
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Enggak ada noda, yang enggak bisa dihilangkan. Walaupun meninggalkan bekas, setidaknya warnanya sudah memudar......
...###...
Tangan besar yang berurat itu memegang sebuah gelas kaca pendek dengan jari-jari panjangnya yang memutari bibir gelas.
Diluar hujan, tapi di dalam sini hangat, bahkan panas.
Tapi kehangatan itu bahkan tak mampu menembus hatinya yang dingin kaku. Kebisingan yang ada di tempat itu tak mampu merasuki jiwanya yang kosong. Dirinya seolah terisolir dari dunia luar.
"Pertunangan kalian akan dilaksanakan seminggu ke depan, dan dua minggu setelahnya pernikahan baru dilangsungkan."
Saat suara itu terngiang di telinganya. Levi lantas mengumpat, "Sialan", seraya menghentakkan gelasnya dengan kasar. Lalu meminta bartender pria itu untuk menuangkan lagi wiski ke dalam gelasnya yang telah kosong.
Pertunangannya akan dilaksanakan seminggu lagi, dan David memintanya untuk segera menceraikan Rea secara sah.
Pikirannya benar-benar kalut. Pertunangannya yang akan dilakukan seminggu lagi, dan perceraian yang akan dihadapinya. Tapi apakah mampu ia untuk melakukan semua itu.
Levi bingung, dirinya ingin merencanakan sesuatu, tetapi perhatiannya saja setiap saat terbagi antara Mama nya yang semakin parah. Belum lagi tugas-tugas kuliahnya dan kerjaan di kantor. Bahkan untuk bersantai seperti saat ini saja bisa dihitung dengan jari.
Jika ditanya apakah dirinya lelah?, sebagai manusia biasa Levi merasa lelah. Tapi itu semua harus ia lakukan untuk Ayla dan Rea. Dua bidadari berharga yang ada di dalam hidupnya.
"Rea..., maafin gue. Maaf untuk segala sakit yang lo rasa", gumam Levi dengan kepala yang terkulai lemas di atas meja bar. Ia terus merasakan tangan-tangan jahil yang terkadang menyenggol maupun mengelus punggungnya. Namun Levi sama sekali tidak menghiraukan perempuan-perempuan seperti itu.
"Kalau gue Tuhan, gue bakal selalu milih lo buat jadi istri gue dalam setiap kehidupan. Gue bakal jaga lo segenap jiwa, mencintai lo tanpa celah sedikitpun. Tapi gue bukan Tuhan, gue hanya cowok lemah yang pengecut. Masih pantaskah gue buat lo?", racau Levi dengan memutar gelasnya. Cairan bening itu mengembun dan berkumpul di pelopak matanya. Satu kedipan dari Levi pasti akan membuat air mata itu turun dengan mulus.
Ini adalah yang ketiga kalinya Levi menangis untuk Rea. Pertama, saat dirinya ditolak oleh cewek itu enam tahun silam. Dan yang kedua ketika Argan datang kerumahnya dua minggu yang lalu.
Levi benar-benar akan terlihat lemah bila sudah menyangkut Rea. Syaraf nya seakan lumpuh bila berhadapan dengan Rea. Matanya yang tak bisa tenang saat netra hitam itu menatap tepat di matanya.
Rearin Kalyca Allandra adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuatnya uring-uringan.
Tak jauh dari tempat Levi berada. Seorang pria dewasa duduk dengan menyilang kan kedua kakinya. Menatap lurus Levi yang duduk di lantai bawah. Cowok itu terlihat sangat kacau dan berantakan.
"Bangs*t tuh si Mona, kurang apa lagi gue sampai dia berani selingkuh. Selingkuhan nya pun enggak sebanding dengan gue. Bego ya tuh cewek, malah milih rongsokan daripada berlian."
__ADS_1
Reagan mengalihkan pandangannya dari suami putrinya ke arah Revo yang sudah sedikit mabuk disampingnya. Sebenarnya Reagan sudah bertekad untuk tidak lagi datang ke tempat penuh dosa seperti ini. Tapi apalah daya, disaat temannya membutuhkan. Reagan harus berada untuk membantu bukan.
Revo menghubunginya tadi sore dan mengajaknya untuk pergi ke diskotik. Dengan alasan membuang kekesalannya dari istrinya yang ketahuan selingkuh.
Apakah itu karma untuk Revo yang terkenal dalam bermain perempuan. Dan sekarang dirinya dipermainkan oleh istrinya sendiri.
"Beruntung lo sama dia belum punya anak. Kalau enggak, kasihan gue dengan anak lo. Orang tuanya enggak ada yang beres", ujar Reagan dengan ketus.
Ya, sepuluh tahun menikah, Revo dan sang istri memang belum dikaruniai keturunan. Entah itu salah satu penyebab keretakan rumah tangga keduanya.
Seorang anak memang diperlukan dalam sebuah pernikahan. Terkadang tanpa kita tau, anak adalah pengantar rejeki serta obat lelah disaat kita pulang kerja.
Tapi Revo patut diacungi jempol. Pria yang terkenal playboy saat muda dulu, malah bisa bertahan dan setia dengan istrinya yang belum mampu memberinya anak.
"Kalau anak lo belum nikah, udah gue gebet duluan."
Mendengar racauan si Revo, Reagan lantas siap-siap melemparkan gelas yang ada ditangannya jika tak mengingat kalau itu adalah temannya.
"Lo yang gue mutilasi duluan."
Revo tertawa pelan. Merogoh saku celana kain nya saat merasakan ponselnya bergetar.
Reagan yang ditinggal sendirian pun melirik sekali lagi ke lantai bawah. Dimana Levi yang masih setia duduk di meja bartender. Jika melihat kondisi pemuda itu sekarang, Reagan merasa dibuat bernostalgia pada keadaannya delapan belas tahun silam.
Putus asa, kacau, bingung, dan sakit. Semua perasaan campur aduk di dalam hatinya.
Lalu tanpa pikir panjang lagi. Reagan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Levi. Ia sudah mendengar segalanya dari Argan. Rasa simpati terselip sedikit untuk menantunya itu. Tapi kekesalan tetap saja memenuhi hatinya untuk Levi.
Bagaimana tidak, Reagan merasa kalau Levi tidak begitu menganggap serius keberadaan putrinya.
"Kenapa?."
Levi tersentak saat merasakan tepukan keras dipundaknya. Lalu cowok itu refleks menegakkan kembali badannya. Menatap Reagan yang mengambil duduk disampingnya. Apa yang dilakukan oleh mertuanya itu ditempat seperti ini.
"Cewek selingkuhan kamu enggak bisa bikin kamu puas?, makanya nyari cewek lain ke sini?", sinis Reagan yang membuat Levi tertunduk diam.
Levi diam sejenak sebelum berujar, "Saya rindu Rea, Om."
__ADS_1
Levi tak berbohong. Dirinya benar-benar merindukan Rea. Jika saja di mall tadi tidak ada mata-mata David yang mengikutinya. Mungkin Levi sudah menarik Rea ke dalam pelukannya. Mendekap erat istrinya itu, tak memberinya celah untuk melarikan diri. Tak mengizinkan Rea untuk pergi ke Sydney, ataupun kemana saja yang membuat Rea jauh darinya.
Reagan diam-diam tersenyum tipis. Tapi pria itu malah terkekeh pelan, "Kamu pikir saya percaya?."
Levi mendongak, iris abu-abunya menatap serius Reagan, "Saya benar-benar rindu Rea, Om. Dan... sama anak kami yang udah di surga", Levi tertunduk bila mengingat itu.
Reagan tertegun, ia bisa merasakan kalau Levi tengah sangat kehilangan. Jika saja cowok itu tau kalau anaknya sebenarnya belum tiada. Bagaimana reaksinya.
"Saya tanya sekali lagi sama kamu Levi, apa kamu benar-benar mencintai putri saya?", ujar Reagan tegas dan serius.
Levi mengangguk mantap, "Saya sangat mencintai Rea, Om. Tapi sayang, saya udah menodai cinta itu. Jika saja saya tidak terlahir seperti ini. Mungkin saya akan lebih bebas memilih kebahagiaan saya sendiri. Jika saja saya diberikan kesempatan kedua, maka saya ingin mencintai Rea dan menjaganya untuk selama. Janji saya waktu itu sungguh-sungguh berasal dari dalam hati. Tapi jalan takdir lah yang membuat saya harus mengingkari nya. Saya benar-benar minta maaf, Om", ujarnya panjang lebar dengan ekspresi yang berubah-ubah.
Reagan bisa melihat ketulusan yang ada di pancaran mata Levi. Dan cinta yang cowok itu ucapkan terlihat sangat dalam dan tak tertandingi. Apakah Rea beruntung memiliki suami seperti Levi.
"Saya enggak tau kalau kamu itu anaknya Angkasa", Reagan mengubah topik pembicaraan. Karena ia tak ingin melihat Levi yang terlihat sangat lemah.
Levi terdiam sejenak sebelum memandang Reagan dengan sedikit kernyitan di dahi. Apakah Papi nya Rea mengenal dengan Papa nya.
Merasa paham dengan pandangan Levi yang penuh tanya, Reagan lantas menjelaskannya secara singkat, "Saya dan Angkasa adalah rekan bisnis. Hubungan kami sangat baik, sebelum David mengambil alih Devora Corporation. Dan saya juga tau", Reagan menatap Levi yang juga tengah menatapnya, "Penyebab kematian seorang Angkasa Leon Devora."
Pupil mata Levi terlihat melebar saat mendengar itu keluar dari mulut Reagan.
"Om..., tau?."
Reagan tersenyum miring, "Apapun yang ingin saya ketahui, pasti akan saya ketahui."
Reagan punya seluruh bukti kuat di tangannya, dan itu pasti akan sangat membantu untuk Levi dan juga putrinya.
Lalu ayah dari dua orang anak itu lantas bangkit dari duduknya. Merapikan jas yang dikenakannya.
"Kamu tau, enggak ada noda yang enggak bisa dibersihkan. Walau meninggalkan bekas, setidaknya warnanya sudah memudar. Tinggal bagaimana kita, menutupi bekas itu sendiri."
"Sekarang jalankan saja apa yang sudah dia rencanakan", setelah mengatakan itu Reagan terlihat hendak ingin melangkah pergi. Tapi pria itu malah berbalik dan menghadap ke arah Levi lagi.
Reagan mendekati Levi dan berbisik di telinganya. Membuat Levi melebarkan matanya tak percaya. Lalu Reagan tersenyum simpul sebelum melangkahkan kaki ke lantai atas. Dimana Revo yang Reagan yakini sudah kembali mabuk-mabukan setelah mendengar suara istrinya.
Sedangkan Levi, cowok itu mengerjapkan matanya. Berusaha mencerna apa yang barusan di bilang oleh mertuanya itu. Tangannya menyentuh bagian dada sebelah kirinya. Jantungnya mendadak menggila setelah mendengar informasi itu. Perlahan-lahan garis tipis terbit di bibir tipisnya.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....
Sekarang bapak" mainnya secret"an ya:v