
...°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Jika kita saling mencintai, lalu kenapa kita harus saling menyakiti......
...###...
Pergerakan Levi yang hendak menerobos masuk. Meraih kenikmatan surgawi yang tiada tara. Seketika berhenti saat mendengar suara ringisan pelan itu.
Gairah dan emosi nya yang tadi meluap-luap, langsung mereda.
"Akh", Rea meringis seraya memegangi perut bagian bawahnya. Memejamkan mata saat merasakan bagian itu terasa kram dan menegang.
Melihat itu refleks Levi memejamkan matanya dan memperbaiki pakaiannya. Lalu cowok itu turun dari atas tubuh Rea seraya mengumpat pelan, "Sial."
Levi khawatir, tapi untuk sekarang dirinya tidak bisa bertindak gegabah.
Cowok itu membalikkan badannya. Melayangkan pandangannya ke arah wajah Rea yang terlihat berkeringat dengan terus mengelus perutnya.
Kemudian Levi mengambil selimut yang tergeletak di lantai. Menyelimuti tubuh Rea yang setengah polos, membuat cewek itu menatap bingung Levi.
Kenapa?, bukankah tadi Levi begitu ingin menghukumnya.
Ketika Levi hendak membalikkan badannya. Tangan lembut nan ramping itu terasa memegang lengannya dengan lemah.
Levi menghela nafas panjang, sebelum menoleh ke arah Rea.
"Kena-"
"Kalau kamu mau bunuh saya, lebih baik langsung tembak saya aja. Jangan sayat-sayat saya kayak gini, sakit asal kamu tau", lirih Rea dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya.
Wajah yang memandangnya tanpa ekspresi itu membuat Rea ingin sekali memukul kepala Levi dengan vas bunga yang ada di atas nakas.
Agar Levi ingat, kalau cowok itu dulu pernah mengatakan kepadanya di hadapan seluruh keluarganya. Kalau Levi sangat mencintainya, ingin menjaganya segenap hati, melindunginya hingga akhir hayat, dan tak mengecewakan hatinya untuk yang kedua kali.
Tapi apa, ucapan laki-laki itu memang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
Levi tak berkata apa-apa, cowok itu melepaskan pegangan Rea pada pergelangan tangannya. Dan berlenggang pergi memasuki kamar mandi.
Rea yang melihat itu pun kontan memejamkan matanya. Menarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuhnya. Rea ingin sekali berteriak, meluapkan segala perasaan campur aduk yang bercokol di dalam dadanya.
Tapi hanya air mata yang mengalir turun sebagai gantinya.
"Bunda..., Rea mau pulang", gumam Rea dengan mata yang masih terpejam erat. Membuat air mata setia mengalir dengan deras.
Dulu Rea memang pernah mengatakan kepada Levi untuk melepaskannya kalau kehidupan rumah tangga mereka masih seperti itu-itu saja.
Tapi itu dulu, saat Rea belum mengenali perasaan yang tengah mendiami hatinya kini. Walau perasaan itu belum pasti. Tapi Rea yakin kalau waktu enam minggu ini sudah berhasil membuatnya jatuh ke dalam pesona seorang Levino Altan Devora.
Sehingga membuatnya takut untuk kehilangan cowok itu di dalam hidupnya.
"Bu-bunda, saya-"
Ceklek
Rea menghentikan ucapannya saat mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Tanpa mengubah posisinya sama sekali, Rea mematung seraya telinganya terus mendengar pergerakan Levi.
Namun saat mendengar suara pintu yang kembali tertutup, Rea refleks memejamkan matanya. Rea yakin itu suara pintu kamarnya yang ditutup dari luar. Lalu Rea membuka kembali matanya sembari tersenyum miris. Cowok itu pergi meninggalkannya dengan luka yang baru saja ditorehkan.
Luka itu masih berdarah, berdenyut sakit, membuatnya meringis pahit.
...###...
"Ck", Rea membolak-balikkan badannya ke kanan-kiri. Lalu decakan nya keluar begitu saja saat matanya tetap saja tak mau terpejam.
Rea menatap ke arah samping kirinya. Mengelus permukaan kasur yang biasanya di tempati oleh Levi. Semenjak pertengkaran mereka malam itu, Levi tak pernah lagi pulang ke rumah. Seminggu telah berlalu, dan selama itu pula Rea tidur sendirian.
Sebenarnya Rea sudah terbiasa, mengingat jika Levi pernah berperilaku seperti ini.
__ADS_1
Tapi entah mengapa, malam ini Rea ingin sekali melihat suaminya itu, Rea ingin tidur di dalam dekapan hangatnya, merasakan sapuan lembut itu lagi di kepalanya.
Namun itu hanya tinggal angan, apa yang bisa Rea harapkan dari pernikahan yang sudah berada di ujung ambang kehancuran.
Hanya air mata yang turun menemani, setiap kali Rea mengingat jika Levi tak berada di sisinya saat malam tiba. Mengingat kalau cowok itu mungkin sedang berada di samping Tiffany. Menemani wanita hamil itu di dalam gelapnya malam.
"Tuhan", Rea menatap langit malam yang sepi tak berbintang. Seperti dirinya yang sendirian di dalam ruangan hampa yang kelam.
"Saya berharap banyak pada-Mu", Rea memejamkan matanya, membuat cairan bening itu turun begitu saja. Mengaliri pipinya dan berakhir jatuh di bawah dagu lancipnya.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan yang tak berujung. Rea lantas mengusap air matanya. Bangkit dari atas ranjang tidurnya. Dan berjalan turun ke lantai bawah.
Sekarang Bik Mirna tinggal bersama mereka. Dan Rea merasa sedikit tak kesepian. Setidaknya masih ada orang yang bisa Rea ajak berbicara di saat-saat seperti ini.
"Belum tidur, Bik?", Rea menyentuh pelan pundak Bik Mirna. Dan itu sukses membuat wanita paruh baya itu terjengit kaget.
"Belum, mbak", jawab Bik Mirna sopan dan melanjutkan pekerjaannya membersihkan dapur.
Rea tanpa sadar mengangkat dua sudut bibirnya melihat Bik Mirna yang bersenandung ria.
Seminggu yang lalu, Bik Mirna datang ke rumah mereka dengan wajah lesu dan air mata yang masih menggantung di bulu matanya yang basah. Beliau meminta izin untuk berhenti bekerja, karena cucu nya sudah meninggal dunia. Dan Bik Mirna mengatakan kalau ia akan kembali ke kampung.
Alasan Bik Mirna masih bekerja di usianya yang senja, adalah untuk menghidupi cucunya. Tapi sekarang tujuannya sudah pergi untuk selamanya. Untuk apa ia bekerja begitu keras. Lebih baik ia tinggal di rumah, menunggu malaikat maut untuk menjemputnya.
Mendengar itu sontak saja Rea tak setuju. Tapi ia bisa apa, sebentar lagi dirinya pun akan hengkang dari rumah besar tersebut.
Tapi entah mengapa, dengan ekspresi datarnya, Levi menyuruh Bik Mirna untuk tinggal bersama mereka. Hitung-hitung untuk membantu dan menemani Rea.
Pada saat itu Rea sempat tersentuh. Namun saat kata cerai itu bergema lagi di telinganya. Seketika harapannya pupus.
Untuk beberapa waktu ke depan, Rea bukan lagi nyonya di rumah itu. Istilahnya, singgasananya akan diganti oleh seorang wanita yang lain.
"Enggak usah mbak, udah mau siap kok", Bik Mirna mengambil alih sapu yang dipegang oleh Rea. Tapi Rea tetap kekeuh untuk membantu wanita paruh baya itu.
Bik Mirna menghela nafas, "Ngapain mbak ke sini?, lapar?", seminggu tinggal bersama, Bik Mirna cukup hapal dengan kebiasaan majikannya itu.
Rea menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu mengangguk dengan pelan.
"Ya udah duduk sana", Bik Mirna mendorong Rea untuk duduk di kursi yang ada di mini bar.
Dengan patuh Rea mendudukkan tubuhnya, dan menatap lamat Bik Mirna yang sibuk di depan sana untuk membuatkannya makanan.
Sepuluh menit berlalu, dan sepiring nasi goreng beserta telur mata sapi di atasnya sudah tersaji dihadapannya. Membuat air liur Rea hampir saja menetes saat pertama kali melihatnya.
"Makasih, Bik", Rea berseru kegirangan lalu melahap nasi goreng itu dengan segera. Semenjak ada Bik Mirna, makanan Rea saat malam seperti ini lebih variatif. Tidak seperti Levi, yang hanya membuatkannya nasi goreng, dan nasi goreng.
Rea sudah berusaha keras untuk belajar memasak, tapi tetap saja ia tak bisa. Lebih baik dirinya disuguhkan oleh soal-soal matematika, daripada disuruh untuk memasak.
"Pelan-pelan, mbak", tegur Bik Mirna seraya meletakkan segelas jus untuk perempuan hamil tersebut.
Rea mengangguk acuh tak acuh. Lalu mereka terdiam tanpa ada yang bersuara. Hingga suara langkah kaki seseorang membuat kedua wanita berbeda generasi itu sontak saling pandang.
Siapa yang menyelonong masuk ke dalam rumah, di tengah malam seperti ini.
Bik Mirna lebih dulu berjalan keluar dengan memegang sapu ditangannya. Jaga-jaga kalau itu adalah maling, atau orang jahat semacamnya.
Sementara Rea menghabiskan lebih dulu nasi gorengnya yang tinggal setengah, baru pergi menyusul Bik Mirna. Kata Bunda nya orang yang mubazir adalah temannya setan. Dan Rea tak ingin menjadi temannya setan. Cukup Levi saja, dirinya jangan.
"Sia...pa-", ucapan Rea terhenti saat melihat sosok tinggi yang berjalan cuek melewatinya. Sosok yang diam-diam dirindukannya.
Hei, tumben. Biasanya Levi itu akan pulang ke rumah dua hari sekali. Dan itu pun disaat Rea sudah terlelap atau sebelum Rea terbangun.
"Ya ampun mbak, bibik kira tadi maling, rupanya si mas yang pulang", bisik Bik Mirna pada Rea yang menatap Levi pergi menaiki undakan anak tangga.
Rea mengerjapkan matanya dan menoleh ke samping, "Bik, Rea ke atas dulu ya, makasih udah buatin nasi goreng", ujarnya dan segera berlalu pergi sebelum Bik Mirna membalas ucapannya.
Membuat wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum.
__ADS_1
Siapapun bisa melihat kalau pasangan suami istri itu sedang memiliki konflik. Dan dirinya berharap, kalau masalah itu bisa diselesaikan dengan cepat.
Rea menghirup nafas panjang dan menghembuskan nya dengan pelan. Membuka pintu kamarnya dengan perlahan seraya melongokkan kepalanya ke seluruh ruangan. Saat mendengar suara gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi, Rea baru melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Rea dengan tergesa naik ke atas ranjangnya. Mendudukkan dirinya seraya menyandar di kepala ranjang. Matanya terfokus pada pintu kaca putih yang tertutup rapat itu.
Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka, menampilkan seorang cowok yang mengenakan celana pendek tanpa memakai atasan sama sekali. Membuat tato yang menyerupai sayap yang berada di dada bidang Levi, terlihat jelas. Uh, jangan lupakan enam roti sobek itu.
Levi hanya menatap Rea sekilas sebelum melangkahkan kakinya ke sofa. Mengambil laptopnya dan fokus dengan benda tersebut. Membuat Rea mendengus.
Awalnya Rea ingin berbicara baik-baik. Memecahkan masalah yang ada di antara mereka dengan kepala dingin. Entah keyakinan darimana, Rea yakin kalau saat ini ada masalah yang sedang menghantui suaminya itu. Terbukti dengan Levi yang tidak menjaga penampilannya.
Ditambah
Kalau Levi memang benar ingin menikah dengan Tiffany, pasti aura yang dipancarkan oleh cowok itu bahagia. Tapi Rea hanya melihat kesuraman dan kesedihan yang melingkupi Levi.
"Huft", Rea menghela nafas pendek dan memutuskan untuk membaringkan tubuhnya.
Sepertinya Levi memang tak ingin membagi masalah kepadanya.
Sepuluh menit berlalu, dan selama itu pula Rea tak bisa memejamkan matanya. Padahal perutnya sudah kenyang, tapi tetap saja matanya enggan untuk tertutup.
Levi yang sedari tadi diam-diam melirik Rea pun tanpa sadar tersenyum tipis. Lalu cowok itu menutup laptopnya dan berjalan ke arah ranjang.
Rea yang melihat itu pun sontak memejamkan matanya. Berpura-pura tidur.
Levi tersenyum geli. Merebahkan tubuhnya di samping Rea. Dan tanpa aba-aba menarik cewek itu ke dalam pelukannya. Membuat Rea melototkan matanya.
Ini diluar dugaannya.
"Good night, boy."
Saat mendengar ucapan itu, perasaan bahagia yang membuncah di dalam dadanya seketika lenyap.
Apa yang Rea harapkan?, seharusnya Rea paham kalau sedari awal Levi hanya mencintai anaknya. Dan kata cinta itu hanya demi mendapatkan anaknya.
Tak ingin memikirkan lebih, Rea lantas membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Setidaknya rindunya terbalaskan malam ini.
...###...
Jreng jreng
Kelopak mata itu perlahan terangkat. Menampakkan netra hitam yang menatap samar-samar.
Rea mengucek matanya saat mendengar suara yang mengusik tidurnya. Cewek itu menoleh ke arah samping. Dan mendapati sisi yang tadi ditempati oleh Levi, kosong tak berpenghuni.
Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku
Dia mau menunggu untukmu untukmu
Rea langsung memalingkan wajahnya ke arah balkon kamar yang terbuka. Disana, di tengah gelapnya malam. Ada seorang laki-laki yang duduk memangku gitarnya. Bernyanyi dengan suara merdunya. Memejamkan mata, mendongak ke arah langit. Dari tempatnya, Rea bisa melihat adam's apple laki-laki itu bergerak naik-turun.
Aku milikmu malam ini....
Kan memelukmu sampai pagi
Tapi nanti bila ku pergi
Tunggu aku di sini
Rea mengerjapkan matanya dari kekagumannya terhadap sosok yang patut dijadikan visual itu. Mendengar suaranya mengalun di udara. Bergetar dan bergerak masuk ke dalan telinganya. Memenuhi raganya. Hingga tanpa sadar kedua telaga bening itu tertutup menghayati.
"Aku milikmu malam ini?", Rea membuka matanya. Menatap objek yang sangat sayang untuk disia-siakan.
"Apakah hanya malam ini?", lirihan itu seolah bersatu dengan suara angin yang menderu masuk.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
Sorry, telat🙂