
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Di pendam sesak, diungkapkan merusak......
...###...
"Kenapa lagi lo?", Morgan melirik ke arah Levi yang tampak membuang pandangannya ke jendela samping mobil.
"Biasa, David", Levi memang lebih sedikit terbuka bila dengan Morgan. Karena baginya, hanya berbicara dengan Morgan lah yang bisa sedikit nyambung. Sedangkan dengan teman-temannya yang lain, jangan diharapkan.
Bukan solusi yang didapat, tapi justru keinginan untuk melenyapkan mereka lah yang muncul.
"David sialan", umpat Morgan dengan pandangan yang lurus ke arah jalanan. Karena pria itulah ia harus mendapatkan beberapa memar di tubuh. Bagaimana tidak, Levi dengan tiba-tiba mengajaknya untuk bertarung di ring. Dan dengan mata yang menggelap Levi melawannya begitu membabi buta. Cowok itu terlihat seperti orang lain, sangat kalap dan bengis.
Kalau saja Morgan tidak menjatuhkan tubuhnya terlebih dahulu. Mungkin saja ia benar-benar lenyap di tangan Levi tanpa kesalahan yang jelas.
Dan setelah itu bukannya berhenti, Levi malah mencari pelampiasan dengan terus memukul samsak. Bahkan lutut serta buku-buku jari tangan cowok itu sudah terlihat sedikit memar.
Dulu jika Levi sedang berada di titik terjenuh nya, cowok itu akan pergi ke klub lalu mabuk-mabukan hingga larut malam. Atau tidak, Levi akan mensayat-sayat tangan serta kakinya dengan pisau. Benar-benar melampiaskan amarah pada dirinya sendiri.
Sebagai teman, tentu saja Morgan tak bisa melihat Levi yang seperti itu. Dingin, namun rapuh.
Lalu Morgan mengatakan kepada Levi kalau cowok itu membutuhkannya pada saat-saat berat dalam hidupnya, maka Morgan siap untuk membantu atau bahkan menjadi sebuah bahan pelampiasan.
"Buat ulah apa lagi tuh aki-aki?."
"Dia jodohin gue."
Mendengar itu Morgan lantas mendadak mengerem mobilnya. Membuat Levi mengumpat pelan.
"Anji*g bener tuh si David. Emang dia gak tau lo udah nikah?", Morgan menatap Levi dengan mata yang melebar.
"Dia gak setuju dengan Rea", sahut Levi yang membuat Morgan refleks mengabsen nama-nama hewan yang ada di kebun binatang.
"Terus gimana?, jangan bilang cewek yang semalem di rumah lo itu...?, bangs*t lo David", Morgan memukul setir mobilnya dengan kuat. Ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Levi. Bimbang, gelisah, dan takut.
Merasa teringat akan sesuatu, Morgan lantas kembali menoleh menatap Levi, "Jangan bilang kalau anak yang dikandung tuh cewek anak lo juga?."
Tuk
Levi refleks memukul kepala Morgan dengan botol air minum yang ada ditangannya.
"Gue cuma pernah tidur sama Rea", sahut Levi dengan nada datar andalannya.
"Iya deh yang bucin nya Rea", Morgan memutar bola matanya malas.
"Terus sekarang gimana?, lo mau lukai Rea lagi?, kalau iya, lo enggak akan bisa dapat dia lagi kalau udah lo lepasin. Jangan buat penyesalan dalam hidup lo Lev", tambah Morgan. Sontak Levi termenung dengan segala pikiran yang membebankan otaknya.
"Satu sisi gue adalah seorang suami, tapi di sisi lain gue juga seorang anak", ucapan Levi yang membuat keduanya mendadak diam.
Morgan tau bagaimana gilanya seorang David. Pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika ia berkata bunuh, maka memang dibunuhnya. Dan Tante Ayla adalah salah satu korban dari ucapan David.
Dan pantas saja sekarang Levi berada dalam keadaan yang sangat membingungkan. Cowok itu pasti tidak mau kalau Mama nya kembali menjadi korban. Anak mana yang ingin melihat wanita yang sudah susah payah melahirkannya ke dunia ini tiada begitu saja.
"Cuma dengan cara itu, gue bisa nyelamatin keduanya."
"Dan buat diri lo sendiri sengsara?", Morgan tersenyum masam. Bagi Morgan, jika takdir Levi terletak pada Rea. Maka cewek itu sangat beruntung bisa mendapatkan suami seperti Levi.
"Tapi gue enggak tega lihat dia terluka", gumam Levi. Dirinya bukan orang bodoh yang menyia-nyiakan cewek secantik dan sebaik Rea begitu saja. Sudah enam tahun ia perjuangkan, lalu dilepaskan begitu saja. Tentu Levi tak rela. Tapi mau bagaimana, jalan hidupnya sudah begini.
"Lo rela lihat dia dengan cowok lain?."
Levi terdiam sebelum mengangkat pandangannya. Menatap Morgan yang menatap serius dirinya.
"Enggak", sahut Levi singkat lalu membuang pandangannya ke samping jendela mobil.
Morgan tersenyum simpul. Dirinya adalah salah satu saksi, bagaimana Levi mencintai Rea dalam diam. Tanpa pernah bertukar hati. Hanya dengan melihat Rea dari jauh saja, sudah bisa merubah mood seorang Levino menjadi baik.
"Seka-"
Drrt drrt
Ucapan Morgan terpotong oleh suara deringan ponselnya yang berada di atas dashboard mobil. Lantas Morgan mengambilnya dan mengangkat panggilan yang masuk.
"Halo?, kena-"
"Mor, gawat. Anak Darras tiba-tiba nyerang."
Morgan melebarkan matanya mendengar informasi tersebut, "Dimana?", tanyanya tak sabaran.
"Belakang sekolah", jawab Bara dan terdengar suara heboh-heboh dari seberang. Seperti suara teriakan dan baku hantam.
"Gue otw", ujar Morgan dan mematikan panggilan tersebut. Tanpa menunggu lagi, Morgan kembali menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa?", Levi menaikkan sebelah alisnya bertanya.
"Darras nyari ulah", sahut Morgan sekenanya.
"Lo gue antar pulang?", Morgan melirik Levi dari sudut matanya. Semenjak Mama nya jatuh sakit seperti ini, Levi memang sudah jarang ingin terjun langsung ke lapangan. Jika memang tidak diperlukan.
Levi terlihat menyeringai menyeramkan, "Kenapa harus pulang?", tanyanya balik.
Melihat itu Morgan diam-diam berdoa akan keselamatan anak-anak Darras. Selamat menjadi bahan pelampiasan bagi Levi.
Tak berapa lama kemudian mobil sport milik Morgan berhenti tepat di belakang SMA Angkasa. Di depan sana terlihat para remaja cowok yang saling adu jotos. Baik dengan kekuatan maupun dengan senjata.
Baru saja Morgan ingin berbicara dengan Levi. Rupanya cowok itu sudah lebih dulu turun dan berjalan menghampiri kerumunan tersebut. Seraya mengikat kemeja yang dipakainya ke pinggang.
Levi melirik kesana-kemari, tapi ia sama sekali tidak melihat sang ketua. Sepertinya tawuran kali ini hanyalah pandai-pandai nya para anggota Darras saja. Terbukti dengan tidak adanya Argan di tengah-tengah kericuhan.
Levi memegang pundak seorang cowok yang terlihat tengah adu jotos dengan Bara. Membuat orang itu menoleh ke belakang. Dan...
Bugh
Satu pukulan telak Levi daratkan di wajahnya.
"Beraninya lo ngerusuh di sekolah gue, bangs*t", Levi memukul membabi buta cowok itu.
"Mau main kasar?", Levi menyeringai dan mengambil pisau lipat yang dikeluarkan cowok itu dari dalam saku bajunya.
"Lo belum ahlinya", dengan secepat kilat Levi mengayunkan pisau itu ke arah wajah lawannya. Membuat goresan yang sangat panjang dan mengeluarkan banyak darah.
"Argh", cowok itu memegangi wajahnya seraya menjerit kesakitan.
Melihat lawannya yang lengah. Levi lantas kembali menggerakkan pisau itu ke arah pundak cowok itu. Menekannya dalam-dalam hingga bagian tajamnya tak lagi terlihat. Membuat jeritan kesakitan semakin membesar.
Semua orang yang tadinya sedang sibuk baku hantam pun berhenti saat mendengar teriakan pilu tersebut.
Levi melirik ke arah anak-anak Darras yang menatapnya.
"Ini akibat ganggu ketenangan gue", Levi mencabut paksa pisau itu dan kembali menusukkan nya di pundak sebelah kiri. Berkali-kali hingga baju yang dikenakan oleh cowok itu sudah dilumuri oleh darah.
"Gue takut Levi bunuh anak orang lagi", bisik Ammar pada Morgan yang hanya berdiri diam disampingnya.
"Biarin, biar dia lega."
Ammar menatap tajam Morgan, "Anjir lo Mor, itu nyawa orang woi."
"Siapa suruh rusuh."
"Mar, pinjam ponsel", pinta Bara.
Ammar dengan kernyitan di dahinya pun lantas memberikan ponselnya kepada Bara.
"Untuk apa?."
"Telpon Rea", sahutnya singkat lalu sibuk mengutak-atik ponsel Ammar.
"Woi, inget doi lagi bunting, bisa-bisa auto-"
"Halo Rea", Bara tak menghiraukan ucapan Ammar.
"Eum.., ya?."
"Rea, lo bisa enggak sekarang ke halaman belakang sekolah?."
"Kenapa?."
"Levi mau dibunuh."
Mendengar itu semua orang yang berada di dekat Bara lantas melototkan mata menatap cowok tersebut.
Emang cuma Bara yang paling berani.
"Di-dibunuh?"
"Iya, cepetan lo kesini, keburu jadi janda lo entar. Nan-"
Tut tut tut
"Anjir si Rea, belum selesai ngomong juga, malah dimatiin", Bara menggerutu menatap layar ponsel Ammar yang sudah meng-gelap.
"ARGH."
Mereka menatap kembali ke arah Levi saat mendengar suara teriakan yang sangat menyeramkan itu. Levi benar-benar king of devil. Objek mainan Levi sekarang adalah kaki lawannya. Setelah membuat kedua tangan cowok itu tak bisa bergerak.
Anak-anak Darras pun tak ada yang berani mendekat, apalagi bertindak.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu. Dan semuanya masih sama. Levi yang sibuk dengan pelampiasannya. Dan mereka yang diam tak berkutik di tempat.
Saat Levi tengah sibuk mensayat dan menusuk kaki lawannya. Tiba-tiba wajah menyebalkan David terlintas dibenaknya. Mata abu-abu itu pun seketika menggelap.
"Bajing*n", desis Levi tajam dan mengayunkan pisau lipat itu ke arah dada lawannya. Tepatnya di jantung cowok itu.
Namun belum sempat pisaunya tertancap. Teriakan nyaring itu menghentikan pergerakannya.
"Levi!."
Badan Levi seketika membeku. Tangan cowok itu mencengkram kuat kerah baju lawannya yang sudah terkulai lemas.
Melihat kesempatan itu lantas Ammar, Morgan, dan Bara langsung menghampiri Levi. Menyingkirkan anak Darras yang sudah terlihat setengah hidup itu jauh-jauh dari Levi.
"Lev, bini lo", bisik Ammar pelan.
Levi mengerjapkan matanya dan bangkit berdiri dari jongkoknya. Dengan perlahan cowok itu memutar tubuhnya. Dan langsung disambut oleh pelukan hangat Rea.
"Syukurlah", gumam Rea seraya mengeratkan pelukannya. Syukur, Levi tidak mengalami seperti yang dibilang Bara. Jantungnya seperti berhenti berdetak tadi.
Levi melirik ke arah Bara dan menyuruh cowok itu untuk mengambil pisau lipat yang ada ditangannya.
Setelah itu Levi diam-diam mencium puncak kepala Rea. Cowok itu tidak membalas pelukan Rea. Karena ia takut jika darah yang ada ditangannya akan mengotori tubuh ranum istrinya.
"Ngapain kesini, enggak sadar diri kalau lagi bunting", Levi hendak mengendurkan pelukan itu. Namun Rea malah semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Levi.
"Ba-bara bilang kamu mau dibunuh", ujar Rea pelan. Levi sontak menatap tajam ke arah Bara yang terlihat menyengir.
"Enggak ada yang berani buat bunuh gue", sahut Levi datar.
"Bar-"
"Levi", ucapan Levi terhenti dengan suara lembut yang memanggil namanya itu.
Rea yang mendengar pun kontan melepaskan pelukannya dan menatap Tiffany yang berdiri di belakangnya.
"Astaga Levi", Tiffany berjalan cepat ke arah Levi yang terlihat berlumuran darah. Melihat itu, Rea lantas memundurkan langkahnya.
"Kamu enggak apa-apa?", Tiffany memegangi wajah Levi. Mengecek apakah ada yang luka pada tubuh cowok tersebut.
"Enggak apa-apa", Levi mundur selangkah. Membuat kedua tangan Tiffany yang masih memegangi wajahnya menggantung di udara.
"Romi, anterin Tiffany", Levi memanggil Romi yang berdiri tak jauh darinya.
"Udah malam, mending lo pulang. Maaf gue gak bisa ngantar, masih ada urusan", tambah Levi.
"Tapi-"
"Entar lo dicariin bokap", sela Levi dan mengisyaratkan Romi untuk segera mengantar cewek itu pulang. Lalu matanya melirik ke arah Rea yang terlihat berjalan menuju Morgan.
Kemudian dengan terpaksa, Tiffany mengikuti langkah Romi. Dan naik ke atas motor sport milik cowok tersebut. Lalu melesat pergi meninggalkan tempat yang kotor dilumuri darah dimana-mana.
Tiffany tadi diberitahu oleh David. Lantas bergegas pergi menemui Levi.
Sedangkan Rea, cewek itu menatap dengan canggung Morgan yang berdiri dihadapannya.
"Morgan, kamu bisa antar saya pulang?."
Rea merasa ditipu oleh Bara. Kata cowok itu Levi yang ingin dibunuh, tapi justru sebenarnya Levi lah yang ingin membunuh. Dan melihat darah yang bercecer-cecer sana-sini membuat perut Rea mual.
"Gue-"
"Ngapain minta antar sama cowok lain", Levi berdiri di belakang Rea yang tampak terkejut.
"Pinjam mobil lo, Mor."
Morgan melemparkan kunci mobilnya yang langsung ditangkap Levi dengan sigap.
"Ayo pulang", lalu cowok itu menarik tangan Rea dan mengajaknya ke arah mobil Morgan yang terparkir di tepi jalan.
"Masuk", Levi menyuruh Rea untuk masuk seraya memegang bagian atap mobil agar kepala istrinya tidak terantuk.
Rea tak bergeming. Cewek itu terdiam dengan kepala yang menunduk.
Levi lantas mengernyitkan keningnya, "Kenapa?."
Rea mendongakkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu tanpa aba-aba Rea kembali memeluk Levi dengan kuat.
"Levi, hiks", Rea menumpahkan air matanya dalam pelukan sang suami. Ia tak tau untuk apa dirinya menangis. Tapi yang pasti, saat ini seperti ada sebuah batu besar yang menghimpit dadanya saat melihat Tiffany tadi. Membuatnya sesak dan ingin menangis sekuat-kuatnya.
Levi tertegun sejenak, sebelum melayangkan satu kecupan di puncak kepala Rea.
"Maafin gue, Rea", gumam Levi dan mendekap erat tubuh rapuh istrinya. Entah kapan lagi, ia bisa mendekap erat Rea seperti ini. Mungkin setelah ini, mereka tidak akan baik-baik saja.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....
Semangat ku tergantung dengan laik mu 🙂