Rearin

Rearin
Awan mendung


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Di dunia ini, tidak ada satu pun yang tau kapan langkah kaki kita akan berhenti, berhenti untuk selamanya......


...###...


"Sorry to interrupt your time, Mr. Levi. I am the doctor who treated your mother. I want to apologize for my incompetence. Mrs. Ayla... is gone for good."


Ucapan dokter tersebut terus terngiang-ngiang di kepala Rea. Seperti kaset rusak yang menghantui pikirannya. Menari-nari di indra pendengarannya. Menggangu hatinya yang tengah kacau balau.


Menyibak pelan gorden berwarna abu-abu cerah tersebut. Berharap ada sinar matahari yang menyusup masuk ke dalam kamarnya. Menerangi serta menghangatkan kamarnya yang kini gelap gulita.


Namun sayang, komponen utama dalam tata surya itu kini tak terlihat menghiasi cakrawala.


Langit biru yang biasanya membentang, sekarang berubah sedikit kelam dengan awan hitam yang tersebar dimana-mana. Kristal-kristal kecil itu terus turun dari langit. Jatuh membasahi bumi yang selama ini kering karena kemarau.


Tapi kekeringan di hati Rea tidak dapat diobati hanya dengan air hujan.


Perempuan hamil itu mendesah pasrah. Menatap sendu langit yang sepertinya ikut turut menangis.


Membalikkan badannya, Rea langsung memalingkan wajah kala matanya menangkap sebuah objek yang sangat menyakitkan.


Mengiris hatinya yang sudah lemah dari beberapa waktu yang lalu.


Namun Rea harus kuat, semua orang tengah tak berdaya saat ini. Makanya Rea harus kuat untuk menopang mereka yang sewaktu-waktu bisa terjatuh begitu saja. Tak mempedulikan kalau saja dirinya yang jatuh, maka siapa yang akan menangkap.


"Levi...", panggil Rea pelan setelah berdiri di depan cowok yang sedang duduk lesehan di lantai. Dengan bersandar pada kaki ranjang. Kepalanya menunduk dalam. Seakan tengah mengisolasikan diri dari dunia luar. Salah satu kakinya tertekuk sebagai tompangan tangannya yang lemah.


Namun hebatnya, tangan yang satu lagi masih setia menggulir tasbih dalam genggaman.


Seolah itu adalah sumber kekuatannya untuk saat ini.


"Kenapa?."


Ingin rasanya Rea menangis saat melihat wajah datar tak berekspresi tersebut. Tapi tak ada yang lebih tau dari Rea, kalau dibalik topeng itu ada sebuah wajah yang dipenuhi air mata, dan tangisan menjerit yang menyayat hati.


Persis seperti kemarin hari.


"Ayo keluar, Mama udah nunggu kita di luar", lirih Rea seraya mengusap rambut Levi yang acak-acakan.


Levi menolehkan kepalanya menatap jendela kamarnya yang menampilkan suasana luar. Hujan tak deras, namun mampu membuat seseorang basah kuyup bila berdiri dibawahnya.


"Dari semalam hujan terus", bukannya menjawab, Levi malah mengucapkan satu fakta nyata.


"Rejeki dari Tuhan", timpal Rea dengan mengikuti arah pandang Levi. Lalu Rea sedikit berjongkok agar bisa menatap langsung manik abu-abu yang selalu bisa membuatnya mabuk.


"Should I be grateful?", tanya Levi seraya menatap Rea yang terbalut gamis berwarna hitam serta kepalanya yang tertutupi sehelai kain dengan warna senada.


Rea tersenyum lemah, "Yes, you should."


"But, I can't."


Rea menangkup wajah Levi yang hendak kembali menunduk. Tak kan Rea biarkan laki-laki itu larut dalam kesedihan sendirian.


"Kamu punya aku, dan anak kita", Rea meletakkan telapak tangan besar Levi di atas perutnya, "Kita bisa lewati ini semua, iya kan?", tambahnya dengan mengelus kantung mata Levi yang tampak membesar dan menghitam.


Levi memandang intens wajah cantik istrinya yang tampak mendung hari ini.


"Sayap aku udah patah sebelah, aku enggak bakal bisa terbang lagi", ujar Levi penuh makna.


Rea mengulas senyum tipisnya, "Bisa, pakai pesawat", canda Rea seraya merapikan rambut Levi agar terlihat ganteng. Ralat suaminya itu memang ganteng, sangat malah.


Levi menghela nafas pendek sembari memejamkan mata. Menikmati usapan lembut sang istri pada kepalanya.


"Ayo, kita keluar", dengan sebelah tangannya yang menggenggam erat tasbih. Levi menarik pelan Rea untuk bangkit berdiri. Dan membawa perempuan yang teramat dicintainya itu melihat untuk terakhir kalinya bidadari yang sudah membuat hatinya patah.


Terbelah dua, hingga mati rasa.


Saat pintu berwarna coklat itu sudah terbuka sempurna. Lantunan ayat suci Al-Quran seketika terdengar memenuhi seluruh penjuru rumah. Bergema ke seantero, mendamaikan hati yang tengah kalut.

__ADS_1


Rintik hujan, seakan menjadi musik pengiring kesedihan yang mendalam ini.


Langkah kaki Rea berhenti ketika merasakan Levi yang terpaku. Mematung di ambang pintu dengan tangan yang menggenggam erat telapak tangan Rea.


Urat-urat lehernya tercetak begitu jelas, seakan kulit Levi itu sangat lah tipis. Garis rahangnya mengeras dengan pandangan yang tajam.


Sampai-sampai Rea dibuat gemetar ketakutan olehnya. Rea seakan melihat Levi waktu di halaman belakang sekolah malam itu. Bak malaikat pencabut nyawa, yang tak memberi ampun mangsanya. Beringas, dan menyeramkan.


Namun Rea memberanikan diri mengelus punggung tangan Levi, "Istighfar, serahkan semuanya pada yang kuasa", bisiknya pelan.


"Seenggaknya sekarang Mama udah enggak sakit lagi. Mungkin ini yang Mama inginkan. Sekarang kita cuma bisa doain beliau, agar tenang di sisi-Nya", lanjut Rea yang ampuh membuat Levi melunak.


Hati Rea seakan teriris ketika Levi menoleh menatapnya dengan mata yang memerah menahan tangis.


"I'm not strong", lirih Levi dengan suaranya yang terdengar bergetar. Lalu Levi melepaskan genggamannya dan hendak berbalik masuk ke dalam kamar.


Sontak Rea terkejut, "Kamu mau kema-"


"Levi!."


"Üzülme biz burdayız."¹


Seorang wanita paruh baya berwajah timur tengah tiba-tiba datang dan memeluk Levi. Mencegah cowok itu untuk kembali mengurung diri dalam kamar.


"Oma?."


Oma?, apakah itu nenek Levi dari pihak Ayla.


"Temui Mama kamu untuk terakhir kalinya."


Rea kaget saat mendengar Oma Levi yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan begitu fasihnya. Walau logatnya sedikit terdengar aneh.


Ah, Rea lupa kalau keluarga ibu mertuanya itu dulu pernah tinggal cukup lama di Indonesia.


"Percuma kalau mata Mama enggak bisa lihat Levi."


"Tapi yang penting kamu bisa lihat Mama kan?."


Aergul, Oma Levi langsung menoleh ketika tau ada seseorang yang berdiri di belakangnya.


Matanya naik-turun menilai Rea dari atas sampai bawah.


"Bu senin karın mı?"²


Levi berdehem singkat sebagai jawaban untuk pertanyaan Oma nya.


Rea tersenyum kikuk menatap wajah sembab yang memandangnya penuh nilai. Lalu tanpa di duga tubuh tuanya sudah memeluk Rea dalam dekapan hangatnya.


"Cantik. Oma titip Levi ya", bisik Aergul pelan yang dibalas anggukan kecil dari Rea.


"Büyükanne, her şey hazır."³


Suara bariton itu menginterupsi tiga orang yang ada disana. Aergul menguraikan pelukannya dan mengangguk pada laki-laki jangkung yang tak kalah tampan dari Levi.


Sepertinya itu adalah salah satu sepupu Levi. Keluarga Levi dari Turki memang rata-rata hadir semua. Sedangkan dari keluarga Devora, hanya paman dan beberapa saudara jauh Levi.


Sementara keluarga Rea sudah mulai menginap di rumah mereka sejak kemarin. Setelah Rea memberitahu kabar duka tersebut.


"Ayok Levi", ajak Aergul.


"Tapi Oma-"


"Jangan keras kepala Levi", tanpa sadar Rea kesal dan membentak suaminya tersebut.


Rea tau kalau Levi itu tengah bersedih. Tapi dengan cara tidak ingin menemui Ayla bukanlah satu hal yang baik.


Levi menghela nafas dan berjalan lebih dulu. Membuat ketiganya menggelengkan kepala pelan.


...###...

__ADS_1


"Boleh saya sujud di kaki ibu saya untuk terakhir kalinya, Ustadz?", permintaan Levi membuat semua orang yang berada di ruang tengah itu sontak menatap kearahnya.


Seorang laki-laki yang duduk bersimpuh di dekat tubuh yang terbujur kaku, wajah pucatnya yang ditutupi oleh sehelai kain berwarna putih. Menampakkan matanya yang terpejam erat.


Membunuh semua harapan Levi. Membuyarkan segala pemikiran Levi yang hanya menganggap ini cuma sebuah mimpi.


Ini nyata, Mama nya sudah tiada.


Sebelum Pak Ustadz dapat berbicara, Levi lebih dulu memegang kaki Ayla yang sedingin es. Mencium telapak kaki wanita yang sudah melahirkannya delapan belas tahun yang lalu. Membesarkannya hingga sampai di detik ini. Yang selalu mendukung apapun keinginannya.


Bidadari nya. Wanita pertama dalam hidupnya yang sangat Levi cinta dan sayangi.


"Maafkan Levi Ma. Maafkan semua kesalahan Levi", lirih Levi pelan tanpa melepaskan bibirnya dari telapak kaki sang ibu, "Maafkan Levi yang jarang luangkan waktu buat Mama. Maafkan Levi Ma, maaf."


Rea menundukkan kepalanya seraya menggigit bibir bagian dalamnya. Mencegah isakan nya yang hampir saja lolos. Hatinya tak kuat melihat Levi yang kembali rapuh seperti itu.


Seperti kemarin saat pertama kali Levi mendengar kalau Ayla sudah tiada. Bahkan cowok itu mengamuk tak menerima. Menghempas dan membanting semua barang yang ada.


Kalau saja tak Rea cegah pada hari itu. Mungkin Levi yang sedang sakit akan nekad menjemput jenazah Ayla di Amerika.


Bukannya apa-apa, Rea hanya tak ingin mengambil resiko dengan kondisi Levi yang tengah kalap dan sakit.


Hingga tadi malam, jenazah Ayla sampai di Indonesia. Levi kembali meraung dan meminta untuk Ayla agar dapat membuka matanya.


Levi benar-benar gila karena kehilangan.


Segala rangkaian pemakaman sudah berlalu dengan lancar. Penuh dengan air mata dan lantunan ayat suci Alquran.


Satu-persatu langkah kaki pergi meninggalkan undukan tanah yang masih basah itu. Hingga di detik dimana hanya ada Levi dan Rea yang tersisa di bawah pohon kamboja yang menaungi peristirahatan terakhir Ayla.


Tak ada lagi air mata dan isakan pilu yang terdengar dari Levi. Cowok itu hanya berjongkok dan mengelus batu nisan yang bertuliskan nama sang ibunda.


Namun tak ada yang lebih tau dari Rea, kalau di balik kacamata hitam itu ada sepasang manik indah yang tengah berkabut sendu. Dan tak ada yang tau kalau di dalam sana, Levi tengah menjerit tertahan. Berantakan, hancur, dan kehilangan arah.


"Levi-"


"Mama pergi sebelum ngeliat cucu nya", potong Levi yang membuat Rea kembali bungkam.


"Katanya mau sehat, mau liat cucunya, tapi kok malah pergi sih Ma", keluh Levi yang terdengar kesal, "Mana jauh lagi pergi nya."


Rea mendongakkan wajahnya ketika matanya lagi-lagi berembun. Rea tak mengenali suaminya.


"Kapan kita bisa makan sushi bareng?, butik langganan Mama ada ngeluarin produk terbaru", cerocos Levi seakan jenazah yang ada di bawah sana dapat mendengarnya.


Untuk beberapa saat kemudian suasana kembali hening. Hanya terdengar suara semilir angin sejuk yang menusuk tulang. Hujan sudah reda, meninggalkan jejaknya dimana-mana.


"Ma, Levi rindu."


Roboh sudah pertahanan Rea. Tangisnya kembali pecah. Dengan cepat Rea menarik tangan Levi yang sedari tadi berjongkok. Memeluk tubuh tegap suaminya yang tampak rapuh.


"Ikhlaskan. Mama udah tenang disana. Mungkin Mama udah ketemu dengan Papa di surga sana", ujar Rea dengan sesenggukan. Melirik makam yang berada tepat disamping makam Ayla. Nisan nya bertuliskan Angkasa Leon Devora.


"Mama gak adil, enggak ngajak-ngajak aku."


Tuhan, daripada begini, lebih baik kembalikan suaminya yang dingin dan cuek saja.


Rea tak sanggup melihat Levi yang rapuh dan putus asa begini.


"Rea, sekarang aku benar-benar yatim-piatu."


...~Rilansun🖤....


1 (Jangan sedih nak, ada kami disini)


2 (Apakah ini istri kamu?)


3 (Nenek, semuanya udah siap)


...Huhu, sorry kalo gdpt feelny. Makasih banyak" buat yg udah sedia bc. smlm ada yg komen, 'jangan pergi thorr'😀. Tenang gabakal pergi aku tuh sblum Rearin end🙂. Love you so much buat yg udh dukung dn bc. I'm so proud of u😘💞...

__ADS_1


__ADS_2