
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Kamu udah bertahan terlalu lama dalam hubungan yang tak bernama......
...###...
"Jadi kamu nangis karena takut Papi sama Bunda salah paham?", Rea memandang cengo Dita yang baru saja selesai curhat kepadanya. Pada akhirnya terjawab sudah mengapa Dita menangis kemarin. Rea mengira karena Dita trauma akan apa yang telah dilakukan oleh Argan terhadapnya. Dan itu wajar.
Namun Rea tak pernah menduga kalau alasan sebenarnya adalah itu. Takut Bunda dan Papinya salah paham. Sehingga Dita tidak boleh lagi main ke rumah orang tuanya.
Rea speechless dibuatnya.
Dita mengangguk semangat, "Kalau gue enggak boleh lagi main ke rumah lo, terus pas rumah gue enggak ada orang, gue numpang makan sama siapa dong?."
Kedua orang tua Dita itu memang memiliki pekerjaan masing-masing. Pada hari libur pun rumah Dita terkadang terlihat sepi. Karena kesibukan para penghuninya. Itulah mengapa Dita sering datang bahkan menginap di rumah orang tua Rea.
"Kamu kan bisa masak", ujar Rea.
Bahu Dita seketika melemah dan punggungnya bersandar pada sofa dibelakangnya, "Makan sendiri itu enggak enak. Gue enggak suka sepi. Karena pada saat itu cuma bikin gue ingat kalau gue sendiri."
Mendengar ucapan pelan Dita yang terdengar sendu membuat Rea merasa tersentil. Rea merasa tak ada gunanya sebagai sahabat dari Dita. Dulu, Dita lah yang selalu berdiri di garda terdepan ketika Rea di bully di sekolah.
Tapi ketika Dita butuh seorang pendengar. Rea bahkan tak ada di sisinya.
"Maaf", Rea menarik Dita dalam pelukannya, membuat cewek tersebut tersentak kaget, "Kamu enggak sendiri. Kamu punya saya. Maafin saya yang enggak ada disaat kamu butuh", cicit Rea tanpa melepaskan pelukannya.
Dita tersenyum manis, "Iya, saya maafin asal kamu kasih saya kue ulang tahun."
Rea menguraikan pelukannya dan menyentil kening Dita pelan. Seneng banget ngejek temannya.
Dita meringis seraya tertawa pelan, "Giliran sama misua aja manggilnya aku-kamu. Sayang, udah jangan nangis, nanti baby nya juga ikut-"
Tuk
Rea memukul kepala Dita saat cewek itu mengulang kembali kata-kata Levi yang menenangkannya saat peristiwa ulang tahun kemarin.
Untuk beberapa saat mereka berdua diam dengan pandangan yang lurus ke arah televisi. Menayangkan sebuah channel yang menampilkan kartun bus berwarna biru yang bisa berbicara.
"Lo kok suka banget sih nonton beginian. Cowok ya anak lo", celetuk Dita sambil mengunyah keripik kentang.
Rea tak menggubris. Bahkan dari beberapa menit yang lalu, matanya tak lagi fokus menonton. Pikirannya sudah melalang buana entah kemana.
"Enggak seru ah. Mending kita nonton film hantu", Dita meraih remote dan mulai mencari-cari channel tv yang menayangkan film horor pada weekend seperti ini.
Setelah dapat, Dita langsung menukarnya kembali ketika mendengar suara yang melengking dari arah televisi.
"Enggak jadi lah, baru inget gue kalau di rumah sendirian", Dita menyengir kuda dan tangannya kembali aktif mencari serial tv yang layak untuk di tonton.
__ADS_1
"Dit", panggil Rea setelah lama bungkam.
"Hmm, apa?", sahut Dita tanpa menoleh.
"Dita."
"Apa sih bumil?", Dita tetap tidak menoleh.
"Dita Audrey Wijaya."
"Ada a-"
"Kamu masih suka Argan?", potong Rea cepat saat Dita menoleh dengan kesal.
Dita terdiam memandangi wajah Rea untuk beberapa saat. Sedetik kemudian menaruh kembali remote tv itu ke atas meja. Dan mulai mengunyah keripik kentang dalam pangkuannya.
Dita enggan untuk menjawab.
Rea menghela nafas pelan.
"Lepaskan dia Dit. Mencintai Argan hanya akan membuat kamu sakit. Karena dia juga be-"
"Gue tau Rea", Dita menoleh ke samping dimana Rea berada, "Gue tau dia belum bisa melepaskan Clara dari hidupnya. Gue enggak minta buat dia lupain cinta pertamanya. Karena gue juga paham, bagi kebanyakan orang cinta pertama itu sangat istimewa. Gue cuma minta buat dia buka sedikit hatinya untuk orang yang masih hidup dan nyata", ujar Dita dengan pandangan yang kosong serta senyuman miris yang terukir di bibir ranumnya.
Rea paham, sangat paham. Karena cinta pertama itu juga lah yang membawa dirinya kepada Levi dan situasi saat ini.
"Kamu nyerah?", Rea bertanya hati-hati.
"Yeah, I just realized that I'm really stupid. Gue buang-buang waktu buat orang yang enggak pernah menghargai kehadiran gue. Untuk apa gue ngejar-ngejar dia terus, sementara dia terus lari semakin jauh. Enggak ada hasilnya, capek yang ada", Dita tertawa sumbang di akhir kalimatnya.
Rea menarik tipis bibirnya, "Kamu udah bertahan terlalu lama dalam hubungan yang tak bernama. Melangkah pergi mungkin adalah pilihan terbaik untuk batin kamu yang udah tersiksa. Jangan nyakitin diri sendiri lagi. Kamu akan bertemu dengan orang yang tepat pada waktu yang tepat pula", sahutnya seraya mengelus punggung tangan Dita. Menguatkan sahabatnya itu. Dan Mendukung apapun yang menjadi pilihan Dita.
Rea ikut senang atas sadarnya Dita pada perasaannya terhadap Argan. Sebab Rea tau, kalau Argan tidak mungkin untuk Dita.
"Iya, kayak Celine sama Rafqi contohnya ya kan", Dita menaik-turunkan alisnya menggoda Rea. Sebab cewek itu tau kalau Rafqi pernah menaruh hati pada sahabatnya yang cantik tiada tara.
Kening Rea berlipat halus, "Maksudnya?."
"Loh?. Lo gak tau kalau mereka pacaran?."
"Hah?, kapan?", Rea kaget dengan berita terbaru tersebut.
"Baru-baru ini sih, di lapangan sekolah", tambah Dita sambil mengambil gelas berisi susu dingin.
"Oh, bagus lah", respon Rea singkat. Pantesan Rafqi sudah jarang datang menemuinya untuk sekedar membahas pelajaran. Namun Rea bersyukur, karena Rafqi dapat melupakan dirinya. Rea tidak buta, ia dapat menyadari perasaan laki-laki itu terhadap dirinya.
Tapi selama ini Rea berpura-pura tuli, agar hubungan pertemanan mereka tetap terjalin lancar.
__ADS_1
Namun sekarang, Celine yang bar-bar beruntung mendapatkan Rafqi yang good boy.
"Lo enggak cemburu?", tanya Dita menggebu-gebu.
Rea menoleh dengan santai, "Buat?, my husband more than anything."
Dita memutar malas bola matanya, "Tau mah yang bucin."
"Jadi ujian besok lo di rumah?", tanya Dita kemudian.
Rea menggelengkan kepalanya, "Di Allandra, Papi yang ngurus."
"Gue baru ingat kalau lo punya sekolah juga. Kenapa enggak di Allandra aja sih lo dulu sekolahnya?, lebih bagus dari Angkasa", sudah lama sebenarnya Dita ingin menanyakan itu. Namun tak pernah kesampaian.
"Mau nya di Angkasa", jawab Rea enteng.
"Kenapa?, karena ada masa depan saya disana. Asek", kelakar Dita yang membuat Rea menggelengkan kepalanya heran. Tangis Rea yang tadi sempat ingin tumpah, tak jadi karena Rea tak ingin wajah yang cerah itu kembali mendung.
"Gila ya, gue masih enggak nyangka kalau lo itu udah nikah dan bahkan udah mau jadi seorang ibu", cerocos Dita sembari mengelus perut buncit Rea.
"Hai utun, this is your Aunty", ucap Dita tepat di depan perut Rea yang terbalut daster rumahan.
"Sekolah yang bener dulu, baru nikah", sela Rea ketika tau Dita ingin berbicara apa. Cukup sekolahnya saja yang berantakan, Dita jangan.
Dita mencebikkan bibir bawahnya, "Gue mau sama pilot."
"Di setiap landasan memiliki perempuan lain?."
Dita melototkan matanya menatap sebal Rea yang terlihat mengulum senyum.
"Heh, suami lo juga, hati-hati. Katanya ada kerjaan di luar kota, eh tau-taunya pulang ke rumah bini muda", balas Dita dan tersenyum menang kala melihat ekspresi wajah Rea yang berubah datar seketika. Namun sedetik kemudian perempuan hamil itu malah mengangkat bahunya acuh seraya mengunyah keripik dengan santai.
"Whatever, saya bukan perempuan bodoh yang mau di duain. Kalau dia selingkuh, saya bakal satu langkah di depan. Menikah dengan laki-laki lain misalnya?, atau buat anak dulu?."
Mata Dita nyaris keluar ketika mendengar ucapan Rea yang bisa di bilang savage. Tanpa sadar Dita bertepuk tangan.
"Sayang!, diajarin siapa ngomong kayak gitu!."
Teriakan gelegar itu membuat Rea dan Dita kompak menoleh kebelakang. Dimana Levi berdiri dengan mengenakan kaos singlet serta satu handuk kecil yang tersampir di pundaknya. Sesekali cowok itu akan mengelap keringat yang jatuh mengenai wajahnya. Jelas sekali kalau Levi baru siap olahraga.
Err, menggoda. Jika saja Dita tak ingat kalau itu adalah suami sahabatnya. Mungkin mulai saat ini Dita sudah start menyusun rencana untuk merebutnya.
Astaghfirullah, setan ada dimana-mana.
...~Rilansun🖤....
...Sorry telat, krna Minggu ini aku skolh. Janlup like, komen, vote and share. Support me buat selesai-in Rearin bulan ini. Te amo😘....
__ADS_1