
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...You're my happiness, i'm always here to love you until whenever it is......
...###...
Oek.....oek......oek
Kelopak mata cantik yang dihiasi bulu mata lentik itu bergerak perlahan. Kedua alisnya yang tertata rapi hampir bertemu ketika suara asing itu memasuki indra pendengarannya. Mengusik alam bawah sadarnya. Memaksanya untuk naik ke permukaan.
Hingga cahaya itu masuk ke retina matanya. Menariknya untuk terbangun dari tidur nyenyak nya. Membuyarkan mimpi-mimpi indahnya yang baru saja ingin terangkai.
Dengan pelan sepasang manik hitam legam itu terbuka-tutup. Menyesuaikan cahaya yang masuk. Hingga penglihatannya dapat terlihat dengan jelas.
"Levi?."
Rea beringsut duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Mengurut pelan pelipisnya yang sedikit berdenyut. Belakangan ini, jam tidurnya sudah tak teratur. Membuat kepalanya sering dilanda migrain.
Punggung lebar yang terlihat jelas karena si empunya tidak memakai atasan apapun itu perlahan berbalik. Menghadap ke arah seorang wanita yang telah memberikannya harta karun paling berharga di dunia ini.
Yang sudah memberikannya gelar sebagai seorang 'Ayah.' Menjadikannya orang tua dari bayi yang tengah rewel dalam gendongannya kini.
Rearin Kalyca Allandra. Perempuan yang telah Levi lukai hati dan fisiknya dulu. Dan kini Levi tengah berusaha untuk mengobati luka yang entah sudah hilang atau belum.
"Aku bangunin kamu ya?", tanya Levi sungkan. Karena Rea itu baru saja tertidur dua jam yang lalu. Sebab putra mereka yang terus rewel sedari tadi.
Rea mengukir senyum manisnya yang tampak lelah, "Enggak kok, udah biasa."
Ya, Rea memang sudah keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Lagipula untuk apa ia berlama-lama disana. Rea tak suka dengan gedung yang berisi bermacam-macam penyakit tersebut.
Walau Levi bersikeras agar Rea tetap di rawat dikarenakan sehari setelah melahirkan istrinya itu mengalami pendarahan. Namun Rea tetap ngotot kalau dirinya sudah baik-baik saja.
Rea itu kuat, karena ia juga lahir dari sepasang manusia yang kuat.
"Kamu tidur aja, entar tumbang lagi", suruh Levi yang dibalas Rea dengan gelengan lemahnya.
Levi mendengus, Rea itu terkadang menyebalkan dengan sifat sok tangguh nya. Apa istrinya itu tidak ingat kalau sudah dua kali Rea pingsan dalam sehari kemarin.
"Enggak apa-apa. Sini, baby Ar sama Mommy", Rea mengulurkan kedua tangannya ke depan. Meminta Levi untuk menyerahkan Arthur yang masih menangis ke dalam gendongannya.
Dengan menghela nafas panjang, Levi berjalan mendekat ke arah Rea yang sudah menggelung rambutnya ke atas.
"Ululu, haus ya?", Rea mencium gemas pipi gembul anaknya, "Jam segini itu dia pasti lapar, kamu kenapa gak bangunin aku?", tanya Rea tanpa menatap Levi yang sudah duduk disampingnya.
"Enggak tega aku", jawab Levi tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatan Rea yang ingin memberikan asi kepada putra mereka.
"Jadi kamu niat gak bangunin aku, kalau aku gak kebangun sendiri?. Tega ya kamu lihat anak kita nangis kayak gini", omel Rea seraya mengelus pelan pipi Arthur yang tampak lahap menyesap sumber nutrisinya.
"Aku kira dia gak haus, mungkin kebangun dan aku gendong dia bakal tidur lagi. Rupanya dia haus makanya gak mau diem", Levi mencium gemas pipi putranya hingga bayi yang baru berumur seminggu itu pun menangis kencang. Rea lantas melayangkan tatapan mautnya ke arah Levi yang menyengir tak berdosa.
__ADS_1
"Suka banget ganggu anaknya, heran", gerutu Rea dan menepuk-nepuk pelan punggung Arthur agar kembali terdiam.
Levi terkekeh kecil, "Dia lucu tau, kalau marah mirip kamu", sahut Levi lalu meletakkan dagunya ke atas pundak Rea. Menatap pangeran kecilnya yang lanjut menyesap sumber kehidupannya.
Hinga sedetik, dua detik dan Rea mulai merasa risih saat Levi hanya diam saja. Rea tau kalau Levi itu sedang menatap putranya yang tengah lahap menyusu. Namun tetap saja jika ditatap se-intens itu Rea akan merasa malu dan canggung.
"Kamu tidur aja, kan nanti pagi kamu ada kelas", interupsi Rea tanpa melirik kearah suaminya.
Levi hanya diam tak menjawab. Bahkan cowok itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
"Entar kamu kesiangan", tambah Rea lagi membujuk Levi agar berhenti menatapnya seperti itu.
Levi hanya berdehem singkat dan merebahkan kepalanya di pundak Rea. Memeluk tubuh istrinya itu dari samping dan mengelus pipi Arthur yang tampak mulai terlelap.
"Aku gak tau ya kalau kamu telat", ujar Rea lagi mencoba menakut-nakuti Levi yang sama sekali tak terpengaruh.
Kesal, Rea pun memanggil suaminya itu dengan sedikit berteriak, "Levi!."
Levi mendongak menatap Rea yang terlihat jengkel, "Apa?."
Rea mendengus dan berniat memalingkan wajahnya. Namun ditahan oleh kedua telapak tangan besar Levi.
"Hm?, Mommy kenapa?, kok bawel banget?", tanya Levi yang terdengar menyebalkan ditelinga Rea. Lalu tanpa permisi pria itu mencuri ciuman dari bibir serta kening Rea.
Rea melunak, "Kamu tidur gih."
"Nanti aja", sahut Levi yang membuat Rea mengalah. Lalu keduanya kembali diam dengan fokus yang sama, yaitu anak mereka yang terlihat memejamkan mata namun mulutnya masih terus menyusu.
Perempuan itu tak menjawab, Rea berusaha mati-matian agar bibirnya tak melengkung ke atas.
Levi tersenyum miring seraya mengangkat sebelah alisnya, "Mommy kenapa?, pipi nya kok merah-merah?, hm?", tanya Levi usil.
Rea menggelengkan kepalanya pelan dengan menatap wajah damai putranya.
Levi terkekeh pelan dan mengecupi leher Rea, "Si Mommy kalau lagi blushing kayak gini lucu ya. Gemesin."
"Ih, aku gak blushing ya", elak Rea dengan melototkan matanya menatap Levi yang tengah tersenyum menyebalkan.
"Oh ya?."
"Iya!, aku-"
"Sst, entar baby Ar bangun", lirih Levi di sela-sela kegiatannya mencium leher serta ujung bibir Rea.
"Levi", tegur Rea saat Levi mulai menyerang bibirnya terang-terangan.
Levi tak menggubris. Pria itu malah menangkup wajah Rea dan menempelkan bibirnya pada benda kenyal dan basah milik Rea.
Baru saja Levi hendak memiringkan kepalanya. Baby Arthur malah menangis dengan kencang karena sumber nutrisinya yang terlepas dari dalam mulutnya. Dan itu karena ulah Daddy nya sendiri.
__ADS_1
"Levi, kamu yang buat dia bangun", Rea mendorong kepala Levi untuk sedikit menjauh. Lalu meminta maaf kepada putranya yang merasa terganggu.
"Huh, dasar. Tau aja dia Mommy nya lagi digangguin", omel Levi pelan.
Rea menatap Levi yang menekuk wajahnya, "Do you want it?."
Levi sontak menoleh dengan senyum sumringah nya. Membuat Rea menyesal bertanya seperti itu.
"Ih, kamu istri idaman banget sih. Peka banget jadi istri, beruntungnya aku."
Rea mendengus saat Levi mencium gemas pipi tembem nya, "Dasar."
Kemudian Rea turun dari ranjang. Merapikan kembali pakaian tidurnya setelah Arthur terlelap damai. Berjalan ke arah boks bayi Arthur yang terletak tak jauh dari ranjang mereka.
Rea menundukkan sedikit badannya saat Arthur merengek setelah ia taruh ke dalam boks. Menepuk-nepuk pelan paha anaknya yang sukses membuat Arthur kembali tertidur.
Setelahnya Rea membalikkan badannya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Levi berdiri dibelakangnya.
"Levi ka- Aah."
Mata Rea dibuat melebar ketika tubuhnya terasa melayang di udara. Menatap horor Levi yang menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke arah ranjang.
"Sekarang giliran aku yang dikeloni", ujar Levi saat meletakkan tubuh Rea ke atas kasur.
"Levi, kamu tau kan aku masih dalam-"
"Iya aku tau", potong Levi cepat dan membaringkan tubuhnya disamping Rea. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, "Aku cuma mau minum kayak Arthur tadi, boleh kan?", tanya Levi yang sudah menempatkan wajahnya tepat di hadapan dada Rea yang entah kapan sudah terbuka.
Rea menghela nafas, "Aku larang, kamu gak bakal dengerin juga kan?."
Levi tertawa pelan, "So pasti", balasnya dan mulai melakukan kegiatan yang sama seperti Arthur lakukan beberapa waktu yang lalu.
Rea menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Bukan hanya baby Arthur saja yang membuatnya kualahan, tapi Daddy nya juga. Malah lebih repot urusin bayi besar seperti Levi yang banyak mau nya.
"Tidur", suruh Levi tanpa melepaskan sumber nutrisi Arthur dari dalam mulutnya.
Rea menunduk lalu mengelus surai hitam suaminya, "Udah kamu tidur aja."
Rea tak ada niatan untuk kembali tidur saat ini. Pikirannya tiba-tiba saja terusik dengan berita yang seminggu lalu Rea dengar. Berita yang membuat rasa bahagia Rea sedikit berkurang.
Setelah beberapa jam Rea usai melahirkan. Dirinya mendapatkan kabar kalau Aunty Laily nya sudah pergi entah kemana. Padahal yang Rea tau kalau sahabat Bunda nya itu tengah hamil sekarang.
"Aunty pergi kemana?", lirih Rea yang langsung menyatu dengan deru angin. Percaya lah, di antara Laily dan Gina. Rea lebih menyayangi Aunty Laily nya. Padahal Gina adalah saudara Papi nya. Tapi entah kenapa Rea bisa lebih dekat dan nyaman bila bersama Laily.
Dan sekarang teman sekaligus Tante nya itu kini kembali menepikan diri.
"Kenapa Aunty?."
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
...Huwaaa targetnya gk kekejer dong😭. sedih aku tu, tapi salah aku jg sih yg mageran bgt up😂. Btw, mksihhhhh bnyk yang udh mo mmpir dn bc😘. Belum end kok, santuy😂. Selama Baby Ar blm bsr dn blm bisa bls Daddy nya yg gak mo ngalah. Ga bakal tamat nih crita🙃😫...