
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Walau kita berteduh pada langit yang sama. Namun nyatanya Tuhan memberikan kita cerita yang berbeda......
...###...
"Uncle Kamal masak yang benel ya", perintah Arthur dengan menunjukkan wajah sok imutnya pada Ammar yang langsung menghela nafas pasrah.
"Althul mau nengokin Mommy dulu", ujar bocah laki-laki itu sebelum berlari keluar dari dalam dapur rumah nya. Tanpa mempedulikan raut mengenaskan Ammar, Arthur berlalu begitu saja.
Sekali lagi Ammar menghela nafas, membalikkan badan dan menatap nanar dapur yang bersih dan rapi itu.
Ammar kira ada apa Arthur menggiringnya langsung ke dapur ketika ia baru saja sampai ke rumah milik sahabatnya tersebut. Ternyata ini, teman kecilnya itu menginginkan Ammar untuk membuatkannya nasi goreng.
Huft, lebih baik Ammar disuruh belajar matematika saja, daripada diminta untuk memasak begini. Setidaknya kalau belajar, benar enggaknya urusan belakangan. Nah ini, salah-salah masuk bumbu terus jadi racun, lalu inalilah.
"Nyesel gue dateng", gumam Ammar lesu dengan berlutut ke lantai seraya mengamati kompor. Karena gabut, Ammar hanya bisa menghidup-matikan benda tersebut.
Bara yang hendak mengambil minum di dalam kulkas pun ter-urung ketika melihat sebuah penampakan di dekat kompor.
"Kenapa lo, Mar?."
Ammar terlonjak kaget saat merasakan tepukan di pundaknya, "Bapak lo kawin lagi!", latah Ammar tanpa sadar.
Bara tertawa cukup keras, "Bapak gue bini nya udah banyak, ngapain kawin lagi. Yang diperbanyakin itu ibadah, bukan cewek", Bara sedikit menyindir playboy cap koyo tersebut.
Ammar lantas mendengus dan berdiri. Menyandarkan bokongnya pada tepian set-kitchen. Bersidekap tangan di dada sembari mengamati Bara yang menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.
"Ngapain lo?", ulang Bara melirik Ammar dari sudut matanya.
Ammar menghela nafas, "Disuruh masak gue sama si setan kecil", jawabnya tak semangat.
Bara mengernyitkan keningnya, "Masak?, emang lo bisa?."
"Nah itu, gue gak bisa", ketus Ammar.
"Santai, gak usah ngegas. Lagian lo sih, sok jadi Uncle-able. Udah tau anaknya si Levi itu, beda dari yang lain", ungkap Bara dan menepuk pundak Ammar. Memberi semangat pada temannya yang sedang down. Lalu tak ingin berlama-lama di dapur, Bara lantas berlenggang keluar. Meninggalkan Ammar yang entah untuk ke berapa kalinya menghela nafas.
Jika saja nafas itu ada batas pakainya. Mungkin saat ini nafasnya sudah habis.
"Ya Allah Levi, gue berdoa semoga kalau Rea hamil lagi, anak lo bisa lebih kalem dari Arthur", monolog Ammar seraya membuka ponselnya. Melihat tutorial memasak nasi goreng lewat internet. Soal rasa, bisa jadi masalah nanti. Kalau gak enak, Ammar bisa minta tolong kepada pembantu rumah tangga yang ada untuk dibuatkan.
Dan semoga saja setan kecil itu tidak mengetahuinya. Karena Arthur itu mirip banget sama bapaknya. Sama-sama enggak bisa ditipu.
Sementara itu, Arthur yang membuka pintu kamar orang tuanya dibuat kaget saat mendapati Rea yang duduk di atas pangkuan Levi.
Terlihat lesu, dan tak bersemangat.
Dengan cepat, Arthur menggerakkan kaki kecilnya menghampiri kedua orang tuanya yang tengah bercengkrama di atas ranjang.
"Mommy!, Mommy!", seru Arthur seraya berusaha untuk naik ke atas kasur. Mengalihkan atensi sepasang suami istri tersebut.
Rea yang tadinya sedang bersandar pada dada bidang Levi pun sontak menegakkan kepalanya. Tersenyum menatap putranya yang mendekat.
"Mommy kenapa?, Mommy sakit?", tanya Arthur yang terdengar sangat khawatir. Kedua tangan kecilnya menangkup wajah Rea yang tampak pucat.
"Mommy gak apa-apa kok", jawabnya lirih.
"Bohong!, telus ini kenapa bibil Mommy gak ada walna nya", Arthur mengusap bibir bawah Rea yang pucat.
Rea terkekeh pelan, "Mommy kan belum pakai lipstik, maka nya gak ada warna."
"Oh, belalti Daddy juga pakai liptik dong?, gak boleh tau Daddy, itu untuk pelempuan", Arthur menasehati Levi seraya memicingkan matanya menatap sang Daddy.
Levi hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Mood nya sedang tidak baik untuk meladeni celotehan Arthur.
"Sayang, kamu pucat banget, aku khawatir. Ke rumah sakit ya?", bujuk Levi sekali lagi yang ditolak mentah-mentah oleh Rea.
"Enggak usah. Aku enggak apa-apa kok."
"LOH."
__ADS_1
Rea dan Levi terperanjat kaget ketika mendengar teriakan Arthur yang menggelegar. Bocah berumur tiga tahun itu berdiri di atas kasur dengan ekspresi yang menggemaskan. Mata abu-abu bergradasi hitam itu terlihat melebar dengan mulut yang ikut terbuka.
"Arthur, gak boleh teriak-teriak", tegur Levi yang tak dihiraukan sama Arthur.
Arthur malah menjatuhkan dirinya ke atas pangkuan Rea yang masih dipangku oleh Levi.
Hal itu sukses membuat Levi sedikit membentak putranya untuk pertama kalinya.
"Arthur!, hati-hati dong!, kamu-"
"Levi!", Rea menatap tajam Levi, membuat Ayah dari anak-anaknya itu memejamkan mata.
"Da-daddy kenapa sih?, kok malah-malah, dalah tinggi balu tau", Arthur yang kaget pun langsung melengkungkan bibirnya ke bawah. Berkaca-kaca menatap Daddy nya yang tampak bersalah.
"Maafin Daddy", ujar Levi lembut seraya mengecup puncak kepala anaknya.
"Dimaafin, kalo ngasih Althul pacalan sama Latu", syarat yang dikeluarkan Arthur langsung membuat Levi memijit pelipisnya yang berdenyut.
Rea tersenyum manis, "Mau Ratu atau mau adek?", sela Rea yang menarik perhatian Arthur.
"Dua-duanya boleh Mom?."
Rea mendengus saat melihat wajah memelas yang putranya tunjukkan. Sama aja sama Levi kalau lagi pengen ekhem.
"Enggak boleh, harus satu. Cowok itu gak boleh tamak. Kalau udah satu, ya satu aja", Rea melirik suaminya saat mengucapkan kata terakhir.
Levi yang paham pun lantas tersenyum, "Satu, cuma kamu sampai mati", ujarnya dengan melayangkan satu kecupan manis di kening istrinya.
Arthur yang tak terima dengan ucapan Mommy dan tingkah Daddy nya pun lantas menggembungkan pipinya kesal.
"Mommy halus dengelin Althul", Arthur menarik wajah Rea untuk fokus padanya saja. Sontak Rea tersenyum geli. Arthur posesif mode on.
"Iya, Mommy harus dengerin apa?."
"Mommy Althul mau dua-duanya. Althul mau adek sama Latu!."
"Loh gak bi-"
"Jadi?."
"Jadi Althul halus punya dua-duanya!. Althul gak bisa hidup tanpa Latu Mommy."
Astaga. Rea dan Levi melotot menatap Arthur yang menampilkan mimik wajah sedih.
Ajaran Ammar pasti nih. Sesat.
Kalau sudah begitu, Rea pun akan kalah dibuatnya. Arthur dengan segala celotehannya yang mampu membuat semua orang terhipnotis.
Rea menghela nafas pasrah, "Ya udah, boleh", izin Rea yang membuat Arthur seketika bersorak kegirangan.
"Tapi Arthur kalau dikasih adek, maunya apa?, cewek atau cowok?", tanya Rea kemudian.
Tanpa berpikir lagi Arthur langsung menjawab dengan tegas, "Cewek!."
"Kalau cowok gimana?", timbrung Levi.
"No!", Arthur menatap kedua orang tuanya dengan serius, "Kalo cowok bakal Althul kasih makan anjingnya pak LT."
Rea sontak menelan saliva nya susah payah. Mengapa Arthur harus mewarisi sifat bar-bar Daddy nya itu. Arthur paling tidak suka dengan sesuatu yang mengusik dan mengganggu hidupnya.
Bahkan pernah waktu itu kucing liar yang gak sengaja masuk ke rumah mereka dan melintas di kaki Arthur dengan sedikit meninggalkan cakaran. Langsung Arthur 'mainkan' hingga tak bernafas.
Rea tentu saja menegurnya, namun dengan pintarnya Arthur malah menjawab kucingnya gak sopan Mommy, masuk gak pake salam, maling halus diapuskan?.
Rea terkadang resah dengan sikap Arthur yang itu. Sebagai ibu Rea tak ingin Arthur terjerumus pergaulan yang salah seperti Levi. Anak geng motor dan... psikopat.
Entah sudah berapa nyawa yang melayang di tangan Levi. Dan Rea tak ingin putranya juga seperti itu.
"Kasihan dong adeknya. Emang kalau cowok kenapa?", Rea mengelus surai hitam putranya. Rea rasa hampir dari seluruh tubuh Arthur semuanya meng-copy Levi. Tidak adil, yang mengandungkan Rea.
"Kalau cowok nanti nyebelin kayak Daddy", Arthur melirik sinis Levi yang hanya diam.
__ADS_1
Ingat, itu adalah anak yang sangat Levi harapkan.
Rea tertawa. Padahal sudah banyak orang yang bilang kalau Arthur dan Levi itu sangatlah mirip. Bak kembar yang berbeda usia. Namun entah mengapa keduanya sering sekali cekcok.
"Kalau gitu coba dulu sapa adeknya", ujar Rea tiba-tiba yang membuat Arthur memutuskan acara tatap-tatapan dengan Daddy nya.
"Hah?, apa Mommy?."
"Arthur gak mau sapa adeknya?", ulang Rea seraya mengelus perutnya.
"Adek?", beo Arthur.
Rea mengangguk.
"Disini adek Arthur", Rea menuntun tangan putranya untuk menyentuh perutnya yang tertutup gaun tidur.
"Adek Althul udah jadi Mom?", tanya Arthur polos.
"Udah, makasih sama Daddy coba", sahut Levi yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Arthur.
"Huwaaa adek Althul akhilnya udah dibungkus", Arthur turun dari pangkuan sang Mommy lalu menciumi perut Rea berkali-kali.
"Adek dengelin Althul ya, pokoknya adek halus cewek. Althul sayang adek. Muach", Arthur mencium sang adik yang bersemayam di dalam perut Mommy nya.
Lalu dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Arthur segera bergegas keluar dari dalam kamar orang tuanya. Berseru keseluruh penjuru rumah. Membuat orang-orang yang berada disana menghentikan kegiatannya seketika.
"Holee Althul punya adek balu. Sodala-sodala semuanya tolong dengelin Althul. Althul udah punya adek. Daddy hebat bisa bikin adek cewek buat Althul", teriak Arthur lantang. Mengumumkan kabar bahagia yang langsung membuat semuanya mengucap syukur.
"Alhamdulillah!."
"Akhirnya Arthur dapat adik juga."
"Cucu Bunda nambah lagi."
"Semoga aja yang kali ini lebih anteng dari Arthur."
Rea dan Levi yang mengamati dari ujung tangga pun ikut bahagia melihat keluarga beserta temannya yang turut senang atas kebahagiaan mereka.
Padahal hari ini tidak ada acara spesial apapun. Tapi entah mengapa semuanya sudah kumpul di rumah Rea dan Levi di pagi hari begini. Bahkan Oma Vina dan Opa Zhein yang jarang pulang pun mendadak balik ke tanah air satu hari yang lalu. Begitupula dengan Om Saka nya yang pulang memboyong anak dan istrinya. Katanya ingin melihat cucunya.
Dan tak lupa Om Raka nya yang juga datang membawa calon istrinya.
Semuanya lengkap. Hanya kurang Argan dan Oma Renata saja.
Setelah menyelesaikan gelar S1 Manajemen nya di Indonesia. Argan memutuskan untuk melanjutkan studinya di Australian National Airline College. Ya, setidaknya setelah memenuhi permintaan Papi nya untuk belajar bisnis demi meneruskan perusahaan keluarga. Argan langsung memutuskan untuk tidak kembali menunda cita-citanya.
Menjadi pilot adalah impian Argan dari kecil. Dan Rea selalu mendukung keputusan saudara kembarnya itu.
Jika suatu hari Argan tak ingin mengambil alih perusahaan keluarga. Maka Rea siap untuk kembali bersekolah setelah melahirkan. Setidaknya hanya itu yang dapat Rea lakukan untuk membalas jasa orang tuanya.
"Semuanya seneng banget", bisik Levi di telinga Rea yang menyandarkannya dari lamunan.
Rea lantas tersenyum lebar, "Kamu sehat-sehat ya sayang. Semuanya nungguin kamu. Terutama Abang kamu", gumam Rea dan melirik Arthur yang tengah berbincang dengan seorang gadis kecil.
Ratu.
Semoga saja anak yang dikandungnya cewek sehingga tidak membuat Arthur kecewa.
"Latuuu, Althul punya adek. Holee althul punya adek cantik", Arthur menggerakkan badannya kesenangan tak menentu. Namun ia berhenti ketika melihat raut wajah Ratu yang tampak murung.
"Kenapa Latu?, jangan sedih, itu adek Latu juga kok. Nanti kalau kita udah kayak Daddy sama Mommy, itu jadi adek ipal Latu", ujar Arthur mencoba untuk menghibur Ratu yang sedih. Ratu sudah meminta adek kepada orang tuanya. Namun sampai sekarang tidak pernah dikasih.
"Latu jangan sedih, Althul gak suka", Arthur menangkup wajah Ratu yang membuat mata coklat bulat itu menatapnya penuh.
"Latu untuk pangelan Althul", Arthur tersenyum ganteng yang langsung menular pada bibir mungil Ratu.
"Makasih Althul", balas Ratu lalu memeluk Arthur.
...~Rilansun🖤....
...Heh bocil udh main peluk"an aja😭...
__ADS_1