
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Semuanya masih sama, sama-sama belajar untuk memberikan yang terbaik......
...###...
Seusai sarapan pagi yang berlangsung dengan canggung. Rea dan Levi memutuskan untuk kembali ke kamar lalu melakukan kesibukan masing-masing. Mereka tidak sekalipun berbicara satu sama lain. Seperti dua orang asing yang hidup di bawah satu atap.
Cowok itu kini bersiap-siap untuk pergi berangkat kuliah. Dan Rea yang juga ikut mempersiap diri untuk berkunjung ke rumah orang tuanya.
Hari ini Zhein, Vina dan Renata akan datang. Dan Rea ingin melepaskan rindu pada Oma dan Opa nya itu.
Mungkin saja, para orang tua itu akan kecewa juga kepadanya seperti Papi dan Bunda nya. Rea hanya berharap jika tidak ada lagi air mata yang jatuh hari ini.
"Ah", Rea tersentak dari lamunannya saat kancing terbawah dari kemeja yang ingin dikancingkan nya tiba-tiba saja terjatuh lepas.
Levi yang sedang menyusun perlengkapan kuliahnya pun sontak menoleh saat mendengar teriakan kecil Rea. Cowok itu lantas berjalan menghampiri istrinya tersebut.
"Kenapa?."
Rea yang hendak melepaskan kemeja yang dipakainya pun terjengit kaget. Membalikkan badannya dan menatap horor Levi yang berdiri di belakangnya. Dengan wajah datar ciri khasnya.
Hampir saja Rea lupa kalau sekarang ia tinggal bersama Levi dalam satu ruangan yang sama. Untung saja bajunya tidak jadi terlepas.
"Enggak ada", jawab Rea seraya berusaha menutupi perutnya yang sedikit terlihat karena kancing kemejanya yang lepas. Rea memang memakai kemeja pendek berwarna merah yang berbahan karet. Yang sangat nge-pas di badannya.
Levi melirik ke arah tangan Rea yang menutupi perutnya. Lalu matanya tak sengaja menatap satu kancing kecil berwarna putih yang berada di lantai. Kontan Levi kembali memandang Rea yang terlihat menunduk.
"Duduk", Levi menyuruh Rea untuk duduk di atas sofa kecil yang ada di depan ranjang.
Membuat Rea refleks mengangkat pandangannya dan menatap bingung suaminya itu. Ditambah dengan Levi yang berjalan ke arah meja rias dan mengambil satu kotak berukuran kecil dari dalam laci.
Levi yang melihat Rea tidak kunjung duduk pun langsung menarik perempuan itu dengan pelan. Mendudukkannya di atas sofa.
"Kamu....mau ngapain?", tanya Rea ketika melihat Levi mencoba untuk memasukkan benang ke jarum.
Cowok itu hanya memandang sekilas Rea sebelum mengambil kancing yang jatuh tadi lalu berjongkok di depan istrinya.
"Eh, kamu mau ngapain?!", Rea terpekik saat Levi dengan tiba-tiba menunduk dan menatap ke arah perutnya.
"Jangan berisik", ujar Levi yang terkesan datar. Lalu ia mulai menjahit kembali kancing kemejanya Rea. Membuat ibu hamil satu itu menahan nafasnya karena kedekatan mereka yang menurutnya sedikit eum, membingungkan.
Levi yang melihat Rea menahan nafasnya pun lantas memandang istrinya itu dengan kesal.
__ADS_1
"Nafas!", titah Levi dengan tegas.
"Hah?", Rea memandang cengo Levi.
"Nafasnya jangan ditahan", tambah Levi guna memperjelas maksudnya tadi.
Mendengar itu sontak Rea langsung menggerutu dengan kesal di dalam hatinya. Bagaimana bisa ia tidak menahan nafas kalau tangan Levi secara tak sengaja terus saja menyenggol permukaan kulit perutnya. Ada sengatan listrik yang membuatnya merasa geli seketika.
Sebaik mungkin Rea berusaha untuk rileks dan bernapas dengan normal.
Tanpa sadar, kedua sudut bibir Levi sedikit tertarik ke atas. Mengapa Rea bisa sangat menggemaskan.
"Eeh, jangan dekat-dekat", ujar Rea histeris saat melihat Levi yang semakin mendekat ke arah perutnya. Kemudian ia kembali menahan nafas ketika Levi ingin menggigit benang yang tersisa.
Ya Tuhan, tolong kirimkan pintu kemana saja untuknya sekarang juga. Rea ingin segera membenamkan dirinya di segitiga bermuda.
Setelah selesai menjahit kembali kancing kemeja Rea. Levi tak beranjak, cowok itu tetap memposisikan dirinya seperti tadi tanpa bergerak sedikitpun.
Membuat Rea semakin kalang kabut dibuatnya.
Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan suasana hening yang terjadi. Sebelum satu kecupan dari Levi membuyarkan segalanya.
Cowok itu, mencium permukaan perutnya dengan lama.
Dengan mata yang terpejam Levi melayangkan kecupan-kecupan ringan untuk sang anak. Ini adalah kedua kalinya Levi menyapa malaikat kecilnya secara langsung. Dan rasanya tetap sama, menenangkan dan hangat.
Kaget, Rea sangat kaget dengan tindakan Levi yang tiba-tiba.
"Maaf karena udah buat kalian berdua susah", tambah Levi yang seketika membuat Rea tertegun. Mengapa cowok itu tiba-tiba emosional.
"Semuanya udah di atur", sahut Rea tanpa sadar.
Membuat Levi semakin merasa menyesal setelah melihat ketegaran Rea yang patut diacungi jempol. Namun ini adalah penyesalan yang Levi harapkan.
Lalu Levi melepaskan pelukannya dan mencium sekali lagi permukaan perut Rea, "I love you", gumamnya entah tertuju kepada siapa.
Tapi Rea yakin jika itu ditujukan untuk kandungannya.
Kemudian Levi bangkit berdiri lalu menatap istrinya itu dengan datar, "Buka baju lo", pinta Levi yang membuat Rea kembali membola kan matanya.
Apa kata cowok itu tadi, buka baju?.
Hei, apa yang ingin dilakukan oleh serigala licik tersebut.
__ADS_1
Rea menggelengkan kepalanya sambil menyilang kan kedua tangannya di depan tubuh, "Enggak", tolaknya tegas.
Levi mendengus kasar lalu tanpa menunggu lama lagi ia segera menyingkirkan tangan Rea dan membuka satu-persatu kancing kemeja cewek tersebut.
"Saya enggak mau, lepas", Rea berusaha mengelak tangan Levi yang ingin membuka pakaiannya. Apa-apaan cowok itu.
Lalu Levi menatap Rea dengan tajam, "Diam atau gue buka semua baju lo", ancamnya yang langsung membuat Rea diam tak berkutik.
Levi kembali melanjutkan kegiatannya membuka kancing kemeja Rea. Setelah itu Levi melepaskannya dengan susah payah karena Rea merapatkan kedua tangannya.
"Mau gue buka beneran semuanya?", Levi mendekatkan wajahnya ke dada Rea yang tertutup sebuah pakaian dalam berwarna hitam. Dari sini Levi bisa melihat dengan jelas betapa mulus dan putihnya kulit Rea.
Mendengar itu Rea sontak menggeleng dengan cepat. Dan mengendurkan tangannya, membuat aksi Levi berjalan dengan mulus.
Rea memejamkan matanya saat kemejanya sudah terbuka dan dilempar oleh Levi ke lantai. Ia tak ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.
Walaupun sudah sah, tapi jujur Rea belum siap jika disuruh untuk memberikan hak Levi yang ada pada dirinya.
"Pakai."
Rea membuka matanya dan mendapati Levi yang menyodorkan sebuah hoodie berwarna navy berukuran oversize padanya.
"Untuk siapa?", tanya Rea bingung. Entah mengapa otaknya tiba-tiba ngelag.
"Untuk anak kita", jawab Levi asal dan memakaikan hoodie itu ke tubuh Rea.
"Jangan pakai baju spiderman gitu lagi", ujar Levi. Sebenarnya ia kesal saat melihat Rea yang memakai baju ketat yang membentuk postur tubuhnya itu. Walau tidak begitu terlihat jelas. Tapi tetap saja namanya ketat.
Rea semakin dibuat bingung oleh Levi saat cowok itu dengan entengnya menggerai rambutnya yang tadinya tercepol ke atas.
Apakah Levi tidak tau kalau itu bisa membuatnya gerah. Tapi Rea tak ingin memperpanjang masalah. Sampai di rumah orang tuanya nanti, Rea pasti akan berganti pakaian. Ia bukan orang gila yang memakai pakaian panas seperti itu dengan rambut yang tergerai di cuaca yang terik seperti ini.
"Nanti bakal ada orang yang dateng buat bersihin rumah. Jadi lo enggak perlu khawatir. Dua hari lagi guru privat lo bakal datang. Dan gue harap lo senang. Ini kartu gue, pakai sepuas lo."
Rea mendongakkan kepalanya dan menatap sebuah kartu kredit berwarna platinum yang disodorkan oleh Levi.
"Enggak perlu, saya bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri", tolak Rea.
"Jangan buat dosa gue tambah karena enggak nafkahin lo", Levi dengan paksa menarik tangan Rea dan meletakkan kartu itu di atas tangan istrinya tersebut.
"Ayo, gue antar ke rumah Papi", ujar Levi dan berjalan mengambil tas nya yang berada di atas sofa.
Rea lantas bangkit dan memasukkan kartu itu dengan sedikit kikuk ke dalam dompetnya. Semuanya masih terasa sangat canggung. Ini benar-benar aneh bagi Rea.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....
Janlup laik yaw🤧