Rearin

Rearin
Keguguran


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Menunggu tapi tak ditunggu, bertahan tapi tak ditahan. Cukup, kesabaran juga ada batasnya......


...###...


"Eungh", Lenguhan itu terdengar kentara di ruangan hening tak bersuara. Kelopak mata panjang nan lentik itu perlahan terangkat. Hingga netra hitam pekat cantik itu terlihat sempurna.


Wajah dua orang wanita yang dipenuhi kekhawatiran yang pertama kali masuk ke dalam indra pengelihatannya. Mengelilinginya hingga dadanya merasa sesak.


"Bun-", ucapan Rea terhenti ketika kepalanya tiba-tiba saja berdenyut. Rea mengurut pelipisnya. Dan berusaha duduk dengan dibantu oleh Arinta.


"Minum dulu sayang", Arinta menyodorkan segelas air putih kepada Rea. Yang langsung diambil dan diminum hingga tandas.


"Udah baikan?", Arinta bertanya seraya meletakkan kembali gelas itu ke atas nampan yang dipegang oleh Bik Mirna disampingnya.


Rea mengangguk dengan memejamkan matanya. Menarik nafas dan menghembuskan nya dengan pelan. Setelah merasa sedikit lebih mendingan, Rea baru membuka matanya. Menatap wajah Arinta yang terlihat sangat cemas terhadapnya.


"Kamu beneran enggak apa-apa?", tanya Arinta dengan khawatir.


Rea menggelengkan kepalanya lemah.


"Cucu Bunda gimana?, kalian berdua enggak kenapa-napa kan?, apa kita perlu ke dokter?", cerca Arinta yang membuat Rea tersenyum samar. Bunda nya itu sudah memasuki cerewet mode on.


"Kami baik-baik aja", Rea memegang lengan Arinta. Meyakinkan wanita itu kalau dirinya baik-baik saja.


"Bunda enggak percaya, kalau kamu baik-baik aja, kenapa bisa pingsan mendadak gitu", tambah Arinta mengomeli Rea, "Bik, coba telpon Levi. Suruh dia pulang, apapun yang dilakukannya sekarang", titah Arinta kepada Bik Mirna yang sedari tadi diam menyaksikan.


Baru selangkah kaki wanita tua bergerak, Rea menghentikannya. Dan menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan kepada Bik Mirna untuk tidak melakukan itu.


"Jangan, Bun. Dia pasti lagi sibuk", ujar Rea.


"Lagi sibuk ngapain?, ngurusin pertunangannya, iya?", kekesalan Arinta yang tadi sempat mereda, seketika kembali naik ke permukaan. Membuat Rea menunduk dan Bik Mirna langsung mundur secara teratur.


Suasana hening seketika.


Arinta menghela nafas, mengurut pelipisnya sebentar lalu kembali menatap putrinya yang tertunduk diam.


"Kamu enggak mau jelasin apa-apa ke Bunda, Rea?", tanya Arinta.


Rea diam tak bergeming.


Melihat tak ada respon dari Rea, Arinta lantas tersenyum miris, "Seharusnya Bunda enggak banyak tanya. Karena ketika seorang anak perempuan udah menikah, dia hanya akan menatap suaminya sebagai raja, dan menatap orang tuanya sebagai orang asing. Apalah arti Bunda yang hanya melahirkan dan membesarkan kamu. Bunda bukan orang yang akan mendampingi kamu hingga akhir hayat. Jadi kamu enggak usah repot-repot curhat ke Bunda. Seharusnya Bunda paham, disaat kamu menikah hari itu. Kamu sudah memulai kehidupan baru dan memutuskan hubungan dengan orang-orang yang ada di masa lalu", ujar Arinta panjang lebar dan penuh sindiran di setiap kalimatnya.


Mendengar itu Rea lantas mendongak, melihat Bunda nya yang menatap kosong ke depan. Rea bisa melihat kesedihan yang terpatri di wajah cantik wanita yang sudah melahirkannya itu. Dan itu sukses membuat Rea semakin merasa berdosa.


Lalu tanpa aba-aba, Rea langsung memeluk Bunda nya dengan erat-erat, "Jangan ngomong gitu Bun", gumamnya.


"Kamu udah enggak butuh Bunda lagi kan, Rea."


Rea menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Bunda adalah orang yang ingin pertama kali saya lihat ketika ajal menjemput. Bunda itu enggak akan bisa digantikan oleh apapun", sahutnya dalam pelukan sang Bunda.


"Terus kenapa kamu-"


"Saya bisa apa Bun?, saya malu, saya merasa malu mengatakan kalau suami saya sebentar lagi akan menikah untuk yang kedua kalinya. Dan itu ketika usia pernikahan kami baru memasuki dua bulan. Kami bersama baru 60 hari, dan itu pun enggak penuh", sela Rea dan menatap miris ke depan. Bahkan detik-detik mereka bersama, bisa dihitung dengan jari.


Mendengar itu sontak saja Arinta langsung memeluk putrinya dengan sangat erat. Mengelus punggung rapuh yang terlihat sangat tegar itu.


Ternyata ada masalah yang begitu besar yang sudah disimpan putrinya sendirian.


"Kenapa kamu enggak pulang ke rumah aja, kenapa kamu terus bertahan hidup di rumah yang seperti neraka ini?, kenapa kamu bisa begitu sabar dengan bajing*n seperti itu?", cerocos Arinta bertanya tanpa henti. Ya, kenapa putrinya bisa memiliki kesabaran yang begitu besar. Arinta sendiri saja tak memiliki kesabaran yang seperti itu. Jika Arinta yang berada di posisi Rea, mungkin ia sudah minggat dari rumah itu sejak lama. Memulai kehidupan barunya dengan anaknya berdua. Tapi Rea, cewek itu masih saja terus bertahan dengan segala luka yang diberi Levi.


"Dia sayang anaknya, Bun. Walaupun dia cuek dengan saya, tapi setidaknya dia masih ingat dengan anaknya. Dan karena anak ini lah saya bisa bertahan sampai sekarang", suara itu sangat pelan dan lirih. Jika saja Arinta tidak memasang telinganya dengan benar, mungkin ia tak dapat mendengar jelas apa yang dibicarakan oleh Rea.


"Lalu kenapa dia mengucapkan kata-kata cinta waktu itu dihadapan seluruh keluarga. Bahkan dia bisa mengambil hati para orang tua dengan mudah. Sampai Bunda pun mengakui kalau dia adalah suami yang tepat untuk kamu."

__ADS_1


Rea tersenyum masam, "Itu semua dia lakukan hanya demi untuk mendapatkan anaknya."


Lalu keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sebelum suara Arinta memecahkan keheningan yang ada.


"Kalau dia sayang anaknya, dia enggak bakal ngelakuin ini dengan kamu", ujar Arinta yang sama sekali tak direspon oleh Rea.


Kemudian Arinta melepaskan pelukan itu dan menatap wajah putrinya yang terlihat sangat lesu.


"Dia sayang anaknya, tapi dia mau ninggalin kamu?, maka buat anaknya untuk ninggalin dia."


Rea dengan perlahan mengernyitkan keningnya. Menatap bingung Bunda nya yang berbicara dengan salah sudut bibir terangkat. Apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu.


...###...


"Biar Bunda aja yang bawa", Arinta mengambil alih koper dari tangan Rea. Menariknya turun ke lantai bawah.


Rea sebenarnya bingung ketika Arinta menyuruhnya untuk menyusun semua baju-bajunya ke dalam koper. Rea mengatakan kalau ia bisa menghadapi masalah ini. Dan dirinya tidak ingin tinggal di rumah orang tuanya.


Tapi Arinta tidak menggubris, Bunda nya malah sibuk mengemasi semua barang-barangnya ke dalam koper.


"Duduk", Arinta menyuruh Rea untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara dirinya berdiri di samping ibu hamil itu.


Rea menurut lalu menatap bingung Arinta. Menunggu instruksi apa lagi yang akan disuruh Bunda nya itu.


"Sekarang telpon dia."


Rea mengernyit, "Dia?, siapa?."


"Bajing-", Arinta menghela nafas saat dirinya hendak kembali mengumpat. Terlalu banyak mengucapkan kata-kata kasar itu tidak baik untuk calon cucu nya, "Suami kamu itu, cepat telpon dia."


"Kenapa harus telpon Levi, Bun?", tanya Rea semakin bingung.


"Cepat aja telpon, lama-lama Bunda greget ya Rea sama kamu", gerutu Arinta dan mengambilkan ponsel Rea yang terletak di atas meja. Menyodorkannya ke si empunya.


Dengan dilanda kebingungan, Rea lantas menekan kontak nomor Levi. Menatap Bunda nya saat dering pertama.


"Halo?."


Rea memanggil Arinta tanpa suara.


Lalu Arinta sedikit menjauhkan ponsel yang berada di tangan Rea. Berbisik pelan di telinga putrinya.


"Bilang, kalau kamu keguguran."


Rea melototkan matanya menatap horor Arinta yang berdiri disampingnya. Ide gila macam apa itu.


"Cepat ikutin apa yang Bunda bilang, kalau enggak mau jadi anak durhaka", tambah Arinta dengan menambahkan sedikit ancaman. Karena jika tidak begitu, maka Rea tidak akan mau melakukannya. Arinta tau ini sedikit tidak benar. Tapi Arinta hanya ingin melihat bagaimana reaksi dari Levi.


Rea menarik nafas panjang sebelum mendekatkan kembali ponselnya ke telinga.


Sekali lagi Rea menoleh ke arah Arinta. Apakah ia benar-benar harus melakukan ini?.


Namun anggukan serta desakan dari Arinta membuat Rea memejamkan matanya berat.


"L-levi", Rea memanggil Levi dengan gagap yang hanya disahuti dengan sebuah gumaman yang pelan.


Arinta mencolek bahu Rea dan menyuruh putrinya itu untuk menghidupkan loudspeaker ponselnya.


Rea menuruti lalu berujar dengan susah payah.


"Levi", Rea menjeda ucapannya cukup lama sebelum sebuah colekan dari Arinta membuat Rea melanjutkan kembali ucapannya, "Saya keguguran."


Setelah mengatakan itu, Rea dengan takut-takut melihat layar ponselnya yang masih menyala. Menunjukkan nama cowok itu yang tertera penuh di layar ponselnya.


Tidak seperti dugaannya, cowok itu malah terdiam selama lima menit lamanya. Membuat Arinta misuh-misuh ditempat.

__ADS_1


Rea tersenyum miris menatap layar ponselnya, "Sekarang kamu bisa bebas."


Setelah Rea mengucapkan kalimat itu dengan sempurna. Tanpa diduga, Levi lebih dulu mematikan sambungan tersebut secara sepihak. Membuat Arinta yang berdiri disamping Rea refleks mengumpat cukup keras.


"Kita tunggu dia untuk beberapa saat. Kalau dia beneran sayang anaknya, dia pasti akan datang apapun yang sedang dia lakukan sekarang. Tapi kalau dia enggak datang", Arinta menoleh ke arah Rea yang menatap kosong ke arah lantai.


"Saya akan pergi dari rumah ini."


Arinta duduk dengan cepat disamping Rea. Menatap tak percaya putrinya yang barusan berbicara seperti itu.


Entah angin apa yang merasuki Rea. Sehingga membuatnya tersadar begitu cepat.


"Kami selalu ada dibelakang kamu", Arinta memeluk bahu Rea. Berusaha menguatkan putri kesayangannya itu.


Tak terasa tiga jam telah berlalu, dan selama itu pula mereka berdua menunggu. Menunggu kedatangan seseorang yang bahkan belum tentu pasti akan datang.


Rea menghela nafas panjang. Mengusap perutnya yang terasa sedikit menegang. Melirik Arinta yang terlihat bosan disampingnya.


"Ayok, Bun", Rea berdiri membuat Arinta tersenyum dan ikut berdiri.


"Dengan anaknya aja dia enggak benar-benar sayang", ujar Arinta membuat Rea terdiam. Cewek itu memusatkan matanya ke arah pintu utama. Sekali lagi ia menaruhkan harapan terakhirnya. Berharap kalau pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Levi dengan raut wajah yang cemas.


"Dia enggak bakal datang", tambah Arinta seraya mengelus bahu mungil putrinya.


Rea mengangguk pelan, tanpa sadar air matanya meluruh perlahan. Jatuh tepat mengenai lantai putih yang dipijaknya.


Harapan terakhirnya pun sudah pupus. Apa lagi yang harus ditunggunya?.


Ketika Rea dan Arinta hendak melangkah menuju pintu utama. Bik Mirna berteriak memanggil seraya berlari tergopoh-gopoh.


"Mbak, mbak mau kemana?", tanya Bik Mirna setelah melihat koper milik Rea yang dipegang oleh Arinta.


Rea berbalik dan tersenyum tipis. Meraih tangan wanita itu dan mencium punggung tangannya yang terlihat keriput.


"Rea pamit Bik", ujar Rea yang terdengar bergetar.


"Pamit kemana mbak?."


"Saya mau pulang ke rumah orang tua."


"Terus kapan pulangnya?."


Rea tak mampu menahan air mata yang telah membendung di pelupuk mata. Menatap mata Bik Mirna yang memandang polos ke arahnya.


Lalu tanpa aba-aba Rea langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Kapan dirinya akan pulang?. Entahlah Rea pun tak lagi memiliki harapan soal itu.


Hatinya terlalu takut untuk terluka lagi hanya karena sebuah harapan.


"Doakan Rea ya Bik, semoga hidup Rea bisa berjalan dengan lancar", Rea menghapus air matanya dan melepaskan pelukan tersebut.


Bik Mirna yang melihat Rea menangis pun turut ikut menumpahkan air matanya, "Bahagia selalu ya mbak. Doa bibik selalu menyertai mbak dan dedek bayinya", sahutnya seraya menghapus jejak air mata Rea dengan tangan tuanya.


Sekali lagi Rea memeluk tubuh rentan itu dan berbisik lirih, "Jagain Levi ya Bik."


Bik Mirna mengangguk dengan senyuman tulusnya.


"Kami pamit dulu Bik", Arinta menarik tubuh Rea. Bersalaman dengan sopan kepada wanita yang lebih tua darinya itu.


Lalu tanpa hambatan keduanya melangkahkan kaki dengan mantap.


Rea menatap setiap sudut rumah itu sebelum dirinya benar-benar pergi untuk selamanya. Merekam setiap kenangan yang ada di dalam otaknya. Akan terus memutar kaset itu ketika dirinya sedang duduk dibawah sinar bulan sendirian.


Tuhan..., sudah habis kata-kata untuk meminta, kini ia hanya ingin berterima kasih. Berterima kasih karena sudah memberikan dirinya kebahagiaan yang sangat singkat ini. Terima kasih karena sudah mengajarkannya apa itu yang dinamakan cinta. Membiarkannya merasakan berada di awan walau sebentar.


Rea menyentuh perutnya, "Makasih", gumamnya. Ungkapan makasih nya ditujukan untuk Levi. Karena cowok itu sudah memberikannya sebuah kehidupan baru, tujuan baru, setidaknya ketika Bunda dan Papi nya tua, dan Argan sudah menikah, Rea masih memiliki anaknya untuk menemani hari-harinya.

__ADS_1


...~Rilansun🖤....


__ADS_2