
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Manusia akan buta bila dihadapkan dengan cinta. Dan laki-laki akan lumpuh bila dihadapkan dengan wanita......
...###...
...Area 17+...
"Mmh, Levi", Rea dibuat acak-acakan di bawah kendali Levi yang dominan.
Tubuh besar pria itu hampir menutupi seluruh tubuh mungilnya. Menindih tanpa menyakiti calon buah hati mereka yang tengah bersemayam di dalam perut Rea.
Mendengar alunan suara Rea yang terdengar manis di telinganya. Levi pun semakin gencar menyentuh, mengecup, setiap jengkal tubuh Rea yang seperti candu baginya.
"You make me crazy, darl", geram Levi tertahan seraya mencium perut buncit Rea. Mengelus sayang sosok nyawa yang suatu hari kelak akan memberinya gelar 'Ayah'.
"Ahm, Levi", Rea meremas seprei kasur, membuatnya berantakan karena ulah mereka berdua.
"Sa-sayang", Rea menarik kepala Levi yang tengah bermain-main dengan tubuh bagian bawahnya. Ya Tuhan, Rea dibuat gila karena itu. Dan Rea tak sanggup lagi.
Levi menyeringai tipis melihat tubuh Rea yang sedikit melengkung ke atas. Kaki nya bergetar dan mulut mungil yang bagai narkoba itu terus saja meracau. Mengeluarkan suara yang selalu ingin Levi dengar dalam hidupnya.
Apapun yang ada pada diri Rea selalu berhasil membuat Levi candu.
"Levi, please..."
Levi tersenyum seraya mengelus garis wajah Rea dengan telunjuknya. Mengusap peluh keringat yang ada di kening istrinya.
Manik hitam legam itu telah ditutupi oleh kabut gairah. Menatap sayu Levi yang sudah shirtless di atasnya. Dan Levi paham betul makna dari kalimat serta tatapan itu.
"Tolong untuk apa sayang?", Levi berbisik pelan di depan bibir Rea yang terbuka. Mencium hidung bangir istrinya yang kembang kempis menghirup oksigen.
Rea memejamkan matanya, "Le-levi, Ahh", ******* itu lolos begitu saja saat tangan Levi kembali bermain di pusat tubuhnya. Menyentuh, dan menjahili aset berharganya dengan tangan nakal yang selalu sukses membuatnya nikmat.
"Apa yang bisa aku bantu?, hm?", Levi menghembuskan nafasnya di permukaan kulit leher Rea. Kemudian menyesapnya hingga memberikan warna merah keunguan di leher jenjang Rea. Levi selalu suka memberi tanda pada daerah kekuasaannya.
Bagai singa jantan yang melindungi wilayahnya, agar tak ada singa jantan lainnya yang bisa memasuki wilayahnya dan merebut betinanya.
Seperti Romeo dan Juliet yang ditakdirkan bersama walau berakhir dengan tragis. Dan Levi bisa pastikan kalau Rea adalah takdirnya, dan akhir mereka juga akan tertulis di sejarah dengan happy ending.
"Ah", mata Rea dibuat seakan terbalik kala jari-jari besar Levi mulai masuk ke dalam. Bergerak dengan ritme yang pelan namun mampu membuat Rea kacau.
Penyiksaan yang sungguh nikmat bukan.
"Hm, Le-levi, please", Rea memegang lengan Levi yang masih bergerak. Mengobrak-abrik isi dalamnya.
Levi menjilati leher Rea, "Ngomong yang jelas", desisnya pelan.
__ADS_1
"Masukin", lirih Rea pelan yang langsung berbaur dengan hening nya malam. Menjadi jelas di gendang telinga Levi.
Levi tersenyum. Istrinya semakin nakal saja rupanya.
"Apanya yang dimasukin?", tanya Levi pura-pura tak tau. Laki-laki itu malah asik bermain-main dengan dua benda pusaka yang menjadi favoritnya.
"Levi...."
Hati Levi tersentuh kala Rea memanggilnya dengan begitu lembut dan penuh putus asa.
"Aku takut, perut kamu makin besar, nanti anak kita kenapa-napa", tukas Levi. Setelah Rea memasuki kandungan sembilan bulan. Levi memang sudah jarang meminta jatah nya. Ia takut calon anak mereka yang ada di dalam perut Rea kenapa-napa. Ditambah dengan perut Rea yang semakin membesar, Levi ngeri melihatnya. Melihat istrinya berjalan saja Levi yang cemas. Levi khawatir jika massa dan beban nya tak seimbang.
Secara tubuh Rea itu kecil, dan perutnya besar seperti hamil anak kembar. Namun anak mereka hanya satu. Dan jenis kelaminnya pun masih dirahasiakan.
"Katanya bagus untuk persalinan", beritahu Rea dengan pelan.
Levi mendongak menatap wajah cantik istrinya yang terkena pantulan rembulan yang menyusup masuk melalui celah-celah yang ada. Di tengah suasana kamar yang gelap, Rea bagaikan bulan purnama yang bersinar terang. Berkilau, tapi mata Levi tetap saja kekeh untuk menatapnya.
Sebenarnya tujuan awal Levi membopong Rea ke dalam kamar mereka, bukanlah untuk melanjutkan lebih jauh. Namun Levi hanya ingin menidurkan Rea dalam arti yang sebenarnya.
Tetapi istri cantiknya itu seperti mempunya 1001 ide di dalam otak kecilnya untuk merayu Levi.
"Tetap aja aku khawatir", timpal Levi.
Belakangan ini Rea sering mengeluh sakit pinggang. Tidak mungkin kan Levi malah menambah rasa sakit itu. Ditambah dengan kaki istrinya yang sedikit membengkak. Levi jadi tak tega melihatnya.
"Hiks."
Levi gelagapan ketika melihat air mata yang mengalir di pipi Rea.
"Hei, kenapa?", dengan sigap Levi menghapus berlian berharga yang sudah Levi janjikan tidak akan pernah jatuh kecuali untuk sesuatu yang bahagia.
"Kamu udah bosan sama aku hiks", racau Rea, "Aku yang bodoh, mana mungkin ada laki-laki yang bergairah nengok perempuan gendut kayak aku. Perut besar, badan melebar. Tapi kan itu semua karena kamu. Hiks", tambah Rea sembari memukul dada bidang suaminya.
Levi menghela nafas. Selalu saja begitu.
Apakah selama ini Rea tak bisa melihat bagaimana perjuangan Levi mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya itu.
Levi juga ingin membenamkan dirinya di dalam hangatnya Rea. Namun, sekarang sudah tak sebebas dulu lagi. Ada nyawa kecil yang harus mereka jaga dengan ketat.
"Bukan gitu sayang, aku gak mau kamu sama anak kita kenapa-napa. Walau kata dokter gak apa-apa. Tapi aku tetap aja takut. Kamu tau aku kan. Aku gak pernah puas sekali", bisik Levi di akhir kalimatnya.
Rea menghapus kasar air matanya, "Ya udah lakuin aja sepuas kamu."
Levi menggeram tertahan. Rea selalu saja memberikannya undangan yang jelas-jelas tak dapat Levi terima.
"Rea ka-, Ah."
__ADS_1
Levi melototkan matanya menatap Rea yang tersenyum puas. Menunduk melihat tangan Rea yang sudah berada tepat di pusat tubuhnya. Hei, darimana Rea belajar bersikap agresif seperti itu. Apakah gairah ibu hamil memang seperti itu?.
"Rea", desis Levi tertahan. Bagai kancil yang berani mendekat kepada singa yang sedari tadi menahan lapar.
"Apa Daddy?", seakan melupakan tangisannya tadi, Rea mengelus sensual dada Levi hingga ke perut berototnya. Tubuh Levi semakin menjadi-jadi, membuat Rea gila.
Redup mata Levi yang awalnya padam. Kini kembali membara dengan semangat. Levi hanya manusia biasa yang mudah diperdaya dengan tipu muslihat setan. Terlebih lagi bila setan nya cantik seperti ini.
Levi mencium bibir Rea dengan tergesa tanpa menuntut. Tangannya tak tinggal diam. Terus bergerak, mengabsen setiap anggota tubuh Rea. Membuat si empunya gelinjang keenakan.
"Levi, buruan", desak Rea tak sabar.
Levi pun melepas satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Melebarkan paha Rea dan bersiap memasukkan senjatanya ke dalam surga duniawi.
"Ah, Levi, perut aku", jerit Rea ketika Levi baru saja ingin memasukinya.
Gairah yang menggelora tadi pun, seketika menguap hilang entah kemana.
Levi menaiki tubuh Rea dan memandang wajah istrinya yang dipenuhi gurat kesakitan. Tak ada lagi raut menggoda. Yang ada hanya air mata yang perlahan menetes dari sudut mata.
"Kamu kenapa?, perutnya kenapa sayang?", tanya Levi tak sabar seraya menyentuh perut besar Rea.
"Levi... akh", Rea tak sanggup berkata-kata lagi. Perutnya benar-benar sakit. Ingin mati saja rasanya Rea. Tubuhnya seperti dipotong menjadi dua bagian.
"Kamu..... mau melahirkan?", Levi memandang cengo air yang keluar dari sela-sela kaki Rea. Otaknya tiba-tiba nge-blank seketika.
"Pa-panggil Bu-bunda", ujar Rea terbata-bata. Bahkan untuk berbicara saja ia perlu mengumpulkan tenaga.
Levi tak bergerak. Laki-laki itu mematung menatap air ketuban yang terus mengalir dari pusat tubuh Rea.
Melihat Levi yang termangu seperti orang bodoh tak melakukan apa-apa. Rea pun meremas tangan Levi yang dapat dijangkau nya. Berteriak dengan cukup keras.
"LEVI!"
Levi tersentak kaget, "Hah?", matanya mengerjap pelan menatap Rea yang masih terus meringis kesakitan.
"Pa-panggil Bunda...", lirih Rea pelan.
Levi mengangguk cepat dan memakai kembali kaos serta celananya. Tak lupa Levi mengambilkan terusan panjang selutut dan memakaikannya ke tubuh Rea secepat kilat.
Lalu Levi berlari keluar dari dalam kamar dan berteriak heboh. Membangunkan seluruh penghuni rumah yang awalnya terlelap dalam buaian sang hujan.
"BUNDA, REA MAU MELAHIRKAN!."
...~Rilansun🖤....
......Tanganku gemetaran ngetiknya. Ya Allah, maap. Btw, sorry telat up. Janlup laik dan komennya ya dear😘. See you next chap......
__ADS_1