
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Mungkin hari ini cerah, tapi kita tidak tau kapan langit akan menghitam......
...###...
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I'll be waiting, all there's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess.
It's a love story, baby, just say...
Bulu mata panjang nan lentik itu bergerak pelan. Perlahan terangkat ke atas. Menampilkan bola mata hitam legam yang memikat. Terlihat sayu dan lesu.
"Siapa sih?, berisik banget?", gerutu Levi pelan seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Rea. Mencium aroma shampoo yang menguar dari rambut istrinya. Mampu membuatnya kembali tenang dan melanjutkan mimpinya yang tertunda.
Rea menghela nafas pendek setelah nyawanya terkumpul sempurna. Mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidur yang terus berbunyi dan bergetar.
Kening yang mulus itu perlahan terlipat setelah melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.
Bunda
Tumben Arinta menelponnya di pagi buta seperti ini. Apakah ada suatu masalah yang mendesak.
Dengan berusaha untuk tetap positif thinking, Rea menggeser ikon hijau pada layar dan mendekatkan benda pipih panjang itu ke telinganya.
"***-"
"Rea, maaf kalau Bunda ganggu tidur kamu", belum sempat Rea mengucapkan salam. Arinta menyela cepat dengan suara yang terdengar gelisah.
"Kenapa, Bun?", tanya Rea to the point. Mendengar suara Arinta membuat segala pikiran buruk menghinggap di kepalanya.
"Bunda mau nitip Geo, Raya sama Anta dirumah kamu ya."
Rea semakin mengernyitkan keningnya bingung, "Aunty disini, Bun?", tumbenan Aunty Gina nya pulang ke Jakarta enggak waktu liburan.
"Iya, tadi malam baru nyampe."
"Kenapa mendadak?."
"Istrinya uncle Dean meninggal, Rea."
Mata Rea seketika melebar mendengar kabar duka tersebut.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Kenapa Bun?", Rea mencoba melepaskan tangan Levi yang melingkari pinggangnya. Namun cowok itu malah semakin mengeratkannya.
"Kecelakaan. Nanti Bunda minta tolong Dita ngantar anak-anak kesana ya. Kamu enggak usah pergi, biar Levi aja sebentar", ujar Arinta yang terdengar sangat buru-buru.
Tak ingin mengulur waktu sang Bunda pun Rea lantas mengiyakan. Padahal banyak pertanyaan yang ingin Rea tanyakan.
"Levi, bangun", Rea membangunkan Levi setelah panggilannya berakhir. Meletakkan kembali benda persegi panjang miliknya ke atas nakas. Dan berbalik menghadap suaminya.
Matanya yang tadi terasa berat langsung terbuka lebar. Keinginannya untuk tidur seketika sirna.
"Belum shubuh, sayang", gerutu Levi ketika Rea terus menggangu tidurnya.
__ADS_1
"Ck, Levi, Bunda nyuruh kamu buat ke rumah uncle Dean nanti. Cepetan bangun, dimarahin Bunda baru tau rasa", omel Rea pada Levi yang terlihat mencebikkan bibirnya lalu membuka mata dan menatap sebal Rea.
"Siapa uncle Dean?", tanya Levi sesekali mencuri untuk memejamkan matanya.
Melihat tingkah laku suaminya itu, Rea pun menahan mata Levi agar terbuka dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Temennya Papi."
"Kenapa harus kesana?."
Rea mendudukkan tubuhnya setelah Levi melepaskan pelukannya. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Istrinya meninggal", jawab Rea yang membuat Levi langsung mengucap istirja.
"Kenapa?", tanya Levi lagi pada Rea yang sedang sibuk menyibak kain gorden. Menampakkan suasana yang masih gelap gulita.
"Kecelakaan katanya", sahut Rea dan membuka pintu balkon. Memejamkan mata saat angin sejuk itu menerpa tubuhnya.
"Tutup Rea, entar masuk angin", cetus Levi seraya turun dari ranjang.
Rea menuruti perintah suaminya. Membalikkan badannya dan berjalan ke arah lemari.
"Kamu mandi dulu, aku mau bangunin Bik Mirna", ujar Rea dengan tangan yang sibuk menyiapkan perlengkapan alat sholat mereka.
"Dingin, mandi berdua yuk biar hangat", Levi menyandarkan tubuhnya di lemari setelah Rea menutup kembali pintu lemari. Menatap jahil istrinya yang terlihat mendengus keras.
Rea berjalan ke arah ranjang. Tanpa menghiraukan Levi yang jahilnya sedang kumat.
"Mandi air hangat sana."
"Enggak enak kalau sendirian", Levi memeluk tubuh Rea dari belakang. Menghentikan pergerakan Rea yang tengah merapikan selimut.
"Ya udah aku mandi", Levi mengecup sekilas pipi Rea sebelum beranjak ke kamar mandi. Meninggalkan Rea yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Terkadang Levi itu imut, seperti anak-anak.
...###...
"Uncle Dean itu yang mana?", Levi membuka obrolan setelah mereka selesai menyantap sarapan yang masih terlalu pagi itu.
Rea meminum air sebelum menjawab pertanyaan Levi, "Uncle Dean itu orangnya super sibuk. Jadi dia udah jarang kumpul-kumpul di rumah Papi."
Setelah Tante Gina nya menikah dan memutuskan untuk mengikuti suaminya ke Kalimantan. Teman-teman Papi dan Bundanya memang sudah jarang datang untuk sekedar berkumpul atau reunian. Paling tidak mereka akan berkumpul ketika liburan. Itu pun tidak semuanya dapat hadir.
Bahkan ketika pernikahan Rea yang mendadak itu pun, tidak ada om atau tantenya yang dapat datang.
Semuanya sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing.
"Pas kita nikah juga enggak ada kan?", Levi bertanya lagi sembari memakan buah apel yang dikupas oleh Rea.
"Iya, dia lagi ada di London, mertuanya sakit katanya", hanya itu yang Rea tau dari Bundanya.
"Masih muda udah jadi duda", gumam Levi yang dapat didengar oleh Rea.
"Takdir Tuhan enggak dapat diubah. Itu tandanya belum berjodoh", sahut Rea.
"Kalau-"
__ADS_1
"Udah, sekarang kamu siap-siap sana. Lebih baik kalau kita datang lebih awal", Rea memotong ucapan Levi yang pastinya akan berbicara hal yang tidak-tidak. Selain terkadang terlihat kekanakan, Levi itu juga suka negatif thinking. Membuat Rea kadang kesal sendiri karenanya.
Levi mengangguk dan mengikuti perintah Rea. Berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil dompet serta kunci mobil.
"Kamu baik-baik ya di rumah. Jangan petakilan, aku pergi dulu", ujar Levi ketika hendak berangkat pergi.
Rea hanya mengangguk singkat dan memejamkan matanya saat keningnya dicium lama.
"Pulang dari sana kamu kerja?, kuliah?."
"Hari ini enggak ada kelas, palingan nanti sore ketemu klien", balas Levi lalu mencium sekali lagi kening serta bibir istrinya sebelum melaju pergi bersama mobilnya.
Rea yang hendak menutup kembali pintu rumahnya terhenti ketika melihat sebuah mobil terparkir di pelataran teras rumahnya.
"Kak Rea..."
Rea berjalan ke depan setelah melihat gadis kecil berumur tujuh tahun berlari ke arahnya.
"Apa kabar kembarannya aku?", Raya memeluk Rea dengan sangat erat. Membuat sang kakak yang berdiri dibelakang mencibir merendahkan.
"Cantik kan Kak Rea, daripada kamu."
Raya membalikkan badannya dan menatap kesal Geo yang sedang sibuk bermain game di ponselnya, "Kamu jelek, kayak Papa", ejek Raya seraya menjulurkan lidahnya.
"Anak Tante lo aktif banget, pusing gue", Rea menatap Dita yang berdiri dengan menggendong seorang anak kecil laki-laki yang terlihat tertidur.
"Lho, Anta tidur?."
"Iya, habis nangis karena ditinggal Bapaknya."
"Ya udah ayok masuk, diluar dingin", Rea menggiring Geo dan Raya untuk masuk terlebih dahulu. Lalu mengajak Dita untuk meletakkan Anta ke dalam kamarnya.
"Laki lo udah pergi?."
Rea yang sedang mengambilkan sarapan untuk Raya pun melirik sekilas Dita yang sudah menegak habis segelas jus.
"Udah", jawabnya singkat.
"Kak, Kata Mama, Maminya Anta udah pergi ke surga. Emang iya?", celetuk Raya sambil menggigit paha ayam goreng yang dipegangnya.
Rea yang tak tau harus menjawab apapun, lantas hanya mengangguk mengiyakan.
"Mudah banget masuk surga, Aya juga mau dong, tiketnya mahal enggak Kak?."
Dita yang sedang mengunyah nasi gorengnya seketika tersedak mendengar pertanyaan polos Raya.
"Iya, lebih mahal daripada tiket konser BTS", sahut Geo asal.
"Yah, entar Papa Zidan marah lagi dong", desah Raya kecewa, "Kak, ganti Papa yok. Papa Aya pelit banget, gak kayak Papi Reagan. Masa ya semalam Aya minta beliin shampo, katanya enggak usah beli, isi aja botol shampo nya pakai air. Emang pelit banget kan."
Dita menahan tawanya melihat Raya yang mencebik kesal setelah menceritakan aib Papa nya. Sementara Rea hanya tersenyum tipis menanggapi.
Raya Lovandra Artharwa itu memang lebih ekspresif dan cerewet dibanding dengan Geovanno Juanka Artharwa yang cuek dan tidak pedulian. Tapi Rea suka bila mendengar celotehan Raya yang isinya hanya menghibahkan sang Papa, Zidan Avarel Artharwa.
"Api!."
Rea dan Dita tersentak saat mendengar teriakan nyaring dari lantai atas. Rea tanpa sadar berlari panik yang diikuti oleh Dita dan dua bocah tersebut.
__ADS_1
Api?, apa yang terbakar.
...~Rilansun🖤....