
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
... Luka yang paling parah itu adalah kehilangan orang yang sangat berharga.......
...###...
Suasana di dalam kamar yang bernuansa abu-abu putih itu hening tanpa suara. Penghuninya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga suara jangkrik yang ada di luar terdengar begitu jelas.
Rea menghela nafas panjang lalu menyampingkan badannya yang tadinya terlentang. Menghadap ke arah seorang perempuan dewasa yang tengah mengelus lembut rambut bocah laki-laki yang sudah pulas dalam pelukannya.
"Kasihan banget Anta", ujar Rea yang memecahkan keheningan yang ada.
Laily tersenyum tipis dan mengangkat pandangannya menatap keponakannya tersebut.
"Takdir udah ada yang ngatur."
Rea mengangguk pelan, "Tapi takdir terlalu kejam untuk anak sekecil Anta."
"Takdir juga kejam untuk kamu kan?."
Rea tertegun atas pertanyaan yang lebih tepatnya sebuah pernyataan itu terlontar dari mulut Aunty nya.
Rea hanya tersenyum kecil menanggapi.
Melihat kesenduan yang terpatri di wajah Rea. Laily pun mengambil sebelah tangan Rea dan menggenggamnya.
"Maaf ya, Aunty gak bisa datang pas nikahan kamu."
"Enggak pa-pa, lagipula nikahannya mendadak", sahut Rea kalem.
"Aunty kapan sampai?, kok enggak ngabarin", keluh Rea dengan bibir yang mengerucut sebal. Membuat Laily terkekeh. Sepertinya Levi memang berhasil merubah keponakannya seratus persen.
"Aunty sebenarnya udah dari seminggu yang lalu disini", baru saja Laily hendak melanjutkan ucapannya. Rea lebih dulu menyelanya cepat.
"Terus kenapa enggak kasih tau?", Rea mencebikkan bibir bawahnya membuat Laily tertawa.
"Sebenarnya mau ngasih suprise, tapi enggak jadi karena Bunda kamu yang kemarin malam tiba-tiba nelpon", jelas Laily seraya menenangkan Anta yang menggeliat dalam pelukannya.
Rea terdiam sejenak sebelum berujar pelan, "Soal Mommy Anta?."
Mendengar itu, tubuh Laily tiba-tiba menegang. Tangannya yang mengelus surai Anta, perlahan berhenti. Matanya terpaku menatap wajah mungil yang terlihat sangat damai itu.
Dan itu tidak luput dari penglihatan Rea.
"Aun-"
"Ami, peluk Anta."
Laily dan Rea tersentak saat mendengar suara kecil nan cadel itu.
Lalu Laily dengan canggung pun kembali mengelus lembut kepala Anta.
"Iya, Anta tidur lagi gih, Aunty peluk", sahut Laily.
Antalva menatap tak suka pada Laily, "No Onty, but Ami."
Laily tersenyum kecil dan mencium kening Anta sebagai respon.
Sebenarnya Laily masih bingung dengan keadaan sekarang. Dirinya tiba-tiba saja dipanggil Mami oleh anak kecil yang bahkan baru Laily kenali hari ini.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara, baik Laily maupun Rea. Mereka hanya fokus pada tubuh gempal nan mungil itu. Hingga dengkuran halus kembali terdengar.
"Kamu enggak tidur?", tanya Laily setelah sekian lama diam.
Rea menatap Aunty nya seraya mengelus perut, "Belum ngantuk."
Laily tersenyum jahil, "Jelas dong enggak ngantuk, orang yang mau ngeloni kan gak ada", godanya.
Blush
__ADS_1
Pipi Rea mendadak memerah bak tomat. Tak ingin Laily melihatnya, Rea pun lantas membalikkan badannya menjadi terlentang.
Laily tertawa keras saat melihat Rea yang salah tingkah. Sampai membuat Anta merengek, karena kebisingan yang dibuat oleh Laily.
"Pergi gih nyusul Levi. Aunty yakin dia juga enggak bisa tidur. Kan belum dapat good night kiss", tambah Laily yang semakin menambah rona merah di pipi Rea. Bahkan telinganya pun terlihat memerah.
"Aunty....", rengek Rea sambil melirik Laily yang tertawa puas.
"Udah, udah. Pergi gih sana, kasihan loh anak kamu tidurnya larut malam", ujar Laily setelah meredakan tawanya.
"Eh, Aunty", Rea tiba-tiba membalikkan badannya kembali menghadap Laily, "Aunty...., masih sama yang dulu kan?."
"Enggak", jawab Laily singkat. Dan sepertinya perempuan itu terdengar malas untuk membahasnya.
"Loh kenapa?", tanya Rea lagi.
"Ketauan selingkuh dia", Laily menggembungkan pipinya seraya menatap Rea dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"Berarti dia bukan yang terbaik buat Aunty."
"Iya nih, nyari yang terbaik susah bener, sampai didahului sama kamu", Laily mengerlingkan matanya menatap Rea.
"Te-"
"Udah pergi sana tidur. Entar kemaleman", Laily memotong ucapan Rea.
Rea menghembuskan nafasnya, "Enggak pa-pa nih?."
"Enggak, udah biasa tidur sendiri juga."
"Curhat nih", gantian Rea yang menggoda Laily. Membuat perempuan itu mendengus.
"Makanya cepetan cari. Tidur ada yang nemenin itu enak loh, Nty."
Laily memandang Rea flat, "Nyindir nih?."
Rea tertawa kecil, "Enggak, cuma kasih review aja", sahutnya sembari turun dari ranjang.
Rea yang hendak meraih handle pintu pun berbalik menatap Laily, "Aunty pasti ketularan jomblonya uncle Raka nih."
Setelah puas melihat wajah Laily yang masam. Rea pun keluar dari dalam kamar seraya terkekeh.
Bergaul dengan Laily itu seru, seperti tidak ada batasan umur di antara mereka. Maka nya Rea lebih bisa enjoy jika berinteraksi dengan Laily. Lagipula perempuan itu lah yang dulu sering menimangnya sewaktu kecil. Setelah dengan Bunda nya, dulu Rea memang lebih suka sedikit curhat kepada Laily.
Langkah Rea yang hendak ke dapur seketika berhenti kala mendapati seseorang yang duduk di sofa ruang keluarga.
Rea dengan keberaniannya yang sedikit itupun lantas melangkah menghampiri. Rea tidak takut kalau itu maling atau apa. Tapi kalau itu sejenis dedemit seperti Argan bagaimana.
Dengan cepat Rea menekan saklar lampu. Sehingga membuat ruangan yang tadinya gelap gulita menjadi terang benderang.
"Levi?!"
Rea berteriak saat cowok itu menoleh menatap ke arahnya.
"Kenapa belum tidur?", Rea berdiri dihadapan suaminya seraya mengelus lembut pipi Levi.
"Enggak ada kamu", sahut Levi pelan lalu memeluk perut Rea.
Rea mencebikkan bibirnya, namun tak urung tersenyum mendengarnya.
Bisa aja sih anak Lucifer.
"Kamu juga kenapa belum tidur?", Levi mendongak menatap Rea.
Rea tersentak dan mengedarkan pandangannya ke segala arah, "Em, aku tadi mau ambil minum", alibi Rea. Gengsi dong Rea, kalau bilang enggak bisa tidur karena enggak ada Levi.
Malam ini mereka memang tidur terpisah. Karena keluarga Aunty Gina nya nginap disini. Kedua orang tuanya pun ikut serta. Hanya Papi nya Anta saja yang tidak. Karena beliau mengatakan ada keperluan yang mendesak. Hingga menitipkan Anta kepada mereka.
"Geo tidurnya rusuh banget."
__ADS_1
Rea menyipitkan matanya curiga. Enggak mungkin Geo yang terkenal anteng itu tidurnya rusuh. Pasti hanya bualan Levi semata. Kalau yang Levi katakan itu Argan, baru percaya Rea.
Dasar.
"Kamu tunggu disini bentar ya", Levi berdiri dan tanpa menghiraukan Rea cowok itu berlari ke dalam kamar yang ditempatinya bersama dengan Geo.
Rea yang penasaran apa yang ingin dilakukan Levi pun lantas mendaratkan tubuhnya ke atas sofa. Memusatkan atensinya pada pintu kamar yang terbuka dan menampilkan Levi yang keluar dari dalam sana.
"Loh kok bawa selimut sama bantal?, kamu mau ngapain?", cerocos Rea bingung.
Levi tak merespon. Calon Ayah itu malah sibuk menggeserkan meja sofa dan meletakkan bantal serta selimut yang dibawanya di atas karpet.
"Sini", titah Levi yang diikuti oleh Rea dengan kernyitan di dahinya.
"Kamu mau nga-"
"Tidur sini", Levi menarik tangan Rea untuk berbaring disampingnya.
"Enggak mau, dingin", tolak Rea mentah-mentah.
"Kan ada karpet, enggak dingin dong."
"Tetap aja dingin", kekeuh Rea tak mau.
"Aku buka baju deh biar kamu anget."
"Heh, gila", Rea melototkan matanya menatap Levi yang hendak membuka kaos yang dipakainya.
"Ya udah tidur sini."
Rea tau Levi itu nekat. Dan dengan hati yang berat Rea mengikuti apa kemauan suaminya tersebut.
Untuk beberapa detik dua sejoli itu terdiam tanpa ada yang bersuara. Hingga di detik kemudian suara berat itu terdengar di udara.
"Kenapa Anta manggil Aunty kamu, Mami?."
Rea mendongak menatap Levi, "Mungkin karena perawakan Aunty Laily sama Mami nya Anta itu mirip."
Rea hanya dua kali melihat istri dari Ardean. Pertama saat acara pernikahan, dan kedua waktu Anta dilahirkan.
Rambutnya yang agak pirang, face bule nya, dan tingginya yang semampai. Perbedaannya dengan Laily hanyalah warna rambut dan face Laily yang lebih ke arah Asia.
Tapi satu yang sangat persis, mata mereka berdua sangat mirip. Walaupun warna bola matanya umum, hitam. Tapi kedua mata wanita itu seperti ada ciri khasnya sendiri.
Mungkin itu salah satu alasan Anta mengira kalau Laily adalah Mami nya. Permainan takdir memang sangat lihai.
Dan dari cerita yang Rea dengar. Setelah Anta itu lahir, ibu dari Alexa, istrinya Ardean, jatuh sakit. Sampai membuat Alexa sering meninggalkan Anta dan Ardean di Indonesia sendirian. Katanya Anta pernah dibawa sekali waktu umurnya dua tahun lebih. Namun setelah pulang dari sana Anta jatuh sakit hingga sebulan lamanya.
Mungkin itu juga penyebab Anta tidak terlalu mengenal Alexa. Karena Mami nya itu yang sering berpergian.
"Kenapa kamu nanya itu?", tanya Rea heran. Sebab Levi itu tipe orang yang gak mau ngurus masalah orang lain.
Katanya, ngapain capek-capek mikirin masalah orang kalau waktunya kita bisa pakai buat hal yang bermanfaat.
Ya, setidaknya seperti itulah kata-kata calon Ayah tersebut.
Levi tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Rea.
"Kasihan lihat Anta."
Rea mengangguk singkat. Kehilangan seseorang yang setidaknya pernah menemani hidup kita itu tidak seberapa. Dibanding dengan kehilangan seseorang yang berharga namun tidak pernah menemani hidup kita.
Sebab tidak ada kenangan yang dapat untuk diingat-ingat.
Rea jadi takut kalau antara dirinya dan Levi akan–
"Udah tidur", seakan tau apa yang dipikirkan istrinya. Levi mengalihkannya dengan mencium kening, hidung dan terakhir bibir Rea.
"Good night my wife."
__ADS_1
...~Rilansun🖤....