
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Takut kehilangan, adalah resiko ketika kita mencintai seseorang dengan sangat......
...###...
"Kamu-"
"Kamu apa?", Rea menatap galak Levi yang berada disampingnya.
"Katanya mau ke toilet, kok malah duduk disini?", Levi bertanya heran, pasalnya Rea malah membawanya untuk duduk di kursi lantai bagian atas cafe.
"Emang kanebo kering enggak peka", dumel Rea membuat kening Levi berlipat.
Ada apa?, kenapa istrinya itu terlihat jengkel. Apa lagi kesalahan yang sudah dibuatnya?. Tau ah, berurusan sama bumil itu emang payah.
"Levi, kenapa kamu enggak terusin aja hubungan sama Tiffany?", pertanyaan tiba-tiba Rea yang membuat Levi terlihat sedikit kaget.
Namun sedetik kemudian Levi mengangkat bahunya acuh, "Kalau kamu mau dimadu enggak apa. Sayangnya kamu enggak mau."
Melihat Levi yang menjawab dengan santai membuat gumpalan tisu yang ada dalam genggaman Rea terlempar sempurna ke arah Levi.
Mendengus pelan, Levi lantas mengambil tisu tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya.
Nah kan, salah lagi dirinya. Untung cinta, kalau enggak udah Levi ganti dari dulu.
"Kamu beneran cinta enggak sama aku?", tanya Rea lagi. Levi sedikit mengernyitkan keningnya. Tumben, dari yang Levi tau, Rea itu adalah tipe perempuan yang enggak terlalu suka dengan kata-kata picisan dan gombalan.
"Banget", jawab Levi singkat namun memiliki seribu makna yang sukses membuat Rea bersemu merah. Rea memalingkan wajahnya ke depan, dengan bibirnya yang berkedut menahan senyuman.
Tentu saja itu semua tidak lepas dari penglihatan Levi.
Levi menyeringai dengan terus menatap wajah istrinya dari samping. Bahkan dilihat dari sudut mana pun, Rea tetap saja terlihat sangat perfect.
Rea yang ditatap sedemikian lekat pun sontak menatap Levi dengan masih menahan malunya.
"Kamu kena-"
"Aku bisa minta tolong enggak?", sela Levi sambil terus menatap Rea dengan senyuman mautnya.
"Apa?", tanya Rea balik dengan bingung.
"Kamu kalau mau cantik, ya cantik aja. Tapi bisa enggak, hati aku jangan diberantakin?."
"Hah?", Rea mengerjapkan matanya berkali-kali.
Itu barusan siluman buaya ngomong apa ya?.
"Kamu cantik banget, buat aku resah", tambah Levi seraya melirik seluruh pengunjung laki-laki yang selalu melirik ke arah istrinya. Damn, mengapa Rea harus berdandan begitu cantik hari ini.
Rea yang masih tak paham pun, lantas mengikuti kemana arah pandang Levi. Dan senyum tipisnya terbit seketika. Jadi ceritanya calon Daddy itu sedang cemburu begitu.
__ADS_1
"You are also handsome, make me jealous", gumam Rea pelan sembari melihat para kaum hawa yang sedari tadi menatap lapar suaminya. Rea kira lantai atas itu lebih sedikit pengunjung daripada di bawah. Namun dugaannya salah, justru di lantai atas inilah lebih banyak dihuni oleh cewek-cewek yang sedang memburu spot aesthetic untuk berswafoto.
Levi yang duduk disamping Rea, tentu saja dapat mendengar dengan jelas gumaman tersebut. Dan itu membuat hatinya senang bukan main. Untuk pertama kalinya Rea bersikap seperti itu.
"Gemas banget sih, istrinya siapa ini", Levi menangkup wajah Rea untuk memandang ke arahnya. Lalu tanpa diduga satu kecupan mendarat mulus di bibir mungil yang sedikit terbuka itu.
Rea membelalakkan matanya kaget. Jujur, Rea lebih suka Levi yang dingin namun selalu menunjukkan rasa cintanya kepada Rea melalui semua tindakannya. Daripada Levi yang bertingkah sok manis seperti ini. Terasa sedikit lebih menyeramkan.
"Levi", desis Rea pelan. Levi yang tau kalau istrinya itu tengah malu pun makin gencar menggoda Rea.
Cup
"Kita pulang yuk sayang", ajak Levi dengan suara yang pelan. Rea dibuat semakin kelimpungan saat Levi perlahan-lahan memajukan wajahnya. Melirik dari sudut matanya, Rea bisa lihat jika banyak orang yang menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan aneh.
Lagipula apa suami budiman nya itu tidak tau kalau mereka sedang berada di tempat umum.
"Levi ka-"
Drrt drrt
Suara dering ponsel Levi yang terletak di atas meja menyela ucapan Rea.
"Bentar", akhirnya Levi melepaskan tangannya dari wajah Rea. Membuat perempuan itu menghela nafas lega.
Enggak Levi namanya kalau enggak bisa buat Rea jantungan.
"Halo?", sapa Levi saat mendekatkan ponsel ke telinganya.
Rea meminum minuman yang beberapa menit lalu dipesannya. Mencoba meredakan detak jantungnya yang menggila. Melirik Levi yang sedang bertelepon ria disampingnya. Rea mengernyitkan keningnya ketika melihat tangan Levi yang berada di atas meja terkepal erat.
"Waallaikumussalam, Pi."
Pi?, Papi?, Papi Reagan?.
"Siapa yang nelpon?", Rea bertanya setelah Levi memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya.
"Papi", jawab Levi singkat.
Rea semakin mengernyitkan keningnya, ada masalah apa lagi?.
"Ada apa?."
Levi terdiam sejenak dan terlihat membuang wajahnya kesal sebelum kembali menatap Rea dan menjawab, "David udah pulang."
Mendengar itu seketika tubuh Rea menegang kaku. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat menatap wajah Levi yang semakin memerah menahan marah. Ketakutan yang telah lama hilang itu kembali menguap di dalam hatinya.
Apakah kebahagiaan singkat yang baru saja Rea rasakan ini harus kembali usai?.
Rea mengulurkan tangannya menggenggam tangan Levi. Menatap suaminya itu dengan ketakutan besar. Jujur, Rea takut bila harus ditinggalkan lagi oleh Levi.
Seakan paham dengan kegelisahan sang istri. Levi menarik Rea ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala Rea seraya bergumam, "I really love you."
__ADS_1
Rea tak membalas, yang dilakukannya hanyalah semakin membenamkan dirinya kedalam pelukan hangat Levi. Setidaknya ada cinta Levi yang bisa Rea percayai.
...###...
Rea menatap sekeliling halaman rumah mertuanya yang terdapat banyak mobil. Perasaannya semakin tak tentu arah saat melihat dua mobil polisi terparkir diluar pekarangan.
"Ayo", Rea pasrah saja saat tangannya di tarik masuk ke dalam oleh Levi.
Niat mereka yang ingin berpamitan kepada Morgan dan Tiffany langsung ter-urung saat melihat dua manusia itu sudah tidak ada lagi di tempat. Dan dengan tergesa pun Levi langsung mengendarai mobilnya ke rumah orang tua cowok tersebut.
Entah kemana dua sejoli itu pergi. Nanti Rea akan bertanya kepada Tiffany mengapa mereka pergi tanpa bilang-bilang. Dan Rea juga akan mencoba bertanya apakah kencan mereka berdua berjalan lancar?. Rea adalah pendukung garis keras MoTif.
Genggaman tangan Rea dan Levi mendadak terputus saat Levi berjalan cepat terlebih dahulu. Meninggalkan Rea yang terpaku tak percaya di tempat.
Di depan sana, Levi sedang melampiaskan emosinya dengan membabi buta. Tanpa memberikan jeda pada lawannya untuk sedekar melawan maupun menangkis.
Ini kedua kalinya Rea melihat Levi begitu kalap. Yang pertama dihalaman belakang sekolah kala malam itu. Disitu Rea benar-benar melihat sisi lain dan menyeramkan dari sosok suaminya.
Bugh bugh
Suara tinjuan bersatu dengan suara umpatan Levi yang keras. Kata-kata makian dan merendahkan keluar begitu mulus dari mulut cowok tersebut. Tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap dan mencoba menghentikan tindakannya.
"Semoga lo membusuk di penjara", sarkas Levi pada David yang sudah terkulai lemah di bawahnya. Dengan dibantu oleh dua orang aparat polisi, David kembali berdiri tegak.
Levi kaget saat mendapatkan telfon dari mertuanya tadi yang mengatakan kalau David sudah berhasil ditangkap. Amarahnya seketika meluap ke permukaan.
Rasa ingin membunuh itu muncul jika saja Reagan tidak menahannya. Bahkan Levi sudah bersiap-siap mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Senjata kecil nan mematikan yang selalu dibawanya kemana-mana.
"Kami sedekahkan beliau kepada kalian", ujar Reagan datar.
"Kalau begitu kami bawa Pak, terima kasih atas kerjasamanya."
Reagan mengangguk singkat mempersilahkan.
David digiring keluar dari dalam rumah dengan kedua tangan yang sudah diborgol. Melirik sinis kearah keponakan yang merangkap jadi anak tirinya itu.
"Apa lo lihat-lihat", Levi ingin kembali menyerang David. Namun Rea lebih dulu menahan tangan suaminya.
Meletakkan telapak tangan besar Levi ke perutnya, "Udah, kamu buat baby kita takut."
Mendengar suara Rea yang bergetar ketakutan, Levi dengan sigap menarik istrinya itu kedalam dekapan. Amarah yang tadi bertahta pongah, kini lenyap begitu saja.
Rea memang adalah obat mujarab untuknya.
"Lain kali jangan cepat emosian, untung kamu enggak diangkut sama-sama dengan David tadi", celetuk Reagan yang membuat anak dan menantunya itu sontak menatap ke arahnya.
"Makasih, Pi."
"Untuk Rea dan cucu saya, bukan kamu", balas Reagan dingin lalu berlenggang pergi dari rumah besar itu.
Rea mengulum senyumnya. Papinya itu tidak pernah berubah, selalu gengsian. Gengsinya itu hanya akan hilang jika bersama Arinta, Mami nya.
__ADS_1
Semoga saja ini akhir untuk sebuah awal yang baik. Mungkin ini memang takdir yang telah dituliskan oleh Tuhan untuknya, Levi, Morgan, Tiffany, dan David.
...~Rilansun🖤....