Rearin

Rearin
I love you


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Cinta adalah racun yang mematikan tapi sangat menikmatkan dalam satu waktu.......


...###...


Rea tersenyum simpul dengan menatap penuh haru ke arah kedua orang tuanya. Dua malaikat dalam hidupnya itu sedang sibuk berkutat di dapur karena Rea dengan tiba-tiba mengatakan ingin makan sushi.


Pada awalnya Rea yang tengah menonton tayangan masak-masak di televisi dengan tak sengaja bergumam pelan jika sushi itu terlihat sangat enak. Dan Arinta yang kebetulan duduk disampingnya pun lantas mendengar gumaman putrinya. Lalu wanita itu langsung menanyakan kepada Rea apakah ia menginginkan makanan tersebut.


Dan Rea yang pada dasarnya introvert, tak ingin memberitahukan apa yang sedang ia rasakan pun sontak menggelengkan kepala seraya mengatakan jika dirinya tidak menginginkan apapun. Padahal dalam hati Rea sangat ingin memakan sushi. Tapi cukup, Rea tak ingin lagi menyusahkan Bunda dan Papi nya.


Kemudian Arinta yang tau jika anaknya sedang berbohong lantas mengucapkan kata-kata untuk menakut-nakuti Rea. Jika Rea tak ingin memberitahu apa yang ia mau, maka anaknya akan lahir dengan bisu. Rea yang antara polos dan tak tau pun langsung ketakutan. Lalu Rea memberitahu Arinta apa yang tengah ia inginkan. Semuanya, tidak ada yang ditutupi. Jujur, sebenarnya belakangan ini Rea sering menginginkan sesuatu yang dilihatnya, entah itu makanan, fashion atau apapun. Namun Rea tidak pernah mengatakannya kepada siapapun. Selalu ia pendam sendiri.


Setelah mendengar keinginan Rea, Arinta refleks berteriak memanggil Reagan yang berada di lantai atas. Menyerukan ngidamnya ke seleruh penjuru rumah. Lalu dua sejoli itu langsung bergegas membeli bahan-bahan untuk membuat sushi. Membuat Rea merasa sangat diistimewakan.


Entah mengapa, setelah kejadian Rea yang hendak minggat dari rumah, Arinta serta Reagan terasa lebih perhatian dan overprotektif terhadap dirinya. Bahkan orang tuanya itu tak pernah lagi menampakkan kesedihannya dihadapan Rea. Padahal Rea tau jika Bunda dan Papi nya berusaha untuk tidak membuatnya merasa stress.


"Makan yang banyak sayang."


Rea tersentak lalu mendongak menatap Arinta yang memberikannya sepiring penuh sushi serta cemilan-cemilan lainnya.


"Ada yang lain lagi tuan putri?", Reagan datang dengan segelas susu ditangannya. Lalu mengelus sayang surai panjang putrinya.


Rea menggelengkan kepalanya pelan, "No. Thanks, Papi", balasnya.


"Apapun untuk kamu", sahut Reagan yang membuat Rea tersenyum tipis. Andai saja ada obat ajaib yang dapat membuat seseorang awet muda dengan tubuh bugar yang tak termakan usia. Maka, Rea akan memberikannya pada Papi nya. Agar pundak kokoh nan lebar itu tetap kuat untuk melindunginya sampai kapanpun.


"Bunda", Rea memanggil Arinta yang duduk disampingnya.


"Kenapa sayang?."

__ADS_1


Rea tampak ragu untuk mengucapkannya, "Emm, boleh suapin?."


Arinta terkekeh pelan lalu mengambil satu potong sushi menggunakan sumpit dan mengarahkannya ke mulut Rea. Arinta senang, melihat Rea yang manja dan sudah mulai terbuka terhadap dirinya. Ia suka melihat Rea yang sedikit ekspresif seperti ini daripada Rea yang menangis diam-diam kala malam menyapa.


Semoga saja Tuhan lebih mempermudah jalan anak perempuannya.


...###...


Ting tong


"Jangan-jangan Argan pulang", celetuk Arinta saat mendengar suara bel rumahnya yang berbunyi.


Anak laki-lakinya itu memang tidak berada di rumah saat ini. Karena Argan yang sedang pergi ke Singapura untuk menemani temannya yang mengantarkan orang tuanya berobat. Padahal Arinta tau jika itu hanya pengalihan Argan dari masalah yang ada di rumah. Marah bukan terhadap masalah yang ada, tapi marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga adik perempuannya. Bahkan sampai sekarang pun Argan tak tau siapa lelaki berengsek tersebut.


"Biar saya aja Bun", Rea memegang tangan Arinta ketika Bunda nya itu hendak beranjak pergi membukakan pintu, "Tadi Dita katanya mau mampir", tambahnya. Sahabatnya itu memang baru saja mengetahui perihal kehamilannya tadi sore dan langsung mengatakan jika ingin datang ke rumahnya untuk mendengar ceritanya dengan lebih detail.


"Oh, Bunda kirain Argan", Arinta kembali duduk dengan lesu. Membuat Rea tersenyum kikuk. Bunda nya itu pasti sangat rindu terhadap Argan. Lihat saja, setelah cowok itu pulang maka Rea akan langsung menggelar tabligh Akbar.


Dan ya, sekarang nafsu makannya memang sangat tinggi. Namun di pagi harinya Rea akan memuntahkan segala makanan itu. Membuatnya merasa tak guna makan banyak, karena ujung-ujungnya pasti akan keluar juga. Tapi mau bagaimana, nafsu makannya tidak bisa dicegah.


"Biar saya aja Bik", Rea menginterupsi salah satu ART nya yang hendak membuka pintu.


Lantas wanita paruh baya itu mengangguk dan mengundurkan diri dengan sopan.


Kemudian Rea memegang gagang pintu lalu menariknya yang membuat pintu berwarna putih tersebut perlahan-lahan terbuka. Dan menampilkan seseorang yang sukses membuat mata Rea membelalak lebar.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi Rea langsung menutup pintu dengan cepat. Untuk saat ini ia tidak ingin melihat orang itu berada disekitar nya. Mengapa satpam membiarkan orang sepertinya bisa masuk.


Namun Rea kalah cepat, orang itu lebih dulu mencekal pintu menggunakan kakinya. Lalu mendorong pintu tersebut dengan sedikit kasar.


Melihat cowok itu yang berjalan memasuki rumahnya membuat Rea dengan refleks melangkah mundur.

__ADS_1


"Mau kemana?", Levi memegang lengan Rea saat cewek itu hendak berbalik kabur.


"Kamu-"


Grep


Belum sempat Rea merampungkan kalimatnya, Levi lebih dulu menarik cewek itu ke dalam pelukannya. Menenggelamkan Rea dalam pelukannya yang hangat. Menyalurkan rindu nya yang sudah lama terpendam hebat.


"Sebentar aja, biarin kayak gini", gumam Levi sambil menyeruakkan kepalanya kedalam sela leher Rea. Menghirup aroma manis mawar nya. Senang, Levi sangat senang karena Tuhan telah mengabulkan harapannya. Menghadirkan hasil dari satu malam panjang tersebut.


Entah apa yang merasuki Rea hingga membuat cewek itu hanya bisa berdiri diam menerima pelukan Levi padanya. Seperti ada mantra sihir yang membuatnya seakan terhipnotis.


Lalu Rea tersentak saat Levi dengan tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapannya. Belum sempat Rea menghindar, Levi dengan gerakan cepat menarik pinggangnya. Membuat wajah cowok itu berada persis tepat di depan perutnya.


Tanpa aba-aba Levi langsung membenamkan wajahnya di perut Rea. Memeluk pinggang cewek tersebut agar tidak lari kemana-mana. Membuat Rea siaga satu.


"Lepas", Rea berusaha mendorong tubuh Levi agar menjauh darinya. Tapi bukannya menjauh, Levi malah semakin membenamkan wajahnya hingga Rea merasa kegelian karena hidung cowok itu yang mendusel-dusel disana.


"Hai dear, this is your Dad", gumam Levi tak menghiraukan Rea yang memberontak minta dilepaskan.


Mendengar itu tubuh Rea terasa menegang seketika. Seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Membuat seluruh sarafnya terasa mati tak berdaya.


Rea memegang dada bagian kirinya. Merasakan detakkan jantungnya yang menggila tak karuan.


Ada apa dengan dirinya?, mengapa Rea merasa ada perasaan aneh yang menghinggapi hatinya. Sedikit perasaan bahagia dan sedih. Ah, entahlah.


"Sehat-sehat terus, sampai kita jumpa untuk beberapa bulan kemudian", lanjut Levi dengan sangat lirih sambil melayangkan kecupan-kecupan kecilnya untuk calon buat hati. Sekali lagi Levi meminta pada Tuhan untuk menjaga anaknya serta Rea. Melindungi mereka berdua untuk dirinya. Setidaknya sampai Levi mampu untuk menjaga Rea serta anaknya sendirian.


"I love you, and i love your mom."


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2