"Kami pergi dulu ya Bun, kamu di rumah hati-hati sama Rea. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Paham?", Reagan menatap lembut Arinta yang mengangguk singkat. Lalu kembali mengambil satu ciuman di bibir Arinta yang sudah menjadi candunya.


"Papi, cepetan. Argan sama Rea enggak mau nambah adik lagi, kasihan nanti dipanggil Om pas umurnya masih kecil", celetuk Argan lalu membalikkan badannya. Melangkah keluar dari dalam rumahnya.


"Aku pergi dulu, jangan kangen."


"Ingat umur pak", sahut Arinta membuat Reagan tertawa. Lalu satu kecupan lagi melayang singkat di atas puncak kepala Arinta, sebelum Reagan benar-benar melangkah pergi.


"Kamu bawa bahannya?", Reagan masuk ke dalam mobil dimana Argan sudah duduk disamping kemudi.


"Udah Pi."


"Coba hubungi Levi", titah Reagan yang dilakukan oleh Argan. Kemudian mobil melesat maju meninggalkan pekarangan rumah.


"Gimana?", tanya Reagan tanpa menoleh setelah Argan selesai menelpon Levi.


"Katanya langsung ke rumahnya aja, Levi sama Morgan nunggu disana."


Reagan mengangguk paham dengan pandangan yang fokus ke jalanan. Malam ini, ada pekerjaan penting yang harus mereka lakukan.


Lima belas menit kemudian, mobil berhenti didepan pagar sebuah rumah yang sesuai dengan alamat yang sudah diberikan Levi.


"Itu kayaknya mobil Levi", ujar Argan menunjuk sebuah mobil sport yang berada didepan mereka. Tak lama kemudian dua orang laki-laki turun dari mobil tersebut.


"Cek lagi Ar", perintah Reagan sebelum mereka benar-benar turun.


Argan mengangguk dan memeriksa sekali kalau tidak ada yang kurang dengan bukti mereka.


Sepasang Ayah dan anak itu lantas turun dari mobil.


"Malam, Om", sapa Levi saat Reagan serta Argan berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Gunakan kesempatan yang saya berikan sama kamu baik-baik. Ingat, ini yang pertama dan terakhir. Kalau kamu gagal, pintu rumah saya enggak akan terbuka lagi untuk kamu sampai kapanpun", ujar Reagan dingin dengan wibawanya yang penuh. Lalu tanpa menghiraukan ketiga pemuda itu. Reagan melenggang masuk ke dalam sebuah rumah besar yang belum sebanding dengan rumah miliknya.


"Gue enggak pernah sebaik ini dengan orang. Gue rela lakuin ini semua, demi adek dan ponakan gue. Kalau lo gak bisa dapatin Rea lagi. Gua bakal jodohin dia sama Manu Rios", ucap Argan yang tak jauh-jauh dari guyonan. Sepertinya cowok itu tidak memiliki hal serius dalam hidupnya. Argan menepuk sekilas pundak Levi dan Morgan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Ting tong


Argan menekan bel dengan normal. Semenit dia menunggu, tapi pintu itu masih tetap tertutup rapat.


Ting tong


Baiklah, dirinya adalah seorang pelajar, dan sopan santun itu haruslah ada.


Namun, pintu sialan itu sepertinya belum memiliki tanda-tanda akan dibuka.


Ting tong


"Minta sumbangannya, Buk!", teriak Argan keras yang sontak membuat ketiga orang laki-laki itu menghela nafas berat.


"Anjir", Argan menendang pintu yang masih saja tertutup tersebut.


Lalu dengan kesabarannya yang menipis. Argan menekan bel itu berulang kali. Hingga membuat suara yang berisik.


Ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong


"Argan!", sentak Reagan.


"Rumah sialan, gue kutuk jadi batu baru tau rasa", Argan menendang keras pintu jati itu sampai membuatnya meringis kesakitan.


"Levi ini itu rumah ko-"


"Siapa yang ribut-ribut?", terlihat seorang pria berukuran 40-an membuka pintu dengan raut kesalnya, "Levi?", lalu pria itu menatap bingung Levi yang berdiri di tengah-tengah.


"Malam, Om", sapa Levi sopan.


Andreas mengangguk singkat dan membalas balik sapaan Levi dengan ramah.


"Mereka siapa Levi?", tanyanya seraya menatap ketiga laki-laki yang berdiri di kedua sisi calon mantunya.


...###...


"APA?!"


"Duduk dulu, Om", Levi meminta Andreas untuk duduk dan mendengarkan penjelasannya lebih lanjut. Cowok itu mengatakan kalau sebenarnya statusnya adalah suami orang. Membuat Andreas beserta istri kaget bukan main.


"Iya, Om. Sebenarnya saya sudah memiliki istri, bahkan sebentar lagi anak. Dan saya mencintai keluarga saya."


"Terus kenapa David bilang kamu hanya seorang mahasiswa biasa yang bergantung dengan orang tua. Dan beliau berkata dengan adanya pernikahan dia berharap kalau kamu dapat berubah ke arah yang lebih baik."


Levi tersenyum miring, "Sebenarnya dia memanfaatkan perjodohan ini. Dia berharap kalau dengan menikahi Tiffany, maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang besar. Sekarang Devora Corporation sedang berada di titik terbawah, Om. Makanya dia mencari bantuan melalui pernikahan konyol ini", sahutnya panjang lebar.


"Lalu kenapa kamu tidak menolaknya?."


"Anak ini bisa apa, kalau kedua wanita yang disayanginya berada ditangan David yang kapan saja siap menghancurkannya", ujar Reagan menginterupsi perbincangan antara Levi dan Andreas tersebut. Dengan aura kepemimpinannya yang membuat semua orang yang ada disana merasa segan dan hormat.


"Ar", Reagan melirik Argan. Mengkode putranya itu untuk menunjukkan bukti-bukti yang ada.


"Flashdisk ini berisi tentang bukti kebenaran kematian dari Angkasa Leon Devora. Seorang pemimpin yang tiba-tiba saja menghilang. Jangan terlalu percaya dengan David. Dibalik ramah tamahnya, lelaki itu menyimpan jiwa psycho yang besar", Reagan meletakkan flashdisk berwarna silver yang terkesan mewah itu di atas meja tamu.


"Dan ini adalah bukti bagaimana tamaknya David", Reagan menunjukkan beberapa berkas yang membuktikan kalau David mengambil alih perusahaan dengan paksa. Memanipulasi surat wasiat yang sudah dibuat Angkasa jauh-jauh hari. Serta bukti pria itu yang membeli racun dari sebuah pasar gelap. Racun yang membunuh secara perlahan.


Andreas mengambil semua bukti itu. Membaca dengan detail semua berkas yang menunjukkan betapa keji dan menjijikkannya seorang David. Pria yang ia kira baik hati dan penyayang.


Ayah dari Tiffany itu lantas mengurut pelipisnya pusing. Lalu bagaimana sekarang?.


"Saya menerima semua perintah itu karena saya tidak ingin Mama dan istri saya kenapa-napa. Saya ingin membawa mereka jauh-jauh dari David. Tapi Mama saya membutuhkan sebuah perawatan yang intensif. Dan semua itu hanya David yang bisa memberikan. Sebab semua aset dan harta sekarang berada di tangan David. Saya tidak ingin meminta bantuan siapa-siapa, karena saya tidak ingin melibatkan orang yang tak bersalah dalam kehidupan saya yang rumit", Levi tersenyum miris. Mengapa dirinya harus terlahir seperti ini. Mengapa tidak terlahir dalam keluarga sederhana yang tidak memikirkan materi.


Mungkin kebahagiaannya tidak akan tergadai seperti ini.


"Lalu kenapa kamu sekarang berani bertindak?."

__ADS_1


"Karena saya tidak ingin anak saya memanggil orang lain sebagai Papa."


Cih, posesif.


"Terus sekarang bagaimana dengan Tiffany?, kamu tau bagaimana kondisi anak saya Levi", sebenarnya Andreas sangat menginginkan Levi yang menjadi menantunya. Sebab ia bisa melihat kalau Levi adalah seorang laki-laki yang mampu melindungi putrinya.


"Saya yang akan menikahi Tiffany."


Semua orang sontak menatap ke arah seorang cowok yang sedari tadi duduk diam mendengarkan.


"Lo?."


"Tiffany?."


Andreas menoleh ke arah tangga dimana putrinya berdiri di sana.


"Lo yang bakal nikah sama gue?."


"Sayang Ma-"


"Cukup Ma", Tiffany menghentikan Mama nya yang ingin mendekat, "Apa Fany bilang, enggak akan ada yang mau sama Fany yang udah rusak ini. Enggak akan ada cowok yang suka rela nerima anak orang lain gitu aja. Udah cukup, sekarang Fany gak mau dijodohin sama siapapun. Kalau Mama sama Papa malu memiliki anak kayak Fany, mending Fany pergi dari rumah. Biar gak jadi aib buat sama Papa."


"Bukan gitu sayang, Papa sama Mama cuma mau yang ter-"


"Levi, gue minta maaf kalau udah buat rumah tangga lo hancur. Seharusnya waktu itu gue bisa lebih sedikit dewasa dan langsung nolak perjodohan saat tau lo udah punya bini. Tapi gue egois banget", Tiffany menatap nanar lantai, "Maafin gue atas segalanya, sampaikan maaf gue buat Rea juga. Dia baik, cocok dengan lo. Semoga kalian langgeng", tambahnya menatap Levi dengan senyuman getir.


"Dan buat lo", cewek itu mengalihkan pandangannya ke arah cowok yang tadi berkata ingin menikahinya.


"Enggak perlu sia-siakan masa muda lo. Gue enggak mau buat hidup anak orang hancur lagi. Jangan lakukan sesuatu dengan terpaksa", ujar Tiffany lalu membalikkan badannya hendak kembali ke kamarnya. Dirinya hanya ingin mencarikan seorang Ayah untuk anaknya yang tak bersalah ini. Tapi sepertinya itu sangat sulit. Karena tak akan ada cowok baik-baik yang mau menerima cewek buruk sepertinya. Bahkan orang yang membuatnya dalam kondisi seperti ini saja sudah kabur entah kemana.


"Gue enggak pernah ngelakuin sesuatu dengan terpaksa. Gue serius mau nikahin lo. Dan gue terima apa adanya diri lo", Morgan berdiri menatap punggung mungil yang membelakanginya itu.


Flashback


"Temenin gue ke bar Mor."


"Kenapa lagi lo?", tanya Morgan seraya melirik sekilas Levi yang tengah berbaring di atas ranjangnya.


"Pusing kepala gue."


"David buat ulah lagi?", tambahnya tanpa menatap ke arah Levi. Cowok itu sibuk dengan game di ponselnya.


"Gue bakal tunangan seminggu lagi."


"Sama Tiffany?", Morgan menatap sepenuhnya ke arah Levi.


Levi menggumam pelan. Mengiyakan apa yang ditanya oleh temannya itu.


"Lo udah enggak cinta Rea, Lev?."


"Menurut lo?", Levi menatap sinis Morgan. Membuat cowok itu mendengus.


"Tapi kasihan Tiffany, tuh cewek cuma korban dari ***** semata. Dia berusaha memberikan hak kepada anaknya. Mencarikan seorang Ayah untuk anaknya. Sebenarnya pas waktu pertama ketemu, dia nyuruh gue buat nolak perjodohan. Katanya dia gak mau gue terbebani. Tapi lo tau, gimana si Lucifer itu terus desak gue. Buat gue ninggalin Rea sama anak gue gitu aja."


Untuk beberapa saat suasana di dalam kamar itu mendadak hening. Hanya suara angin masuk yang terdengar di tengah sepinya malam. Sebelum sebuah ucapan itu memecah keheningan yang ada.


"Biar gue yang nikah sama Tiffany, lo kejar Rea sama anak kalian. Gue ngelakuin ini bukan buat lo Lev, tapi demi ponakan gue. Demi kebahagiaan anak yang gak bersalah gue rela ngelakuin apapun."


Mendengar itu sontak saja bangkit dan menatap kaget Morgan. Temannya itu sudah terlalu banyak membantu dirinya.


"Jangan buat lo nyesal, Mor."


Morgan tertawa pelan, "Enggak bakal nyesal, lo tau kan gimana nyokap gue udah ngebet banget minta cucu. Mumpung beli satu gratis satu", sahutnya.


Levi tidak tau harus bereaksi seperti apa. Apakah ia harus bahagia, karena dirinya akan kembali dengan Rea dan keluarga kecilnya. Atau ia harus sedih karena kebahagiaan temannya lah yang tergadai.


Morgan itu mungkin tampak judes dan galak, tapi sebenarnya cowok itu sangat baik dan penyayang. Bahkan terhadap temannya sendiri pun, Morgan rela menyerahkan nyawanya.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


Morgan Deksana Collim



__ADS_2