Rearin

Rearin
Cerai?


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Kamu hadir di dalam hidup saya layaknya kembang api, mengejutkan, ramai, dan indah. Tapi sayang, keindahan itu lekas meredup lalu lenyap begitu saja......


...###...


Levi menghela nafas berat saat melihat sebuah nama yang muncul di layar ponselnya. Sebuah nama yang terus menerornya. Menghantui pikirannya yang tengah kalut. Mendesak dirinya untuk segera meninggalkan Rea. Membuat oksigen yang dihirupnya pun terasa tak lagi bebas.


Tapi mau tak mau, Levi harus menghirupnya untuk bertahan hidup. Walaupun hidupnya terasa seperti berada di ambang kematian kini.


Lalu Levi menggeser layar ponselnya ke atas. Mendekatkan benda pipih panjang itu ke telinganya. Dan menyapa seseorang yang diseberang sana dengan nada datar andalannya.


"Sudah kamu ceraikan pelacur itu?."


Levi mengepalkan tangannya ketika kata-kata pelecehan itu kembali terdengar. Matanya menggelap. Menatap tajam langit malam yang terasa sepi dan mencekam.


"Beri gue waktu seminggu lagi", sahut Levi mencoba untuk berusaha normal. Padahal amarah sudah bercokol di dalam dada. Memberontak untuk dilepaskan. Membuat pondasi benteng pertahanannya perlahan terkikis.


"Kamu tau saya kan Levi, saya bukan lah orang yang penyabar. Dan sekarang saya enggak punya banyak waktu untuk menunggu kamu mengumpulkan keberanian. Bunuh orang aja kamu berani, tapi menceraikan pelacur itu kamu butuh waktu tiga Minggu?, jagoan seperti apa kamu ini", terdengar suara tawa yang mengejek dari seberang. Membuat Levi lantas mencengkram pagar pembatas balkonnya.


"Gue kasihan dengan lo David. Udah mau mati juga, tapi enggak pernah merasakan apa itu cinta. Kebanyakan dosa sih lo", Levi menyeringai saat mendengar suara umpatan yang keras dari paman yang merangkap menjadi Ayahnya itu.


"Itu semua karena Angkasa sialan. Tapi sudahlah, saya tidak ingin menambah dosa dengan membicarakan orang yang sudah mati."


Netra abu-abu itu terlihat sedikit memerah. Menyentil tepat di bagian sensitifnya. Mengoyak lebar luka yang sudah terobati dulu.


David tertawa, semakin membuat Levi ingin sekali membunuh pria bajing*n itu.


"Kalau hidup dilandasi dengan cinta, cepat atau lambat kamu akan mati. Daripada bahas kebodohan yang tak ada habis itu. Lebih baik kamu segera menceraikan dia."


"Kalau gue bilang, gue enggak mau ceraikan Rea, gimana?", tantang Levi.


"Oh, kamu mengancam saya?. Jangan main-main dengan saya Levi. Coba kamu dengarkan suara ini."


Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam. Tanpa ada yang bersuara. Sebelum suara yang sangat dikenali Levi itu terdengar begitu nyaring di telinganya. Seolah masuk ke seluruh tubuhnya. Bergema di dalam kepalanya. Membuat pupil matanya tak bisa dicegah untuk melebar.


Suara monitor itu terdengar sangat menakutkan. Kecemasannya tiga tahun yang lalu, kembali hadir. Kilasan bayangan seorang remaja laki-laki yang setia tidur disamping ranjang ibunya, terlintas begitu saja. Menggenggam tangan yang sudah terkulai lemas. Menatap wajah pucat yang terlelap damai dengan harapan yang besar. Berharap jika mata itu terbuka, dan kembali memandangnya penuh kasih.

__ADS_1


Dulu Tuhan mengabulkan harapannya. Tapi apakah kali ini Tuhan akan kembali mengabulkan harapannya yang masih sama.


"Kamu dengarkan?, kata orang kematian itu ada ditangan Tuhan. Tapi untuk membuat kematian itu terlaksana, tentu saja membutuhkan seorang perantara. Dan anggap saja saya adalah perantara antara Ayla dengan Tuhan."


"Sialan lo David. Bajing*n", umpat Levi yang malah membuat David tertawa besar.


"Saya tidak akan tersinggung, mengingat kamu adalah penyelamat bagi saya. Saya beri kamu kesempatan tiga hari ini, jika kamu belum bisa. Jangankan Ayla, pelacur itu pun enggak akan dapat kamu miliki. Satu kamu hancurkan, maka dua saya binasakan."


Tanpa mendengar kata-kata menyebalkan itu lagi. Levi segera mematikan panggilan tersebut. Mencengkram kuat pagar pembatas itu. Mendongakkan kepalanya ke atas. Seraya memejamkan matanya erat-erat. Membuat cairan bening itu perlahan mengalir turun dari sudut matanya.


"Papa...", Levi membuka matanya. Memandang halaman belakang rumahnya.


"Kenapa lo harus ninggalin gue sama Mama, kenapa lo buat hidup kami berdua sengsara. Kata lo, lo cinta dengan Mama. Tapi lo malah ngasih dia sama cowok lain. Lo tau Angkasa, sekarang istri yang paling lo cintai itu sedang bertaruh nyawa. Kemana lo, disaat dia butuh sandaran. Disaat dia nangis diam-diam", Levi menatap sang cakrawala yang terbentang luas di atasnya. Menganggap jika itu adalah Papa nya, Angkasa nya.


"Kemana lo, disaat gue butuh", gumam Levi lirih sembari menundukkan kepalanya. Membuat setitik air mata jatuh mengenai punggung tangannya.


"Sialan", Levi menghapus kasar air matanya. Sebuah penghinaan besar baginya ketika air mata itu turun. Tidak ada jagoan yang menangis.


"Angkasa", Levi mengangkat wajahnya menatap langit, "Lihat gue, gue bakal nerusin jalan lo sebagai laki-laki yang meninggalkan istrinya", mata yang tadinya sendu kembali berubah dengan cepat. Menampilkan dendam dan amarah yang tersimpan rapat diantara kedinginan dan kesepian yang tak berujung.


...###...


Levi ingin pisah baik-baik, tapi Levi yakin kalau Rea tak akan setuju. Terbukti dengan cewek itu yang masih saja tetap diam, padahal Levi sudah membawa seorang perempuan lain ke dalam rumah.


Levi ingin agar Rea membencinya, agar setiap Rea melihatnya, hanya akan ada dendam dan kebencian yang tersirat di mata cewek itu untuk dirinya.


Sehingga membuat Levi rela untuk melepaskan mawar nya tersebut.


Tap tap tap


Levi menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar yang tertutup. Cowok itu sontak bangkit dari duduknya saat mendengar suara derap langkah kaki yang sudah Levi pastikan itu adalah Rea.


Dengan menghela nafas panjang Levi mendekatkan ponsel miliknya ke dekat telinga. Lalu memulai aktingnya yang sama sekali tak pernah dibayangkan nya.


Demi Mama nya, juga Rea.


"Iya, aku bakal ceraikan dia terus nikah sama kamu", ujar Levi seraya memejamkan matanya saat mendengar suara pintu yang terbuka.

__ADS_1


"Sekarang kamu jaga kesehatan aja, jangan sampai buat anak kita kecapekan. Night, my dear."


Prang


Levi refleks berbalik ke belakang. Menatap kaget pecahan piring yang ada di atas lantai. Lalu melirik ke arah wanita yang tengah hamil itu. Dari matanya, Levi bisa melihat betapa terkejut dan tak percayanya Rea.


Levi mengumpat dalam hati saat melihat telaga bening yang indah itu mengeluarkan air matanya. Ingin sekali Levi menarik Rea ke dalam dekapannya. Mencium puncak kepala istrinya agar tenang. Tapi sayang, ia sudah membulatkan tekad. Dan tak mungkin Levi harus mengulanginya lagi dari awal.


Rea melangkah mundur sampai membuat tubuhnya menabrak nakas yang berada dibelakangnya. Menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menatap tak percaya seorang cowok yang berdiri di hadapannya itu.


Apa yang tadi Levi katakan. Cerai?, tidak. Rea yakin telinganya pasti salah mendengar. Tidak mungkin kan cowok itu ingin menceraikannya disaat usia pernikahan mereka baru enam minggu. Disaat kandungannya baru memasuki sepuluh Minggu kehamilan.


Apakah benar Levi ingin meninggalkannya lalu hidup bersama dengan Tiffany. Dan, dengan anak mereka.


"Ka-kamu mau menceraikan saya Levi?", Rea bertanya dengan gagap. Berharap jika cowok itu menggelengkan kepalanya. Dan mematahkan apa yang didengarnya barusan.


Namun sayang, anggukan singkat dari Levi membuat air matanya turun semakin deras.


"Gue bakal cerai-in lo Rea", ujar Levi dengan datar. Tapi tak ada yang tau, kalau di dalam sana, hatinya remuk redam.


Rea mendongak menatap Levi. Ibu hamil itu lantas menggelengkan kepalanya, "Enggak."


"Kamu enggak boleh cerai-in saya", Rea berlari ke arah Levi dan memeluk suaminya itu dengan sangat erat.


Jantung Levi hampir saja jatuh saat melihat Rea yang berlari menginjak pecahan kaca itu. Untung saja cewek itu mengenakan sendal. Jika tidak, lantai marmer itu sudah pasti berganti warna menjadi merah.


"Tapi gue-"


"Kamu enggak boleh tinggalin saya. Kamu harus tanggung jawab dengan saya. Setelah menghancurkan masa depan saya. Apa kamu masih mau menghancurkan kehidupan saya?. Kamu jahat Levi, hiks", Rea memukul-mukul punggung lebar Levi. Lalu mencengkram nya dengan kuat seraya menangis hebat.


"Sa-saya bersedia di madu, kalau kamu emang mau nikah sama Tiffany. Tapi saya mohon, jangan tinggalin saya Levi. Setidaknya ingat anak kita", lirih Rea di akhir kalimatnya.


Pilu, sangat pilu. Setiap orang yang mendengarnya pasti bisa ikut merasakan kesakitan yang tengah di rasakan Rea.


Maafin gue Rea. Justru gue melakukan ini semua untuk kebaikan lo dan anak kita.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2