Rearin

Rearin
A temptation


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Orang yang belum pernah kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya, tidak akan pernah paham bagaimana sakitnya kehilangan.......


...###...


Perempuan dengan perut yang besar itu kini tengah sibuk memutar-mutar badannya di depan sebuah cermin panjang yang mematut seluruh tubuhnya. Menampilkan dirinya dalam balutan gaun tidur yang sangat cantik. Ralat, bagi Rea itu bukan sebuah gaun tidur, namun baju perang yang sangat menggugah iman.


Bagaimana tidak, kain berwarna merah menyala yang sangat tipis dan transparan itu benar-benar mengekspos tubuhnya. Hanya aset-aset berharganya saja yang dapat tertutup. Dan itu pun tidak tertutup dengan baik.


Perut buncitnya begitu terlihat dengan jelas dalam sekali pandang saja.


Jangan tanyakan lagi dari mana Rea bisa mendapatkan pakaian kurang bahan seperti itu. Untuk membelinya saja bahkan Rea malu.


Masih ingatkan dengan kado yang diberikan oleh Argan pada hari pernikahannya waktu itu. Kado terkutuk yang malam ini Rea kenakan dengan senang hati. Walau masih ada sedikit rasa ragu dan takut.


"Selesai, sekarang waktunya kita ke tempat Daddy", Rea mengedipkan sebelah matanya seraya menatap dirinya dalam pantulan cermin. Setelah menyemprotkan seluruh tubuhnya dengan parfum. Lalu Rea tertawa pelan melihat kelakuannya sendiri.


"This is crazy", gumam Rea memandang dirinya yang terlihat menyeramkan. Bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.


Rea jadi ragu akan niatnya.


Namun Rea langsung menepis pikirannya itu. Menyenangkan suami bukankah pahala.


Sebelum pikirannya kembali melalang buana. Rea pun segera lekas keluar dari dalam kamarnya setelah memakai jubah tidur yang senada dengan lingerie yang dipakainya.


Rea masih tidak percaya diri dengan tampilannya sekarang.


Sepasang manik hitam legam yang indah itu menatap menyeluruh ke seantero rumah yang terlihat sepi tak berpenghuni. Rea menghela nafas lega. Ia kira jika malam ini Papi nya akan maraton menonton bola di ruang tengah.


Namun sepertinya hujan-hujan begini membuat Papi dan Bunda nya lebih memilih untuk menghangatkan tubuh di kamar.


Hanya jomblo yang tidur sendirian di tengah hujan sambil mendengarkan musik yang mellow.


Tanpa membuang waktu lagi dan takut ada yang memergokinya. Rea pun sedikit berlarian ke arah ruang kerja suaminya.


Membuka sedikit pintu berwarna coklat tersebut. Mengintip dari luar apa yang tengah dilakukan penghuninya di dalam sana.


Helaan nafas Rea terdengar begitu panjang. Semangatnya yang tadi mengembara mendadak menguap begitu saja. Ketika matanya menatap pemandangan yang selalu berhasil membuat hatinya berdenyut.


Di sana, tepatnya di sebuah meja kerja, Levi lagi-lagi menangis tanpa suara sembari memandang figura yang Rea tau di dalamnya terdapat sebuah potret seorang wanita cantik.


Wanita yang dua bulan lalu telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


"Tuhan", Rea menutup kembali pintu ruang kerja Levi dan bersandarkan dirinya disana. Mendongak menatap langit-langit rumahnya.


Setelah kepergian Ayla, Levi memang sedikit berubah. Laki-laki itu lebih sering menghabiskan waktunya untuk menyendiri seraya menangis seperti tadi. Menjadi seorang penggila kerja yang jam tidurnya bisa dihitung dengan jari.


Namun satu yang Rea salut. Levi tak pernah menunjukkan kesedihan itu di hadapannya. Sikap suaminya itu pun tak pernah berubah kepadanya. Tetap hangat seperti pelukan mentari.


Hanya waktu mereka saja lah yang sedikit terkikis.


"Kita pasti bisa, bantuin Mommy ya sayang", Rea menunduk sambil mengelus perutnya.


Salah satu tujuannya malam ini adalah untuk membuat Levi menghilangkan kesedihannya. Dan kembali fokus pada dirinya dan calon anak mereka.

__ADS_1


Rea yakin, ibu mertuanya pun pasti tidak akan suka melihat Levi yang begitu larut dalam kesedihan.


Setelah menetralkan nafasnya. Rea pun membuka pintu tersebut dan melangkah dengan anggun.


Levi yang melihatnya pun terkesiap dan refleks memutar kursinya membelakangi Rea. Guna menghapus air matanya. Cengeng?, orang yang belum pernah kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya, tidak akan pernah paham bagaimana sakitnya kehilangan.


"Kamu kenapa belum tidur?", tanya Levi seraya memutar kembali kursinya menghadap Rea yang berdiri menatap sayu Levi.


"Enggak ada kamu", Rea memajukan bibirnya lima centi dan duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Levi.


Levi tersenyum tipis, "Katanya mau tidur sama Bunda."


Setelah kandungan Rea memasuki usia sembilan bulan. Reagan beserta Arinta memang memutuskan untuk tinggal sementara di rumah anak dan menantunya. Membuat Rea sangat bersyukur bisa memiliki orang tua dan suami yang siaga.


"Di usir Papi, gangguin aja katanya."


Wahai Papi ku sayang, maafkan anak mu ini yang telah berbohong.


Hell, tidur dengan Arinta itu hanya lah sebagian kecil dari rencananya. Kalau Rea tidak ada di dalam kamar mereka, Levi pasti akan tidur di ruang kerjanya. Katanya sunyi. Dan itu adalah suatu kesempatan untuk Rea mempersiap diri.


"Ya udah kamu tidur duluan gih, aku masih banyak kerjaan."


Rea mendengus, itu terus. Kerjaan mulu yang dipegang, kan Rea mau juga dipegang kayak kertas-kertas itu.


Terus mata Rea tak sengaja menatap figura yang tadi dipegang oleh Levi. Disamping figura itu ada figura kecil yang berisikan foto pernikahan mereka.


"Mama cantik ya", celetuk Rea tanpa sadar dengan pandangan yang lurus menatap seorang perempuan berambut panjang, bermata abu-abu terang tengah berdiri di depan sebuah destinasi yang paling terkenal di Turki. Hagia Sophia.


Mendengar itu, ketukan jari Levi pada papan keyboard pun mendadak berhenti. Matanya tak menoleh ke arah sang istri. Melainkan terpaku pada layar komputernya.


Levi begitu mencintai Mama nya. Dan Rea bersyukur akan itu. Sebab ada yang mengatakan kalau seorang laki-laki begitu mencintai dan menghormati ibu nya, maka dia juga akan mencintai dan menghormati wanitanya.


"Anak Tiffany lucu ya, comel banget. Jadi pengen cepat-cepat lihat wajah baby kita", Rea mengalihkan topik yang sukses membuat Levi kembali seperti biasa.


Ya, Tiffany sudah melahirkan seminggu yang lalu. Tiffany melahirkan di Minggu ke-39 kandungannya. Memang sedikit lebih lama dari ibu hamil pada umumnya.


Namun Tiffany sukses melahirkan seorang gadis cantik yang menggemaskan secara normal. Hingga Rea menangis pada saat mengunjunginya. Bumil satu itu meminta Levi untuk membawa anak Tiffany yang baru lahir ke rumah mereka.


Membuat Levi dan yang lainnya kelimpungan.


"Seminggu lagi", sahut Levi datar.


Rea cemberut. Dokter memang memprediksikan kalau Rea akan lahiran seminggu lagi. Namun kan, rasa penasarannya itu sudah membuncah tinggi. Levi paham gak sih kalau Rea kebelet banget pengen lihat wajah anak mereka.


Rea berdiri dari duduknya saat Levi hanya mengacuhkannya saja. Mengitari meja dan berdiri di samping Levi. Berusaha mendudukkan tubuhnya di tepian meja kerja suaminya.


"Kamu kenapa pakai baju kayak gitu?", Levi melirik sebentar Rea sebelum kembali memfokuskan diri pada layar monitor yang ada di dihadapannya.


Rea mengulum senyum, "Suka-suka aku dong, kenapa gak boleh?."


"Masuk angin entar, ganti sana."


"Ish", mood Rea seketika down saat Levi mengucapkan itu.


Wahai tuan muda Levi yang terhormat. Tahukah anda kalau saya berpakaian seperti ini hanya demi membuat anda senang.

__ADS_1


Ingin sekali rasanya Rea bersuara seperti itu di depan wajah Levi.


"Enggak mau, panas", Rea dengan sengaja membuka jubah tidurnya dengan gerakan sensual. Sudut matanya melirik Levi yang tampak menghela nafas gusar. Dengan menahan tawanya Rea melempar asal jubah tersebut ke lantai.


"Pakai Rea, di luar hujan", Levi menatap Rea dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Kan di luar, di dalam mah panas", Rea menyilangkan kedua kakinya. Membuat paha mulus nya terpampang nyata.


Levi kontan langsung memalingkan wajahnya. Menyibukkan diri dengan pikiran yang tak lagi fokus.


Rea menggigit bibir bagian dalamnya agar ketawanya tidak menyembur keluar. Duh, mengapa suaminya itu sangat menggemaskan sekali.


"Kita temenin Daddy ya sayang, kamu belum ngantuk kan?. Anak Mommy kuat, sama kayak Daddy nya", Rea mengedipkan matanya ketika Levi mengamati pergerakannya yang sedang mengelus perutnya.


Levi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dan mengecek email yang masuk ke dalam ponselnya. Sambil berusaha menahan sesuatu yang tengah bergejolak di dalam dirinya.


Rea semakin dibuat kesal dengan Levi yang terlihat mengabaikannya. Padahal Rea bisa pastikan kalau suaminya itu tengah menahan diri.


Tak habis pikir, Rea pun turun dari meja Levi dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya. Membuat Levi melotot kaget dan refleks memeluk pinggang Rea dengan sebelah tangannya agar tidak terjatuh.


"Ka-"


"Levi, yang kamu lakukan ke aku itu, jahat! ", ucap Rea dengan mengambil sepenggal dialog dari sebuah film yang terkenal pada eranya.


Levi tersenyum dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Dan mulai memusatkan perhatiannya pada Rea yang ingin diperhatikan malam ini.


"Kenapa cinta?", tanya Levi dengan tangan yang mulai bergerak aktif.


Tuh kan, Levi itu emang enggak bisa nahan.


"Dingin", lirih Rea dan tersenyum penuh arti memandang Levi.


"Kamu sengaja kan?, want to tease me dear?", bisik Levi sensual di telinga istrinya. Menghirup aroma yang menguar dari tubuh Rea. Mengecup pelan leher jenjang Rea yang terlihat jelas, karena Rea menggelung rambutnya ke atas.


Dari awal Rea masuk ke dalam ruang kerjanya. Levi memang sudah mulai merasakan hawa-hawa yang tidak enak. Sebab selama mereka menikah Levi tak pernah melihat Rea tampil dalam pakaian seksi tersebut.


"Iya, kamu suka?", balas Rea dengan berbisik. Menggerakkan jari telunjuknya secara abstrak di dada bidang Levi yang tertutup kaos.


"I like it", ujar Levi pelan dengan pandangan yang menatap Rea penuh cinta, "Kamu cantik."


Rea tersenyum lebar, "I know."


Tanpa pernah Levi duga, Rea menangkup wajahnya dan mulai menyatukan bibir mereka.


"Biar aku aja", Levi memegang pinggang Rea dengan erat menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya bergerak naik ke atas, meraih tengkuk Rea dan mulai memimpin kegiatan mereka.


Rea memandang Levi dengan takjub. Levi dengan segala sifat dominannya. Berkuasa penuh atas apa yang ia miliki. Terdengar egois, namun bagi Rea itu manis.


Di larutnya malam yang ditemani oleh sang hujan. Dua anak cucu adam itu saling merangkul, berbagi kehangatan, dan bertukar saliva.


Rea yang berhasil dengan rencananya, dan Levi yang terbuai dalam jebakan yang memabukan.


...~Rilansun🖤....


...Si Mommy mulai aktif ya bund:v. Didikan Papi Reagan. Sorry kalo telat. Luv u all😘💞...

__ADS_1


__ADS_2