
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Membiarkan air mata bercerita dilarut nya malam yang gelap gulita......
...###...
Cup
Satu kecupan lembut Levi daratkan pada permukaan perut datar Rea yang terpampang jelas dihadapannya. Setelah mendapatkan pelepasan yang sangat memuaskan.
"Semoga berhasil", gumamnya pelan dan kembali melayangkan kecupannya di atas perut Rea. Cukup lama berada di sana, sebelum cowok itu menegakkan badannya. Menatap perempuan yang berada di bawahnya yang seperti mayat hidup. Seperti sudah pasrah dengan hidupnya.
Dari awal sampai akhir pergulatan panas mereka, Rea hanya menatap ke arah balkon. Tak bergerak sama sekali. Bahkan tidak bersuara. Hanya air mata yang terus-menerus keluar dari sudut mata cewek tersebut. Menunjukkan kerapuhan perempuan yang sesungguhnya. Membiarkan air mata bercerita dilarut nya malam yang gelap gulita.
"Maafin gue", lirih Levi seraya mencium sudut mata Rea. Menghapus air mata yang masih mengalir. Melihat Rea yang seperti itu entah mengapa membuat hatinya terasa sakit. Seperti ada belati tajam yang tertancap kuat di dalam hatinya. Menusuknya berkali-kali, hingga mengeluarkan banyak darah. Membuat dadanya sesak tak tertahan.
Sebelum benar-benar beranjak dari atas tubuh Rea. Levi menyempatkan untuk mencium pipi wanitanya itu sembari mengelus pelan perut Rea. Berharap jika benihnya bisa tumbuh menjadi janin suatu hari nanti.
Kemudian cowok itu melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh atletisnya.
Setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Rea sontak memejamkan matanya. Membuat air mata yang menggunung di pelupuk mata seketika luruh begitu saja. Turun membasahi wajahnya.
...###...
Levi menundukkan kepalanya dengan air shower yang mengguyur nya dari atas. Membersihkan tubuhnya dari keringat dan dosa.
"Dosa?", Levi terkekeh kecil, "Lo dosa karena udah buat dia nangis Levi. Lo pecundang", tambahnya dengan tangan yang mencengkram erat dinding keramik kamar mandi. Matanya memerah bila mengingat air mata yang terus turun dari telaga bening itu. Levi dibuat teringat kembali pada penolakan yang sangat memalukan tersebut.
Apakah seburuk itu dirinya?. Sampai-sampai ditolak berulang kali.
Sebenarnya siapa yang salah?. Dirinya kah atau cintanya yang tak pernah padam untuk Rea. Sudah banyak wanita yang Levi pacari untuk menghapus Rea dari hatinya. Tapi semua hubungan itu tidak akan pernah bisa bertahan lama. Paling lama cuma satu hari. Itu pun karena Levi lupa memutuskannya pada lima jam setelah jadian.
Kenapa begitu?, sebab Rearin masih bertahta penuh di dalam hatinya. Tidak ada satupun ruang kosong untuk cewek lain. Dan itu adalah satu hal yang Levi syukuri. Karena tidak ada perempuan secantik, sebaik, seanggun, dan sepintar Rea di dunia ini. Rearin nya tidak ada tandingan.
Tapi malam ini Levi sudah membuat netra hitam favoritnya itu terus mengeluarkan cairannya. Menangis tanpa suara. Merintih tanpa mengaduh. Membuat Levi frustasi.
Bugh
"Sialan", Levi mengumpat seraya meninju keras dinding itu dengan kepalan tangannya. Membuat darah mengalir di sela-sela jemarinya. Berjatuhan ke lantai. Membuat air yang tadinya bening berubah warna menjadi merah.
Levi terus meninju-ninju dinding sambil terus menggumamkan kata maaf. Levi menyesal karena sudah membuat Rea menangis. Namun dibalik penyesalan itu ada sebuah harapan yang sangat besar. Levi berharap kalau dari malam ini ada hasil yang diinginkannya.
Ya, Levi sangat menantikan hasil dari malam ini. Entah kapan, tapi ia sangat yakin jika benihnya pasti bisa menjadi seorang bayi.
__ADS_1
...###...
Cling
Rea membuka matanya dan menatap kearah tas selempang berwarna putih yang ada di atas nakas. Lantas Rea mendudukkan pelan tubuhnya lalu menyandar di kepala ranjang. Sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Mengambil tas tersebut dan merogoh ponselnya yang sedari tadi bergetar dengan suara yang nyaring. Entah sudah berapa banyak panggilan serta pesan yang ia dapat. Yang Rea yakini banyak berasal dari Bunda nya dan Argan.
Rea menghidupkan ponselnya dan langsung mendapatkan satu buah chat yang mengambang. Lalu Rea menekannya yang langsung membawanya ke salah satu room chat tersebut.
Anak dapat:
Woi, Rea lo kemana aja?
Semuanya pada nungguin lo nih
Bunda gak mau niup lilin, kalau gak
ada anak gadisnya.
Rea tersenyum miris membaca beberapa potongan chat-an dari Argan tersebut. Abangnya itu banyak sekali mengiriminya pesan sampai membuat Rea malas untuk men-scroll ke atas.
Lalu mata cewek itu mengerjap pelan saat mendengar ponselnya kembali berbunyi dengan nyaring.
Anak dapat:
Woi, Papi bakal ngirim anak buahnya
Lo dimana sih, ah?.
Gue capek nih ditanya terus sama mereka.
"Gawat", gumam Rea setelah membaca pesan yang barusan Argan kirim. Bagaimana jika Papi nya benar-benar menggerakkan seluruh anak buahnya untuk mencari dirinya. Lalu bagaimana jika orang-orang Papi nya itu mendapati Rea di dalam sebuah kamar hotel tanpa busana serta di temani oleh seorang cowok.
Apa yang akan dipikirkan oleh Bunda nya. Rea takut wanita itu akan pingsan karenanya. Dan Rea tak ingin hari bersejarah Arinta harus kacau karena dirinya. Rea tak mau menggantikan gelak tawa itu menjadi air mata dan penyesalan.
Lantas dengan cepat Rea mengetikkan balasan dan mengirimkannya pada Argan.
^^^Saya lagi di rumah Dita.^^^
^^^Dia sakit dan gak ada orang^^^
^^^dirumahnya.^^^
^^^Bilangin ke Bunda, saya minta^^^
__ADS_1
^^^maaf.^^^
Setelah itu, Rea lantas menutup ponselnya. Mendongakkan kepalanya keatas dengan mata yang terpejam. Dua kali sudah ia membohongi Arinta. Dan itu karena alasan yang sama. Rea merasa sangat bersalah pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Lalu Rea mengalihkan pandangannya ke arah balkon saat mendengar suara kembang api yang gemuruh di luar sana. Meletus dengan cantik di langit malam. Berbagai warna menghiasi membuat setiap orang yang melihatnya merasa kagum. Tapi sayang, keindahan itu hanya sementara. Dinikmati untuk waktu yang sangat singkat.
"Selamat ulang tahun Bunda", lirih Rea dengan tersenyum simpul. Rea yakin kembang api tadi pasti Bunda nya yang menghidupkan. Karena memang setiap tahun seperti itu. Lalu setelah perayaan kembang api usai. Mereka semua akan makan keluarga. Bercanda ria di tengah keramaian yang ada. Gelak tawa terdengar di sana-sini. Memecah keheningan malam. Sangat heboh dan menyenangkan.
Rea yang tidak suka dengan keramaian pun merasa hidup bila berada di tengah-tengah kehangatan mereka.
Namun sayang, kali ini kehangatan itu tak dirasakannya. Rea sendirian disini ditemani luka dan air mata.
"Maafin saya Bunda. Untuk kedua kalinya saya gagal menjaga diri", ujar Rea pelan dengan mata yang fokus ke langit malam. Memandangi kembang api yang masih menghiasi langit. Merekam momen itu di dalam benaknya. Untuk disimpannya sebagai kenangan. Jika kejadian ini terbongkar dan keluarganya menolak menerima kembali dirinya. Maka Rea bisa merayakan ulang tahun Bunda nya sendirian. Dengan memutar kembali letusan kembang api itu dalam ingatannya.
"Jangan benci saya Bunda", lirih Rea dengan mata yang terpejam. Membuat air mata kembali meluruh lalu memeluk dirinya yang terasa dingin.
Tok tok tok
Rea refleks membuka matanya saat mendengar ketukan di pintu kamar. Jantungnya terasa tiba-tiba berhenti berdetak. Rea takut jika yang mengetuk pintu tersebut adalah orang-orangnya Reagan.
Kemudian Rea menoleh ke arah kamar mandi. Menatap Levi yang juga tengah menatapnya. Cowok itu terlihat lebih segar dengan rambut yang basah. Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam satu dimensi yang sama. Sebelum ketukan di pintu menginterupsi mereka berdua.
Levi lebih dulu memutuskan pandangannya dan berjalan ke arah pintu. Membuka nya sedikit lalu terlihat berbicara dengan seseorang yang berada diluar.
Sementara itu Rea melilitkan selimut putih tersebut ke tubuhnya. Menutupi tubuhnya yang telah dipenuhi bercak-bercak dosa. Lalu cewek itu berusaha untuk turun. Walaupun ini bukan pertama kalinya, tapi Rea tak bisa pungkiri kalau rasa sakitnya sama seperti yang pertama kali. Bahkan lebih. Karena yang pertama, Rea akui jika dirinya juga membutuhkan saat itu. Tapi kali ini, dirinya murni di perkosa.
"Pakai."
Rea mengangkat wajahnya saat mendapati sebuah kotak persegi berukuran sedang terulur dihadapannya.
Tanpa melihat siapa yang memberikannya Rea berujar, "Bukain", titahnya. Karena kedua tangannya berada di dalam lilitan selimut. Lalu bagaimana bisa ia membuka kotak tersebut.
Levi menghela nafas pendek dan membuka kotak tersebut. Menunjukkan kepada Rea isi di dalamnya.
Wajah Rea seketika memerah saat mendapati pakaian dalam wanita lengkap dengan baju dan celana. Bagaimana bisa cowok itu segamblang ini.
"Taruh", perintah Rea lagi menyuruh Levi untuk menaruh kotak tersebut di atas kasur. Dengan patuh, Levi menuruti setiap kata Rea. Meletakkan benda tersebut ke atas kasur yang sudah menjadi saksi bisu kejadian tadi malam.
Setelah itu, Rea menapakkan kakinya ke lantai. Berjalan dengan pelan menuju kamar mandi. Tanpa berbicara atau memandang Levi sama sekali. Menganggap Levi sebagai angin yang lalu.
Levi kontan berdecak melihat itu. Mengapa mulut cewek itu berat sekali untuk meminta tolong kepadanya. Lalu tanpa pikir panjang lagi Levi segera menggendong Rea ala bridal style. Membuat cewek itu yang refleks memekik.
"Gengsian", ujar Levi datar seraya berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Rea tak menggubris. Cewek itu langsung membuang pandangannya. Ia tak ingin melihat wajah yang sangat menjijikkan itu.
...~Rilansun🖤....