
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Ketika kamu merasa jenuh akan segalanya, maka lihat lah ke belakang, akan ada orang-orang yang telah siap merentangkan tangannya untuk memeluk mu, siapa?, keluarga....
...###...
Rea menatap matahari yang perlahan-lahan mulai naik. Menampakkan diri dengan pelan namun pasti. Memancarkan cahayanya ke penjuru semesta. Menerangi langit yang sebelumnya ditemani oleh gelap gulita.
Cewek bersurai coklat gelap itu kontan memejamkan matanya ketika sinar mentari yang hangat menerpa wajahnya. Membuatnya merasa telah hidup dengan sangat nyaman.
Namun saat tangannya tak sengaja menyentuh perutnya. Kenyamanan itu seolah sirna dalam sekejap.
Rea tersenyum miris sambil membuka matanya. Menatap bagian tubuhnya itu dengan lamat. Untuk beberapa bulan kemudian perutnya itu tidak akan datar seperti sekarang. Akan membuncit dan mungkin seluruh tubuhnya juga akan ikut membengkak. Pipi yang chubby, dan berat badan yang bertambah.
Membayangkan itu, entah kenapa ada rasa sedikit tak sabar pada dirinya. Tak sabar untuk merasakan segala proses yang sangat berharga bagi perempuan itu.
Rea tak pernah menyesali anak ini. Yang ia sesalkan adalah bagaimana cara anak tersebut dapat hadir dalam hidupnya.
Tak semua perempuan dapat merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Dan Rea merasa ia adalah salah satu perempuan beruntung yang dipercaya oleh Tuhan. Walau harus di usia yang begitu muda.
"Good morning, this is your mom dear", gumam Rea dengan sedikit bergetar di akhir kalimatnya. Sampai saat ini, Rea masih tidak menyangka jika ia akan menjadi seorang ibu.
"Sehat selalu, jangan pernah ninggalin Mo-mommy. Tetap sehat sayang dan tumbuh dengan baik. Sampai kita jumpa beberapa bulan kemudian", tambahnya dengan sedikit kikuk.
Lalu Rea sedikit menunduk dan berujar dengan lirih, "Kamu mau tau sebuah rahasia?."
"Mommy mau ngasih tau kamu satu rahasia", untuk beberapa saat Rea terdiam dengan pandangan fokus pada perutnya dan tangan yang terus mengelus anaknya, "Jangan benci Mommy."
Rea memejamkan matanya sebelum mendongak, "Itu rahasianya. Ketika kamu udah lahir nantinya, please jangan benci Mommy. Semoga kamu bersedia punya Mommy yang bodoh dan lemah ini. Jangan tinggalin Mommy sayang."
Setelah itu Rea menoleh ke sampingnya. Dimana sebuah koper berwarna hitam berdiri tepat di dekat kakinya.
"Jangan tinggalin Mommy, karena setelah ini kita hanya akan hidup berdua", bisiknya dengan menatap nanar koper tersebut. Lalu perempuan itu berdiri dari duduknya. Menatap sebentar dengan menyeluruh ruangan yang telah dihuninya selama ini. Ruangan yang penuh dengan kenangan. Ada suara tangis dan tawanya yang pernah bergema di dalam ruangan tersebut. Dan menjadi saksi bisu pertumbuhannya dari kecil hingga kini.
Kemudian tanpa ragu lagi Rea melangkahkan kakinya dengan mantap keluar dari dalam kamar.
Tiga hari sudah berlalu, dan Rea merasa kehidupan di rumahnya tak lagi sama. Semenjak dirinya mengakui kalau ia tengah hamil. Semenjak itu pula Bunda nya tak lagi pernah terlihat senyum. Papi nya yang selalu termenung belakangan ini. Serta Argan yang sudah jarang berada di rumah.
Rumah yang dulunya hangat dan harmonis kini terasa gelap dan hening.
__ADS_1
Dan Rea tak ingin seperti itu. Lebih baik ia yang angkat kaki dari rumah ini, daripada gelak tawa keluarganya yang menghilang pergi.
Rea menuruni anak tangga dengan perlahan sambil mengangkat sedikit kopernya, agar tidak menimbulkan suara.
Matanya menatap kesana-kemari. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rea yakin Bunda nya saat ini pasti tengah mengurusi Papi nya yang akan pergi berangkat kerja. Dan untuk Argan, sudah Rea bilang bukan kalau belakangan ini Abang kembarannya itu jarang terlihat berada di rumah.
Untung saja para bibik-bibik di rumahnya tengah sibuk bekerja di dapur. Jadi tidak akan ada orang yang melihatnya saat ini.
Rea tidak berani bertemu dengan kedua orang tuanya saat ini. Ia takut jika tekatnya yang ingin hidup mandiri akan runtuh setelah melihat dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Rea tak ingin lagi menjadi beban keluarga.
Lalu cewek itu berjalan dengan cepat melewati lobi kecil yang berada di rumahnya sebelum mencapai pintu utama. Melewati segala kenangan yang tertempel di dinding.
"Mau kemana kamu?."
Deg
Rea sontak menghentikan langkahnya di tengah lobi saat mendengar suara bariton yang sangat familiar itu. Suara yang dulunya sering mendongengkan sebuah cerita kepadanya.
"Papi tanya Rea, kamu mau kemana?", tanya Reagan tegas dengan nada yang terdengar sangat dingin.
"Papi ngomong sama kamu, hadap Papi Rea!", bentak Reagan yang membuat Rea berjengit kaget. Lalu putri semata wayangnya Allandra itu memutar tubuhnya dengan perlahan kearah kedua orang tuanya.
Rea menundukkan kepalanya menatap lantai marmer yang dipijaknya. Ia tak berani mengangkat pandangannya dan menatap Arinta serta Reagan yang berada di hadapannya.
Entah sejak kapan dua sejoli itu duduk di sofa yang ada disana. Apakah kedua orang tuanya tau niat Rea yang akan pergi dari rumah hari ini. Sampai menunggunya disana.
"Mau kemana?, kabur?", sarkas Reagan yang membuat Rea semakin ketar-ketir ditempat. Aura di sekitar pun terasa ikut mencekam.
Rea tak bergeming. Cewek itu hanya diam berdiri dengan pandangan fokus ke bawah.
"Kemana sopan santun kamu Rearin Kalyca Allandra!. Siapa yang berdiri di depan kamu sekarang?!", bentak Reagan dengan mata yang menatap nyalang putrinya. Membuat Arinta serta Rea yang terperanjat kaget.
"Reagan", Arinta menyentuh lengan suaminya. Mencoba meredakan amarah Reagan yang tengah sangat membara itu. Selama ini Arinta belum pernah melihat Reagan yang begitu keras terhadap anak-anaknya. Jangankan memukul, membentak saja dulu Reagan berat rasanya untuk melakukan.
"Kamu mau kemana sayang?", Arinta mencoba untuk bertanya kepada putrinya yang terlihat bergetar ketakutan.
"Sa-saya mau hidup mandiri", jawab Rea yang terbata-bata dengan air mata yang menggunung di pelupuk mata. Entah kenapa perasaannya sangat sensitif belakangan ini.
__ADS_1
"Alasannya?", tanya Reagan dengan datar.
"Saya gak mau jadi beban Papi dan Bunda", cicit Rea yang membuat Reagan memejamkan matanya. Dan Arinta yang menangis melihat putrinya. Mengapa Rea bisa begitu tegar dan kuat. Arinta merasa malu jika harus memutar kembali masa lalu. Dimana dirinya yang nekat bunuh diri dan mencelakai anaknya.
"Papi masih mampu untuk menafkahi kamu sama cucu Papi", ujar Reagan dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
Rea yang tak kuasa menahan air matanya pun. Meneteskan telaga bening itu dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Kamu gak kasihan lihat Bunda yang nangis tiap hari mikirin kamu?, kamu gak mikir gimana kondisi Bunda kalau kamu benar-benar pergi dari rumah?, kamu gak sayang Bunda?", tambah Reagan membuat Rea dengan perlahan mengangkat pandangannya dan menatap Arinta yang terjatuh duduk disofa sambil menangis terisak.
Bibir Rea bergetar menahan suara isak tangisnya yang ingin keluar. Ia merasa sangat berdosa sudah membuat wanita yang melahirkannya itu harus mengeluarkan air matanya. Merasa menyesal karena alasan Arinta menangis adalah dirinya.
"Saya harus gimana?, saya gak tega lihat Bunda dan Papi yang terus melamun mikirin masalah saya. Saya gak mau keluarga kita menjadi seperti ini, hancur. Saya semakin merasa dosa karena udah buat Bunda nangis. Maafin saya, Bun", Rea berujar dengan tubuh yang perlahan meluruh ke lantai. Membuat Reagan bergerak cepat memeluk tubuh putrinya.
"Kamu bilang kami ini apa?", Arinta berjalan menghampiri Rea dan Reagan, "Kamu bilang keluarga?, terus apa itu arti keluarga?, cuma tempat untuk kamu tidur dan makan?", tanya Arinta dengan geram.
Rea menggelengkan kepalanya dalam dekapan sang Papi.
"Keluarga itu tempat terbaik yang ada di dunia. Tempat pulang disaat kamu udah lelah dengan segalanya. Sandaran terbaik saat kamu merasa dunia terlalu kejam. Keluarga itu segalanya, right?."
Rea menganggukkan kepalanya.
"Terus kenapa kamu enggak pernah cerita sama kami tentang masalah kamu. Setidaknya kamu ngomong sama Bunda. Kamu itu enggak pernah jadi beban untuk siapapun. Kamu itu anak Bunda, putri satu-satunya. Bunda bisa gila Rea, kalau kamu berpikiran pendek waktu itu."
"Tapi Bun-"
"Jangan ngomong lagi, kalau gak mau Bunda pukul", Arinta menggantungkan tangannya di udara. Seperti hendak menampar putrinya, membuat Rea refleks memejamkan matanya.
Melihat itu Arinta lantas menurunkan tangannya dan ikut memeluk Rea. Membuat Reagan dengan sigap merangkul kedua bidadari nya itu dalam lengan besarnya.
"Bunda sayang kamu, tapi kamu kayaknya enggak sayang dengan Bunda", gumam Arinta.
Rea menggelengkan kepalanya, "Rea sayang Bunda, maaf Bun", cicitnya pelan.
...~Rilansun🖤....
Buat yang udah stia nungguin up nya Rearin, makasih dan maaf. Maaf banget krna up nya lm, ya you know lah waktu paling sibuk itu bukan di saat ujian, justru setelah ujian itu sibuk banget. Nyari guru sana-sini. dtmbh daring kyk gini, beuh sibuknya minta ampun 😭😂. Guru tiba" kehabisan kuota, dan seperti hilang di telan bumi.
Dan hari ini akhirnya bisa up, semoga suka💞💞💞. Te amo all.
__ADS_1