
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Sebelum sedingin laut lepas, setidaknya kita pernah sehangat nafas......
...###...
"Seneng banget mbak", Bik Mirna menyenggol Rea yang sedang sibuk dengan adonan yang ada dihadapannya seraya bersenandung ria.
Refleks perempuan hamil itu menoleh ke sampingnya. Menatap Bik Mirna dengan mata yang melebar dan wajah yang memerah. Sial, sejak kapan Bik Mirna datang memasuki dapur. Bukankah Rea menyuruhnya untuk mengambilkan vitamin miliknya di dalam kamar.
"Udah jadi adonannya?."
Rea tersentak dan menatap ke arah adonan yang ada didepannya. Lalu Rea perlahan menggelengkan kepalanya, "Enggak tau", sebenarnya sedari tadi ia tidak mengerjakan apapun. Tugasnya hanya melihat Mixer itu mengaduk adonan hingga mengembang.
Hari ini usia pernikahannya sudah memasuki dua bulan. Waktu berlalu dengan cepat. Dan kandungannya pun sudah memasuki usia tiga bulan. Membuat Rea semakin tak sabar ingin bertemu dengan malaikat kecilnya itu. Pada malam dirinya dengan Levi bertengkar waktu itu, Rea sangat teramat menyesali saat dirinya dengan kejamnya mengatakan hal-hal yang tak pantas kepada anaknya.
"Ini mbak, diminum dulu vitaminnya", Bik Mirna menyodorkan vitamin milik Rea beserta susu khusus ibu hamil kepada cewek tersebut.
"Makasih Bik", ujarnya tulus dan mengambil vitamin itu. Meminum susunya hingga tandas. Lalu matanya fokus menatap pada Bik Mirna yang sedang menuangkan adonan itu ke dalam loyang cetakan. Dan memasukkan nya ke dalam oven.
Entah dorongan dari mana, Rea tiba-tiba saja ingin memakan kue ulang tahun. Tapi ia tidak ingin memakan yang dijual di toko-toko. Rea mau mencoba untuk membuatnya sendiri. Tapi lagi-lagi ia lupa kalau kekurangannya terletak pada hal masak memasak.
Dan untungnya Bik Mirna bisa membuatnya. Rea sangat bersyukur dapat memiliki asisten rumah tangga seperti Bik Mirna yang serba bisa.
"Walaupun mbak lihatin terus, tuh kue enggak bakal bisa cepat mateng", Bik Mirna membuyarkan lamunan Rea yang fokus menatap ke arah oven.
Bik Mirna ikut tersenyum saat melihat lengkungan sabit yang menghiasi wajah Rea. Setidaknya cewek itu sudah terlihat lebih hidup dari pada beberapa waktu yang lalu. Dimana Rea terlihat seperti orang yang tak memiliki semangat hidup.
Bik Mirna cukup paham dengan situasi yang ada setelah mendengar suara bising-bising dari lantai atas. Dan melihat Levi yang keluar dari rumah pada malam itu.
Entah badai seperti apa yang sedang menerpa rumah tangga mereka. Dirinya hanya bisa meminta yang terbaik kepada Tuhan untuk kedua majikannya tersebut.
"Bik, tadi malam...", Rea tampak ragu untuk mengatakannya. Membuat Bik Mirna mengernyit bingung.
__ADS_1
"Tadi malam kenapa mbak?."
Rea menimang-nimang sejenak sebelum bertanya dengan pelan, "Tadi malam Levi pulang enggak?."
Bik Mirna mengulum senyum. Menambah rona merah di wajah Rea semakin terlihat.
"Pulang kok, tapi mungkin mbaknya lagi tidur kali", jawab Bik Mirna dengan tangan yang sibuk memotong sayuran.
Rea menunduk dan menganggukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona.
Tadi malam Rea memang merasakan kalau tidurnya sangat nyenyak. Dan Rea juga sempat merasakan ada yang menyentuh, mencium dan seperti berbicara di atas perutnya. Tapi karena matanya berat, Rea jadi enggan untuk terbangun dari tidurnya.
Dengan lembut tangannya jatuh menyentuh perutnya yang sudah sedikit terlihat. Mengelus sayang bakal calon anaknya. Setidaknya Levi masih mempedulikan anaknya. Dan Rea berharap kalau anak itu bisa menjadi jembatan penghubung antara dirinya dan juga Levi.
Ting tong
Lamunan Rea buyar saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Lalu matanya menatap ke arah Bik Mirna yang terlihat tergesa-gesa untuk membukakan pintu.
"Biar Rea aja Bik", Rea menghentikan Bik Mirna. Kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Matanya dibuat melebar saat membuka pintu jati tersebut dan mendapati Arinta yang berdiri dihadapannya.
Arinta tersenyum lebar menatap putrinya, "Bunda kangen banget sama kamu. Salah kamu sih, kenapa enggak pernah lagi datang ke rumah. Mentang-mentang udah nikah", omelnya lalu menyelonong masuk ke dalam. Meninggalkan Rea yang berdiri mematung di depan pintu. Mengapa Bunda nya tiba-tiba datang. Bukan karena apa-apa, Rea hanya takut kalau Arinta dapat melihat keretakan yang ada di dalam rumah tangganya.
Lalu Rea menyusul masuk ke dalam. Melihat Bunda nya yang sudah duduk santai di sofa.
"Mau minum apa Bun?", tanya Rea basa-basi.
"Kalau ada, air keran tolong", sahut Arinta dengan pura-pura menunjukkan wajah juteknya.
Rea menghela nafas. Bunda nya kalau sedang kesal emang suka begitu. Kadang-kadang membuatnya harus mengurut dada banyak-banyak.
Bukannya Rea tak ingin mengunjungi rumah orang tuanya. Sebab, mengurus dirinya sendiri saja beberapa waktu belakangan ini terasa sangat sulit. Mengumpulkan semangat hidup, keyakinan serta harapan. Itu semua ia lakukan sendirian.
Setelah Rea pergi berlalu memasuki dapur. Arinta melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu. Menatap setiap sudutnya. Hingga matanya tak sengaja menatap sebuah surat undangan yang berada di bawah meja sofa.
__ADS_1
Dengan penasaran Arinta mengambilnya dan matanya dibuat melebar seketika. Jantungnya terasa ingin copot saat membaca dua nama yang tertera di sana.
...The engagement...
...Levino & Tiffany...
Siapa itu Tiffany?, mengapa namanya disandingkan dengan nama menantunya?.
"Ini, Bun", Rea meletakkan segelas jus jeruk dan beberapa potong kue yang baru saja diangkat oleh Bik Mirna barusan.
Arinta mendongak, menatap ke arah Rea yang duduk disampingnya.
"Ini apa Rea?", suara Arinta yang terdengar marah membuat Rea tersentak dari kegiatannya bermain ponsel.
Lalu cewek itu menatap ke arah satu buah surat yang ada ditangan Arinta.
"Itu apa Bun?", Rea malah balik bertanya. Sebab ia tak mengerti. Surat undangan siapa yang dipegang oleh Bunda nya.
"Coba kamu lihat", Arinta berdiri dan melempar surat itu ke atas meja. Membuat Rea dengan cepat mengambilnya. Dan nafasnya terasa berhenti seketika. Detak jantungnya pun terasa ikut berhenti berdetak.
Ternyata surat itu, adalah surat undangan pertunangan antara Tiffany dan Levi, suaminya.
Apa yang harus dilakukannya. Kejutan ini terlalu mendadak. Membuat hatinya tak siap untuk menerima.
Kebahagiaan singkat yang dirasakannya begitu dengan cepat diambil oleh Tuhan.
Awalnya tujuan Rea membuat kue ingin merayakan anniversary dua bulan pernikahan mereka. Walaupun hanya Rea sendiri yang harus merayakan nya. Tapi setidaknya doa nya dapat didengar oleh Tuhan.
Karena pada saat ini, yang Rea harapkan hanyalah campur tangan Tuhan.
Lalu Rea tiba-tiba merasa jika rohnya seketika pergi dari raganya. Pandangannya tak beraturan. Hingga kegelapan itu mengambil alih sepenuhnya atas kesadarannya.
Hanya suara Arinta yang berteriak memanggil namanya yang terkahir kali dapat memasuki indra pendengarannya.
__ADS_1
Rea benar-benar lelah.
...~Rilansun🖤....