Rearin

Rearin
Babak belur


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Memahami takdir Tuhan itu berat, kamu enggak akan kuat, lebih baik menikmati kebahagiaan yang hanya bersifat sesaat......


...###...


Rea memegang semangkuk popcorn yang berada di atas pangkuannya dengan pandangan yang fokus ke arah televisi. Cewek itu sesekali terkekeh pelan karena film komedi yang ditontonnya. Dengan matanya yang lima menit sekali menoleh ke arah jam yang ada di dinding.


Waktu sudah semakin senja, dan Levi juga belum kunjung pulang ke rumah.


Suaminya itu tadi mengatakan kalau ia akan pulang seperti biasanya. Tapi sampai sekarang pun, Levi belum menunjukkan tanda-tanda akan kehadirannya.


"Mbak, Bibik pulang dulu ya."


Rea tersentak dan memandang ke sampingnya. Menatap seorang paruh baya yang berdiri di dekatnya. Sontak saja Rea bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Bik Mirna. Orang yang ditunjuk oleh Levi untuk membantunya di rumah. Bik Mirna baru bekerja hari ini, jadi Rea belum terlalu kenal dengan wanita tersebut.


"Oh, bentar Bik", Rea terlihat berjalan memasuki kamarnya. Membuat Bik Mirna memandang bingung majikannya.


Tak lama kemudian Rea kembali dengan berlari menuruni undakan anak tangga membuat Bik Mirna memekik seraya menghampiri Rea.


"Ya ampun Mbak, hati-hati, ingat lagi hamil", ujar Bik Mirna seraya memegang pundak Rea yang terlihat ngos-ngosan. Padahal ia hanya turun naik tangga dengan sebentar. Tapi mengapa capeknya seperti sedang bekerja rodi.


Sepertinya lemak di tubuhnya sudah mulai bertambah. Membuat Rea mudah letih dan penat.


"Enggak apa-apa Bik", Rea memegang lengan Bik Mirna meyakinkan wanita itu bahwa ia baik-baik saja.


"Ini untuk Bibik", Rea mengulurkan sebuah paper bag berisi beberapa oleh-oleh yang diberikan oleh Vina dan Renata kemarin.


Bik Mirna menatap bingkisan itu dengan sungkan.


"Untuk apa mbak. Enggak usah repot-repot, ah."


"Ambil aja, ini emang udah disiapin buat Bibik", Rea menarik tangan Bik Mirna dan memaksa wanita itu untuk menerima.


"Duh, makasih ya mbak. Moga sehat-sehat terus sekeluarga", ujar Bik Mirna yang diamini oleh Rea.


"Kalau gitu Bibik pulang yang mbak, udah mau malam, takut Radit entar sendirian di rumah. Sekali lagi makasih ya mbak."


Rea tersenyum tipis, "Sama-sama Bik, hati-hati ya di jalan", sahutnya lalu mencium dengan sopan punggung tangan Bik Mirna. Membuat wanita paruh baya itu sedikit terkejut, ia tak menyangka kalau majikannya itu adalah anak yang sangat sopan. Tidak seperti anak orang kaya kebanyakan.


"Mbak juga hati-hati ya di rumah, jangan suka lari-larian. Ingat kalau disini ada dedek nya", Bik Mirna menyentuh perutnya Rea yang masih terlihat datar.


"Iya Bik."


"Assalamualaikum", ujar Bik Mirna lalu melangkah menuju pintu utama.


"Waallaikumussalam", jawab Rea pelan seraya menatap punggung yang sudah terlihat sedikit membungkuk itu. Rea kasihan melihat Bik Mirna. Di usianya yang sudah tak lagi muda tapi tak memadamkan semangatnya untuk bekerja. Demi menghidupi cucunya yang sudah tak lagi memiliki orang tua. Seharusnya Bik Mirna bersantai menghabiskan hari tuanya, namun wanita itu di desak oleh kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi.

__ADS_1


Terkadang Rea tidak mengerti dengan takdir yang diciptakan oleh Tuhan. Mengapa orang-orang seperti Bik Mirna yang sudah memiliki hidup yang sulit malah ditambah dengan problematika hidup yang sangat mengerikan.


Setelah Bik Mirna benar-benar telah hilang di balik gerbang. Rea lantas menutup kembali pintu lalu berjalan ke arah ruang keluarga. Melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda.


Entah berapa lama Rea menonton dengan mulut yang terus mengunyah popcorn. Hingga membuatnya matanya terasa berat dan ingin tertidur.


Lalu mata Rea yang tadinya ingin terpejam karena mengantuk pun sontak kembali terbuka lebar saat merasakan keningnya di kecup lama oleh seseorang.


"Kenapa tidurnya disini, hm?", Levi berjalan mengitari sofa yang di duduki oleh Rea. Dan menjatuhkan tubuhnya di samping cewek tersebut.


Rea tak menjawab, matanya fokus memandang wajah Levi yang babak belur sana-sini. Dan entah angin dari mana yang berhasil membuat mata Rea berkaca-kaca. Entah mengapa sebabnya setiap melihat Levi kesusahan Rea pasti akan menangis. Apa ini bawaan dari janinnya. Kalau iya, berarti anaknya nanti pasti akan menjadi anak Daddy banget.


"Ke-kenapa?", Rea menyentuh wajah Levi yang lebam. Siapa orang yang telah berani memukul suaminya itu.


Melihat Rea yang akan menumpahkan air matanya, Levi dengan cepat langsung menjawab, "Enggak sakit kok."


Rea mencebikkan bibir bawahnya dan memukul pelan wajah Levi. Membuat cowok itu dengan refleks meringis kesakitan.


"Katanya gak sakit", air mata mulai turun dari telaga bening tersebut. Membuat Levi kalang kabut dan menghapus air mata Rea. Mengapa hati istrinya itu lembut sekali.


"Udah enggak usah nangis. Yang dipukul siapa, yang nangis siapa", cetus Levi yang mendapatkan satu pukulan keras di wajahnya dari Rea.


"Siapa yang nangis", sanggah Rea lalu bangkit dan mengambil kotak obat yang ada di laci lemari tv.


"Obat sendiri", Rea memberikan kotak tersebut kepada Levi dengan wajah yang ditekuk. Membuat cowok itu tak tahan untuk tersenyum.


"Obatin dong", ujar Levi tak mau mengambil kotak obat.


Levi yang tak tahan dengan kegemasan itu pun langsung menarik Rea dan menjatuhkan istrinya itu dalam pangkuannya.


"Obatin atau gue cium", bisik Levi di telinga Rea.


"Ngancam terus", gerutu Rea dengan tangan yang membuka kotak obat. Mengambil kapas dan alkohol. Menekan dengan kuat pada wajah Levi yang memar. Membuat cowok itu hanya bisa menahan ringisan nya.


Mereka berdua larut dalam keheningan yang ada. Rea yang sibuk mengobati Levi. Dan Levi yang sibuk memandangi wajah cantik istrinya.


Saat melihat pelipis Levi yang masih mengeluarkan darah membuat Rea kembali emosional, "Siapa yang mukul?", tanyanya pelan.


Levi melihat mata Rea yang menatap pelipisnya. Lalu menjawab, "Abang ipar."


Rea membelalakkan matanya, "Argan?."


Levi mendengus pelan, "Emang Abang lo banyak?."


Mendengar itu Rea sedikit menggembungkan pipinya. Mengapa cowok itu jutek sekali.


"Emang the best si Argan", celetuk Rea membuat Levi menatap tak percaya istrinya itu.

__ADS_1


"Lo mau gue di bun-, Aw", Levi berteriak pelan saat Rea dengan sengaja menekan lukanya.


"Kamu mati, saya nikah lagi", sahut Rea membuat mata Levi melebar tak percaya.


Rea benar-benar minta dihukum.


Namun sedetik kemudian Levi menghela nafas dan menjatuhkan kepalanya di atas pundak Rea.


"Gue capek", ujar Levi menjawab kernyitan di kening Rea.


Beberapa detik mereka terdiam dengan posisi seperti itu. Sebelum Rea memberanikan diri untuk mengelus rambut suaminya.


Dengan tangan yang mengelus anaknya membuat Levi semakin ingin tertidur dalam dekapan sang istri.


Namun sayang niat Levi harus diurungkan karena suara pintu yang dibuka dengan kasar. Membuat pasangan suami istri itu sontak bangkit dari duduknya. Menatap seorang cowok yang berjalan masuk ke dalam rumah. Dengan wajah yang sama seperti Levi. Babak belur.


"Enggak sopan", ketus Rea melihat Abang kembarannya yang sudah duduk di atas sofa dengan santainya.


Argan memang tidak pernah bisa berubah. Berperilaku seenak jidatnya saja.


"Emang, si sopan lagi keluar negeri", balas Argan dengan asal.


"Ngapain lo ke sini?", tanya Levi dengan memandang datar Argan yang berada di seberang sana.


"Minta di obatin lah", jawaban yang membuat Levi ingin mengajak Argan untuk baku hantam sekali lagi.


"Kan ada Bunda."


"Ya ampun adik ku sayang. Enggak nyangka lo udah ngelupain gue karena nikah. Gue nikah juga baru tau lo", ujar Argan dengan penuh drama.


Rea memutar bola matanya dan mengaminkan dalam hati ucapan Argan. Karena dengan begitu Argan bisa berhenti mengganggu hidupnya. Dan mengurangi beban orang tuanya. Setidaknya berdampak baik pada kesehatan Arinta yang jadinya tidak sering marah-marah.


"Lagian si Bunda lagi wadidaw sama Papi, enggak mau ganggu", ujar Argan yang dibalas Rea dengan melemparkan satu buah bantal sofa. Tepat mengenai wajah Argan yang lebam.


"Mulutnya minta di ruqyah", cetus Rea. Namun tak urung cewek itu berjalan menghampiri Argan dengan memegang kotak obat. Walaupun begitu, Argan tetaplah abangnya yang melindunginya tanpa memikirkan nyawa sendiri.


Belum sempat Rea duduk di samping Argan. Badannya sudah lebih dulu diangkat oleh Levi dalam gendongannya. Membuat Rea melebarkan matanya karena kaget.


Lama-lama ia akan mati muda karena serangan jantung.


"Pulang sana, disini lo ganggu juga tau", Levi memandang sinis Argan sebelum berjalan menaiki undakan anak tangga. Membawa istrinya itu untuk pergi ke kamar. Melakukan apapun yang ingin dilakukan.


"Woi, inget bini lo lagi bunting. Awas lo ya kalau ponakan gue cacat, awas aja dia jadi kembar. Gue potong masa depan lo", teriak Argan melihat punggung tegap Levi yang berjalan menjauh. Membuat Rea mengumpat dalam hati.


Argan akui jika Levi adalah seorang cowok yang bisa dibilang gentle. Karena saat ia memukul Levi. Cowok itu sama sekali tidak membalas. Mungkin karena dia sadar diri dengan kesalahannya.


Dan wajahnya yang lebam ini karena teman-teman Levi yang tak terima jika ketua mereka itu dipukuli. Lalu dengan satu titah tegas dari Levi membuat para pemuda itu berhenti memukulinya. Untung saja, kalau tidak, mungkin Argan sudah masuk rumah sakit. Sebenernya salah ia sendiri karena tidak membawa orang bersamanya. Jadi di keroyok sendiri kan.

__ADS_1


Kali ini Argan benar-benar berdoa pada Tuhan. Meminta kebahagiaan pada sang pencipta untuk adik perempuannya. Dan semoga saja kebahagiaan itu terletak pada Levi. Dan semoga kebahagiaan itu bertahan hingga malaikat maut menyapa.


...~Rilansun🖤....


__ADS_2