Rearin

Rearin
Sakitnya tak berbalas


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Kita bukan Tuhan yang bisa nentuin harus ke siapa hati kita jatuh. Tapi kita lah yang memegang kendali penuh, menetapkan hati pada satu orang sampai ada kata sudah dari Tuhan......


...###...


"Jangan gangguin cewek gue lagi, kalau lo masih mau hidup", Levi berbisik lirih di telinga perempuan yang berada dihadapannya sekarang.


Cewek yang matanya ditutup dan tangannya diikat itu pun lantas bertanya dengan gemetar, "Si-siapa cewek lo?."


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening sebelum Levi menjawab dengan datar, "Rearin."


Celine yang mendengarnya sontak terperanjat kaget, "Re-rea?", tanyanya tak percaya.


Siapa cowok yang menculiknya itu?. Apakah benar pacar dari Rea?. Tapi sejauh yang Celine tau, Rea tidak pernah pacaran atau terlihat memiliki teman cowok.


Tapi tunggu, bukankah ada satu laki-laki yang menaruh hatinya pada Rea. Mencintai cewek itu dalam diam. Serta menjaganya dari kejauhan. Dan laki-laki itu adalah...


"Levi?."


"L-lo Levi?, lo nyulik gue Lev?", Celine bertanya dengan terbata-bata. Jika dugaannya benar, maka rasa dan perjuangannya selama ini akan sia-sia. Cowok yang sampai detik ini masih mengisi penuh relung hatinya, malah menculiknya dan mengancamnya untuk tidak mencari perkara dengan saingannya sendiri. Apakah ini waktunya Celine berhenti.


Walau mereka tumbuh bersama sedari kecil. Tapi tidak banyak yang Celine tau tentang Levi. Bahkan suaranya saja Celine tidak bisa mengenalinya dengan baik. Mengingat kalau Levi yang sedari kecil memang sudah irit bicara. Sampai Celine dulu sempat mengira jika Levi itu bisu.


Apakah itu tandanya mereka bukan pasangan yang tepat. Sudah lebih dari sepuluh tahun saling mengenal, tapi buktinya Celine tetap tidak bisa melelehkan benteng es yang sangat tebal tersebut. Apakah benar jika ia memang bukan matahari yang dibutuhkan oleh Levi.


Mengapa Tuhan, mengapa cintanya harus bertepuk sebelah tangan.


"Lo takut gue apa-apain Rea?. Sampai segitunya lo ngelindungi dia", Celine terkekeh miris, "Sekali aja Lev, coba lo pandang gue sebagai cewek normal lainnya. Bukan hanya sebagai teman kecil yang tumbuh bersama. Dan sekali aja Lev, coba buka hati lo buat gue", lirih Celine diakhir kalimatnya. Padahal Levi mempunyai banyak mantan. Walau semua hubungan itu tidak pernah bertahan lama. Tapi sayang, dari sekian banyaknya mantan-mantan tersebut. Celine tidak pernah sekalipun ada di dalamnya. Menjadi salah satunya.


Celine tak berharap bisa memiliki Levi selamanya. Cukup sebentar saja, jika bisa dikenang untuk waktu yang lama.


Sedangkan Levi hanya berdiri diam dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Menatap Celine yang sepertinya sedang menangis. Terlihat dari kain penutup mata cewek itu yang sedikit basah. Sebenarnya Levi benci bila melihat air mata seorang perempuan. Karena itu hanya akan mengingatkannya pada seseorang.


Namun jika air mata itu bisa menyadarkan Celine bahwa perasaannya benar-benar tidak ada untuk cewek tersebut. Maka biarkanlah.


"Apakah gak ada sedikit pun ruang di hati lo buat gue?."


"Enggak", sahut Levi cepat.


Celine terkekeh, "Kayaknya Rea benar-benar cantik banget, sampai buat lo tahan selama enam tahun terjebak dalam zona love in silent", ujarnya yang terdengar minder.


"Gue gak pandang fisik. Cantik itu relatif. Dan gue bukan Tuhan yang bisa nentuin harus ke siapa hati gue jatuh", balas Levi.


"Lo benar, kita bukan Tuhan yang bisa nentuin harus ke siapa hati kita jatuh. Tapi kita lah yang memegang kendali penuh, menetapkan hati pada satu orang sampai ada kata sudah dari Tuhan", sahut Celine seraya tersenyum miris.

__ADS_1


Levi menatap dingin Celine, "Maaf", ujarnya untuk tidak dapat membalas perasaan cewek tersebut. Ia bukan manusia yang tak memiliki hati. Terlebih ia sendiri pun paham bagaimana rasanya mencintai dalam diam untuk waktu yang cukup lama.


"Jangan minta maaf, karena kata maaf dari lo buat gue gagal untuk melupakan semuanya", tak pernah ada cowok yang mengucapkan kata maaf nan tulus seperti itu padanya. Membuat Celine semakin mengagumi sosok Levi yang gentle. Tapi sayang, sosok tersebut tidak dapat untuk dimilikinya.


Levi tak merespon. Sampai tahap manakah Celine mencintainya hingga membuat cewek itu menangis untuk dirinya.


"Nanti ada orang yang bakal ngantarin lo pulang. Dan sekali lagi gue bilang, jangan ganggu Rea. Kalau lo dendam sama gue, jangan ngelampiasin ke dia. Sampai aja gue tau, lo gak bakal bisa bayangin apa konsekuensinya. Karena pada saat itu gue gak akan mandang lo lagi sebagai teman", ultimatum Levi panjang lebar. Lalu cowok itu hendak membalikkan badannya. Namun sebuah interupsi dari Celine membuatnya kembali menghadap kearah cewek tersebut.


"Bisa lo bukain mata gue dulu?", pinta Celine.


Levi terlihat ragu, namun tak urung cowok itu menyuruh Bara untuk membuka kain yang menutupi kedua mata Celine.


Setelah kain warna hitam itu terlepas dari mata Celine. Cewek itu langsung menatap nanar ke arah Levi yang tengah berdiri gagah di depannya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Serta mata yang menyorot tajam dirinya bak elang. Sangat tampan.


"Makasih."


Levi menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan terima kasih Celine kepadanya. Untuk apa cewek itu mengucapkan hal tersebut.


"Makasih untuk segalanya", tambah Celine, "Lo tenang aja, habis ini gue gak akan gangguin lo dan Rea. Gue doain, semoga cinta lo berbalas. Biar gue aja yang ngalamin sakitnya bertepuk sebelah tangan, cowok yang gue suka jangan. Bahagia terus Lev, jangan hidup buat orang lain lagi. Jangan pura-pura tegar, kalau di dalam lo benar-benar butuh sandaran. Hidup itu luas, dan lo gak sendirian. Semoga Rea orang yang tepat untuk gantiin dia disaat yang tepat pula."


"Bahagia selalu Vino", ujar Celine kemudian dengan air mata yang jatuh setitik demi setitik. Tidak ada isak, hanya air mata yang mengalir bercerita.


Levi terhenyak. Celine itu baik, tapi perasaan cewek itu kepadanya lah membuat Celine berubah menjadi orang yang berbeda. Egois.


"Makasih Celi", ujar Levi yang refleks membuat Celine mendongak. Menatap telaga bening yang tampak kosong tersebut. Ingin rasanya mendekap erat cowok yang ada dihadapannya kini. Tapi Celine takut, jika Levi akan semakin jauh dan membenci dirinya.


Biarlah, bukankah ada yang mengatakan jika cinta itu tidak harus memiliki. Mulai sekarang, ia akan hidup normal layaknya seorang teman. Melupakan perasaannya dan menguburnya dalam-dalam. Celine bukan orang yang berhati lapang, tapi sekarang ia harus belajar untuk mengikhlaskan.


Setelah itu, Levi membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan kedap suara tersebut. Sebenarnya bukan niat Levi untuk menculik Celine, sebab ia takut akan meninggalkan bekas trauma pada Celine. Tapi jika tidak begitu, maka perasaan salah itu akan terus berlanjut. Dan akan membuat Levi semakin dirundung rasa bersalah, karena tidak mampu membalasnya.


Kemudian cowok itu masuk ke dalam sebuah lorong yang menghubungi antara rumah satu dengan rumah lainnya. Berjalan menuju tempat dimana teman-temannya berada.


"Gimana?."


Morgan menyambutnya sambil melemparkan satu buah minuman kaleng yang langsung ditangkap oleh Levi.


"Aman", jawab Levi singkat seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.


"Udah nyerah belum si nenek lampir?."


Tuk


"Mulut lo Mor, dendam banget kayaknya sama tuh cewek", ujar Ammar sembari melemparkan kaleng bekas sampai mengenai kepala Morgan.


"Anjir lo, sakit bego."

__ADS_1


"Kalau gak sakit, gak normal lo berarti."


"Eh, Bara mana?", Romi datang bersama Bryan dengan kedua tangan mereka yang masing-masing memegang makanan.


Romi memang adik kelas mereka. Namun Levi dan teman-temannya tak pernah pusing akan hal seperti itu. Karena bagi mereka tidak ada yang namanya senioritas. Semuanya sama, hanya berbeda di segi umur.


"Buruan, sebelum si maniac makan datang", Ammar mengambil alih kantong kresek yang ada di tangan Romi. Dan lima kotak pizza yang ada pada Bryan dengan cepat.


Membuka semuanya dan melahapnya sendirian. Karena jika Bara sudah datang maka jangan harap lagi mereka bisa memakannya.


Lalu Romi dan Bryan ikut duduk di samping Ammar, setelah melihat kakak kelasnya itu yang makan dengan lahap.


"Kenapa dah tuh pala benjol?", tanya Ammar saat melihat kening Romi yang terlihat sedikit benjol.


"Dipukul emak gue semalam, karena patahin pipa airnya", sahut Romi dengan ekspresi sedih yang dibuat sedemikian rupa.


"Astajim Romi, untung lo bukan anak nyokap gue, kalau gak udah dipecat lo jadi anak. Makanya cepat cari jodoh gih, kelamaan jomblo lo."


"Apa hubungannya bambank", celetuk Morgan.


"Adalah bego, kalau kita kenak pukul sama nyokap di rumah, ada pacar yang bakal ngelusin kita", balas Ammar asal.


"Gue nyari cewek harus yang golongan darahnya A", cetus Romi yang menarik perhatian ketiga cowok tersebut. Kecuali Levi yang sudah sibuk dengan ponselnya.


"Ribet lo njim", Bryan melemparkan kotak pizza yang telah kosong ke arah Romi. Untung saja cowok itu memiliki refleks yang bagus. Kalau tidak, bertambah lah telor di kening Romi.


"Eh jangan salah lo, kata Wikipedia cewek yang punya golongan darah A itu cantik pake banget", ujar Romi.


"Serah", kompak Bryan dan Ammar. Lalu kedua cowok itu kembali makan dengan lahap. Takut si duta kuliner datang dengan tiba-tiba.


Levi mendongakkan kepalanya dan melihat Morgan yang siap-siap merokok. Lalu Levi berdiri seraya berujar dengan datar, "Penyakit jangan dicari."


Setelah itu Levi berjalan sembari melemparkan kunci mobilnya kepada Ammar, yang langsung mendarat di kepala cowok tersebut, "Antar Celine, Mar."


"Mau kemana bos?", seru Bryan melihat Levi yang melangkah keluar.


"Posyandu", sahut Levi asal sebelum benar-benar pergi dari dalam rumah tersebut.


"Lah ngapain dia ke posyandu?", tanya Bryan dengan melihat ketiga cowok yang juga tengah menatapnya.


"Nyari bubur gratis kali", balas Morgan seraya menghisap batang rokok yang diapitnya.


"Itu mah lo."


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2