Rearin

Rearin
Mimpi buruk


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Penyesalan dalam hidup ku adalah, ketika aku kembali berharap disaat kamu belum tentu menetap......


...###...


Rea membuka matanya dengan perlahan saat merasakan tidurnya terusik. Matanya melirik ke arah jam yang ada di atas nakas. Lalu menoleh ke samping, dimana suaminya itu berada.


Namun sedetik kemudian Rea langsung mendekati Levi saat melihat cowok itu yang berteriak dan meracau tak jelas dalam tidurnya.


"Jangan tinggalin Levi, Papa...."


"Jangan, jangan pukul Mama. Jangan tinggalin Levi Ma...."


Rea tertegun saat melihat sudut mata Levi yang berair. Mimpi buruk seperti apa yang menghampiri alam bawah sadarnya. Hingga cowok dingin seperti Levi pun bisa menangis dalam tidurnya.


"Papa mau kemana?, jangan, jangan bawa Papa. Papa....!"


Rea terkesiap saat mendengarkan teriakan Levi yang nyaring. Entah mengapa, mendengar teriakan pilu itu Rea merasa hatinya tersayat begitu dalam. Membuat air mata turun begitu saja sebagai bentuk ekspresi kesakitan yang ada di hatinya.


Lantas Rea memegang wajah Levi yang sudah berkeringat dingin. Mengelus pipi nya seraya berbisik, "Levi."


Bukannya tenang, Levi justru semakin agresif dengan mencengkram tangan Rea yang memegangi wajahnya. Seraya terus meracau, Papa jangan pergi.


Tanpa pikir panjang lagi, Rea langsung menarik kepala Levi. Membenamkan wajahnya di dadanya. Membuat teriakan cowok itu teredam.


Sapuan halus yang Rea berikan di kepala serta punggungnya. Berhasil membuat Levi tenang dan berhenti memberontak. Namun mulutnya terus saja menggumamkan kata-kata yang mampu menyayat hati tersebut.


Ini pertama kalinya Rea melihat Levi yang seperti itu setelah mereka menikah. Apa penyebab Levi bisa mendapatkan mimpi buruk itu. Apakah karena mereka pulang ke kediaman Devora tadi. Membuat cowok itu kembali mengenang masa lalu.


"Enggak akan ada yang ninggalin kamu", bisik Rea dengan tangan yang setia bergerak mengelus surai hitam suaminya.


Beberapa detik kemudian, racauan Levi tak lagi terdengar. Rea pun lantas menjauhkan wajah tampan yang tampak terlelap damai itu. Menghapus jejak air mata yang berada di sudut mata Levi. Menyeka keringat dingin yang membanjiri wajahnya.


Lalu satu kecupan mendarat sempurna di kening suaminya tersebut.


"Kamu yang cengeng", ujar Rea pelan dan tanpa sadar tersenyum.


"Diam."


Rea membelalakkan matanya saat melihat netra abu-abu itu menatapnya datar. Apaan, berarti dari tadi cowok itu tidak benar-benar terlelap.


Ya Tuhan, berarti tadi Levi mengetahui kalau Rea mencium keningnya. Mati lah, ingin ditaruh dimana wajahnya sekarang.


"Kamu..."


"Jangan berisik", potong Levi dan kembali membenamkan wajahnya di dada Rea. Memeluk dengan erat tubuh istrinya tersebut.

__ADS_1


Rea hanya bisa menghela nafas. Kalau sudah begini, ia hanya bisa pasrah. Berdebat dengan Levi itu sama aja tak ada gunanya. Sebab cowok itu tidak akan mau mendengarkan sama sekali apa yang kita bilang.


Benar-benar keras kepala dan pemaksa.


Mata Rea yang tadinya ingin kembali terpejam langsung terbuka lebar saat merasakan Levi yang bergerak-gerak di dadanya. Membuatnya merasa aneh sekaligus geli.


"Ih, jangan gerak-gerak, geli tau", gerutu Rea berusaha untuk mendorong Levi menjauh.


Namun bukannya menjauh, cowok itu malah semakin membenamkan wajahnya seraya memeluk Rea erat. Sambil terus menggerakkan wajahnya. Seperti tengah mencari tempat nyaman.


Melihat Levi yang tak bisa diam pun Rea dengan kesal lantas berteriak di telinga suaminya itu, "Levi!."


Levi mendongak dan menatap dengan kesal ke arah Rea, "Berisik!."


"Kamu itu yang-", ucapan Rea terjeda saat melihat Levi yang ingin membuka kancing piyama tidurnya, "Eh kamu mau ngapain?", Rea berusaha untuk menghalau tangan Levi yang telah berhasil membuka satu kancing teratasnya.


"Ck", Levi berdecak kesal lalu memandang tajam istrinya tersebut. Tanpa aba-aba Levi mencium sekilas bibir merah alami itu. Membuat si empunya tiba-tiba terdiam mematung.


Melihat kesempatan itu Levi lantas kembali membuka dua kancing piyama Rea. Setelah itu langsung membenamkan wajahnya di permukaan kulit Rea yang membuat kulit wajahnya terasa dingin seketika.


Rea seketika tersadar saat merasakan deru nafas yang menerpa permukaan kulit dada nya. Cewek itu menunduk dan melihat Levi yang seperti siap untuk kembali tidur.


"Sial-"


Cup


Membuat Rea mengurut pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Sabar, menghadapi manusia seperti Levi itu harus dengan iman yang ekstra besar.


"Elusin", Levi mengambil sebelah tangan Rea dan meletakkannya di atas kepalanya. Menyuruh cewek itu untuk mengelus kembali rambutnya seperti tadi.


Rea menggerutuk kan giginya seraya mengelus surai suaminya itu.


Membuat Levi diam-diam tersenyum dalam dekapannya.


Beberapa menit kemudian, Rea bisa merasakan nafas Levi yang mulai teratur. Menandakan jika cowok itu sudah terbang ke alam mimpi.


Rea yang juga ingin memejamkan matanya pun ter-urung kembali saat melihat ponsel Levi yang berada di atas nakas berbunyi. Sepertinya ada yang mengirimkan pesan.


Rea yakin itu pasti adalah orang yang sama dengan yang sering menelpon Levi. Merasa penasaran pun Rea lantas ingin meraih ponsel tersebut. Namun pergerakannya malah membuat Levi terbangun.


"Udah malam, tidur", ujar Levi dan kembali memeluknya dengan erat.


Membuat Rea hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya dengan segala perasaan penasaran yang menghantuinya.


...###...


Kegiatan Rea yang sedang membersihkan ranjang pun ter-interupsi dengan suara deringan ponsel Levi yang sedari tadi berbunyi. Rea sudah berulang kali mencoba untuk mengabaikannya. Namun kali ini Rea merasa jika rasa penasarannya tidak bisa lagi ditunda.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan Rea mengitari ranjangnya dan mengambil ponsel Levi yang terletak di atas nakas. Cewek itu menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Memastikan jika suaminya itu belum siap mandi.


Rea memejamkan matanya sebelum menatap layar ponsel Levi. Sumpah Rea merasa jika dirinya sekarang sudah seperti maling. Membuat tangannya bergetar ketakutan saat menyentuh sesuatu yang bukan miliknya.


Rea melihat sebuah notifikasi pesan yang berada di lock screen. Sebuah pesan tanpa nama. Merasa tak sabar, Rea lantas menggeser layar ponsel itu ke atas. Untung saja ponsel Levi tidak kunci. Memudahkan aksinya untuk mengecek ponsel suaminya tersebut.


Hei, tunggu dulu. Mengapa sikap Rea sekarang seperti seorang istri yang sedang mencurigai suaminya. Ah, persetan. Yang penting rasa penasarannya terbayarkan.


Belum sempat Rea membuka pesan tersebut. Sebuah panggilan tanpa nama memenuhi layar ponsel.


Dengan takut-takut Rea mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkan ponsel itu ke arah telinganya.


"Hal-"


"Levi kamu jadikan temani aku ke dokter kandungan hari ini?."


Deg


Suara lembut yang memotong ucapannya itu berhasil membuat jantung Rea terasa berhenti berdetak. Kakinya yang lemas seolah tak mampu menahan berat badannya. Tangannya yang berkeringat dingin. Serta bibirnya yang tak mampu berkata-kata lagi.


Apa yang dimaksud oleh cewek yang berada di seberang sana. Dokter kandungan apa?, siapa cewek itu?. Dan mengapa dia harus meminta Levi untuk menemaninya pergi check-up.


"Halo?, Levi?."


Rea tersentak saat suara itu kembali terdengar di telinganya. Tanpa aba-aba lagi Rea langsung mematikan sepihak panggilan tersebut. Memejamkan matanya, membuat air mata lolos begitu saja.


Rea tak tau mengapa, tapi hatinya sakit sangat sakit. Seperti ada ribuan anak panah yang menancap kuat di hatinya.


Ceklek


Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Rea lantas menaruh kembali ponsel Levi ke tempat semula dan dengan cepat menghapus jejak air matanya. Rea tak ingin Levi mencurigainya yang tidak-tidak.


"Kenapa?", Levi berdiri dihadapannya seraya mengusap rambutnya dengan handuk kecil. Menatap bingung istrinya yang terlihat murung dan sedih.


Rea menatap Levi dan menggelengkan kepalanya dengan singkat.


Setelah itu tanpa berkata apapun lagi. Rea berjalan melewati Levi dan berlalu keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Levi dengan segala pertanyaannya.


Rea berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang gontai. Lalu cewek itu mendudukkan tubuhnya di anak tangga yang ketiga. Menyandarkan tubuhnya di besi pembatas.


"Kenapa?", air mata itu kembali turun dengan tak tau malunya. Sangat deras hingga Rea malu pada dirinya sendiri.


Mengapa hatinya sangat sakit. Seharusnya Rea tak berharap banyak pada Levi yang belum tentu menetap. Seharusnya Rea sadar jika pernikahan ini tidak di landasi oleh cinta. Mungkin Levi mengatakan kalau cowok itu mencintainya. Namun hati siapa yang tau.


Kemudian Rea menyentuh permukaan perutnya. Tangisnya kembali menderu saat mengingat jika pernikahannya baru seumur jagung. Dan ada sebuah nyawa kecil yang tengah tumbuh di dalam perutnya.


Haruskah pernikahan ini berakhir sementara baru saja dimulai. Jika harus, maka ini adalah sebuah mimpi buruk dalam hidupnya.

__ADS_1


...~Rilansun🖤....


__ADS_2